
"Kirana bangun, sayang." Bintang membangunkan Kirana dengan suara lembut. Kirana tidak terusik. Bintang kemudian membelai pipi Kirana, tetap saja Kirana belum bangun.
Bintang akhirnya membelai pundak telanjang Kirana, lalu mengecupnya. Kirana mungkin kelelahan, dia langsung tertidur. Bintang menyelimutinya agar tidak kedinginan.
Andai bukan karena waktu sholat yang hampir habis Bintang tidak akan membangunkan Kirana.
"Sayang, kamu belum sholat magrib ayo bangun. Mandi dulu, atau aku mandikan."
"Engh." Kirana masih sangat mengantuk, tapi dia harus sholat. Ah baru saja dia mandi masa mandi lagi rasanya malas sekali.
"Kalau Aa yang mandiin, nanti berlanjut ke yang lain. Kamu malah nggak jadi sholat." Bintang berbisik di telinga Kirana.
"Gendong." Kirana merentangkan tangannya minta digendong.
Bintang menyibak selimut yang menutupi tubuh polos Kirana, dia kemudian menggendong Kirana menuju kamar mandi. Mata Kirana masih terpejam dia mengalungkan tangannya pada leher Bintang. Tubuhnya terasa dingin, Kirana mencari kehangatan dengan merapatkan tubuhnya pada Bintang yang sudah berpakaian lengkap.
Kini Kirana berada di kamar mandi, Bintang perlahan menurunkannya di bathtub yang sudah diisi air hangat olehnya.
"Ayo, Kirana cepat! Kau sudah di ujung waktumu, untuk sholat. Aku keluar, atau aku akan menyerangmu lagi."
Kirana membuka matanya. Dia segera menggosok-gosok badannya, di air yang sudah di beri sabun dengan wangi lavender.
Kirana bergegas bangun dan berdiri di bawah Shower dia membilas badannya. Waktu sholat semakin mepet, Kirana mempercepat mandi junubnya.
Bintang turun ke bawah meninggalkan Kirana yang sedang mandi. Aurora dan Galaksi sedang menonton TV.
"Kirana sudah bangun?" tanya Aurora.
"Sudah. Sedang mandi," jawab Bintang.
Tadi setelah selesai melakukan ibadah suami istri, Aurora mengetuk pintu kamar Bintang. Memanggil mereka untuk makan malam. Bintang membuka pintu dengan penampilan yang berantakan.
Aurora pun mengerti dengan melihat penampilan Bintang. Dia tersenyum sendiri, lalu mengingatkan untuk sholat magrib.
Bintang langsung mandi dan sholat lalu membangunkan Kirana.
***
"Semoga Mamah cepat punya cucu," doa Aurora.
"Amin." Galaksi dan Bintang mengaminkan doa Aurora.
Kirana menuruni anak tangga satu per satu. Dia memakai baju gamis dengan kerah leher tinggi, untuk menutupi tanda sayang dari suaminya.
Kirana berusaha berjalan dengan biasa walau mahkotanya sangat sakit karena di bobol oleh Bintang.
"Sayang, pelan-pelan jalannya." Aurora mengingatkan. Membuat Kirana merasa malu, kulit putih wajahnya berubah menjadi merah.
"Kalian langsung makan aja, Mamah sudah siapkan di ruangan makan. Kami sudah duluan tadi."
__ADS_1
"Iya, Mah," sahut Kirana malu-malu.
Bintang kemudian bangkit dan merangkul Kirana. "Yuk, mau aku gendong?" tanya Bintang.
"Apa, sih!" Kirana berjalan cepat ke ruang makan.
Kirana duduk berdampingan dengan Bintang. Dia mengambilkan Bintang nasi dan lauk pauknya. Mereka makan dalam diam.
Setelah makan, Bintang dan Kirana bergabung bersama Aurora dan Galaksi.
"Kirana setelah ini, kamu harus minum susu hamil biar jadi cucu Mamah."
"Kirana mah sedikasihnya aja sama Allah, tapi ... emang bisa mah, begitu? Minum susu hamil terus jadi."
"Nggak tahu juga, ini mah teori Mamah aja. Siapa tahu berhasil."
Wajah Kirana memerah membahas masalah itu dengan mertuanya.
"Kirana, 'kan masih muda. Biarin mereka menikmati masa pacaran dulu. Jangan buru-buru, tapi juga jangan KB," ucap Galaksi.
"Kirana masih muda Mamah yang keburu tua, nanti Mamah nggak bisa main sama cucu." Aurora cemberut.
"Siapa bilang kamu udah tua? Kamu tuh masih sama seperti lima puluh tahun yang lalu." Galaksi mencubit hidung Aurora.
Kirana menyaksikan keromantisan mereka, walau sudah berumur mereka masih terlihat cantik dan gagah. Mereka juga sangat romantis, tidak kalah dengan pasangan muda. Kirana jadi teringat Abah dan Ambu.
"A, Kirana boleh telepon Abah sama Ambu nggak?"
