
Tok ... Tok
Suara ketukan pintu membuat Bintang melepaskan pagutannya. Dia lalu mengambil beberapa tisu dan membersihkan bibir Kirana, kemudian dia membersihkan bibirnya sendiri. Sementara Kirana masih terpaku, mematung.
Bintang mendekati Kirana lalu berbisik, "itu hukuman untukmu."
Bintang lalu bangkit dan duduk kembali di bangku kebesarannya. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Menyadarkan Kirana yang duduk terpaku.
"Masuk!" ucap Bintang seraya menahan senyumnya melihat tingkah Kirana.
Masuklah sekretaris Bintang. "Maaf, Pak. Ini ada berkas yang butuh tanda tangan Bapak segera." Billy memberikan berkas itu pada Bintang.
Bintang menerimanya dan diletakkan di meja. "Kamu boleh pergi Kirana." ucap Bintang. Dia lalu membuka berkas itu dan membacanya sebelum dia menandatanganinya.
"Ah, iya. Terima Pak, permisi."
Kirana bergegas keluar. Dia berpikir jadi untuk ini Bintang menyuruhnya membuatkan kopi. Bintang melihat dia di bonceng Agung, dan dia marah.
"Dasar mesum sempat-sempatnya dia mencium saat marah!" Kirana menggerutu sambil melangkah ke lift.
"Kirana, kamu kok lama sekali mengantar kopi. Ada apa?" tanya Tessa begitu Kirana sampai di ruangan OG.
"Tidak, aku di suruh tungguin sampai kopinya di minum Pak Bintang, takutnya kopinya nggak enak." Kirana memberi alasan secara asal, entah masuk akal atau tidak.
"Oh, begitu. Mungkin karena kamu baru pertama kali membuatkan kopi untuk beliau."
"Iya, he ... he ... he." Kirana tertawa kecil.
Dia lalu, keluar dari ruangannya. Lebih baik untuk sementara waktu dia menghindar dari Tessa, dari pada dia terus diinterogasi.
Kirana berjalan santai, tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Kirana!"
Kirana menoleh pada sumber suara. Nampak Mas Agung sedang tersenyum.
"Mati, aku!" gumam Kirana pelan.
Dia bingung harus bagaimana? ingin pergi takut Mas Agung merasa tersinggung, tetap di sini dan bicara dengan Agung takut ada yang marah.
Kirana celingak-celinguk, melihat ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan tidak ada yang mengawasi. Agung mendekati Kirana.
"Kiran, nanti kita makan siang bareng, mau?" Agung memberanikan diri, untuk mengajak Kirana makan siang dan melakukan pendekatan.
"Aduh, maaf Mas. Saya bawa bekal, maklum pengiritan." Kirana menjawab cepat. Kirana lalu tersenyum dia kemudian menganggukkan kepala tanda hormat.
Dia bergegas pergi, untunglah Kirana mengikuti instingnya, karena di balik kamera CCTV yang tersembunyi, ada mata Elang yang mengawasi.
__ADS_1
"Si Agung, rupanya makin gencar mendekati Kirana, apa perlu dia di mutasi kerja?" Bintang bermonolog seraya menatap layar laptopnya.
Dia sungguh tidak rela jika Kirana ada yang mendekati. Bintang tidak fokus bekerja, dia hanya mengawasi CCTV atau tepatnya dia hanya mengawasi Kirana.
Bintang menelepon pihak HRD dia, meminta profil data Agung. Dia akan mempertimbangkan mutasi.
***
Saat ini waktunya makan siang, Kirana pergi bersama Tessa, ke rumah makan di dekat kantor. Tak diduga di sana Kirana bertemu dengan Bintang, yang sedang makan dengan Billy.
Namun, Kirana tidak mendekati Bintang. Dia berpura-pura tidak kenal dekat dengan Bintang, hanya membungkukkan sedikit badan sebagai tanda hormatnya pada atasan. Apalagi sekarang ada Tessa di dekatnya.
"Kirana, kamu di sini juga. Katanya bawa bekal?" tanya Agung begitu melihat Kirana.
Rencana Kirana makan dengan tenang terganggu oleh kedua makhluk ini. Akhirnya Kirana minta makanannya dibungkus saja.
