
Saat sore menjelang Bintang kembali mendapat telepon dari ayah Maya dan dia bingung harus bilang apa?
Jika dia pergi sendiri dia tidak enak dengan Kirana, jika pergi dengan Kirana justru Kirana nya tidak mau.
"A, ayo kita pergi, aku sudah siap ini." Kirana sudah tampil cantik, Bintang sampai tak percaya. Tiba-tiba Kirana tanpa pemberitahuan sudah tampil cantik dengan balutan gamis dan hijab.
"Ah, iya. Sebentar Aa siap-siap dulu."
"Kirana? Kamu cantik sekali, mau kemana?" tanya Aurora yang melihat Kirana.
"Mamah pikir tadi siapa? tidak tahunya mantu Mamah yang cantik."
"Ah, Mamah bisa aja."
"Kamu mau ke mana?" tanya Aurora lagi.
"Mau ke acara tahlilan Maya, Mah."
"Ngapain kamu menghadiri acara dia?"
"Mah, sebagai sesama manusia kita harus saling mendoakan mereka yang sudah tiada agar di beri kelapangan dan kedamaian di alam kuburnya."
"Tapi, dia adalah madu kamu."
"Bintang hanya ingin membahagiakan sahabat di akhir hidupnya. Saya tidak bisa menyalahkan Bintang sepenuhnya. Dia berada dalam posisi yang sulit."
"Kamu benar, Kirana. Beruntung Bintang mempunyai istri kamu yang pengertian dan berpikiran positif."
"A Bintang tidak beruntung tapi pusing dapat istri aku Mah, cuma Office girl."
"Hus, nggak penting pekerjaan Kamu apa, bagi Mamah yang penting itu attitude, sama hati."
"Sayang, aku sudah siap ayo kita berangkat."
"Waduh kalian serasi banget, tampan dan cantik warna baju sama. Bintang kali ini Mamah maafkan kamu, karena Kirana sudah membuka hati Mamah. Lain kali kalau kamu menyakiti Kirana, Mamah yang akan menjauhkan Kirana dari kamu."
__ADS_1
"Iya, Mah. Tidak akan ada lain kali. Bintang tidak ingin menyakiti Kirana lagi."
"Ya sudah, sekarang kalian berangkat."
"Iya, Mah. Kami pamit dulu." Kirana dan Bintang mencium tangan Aurora.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Mereka kini sudah sampai di rumah Maya, Kirana enggan untuk turun.
"Kirana, ayo kita turun sayang." Bintang mengajak mereka turun.
Kirana lalu turun bersama Bintang. Dia lalu merangkul tangan Bintang.
Ayah Maya, senang melihat Bintang yang ikut hadir, namun, wajahnya seketika berubah begitu melihat wanita di samping Bintang.
"Nak, Bintang akhirnya datang juga. Ayah senang sekali."
"Saya turut berduka cita, atas kepergian Maya. Semoga beliau di terima di sisi-Nya."
"Amin, terima kasih Bu Karina. Mari masuk Bintang."
Karina merasa ayah Maya tidak menyukainya. Karina mengikuti Bintang masuk ke dalam rumah Maya.
Acara pun di mulai, di bimbing oleh pak Ustadz. Setelah mengaji dan tausiyah singkat acara di tutup dengan hamdalah.
"Nak Bintang, terima kasih sudah hadir. Maya pasti senang karena suaminya sudah hadir di sini."
Bintang melirik Kirana yang terlihat tidak suka saat Ayah Maya mengatakan suami.
"Sama-sama Pak. Saya hadir karena sebagai rasa kemanusiaan. Selain itu Maya dulunya juga sahabat saya. Kalau bisa kita lupakan jika saya dan Maya pernah menikah siri. Bapak tahu, saya melakukan itu terpaksa atas permintaan Bapak. Hargai istri saya. Bagi saya, dia lah istri satu-satunya. Hubungan saya dan Maya tidak terikat apa pun lagi. Kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum."
__ADS_1
Perkataan Bintang menohok Ayah Maya. Hatinya sedikit terluka. Bintang menganggapnya seperti itu.
Bintang tidak pernah mencintai anaknya.
Sementara itu di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Kirana hanya diam saja.
"Sayang, jangan diam saja. Apa kau marah sama Aa? Semua Aa sudah bereskan. Aa sudah tegaskan pada Ayah Maya. Kamu masih marah?" Bintang mengajak Kirana berbicara.
Kirana menoleh pada Bintang. "Aku tidak marah sama Aa. Tadi Aa sudah menegaskan bagaimana perasaan Aa sama Maya."
"Terus kenapa diam?"
"Aku lapar, dari siang belum makan."
"Ya ampun, kasihan sekali istriku. ayo kita cari makan."
Bintang merasa senang hatinya lega, Kirana tidak marah padanya. Semoga rumah tangganya dengan Kirana langgeng dan awet sampai tua.
Mereka berhenti di depan sebuah restoran mewah.
"Kok di sini, aku nggak mau. Aku lagi pengen nasi uduk." Kirana tidak mau turun.
"Nasi uduk, nyari di mana?"
"Tanya Mbah Google."
Bintang mengambil ponselnya dan mencari alamat penjual nasi uduk di Jakarta.
Ternyata cukup banyak, dia pergi ke tempat penjual terdekat.
Begitu sampai Kirana sangat senang. Dia langsung turun dan memesan sendiri nasi uduknya.
Bintang datang menyusul dan duduk di samping Kirana. Pesanan mereka datang. Kirana makan dengan lahap bahkan dia sampai menambah porsi.
Bintang takjub melihatnya. Kirana terlihat bahagia dan menikmati sekali makannya.
__ADS_1
...----------------...
Maaf, ya sedikit sedang sibuk maksimal nanti saya akan double up. Terima kasih.