Kirana memukul paha Bintang. "Ya kali, gimana neleponnya? Aneh- aneh aja si Aa."
Aurora dan Galaksi terkekeh mendengar perdebatan pengantin baru yang tidak jauh dari masalah ranjang.
'Kirana ke atas dulu, mau ngambil ponsel."
"Biar Aa aja."
Bintang segera ke atas untuk mengambil ponsel Kirana dan juga ponselnya. Saat mengambil ponsel miliknya, Bintang melihat ada banyak notifikasi.
Dia melihat satu nomer yang menarik perhatiannya, karena nomernya dengan kode negara lain bukan +62.
Saat membuka pesan dari nomer itu, Bintang terpaku. Benarkah, ini dia? Bintang terus membaca pesan singkat itu.
Aku rindu padamu, Star.
Star, adalah panggilan spesial dari seseorang untuknya. Seseorang yang juga dia rindukan. Sejenak Bintang lupa kalau dia sudah menikah dan baru saja melakukan malam pertama dengan istrinya. Pintu kamar terbuka, Kirana menyusul Bintang ke kamar.
Bintang terkejut, dia tersadar saat ini dia sudah punya Kirana, rindu ini terlarang untuknya. Namun, dia bisa apa? Jika rindu itu sudah lama berada dalam hatinya.
"Aa, ditungguin lama nggak turun- turun! Aku kan mau telepon Ambu, nanti keburu malam nggak enak, ganggu Ambu Abah."
__ADS_1
Bintang segera mematikan ponselnya, dan memberikan ponsel Kirana. "Maaf, tadi ada pesan dari Billy. Takutnya penting jadi Aa baca dulu."
Kirana mengambil ponsel dari Bintang, ponsel jadul yang masih di pakainya. Dia tidak punya uang untuk membeli yang baru.
Melihat ponsel Kirana, Bintang jadi ingat untuk membelikan dia ponsel baru. Bintang juga belum memberi uang harian pada Kirana. Kenapa istrinya tidak minta?
Bintang mengambil dompet, dia mengeluarkan uang kertas berwarna merah beberapa lembar. "Aku lupa, ini nafkah harian untukmu. Nanti akan aku buatkan tabungan dan ATM juga kredit card untukmu."
Bintang memberikan uang itu pada Kirana. Di sambut oleh Kirana, dia menerima uang itu karena Bintang bilang itu adalah uang nafkah untuknya. Dihitungnya uang itu, berjumlah dua puluh lembar, itu berarti dua juta.
"Ini, untuk sehari?"
"Iya,"
"Ya ampun ini msh satu bulan gaji aku A. Ini gak kebanyakan?"
"Nggak, kalau kamu kurang, nanti Aa tambahin lagi."
"Ngga, Kok! Nggak kurang, ini mah udah banyak, A."
Kirana merasa mendapat durian runtuh, rezeki nomplok. Dapat uang nafkah dua juta hari. Dalam hati dia menghitung jika satu hari dua juta berarti satu bulan enam puluh juta, wah cepat kaya dia. Bisa beli tanah di kampung.
Kirana tersenyum sendiri membayangkan dia akan pulang membawa uang yang banyak untuk abah dan ambu.
"Kamu, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bintang.
"Hah! Ah, tidak. Makasih A uangnya, akan Kirana tabung untuk masa depan."
''Kamu Paksi saja untuk keperluan kamu beli make up, baju atau tas dan yang lain yang kamu mau. Kalau tabungan nanti aku bikinin terus aku isi setiap bulan."
"Serius!"
"Iya, aku ini suami kamu, kamu lupa kalau aku ini CEO perusahaan? Aku nggak mungkin membiarkan istriku terlantar. Uangku banyak jadi tenanglah, pakai saja uang harian itu untuk kamu."
"Sombong amat! Jangan takabur, kita harus bersyukur jangan foya-foya. Aku lebih baik uangnya di kumpulkan, lalu sebagian aku sumbangkan ke panti asuhan."
"Terserah kamu, itu sudah hak kamu. Bicara sumbang menyumbang, perusahaan sudah menyumbangkan 20% keuntungan untuk panti asuhan yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya."
"Oh, ya! Kok, kami karyawan tidak tahu."
"Ya memang tidak semua tahu, takut di bilang sombong!" Bintang lalu keluar kamar.
"Dih, kenapa tuh orang? Lagi PMS kali, ya. Sensi amat." Kirana geleng- geleng kepala. Dia lalu menuju lemarinya untuk mengambil dompet dan menyimpan uang dari Bintang.
...----------------...
Maaf masih typo, terima kasih masih membaca ceritaku. Terima kasih juga bintang 5 nya, like dan komen, bunganya yang betaburan terima kasih banyak. 😍😍🥰🥰🥰
Semoga ceritaku ini jadi favorit kalian ya. Thanks buat yang sudah masukin ke favorit ..😍
__ADS_1
❤️❤️❤️love you all ❤️❤️❤️