"Oh, iya aku memang bawa bekal. Tessa minta antar aku, beliin makan di sini."
"Oh, begitu."
"Iya, wah kebetulan sudah jadi pesananku. Aku pergi dulu ya. Ayo, Tessa!" Kirana menarik tangan Tessa.
"Kir, sebentar. Tanganku sakit jangan ditarik begitu, seperti aku ini kambig aja!" Mendengar itu Kirana melepaskan tangan Tessa.
"Aduh, maaf ya Tess, aku tadi nggak sadar. Maaf juga kita makannya jadi di kantor aja, aku tidak nyaman makan di tempat tadi."
"Iya, benar."
Mereka terus berjalan pulang ke kantor mereka. Sampai di sana mereka menuju rooftop dan makan di sana.
***
Bintang benar-benar menjalankan rencananya memutasi Agung, setelah tadi dia melihat Agung yang mendekati Kirana, dan Kirana yang merasa tidak nyaman dengan Agung.
Begitu dia Sampai kantor. Dia menyuruh HRD untuk menaikkan Jabatan Agung, di kantor cabang. Setelah melihat kerja Agung yang baik dia pantas naik jabatan. Bintang tidak akan terlalu merasa bersalah menggunakan jabatannya untuk masalah pribadi.
Agung yang di panggil HRD merasa bingung, ada apa HRD memanggilnya. Apakah dia akan dipecat?
Kini dia sedang duduk di dalam ruangan HRD.
"Pak Agung sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kada Bapak." Pak Raffi mengucapkan selamat pada Agung.
"Selama apa ya?"
"Selamat karena Anda telah naik jabatan. Anda sekarang menjadi manager."
__ADS_1
"Apa, benarkah?" Raut sumringah tercetak jelas di wajahnya.
"Iya, Pak Bintang yang memberi tahu kami. Dia melihat kinerja Anda yang bagus. Anda akan menjabat sebagai manager dan di tempatkan di kantor cabang Kalimantan."
"Apa, Kalimantan?"
"Iya,"
"Tidak bisakah di sini saja?"
"Tidak, Pak Agung. Di sana lebih membutuhkan tenaga Anda."
"Saya senang naik jabatan, tetapi jauh sekali, bagaimana dengan keluarga saya?"
"Juga dengan Kirana," lanjutnya dalam hati.
Baru saja akan berjuang untuk masa depannya dia harus pergi. Mungkin Kirana memang bukan jodohnya.
"Bila Mas Agung, keberatan. Silahkan sampaikan pada Pak Bintang."
Mana berani dia bilang keberatan yang ada dua langsung dipecat. Harusnya dia bilang terima kasih, karena naik jabatan.
"Tidak, Pak. Saya tidak keberatan. Terima kasih."
"Anda akan mulai bekerja di sana satu Minggu lagi."
"Apa? Satu Minggu." Benar-benar dia dibuat shock sejak tadi.
"Iya, ini surat Anda."
Pak Raffi memberikan surat pemberitahuan kenaikan jabatan dan mutasi pada Agung.
***
Jam menunjukkan pukul 17.00 sudah saatnya Kirana untuk pulang. Dia kemudian cepat menyelesaikan pekerjaannya dan membereskan perlengkapan.
Kirana kemudian ke toilet untuk merapikan diri. Setelah itu Kirana mengambil tasnya dan keluar dari ruangan OG.
Tesa sudah pulang lebih dulu, tadi dia bilang pada Kirana bahwa, malam ini keluarga calonnya akan datang ke rumah untuk melamarnya.
Kirana turut bahagia. Tesa sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu. Pacarnya adalah seorang pedagang di pasar, tiga tahun lebih tua dari Tesa.
Dia belum pernah bertemu dengannya, tapi Kirana pernah melihat fotonya. Wajahnya manis dan keluarganya juga baik. Memang kita tidak bisa menilai seseorang dari sebuah foto, tapi terlihat senyumnya tulus. Itu hanya penilaian sekilas dari Kirana.
Kirana berjalan santai keluar lobi. Dia berencana akan naik busway saja.
__ADS_1
Namun, apalah daya, manusia hanya bisa berencana, tapi takdir Allah yang menentukan.
Di hadapan Kirana ada sesosok manusia menghalangi jalannya.