
Bintang turun dengan hati-hati. Sepertinya dia memang harus ke dokter, alat tempurnya terasa nyeri.
Andai saja Kirana bukan istrinya, dia sudah memberinya pelajaran. Bayangkan saja, sedang asik-asiknya dia tidur, tiba-tiba saja rudalnya di hantam sesuatu sampai dia terjatuh ke lantai.
Rasanya sakit sekali sampai ke ulu hati. Bintang sampai tidak bisa berkata-kata hanya menunggu sampai rasa sakitnya hilang.
***
Bintang sudah sampai di meja makan, dia kemudian duduk berseberangan dengan mamahnya.
"Kamu, kenapa kok jalannya gitu?"
"Nggak apa-apa," jawab Bintang singkat dan dingin.
Aurora saling pandang dengan Galaksi. Aurora seolah bicara dengan tatapan mata. Galaksi menggeleng dan mengedikkan bahu.
Datang Kirana, dia langsung duduk di samping Bintang, lalu tersenyum pada kedua mertuanya.
"Ayo kita mulai makan." Galaksi bersiap mengambil nasi.
"Biar sama Kiran aja, Pah." Kiran bangkit berdiri dan mengambilkan nasi serta lauknya untuk Galaksi, juga Aurora.
"Terima kasih, sayang," ucap Aurora pada Kirana seraya tersenyum. Rasanya dia dengan sekali dilayani menantunya.
Bukan karena dia merendahkan Kirana, tetapi karena dia merasa disayang dan diperhatikan. Kirana lalu mengambilkan nasi serta untuk suaminya.
"Terima kasih." Bintang tetap berwajah dingin.
Kirana tersenyum tipis lalu kembali duduk. Dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Kirana, sudah rapi pakai seragam. Kamu mau kerja hari ini?" tanya Aurora.
"Iya, Mah. Kirana bosan di rumah. Lebih baik Kirana bekerja," jawab Kirana.
"Bintang, apa kamu tidak bisa pindahkan Kirana di tempat lain? Masa jadi OG? Maaf, Kirana. Bukan maksud merendahkan profesi kamu, Papah hanya tidak ingin menantu Papah kesusahan dan bekerja berat." Galaksi takut Kirana salah paham dan tersinggung. Dia segera menjelaskan maksudnya.
"Kirana mengerti maksud Papah baik, tapi bukankah itu justru terlihat janggal? Seorang OG tiba-tiba naik jabatan, kecuali, Kirana ikut pelatihan, atau program apa gitu untuk kita para OG naik pangkat."
"Ide yang bagus, Bintang coba pikirkan dan diskusikan dengan pihak SDM. Sementara itu, kamu harus semangat tapi jangan berat kerjanya, kalau ada apa-apa lapor Papah."
"Iya, Pah. Makasih."
"Kirana, apa tidak lebih baik kamu berhenti aja? Mamah tidak tega melihat kamu disuruh-suruh orang."
"Mamah tenang aja, Kirana akan naik-baik saja."
Mereka kemudian melanjutkan makannya. Sementara Bintang, dia tidak berkomentar apa pun. Dia terus makan dengan lahap, tidak perduli perdebatan di sekitarnya.
__ADS_1
Bintang telah selesai lebih dulu. " Bintang berangkat, pagi ini aku ada urusan." Bintang beranjak bangun.
"Tunggu dulu Bintang, kamu nggak bareng sama Kirana?" tanya Aurora, dia melirik Kirana yang masih makan.
"Aku buru-buru Mah. Kirana sudah biasa berangkat kerja sendiri."
"Iya Mah, Kirana sendiri aja. Lagian nanti orang-orang kantor heboh, melihat Kirana berangkat bareng Pak Bintang."
"Bintang berangkat," pamit Bintang.
"Kirana, biar nanti Papah yang antar."
"Tidak usah, Pah. Kirana berangkat sendiri aja." Kirana menolak.
"Papah tidak menerima penolakan." Mendengar papah mertuanya Kirana diam dan meneruskan makannya.
Percuma menolak toh dia tetap saja harus ikut.
"Ayo, Papah udah selesai!"
Kirana cepat-cepat minum, setelah itu dia beranjak bangun menyusul Galaksi. Aurora mengikuti mereka.
"Pah, hati-hati di jalan." Aurora mencium tangan suaminya.
"Iya, sayang." Galaksi mencium kening Aurora. Kirana menatap ke arah lain wajahnya bersemu merah. Dia malu melihat kemesraan mertuanya.
Setelah Galaksi keluar, Kirana pamit pada Aurora dan mencium tangannya. Kemudian dia pun keluar menyusul papah mertuanya. Mobil mereka pun melaju meninggalkan kediaman Orion.
***
Kiran kini sampai di kantornya. "Terima kasih Pah, Kirana turun dulu."
