Kirana

Kirana
Bab 48. Kirana Cemburu


__ADS_3

Hari ini, rutinitas kembali berjalan. Bintang akan masuk kerja begitu juga dengan Kirana. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.


"A, nanti aku turunin di tempat yang agak jauh aja, ya."


"Kenapa, begitu?"


"Nanti kalau ada yang lihat aku naik mobil Aa, bisa jadi gosip hangat. Mending gosip doang, kalau aku jadi bahan bully gimana?"


"Tinggal jelaskan sama mereka kalau aku ini suami kamu. kenapa takut banget? Kamu malu mengakui aku sebagai suami?"


"Malu gimana? Yang ada terbalik, Aa nanti yang malu kalau semua tahu ternyata istri Aa ini, hanyalah seorang office girl."


"Aku nggak malu. Biar seluruh dunia tahu juga, aku tidak malu."


"Ih, pokoknya jangan sampai ada yang tahu! Turunin aku di depan aja."


"Kok, di depan? Itu kan masih jauh!"


"Segitu mah dekat, aku sudah biasa. Stop!" Mobil pun berhenti. Kirana turun, tiga ratus meter dari kantor.


"Udah sana jalan. Nanti ada yang lihat!" Kirana berteriak dari luar mobil.


Bintang pun terpaksa menjalankan mobilnya namun dengan perlahan.


Kirana kesal dengan mobil Bintang yang jalan seperti Keong. Dia akhirnya berjalan dengan cepat.


Begitu sudah dekat dengan kantor, Bintang baru menambah kecepatan sedikit dan mencari tempat parkir.


Kirana masuk ke dalam lobi kantor dan terus melangkah menuju ruangannya.


Dia langsung bekerja membuatkan minuman untuk para staf, dan mengantarkannya ke meja mereka.


Kirana merasa sedikit pusing dan mual. Dia lalu membuat susu coklat hangat.


"Kirana, syukurlah kau sudah kerja lagi. Aku kewalahan nggak ada kamu." Tesa menyapa Kirana.


"Iya, sebenarnya masih kurang cutinya aku masih kangen Abah sama Ambu."


"Bagaimana kabar mereka, baik?" tanya Tesa.


"Alhamdulillah, baik. Oh iya ini ada oleh-oleh buat kamu. Semoga kamu suka ya."


"Alhamdulillah, terima kasih ini mah aku suka dodol Garut mah enak."


"Huek." Kirana merasa mual dan segera berlari ke toilet.


Tesa yang melihat itu pun ikut berlari menyusul Kirana.


"Kamu kenapa, Kirana?"


"Sepertinya mag aku kumat."


"Kamu bawa obatnya?"


"Biasanya ada di tas. Nanti aja aku lihat. Huek." Kirana kembali muntah.


"Kamu pulang aja Kirana."


"Nggak ah, baru juga masuk masa udan ijin pulang. Nanti juga sembuh kalau aku udah minum obat mag."


Tesa memijit leher belakang Kirana.


"Mau, di kerok siapa tahu masuk angin."


"Boleh deh. Kerokannya di mana?"


"Di sini aja, aman. Nggak akan ada cowok yang masuk. Ini aku bawa minyak kayu putih."


"Iya, deh."


Kirana membuka kancing depannya, Tesa mengangkat ke atas baju Kirana. Dia membuka tali kacamata yang menutupi gunung kembar Kirana.

__ADS_1


Tesa mulai mengoleskan minyak kayu putih di kulit punggung Kirana dan mengeroknya dengan uang koin.


"Aduh, kalian sedang apa? Malah kerokan, aku cari dari tadi." Masuk karyawan wanita bernama Ratna.


"Maaf, Kak Ratna aku sedang di kerok sebentar. Perutku mual, mungkin masuk angin."


"Sepertinya iya. Tuh merah banget."


"Nanti kalau sudah kamu tolong ke mejaku ya. Aku ada perlu."


"Iya, Kak," jawab Kirana.Ratna segera pergi keluar.


"Kir tahu nggak, kemarin itu Kak Ratna uring-uringan soalnya Pak Bintang nggak masuk."


"Emang kenapa?" tanya Kirana.


"Katanya jadi nggak semangat kerja kalau belum lihat wajah Pak Bintang. Dia itu kan fans berat Pak Bintang. Nanti kamu lihat aja di mejanya ada fotonya Pak Bintang."


"Ya, ngefans nggak apa-apa kali. Auw, sakit Tes pelan-pelan."


"Ini juga udah pelan, tahan sebentar, lihat warnanya merah. Ngefans sih nggak apa-apa tapi kan Pak Bintang udah nikah. Nggak pantas rasanya kalau ngefans sama suami orang."


"Masih lama nggak, aku nggak enak sama Kak Rat."


"Sedikit lagi, tanggung."


Lima menit kemudian. "Udah, selesai, semoga kamu veiat sembuh ya." Tesa kembali memasang tali kaca mata Kirana. Dia lalu menurunkan baju Kirana, kemudian mencuci tangannya.


"Makasih banyak ya Tes, sekarang rasanya udah enakan," ucap Kirana seraya mengancingkan bajunya.


"Iya, sama-sama."


Kirana mencuci tangan dan merapikan penampilannya.


"Tes, aku minjem minyak kayu putihnya boleh? Baunya enak, mual aku jadi hilang."


"Boleh, nih pegang."


Kirana langsung menuju meja Ratna. "Kak Ratna ada apa, ya?"


"Oh, kamu sudah kerokannya?"


"Sudah, Kak."


"Sini, saya minta tolong. Kamu antar makanan ini untuk Pak Bintang ya. Bilang ini dari saya. Saya buat ini sendiri khusu untuk Pak Bintang, tapi saya nggak berani kasih sendiri. Kamu kan tahu dia dinginnya kaya apa. Belum lagi harus ngadepin sekretarisnya yang jutek."


"Tapi Kak, ngasihnya gimana? Kan nggak bisa asal masuk."


"Kamu bikinin dia minuman."


"Saya bikin kalau beliau minta," ucap Kirana.


"Ya, terserah gimana caranya? Yang penting ini harus kamu kasih sama Pak Bintang!"


Kirana bingung dengan kemauan Ratna. Dia melirik ada foto suaminya di sana.


Benar kata Tesa, Ratna ini adalah fans berat Bintang. Semoga tidak menjadi obsesi, sebab bahaya kalau seseorang sudah terobsesi dengan sesuatu.


"Baik, Kak. Akan saya coba. Nanti kalau saya nggak bisa masuk, saya titipin ini ke sekretarisnya boleh?"


"Jangan! Dia jangan sampai pegang ini."


"Oke, aku permisi dulu Kak." Kirana pergi membara bungkusan yang diberikan oleh Ratna.


"Semangat Kirana, semoga berhasil." Ratna memberi semangat pada Kirana.


Kirana kembali ke pantry, dia akan membuatkan segelas kopi kesukaan Bintang.


Perasaan Kirana begitu tahu ada wanita yang menyukai suaminya tentu tidak baik-baik saja. Sedikit kesal dan insecure.


Apalagi ini disuruh ngasih barang ke suaminya dari cewek lain, hello dia istrinya. Namun, Kirana tidak bisa marah. Di kantor tidak ada seorang pun yang tahu kalau Bintang adalah suaminya, tapi kan mereka tahu kalau Bintang sudah menikah.

__ADS_1


Kirana berjalan ke ruangan Bintang. "Kak Billy maaf, Pak Bintangnya ada?"


"Ada, silahkan masuk."


"Terima kasih."


Kirana masuk tanpa mengetuk pintu.


"Pak, ini minumannya."


Bintang melihat ke arah Kirana. Dia lalu tersenyum dan bangkit menghampiri Kirana.


Mereka duduk di sofa. "Duh, istriku baik sekali mengantar minum."


"Nih." Kirana memberikan bungkusan dari Ratna.


"Apa ini?" tanya Bintang.


"Buka aja. Itu dari fans Aa yang cantik. Dia nyuruh aku ngasih ini ke Aa." Kirana menjawab dengan ketus.


"Ada yang cemburu, nih ye. Kamu tenang aja sayang. Aa tidak akan tergoda, coba kalau kamu mau menunjukkan diri kamu sebagai istri Aa."


"Aku pasti akan di bully."


"Kamu, tidak usah takut di bully. Siapa yang berani bully istri CEO? Mereka pasti takut di pecat."


Kirana membuka bungkusan itu. Berisi kotak kue, dia membukanya.


"Billy!" Bintang memanggil Billy.


"Ini kue buat kamu. Bawa pulang aja."


"Baik Pak. Terima kasih." Billy membawa kotak kue itu keluar.


"Tuh ada suratnya, nggak mau baca?" tanya Kirana.


Bintang gemas dengan Kirana yang seperti ini. Dia lalu mengambil suratnya dan langsung di buang ke tempat sampah tanpa membacanya.


"Udah beres 'kan?" tanya Bintang seraya duduk di samping Kirana.


"Tahu, ah." Kirana masih saja kesal.


Bintang mencubit hidung Kirana. "Gemesnya Aa kalau kamu begini, jadi pengen cium."


"Jangan macam-macam ya A, ini masih di kantor, Nanti kalau ada yang masuk gimana."


"Berarti kalau di rumah boleh dong?"


Wajah Kirana menjadi merah, dia salah tingkah. "Udah, sana kerja lagi. Aku mau kembali ke pantry."


Kirana beranjak bangun, Bintang menarik tangannya hingga Kirana jatuh di pangkuan Bintang.


Bintang langsung mencium bibir Kirana. Rasa shock yang dirasakan Kirana berubah menjadi rasa nyaman. Dia pun terbuai oleh ciuman Bintang. Kirana mengalungkan tangannya pada leher Bintang.


Suara ketukan pintu menghentikan aksi Bintang. Kirana lalu merapikan bajunya, dan mengancingkan, kancing baju yang terlepas. Rupanya tadi Bintang sedikit bermain di gunung kembarnya.


Pintu pun terbuka, sebelum Bintang menyuruhnya masuk.


"Ups, Sorry gue ganggu." Nathan tersenyum pada Kirana dan Bintang.


"Lo, mau ngapain sih ganggu aja!" Bintang pindah posisi menjadi duduk di kursi kebesarannya.


Wajah Kirana sudah merah. "Saya pamit dulu." Kirana segera pergi dari ruangan Bintang.


...----------------...


.


"


"

__ADS_1


__ADS_2