"Iya, jangan terlalu capek Kirana."
"Iya, Pah."
Kirana turun setelah mencium tangan Papahnya sebagai tanda hormat. Dia pun segera masuk ke dalam kantornya.
"Mana ada kerjaan yang nggak capek? Mertuaku ada-ada aja." Kirana bergumam sambil terkekeh.
Kirana langsung ke ruangannya, dia menyimpan tasnya dalam loker. Kirana lalu mengambil alat tempurnya di ruangan peralatan.
Dia mulai membersihkan lantai di loby, bersama teman-teamnya. Hari masih pagi, belum banyak karyawan yang datang.
Agar tidak bosan Kirana bekerja sambil bersenandung. Setengah jam kemudian dia sudah selesai.
Kirana lalu mengerjakan yang lain. Karyawan mulai ramai. Pekerjaan Kirana bertambah, karena kadang para karyawan menyuruhnya melakukan sesuatu.
__ADS_1
Tak terasa waktu terus berjalan. Kini sudah pukul sembilan pagi. Saat Kirana akan keluar untuk membeli Kopi, pesanan karyawan kantor, dia melihat Bintang turun dari mobil.
Di sampingnya ada seorang wanita cantik yang merangkul manja lengan Bintang. Wanita itu adalah wanita yang mengaku sebagai calon istri Bintang.
"Jadi, ini urusan pentingmu. Kau bahkan baru datang, padahal kau berangkat sejak pagi. Bagaimana bisa aku percaya padamu, di saat mataku melihat kemesraan kalian?" batin Kirana.
Tatapan mereka bertemu, Bintang menatapnya datar. Datang seorang pria mendekati Kirana. "Kirana, untunglah kau masih di sini. Aku titip roti, juga kue ya. Ini uangnya, makasih Kirana yang cantik." Pria itu tersenyum pada Kirana.
Kirana membalas senyumnya sebagai sopan santun. "Pria yang tampan, sayang aku sudah menikah." batin Kirana.
Bintang melihat itu semua. Bagaimana pria itu tersenyum pada istrinya? Juga Kirana yang balas tersenyum. Matanya menatap tajam pada Kirana dan pegawainya.
Kirana tidak menyadari ada mata Elang yang menatapnya tajam. Dia langsung pergi keluar.
Bintang masuk ke dalam lift sebelum pintu tertutup dia menatap pria itu, kebetulan pria itu pun sedang melihat ke arahnya. Dia lalu tersenyum kada atasan dan menganggukkan kepala.
Pria itu bingung, karena dia melihat tatapan tajam Bosnya itu. Apa dia sudah berbuat kesalahan? Pria itu pergi setelah pintu lift tertutup sempurna.
***
Bintang kini ada di dalam ruangannya bersama kekasih yang dia bilang palsu pada Kirana.
"Sayang, Mami menanyakan, kapan kita akan menikah?" tanya wanita itu pada Bintang.
"Nanti," jawab singkat Bintang.
Wanita itu bangkit dari duduknya di sofa dan menghampiri Bintang yang duduk di kursi kebesarannya.
"Kapan, Bintang? Kita saling mencintai, hubungan kita bahkan sudah seperti suami istri. Bedanya kita belum ijab Qabul dan ke KUA." Wanita itu duduk di pangkuan Bintang.
Dia mengalungkan tangannya di leher Bintang. Sedikit lagi bibir itu bersentuhan, Bintang memalingkan wajahnya ke arah lain, tekatnya ke arah pintu. Di mana ada Kirana sedang berdiri membawa minuman di atas nampan.
Bintang langsung berdiri, membuat wanita itu terjatuh. "Aduh, sayang kamu kenapa, sih?" wanita itu bangun.
Dia melihat Kirana. "Eh, kamu nggak punya sopan santun, ya! Masuk ke ruangan orang tanpa mengetuk pintu!"
"Maaf, saya sudah berkali-kali mengetuk pintu, tapi orang yang di dalam tidak menjawab jadi saya masuk, ingin mengantarkan minuman, untuk orang di dalam." Kirana menyindir wanita itu.
"Siapa pun tahu itu ruangan orang, masa ruangan monyet!" gerutunya dalam hati.
"Simpan saja di atas meja!" Suara dingin Bintang keluar.
Kirana lalu meletakkan minuman itu di atas meja. Di pun hendak pergi keluar.
"Tunggu, sepertinya wajahmu tidak asing. Apa kita pernah bertemu?" tanya wanita itu.
Dia terus menatap Kirana dari atas ke bawah. "Aku ingat! Kamu wanita yang mengotori baju mahalku,"
__ADS_1
Kirana melirik Bintang. "Ya ampun, kerja jadi OG aja belagu, sok mau gantiin baju mahal. Duh miskin gayanya selangit!" Wanita itu kemudian tersenyum meremehkan.
...-------...