
Waktu terasa berjalan lambat bagi Kirana. Berulang kali ia melirik jam dinding di ruangan tersebut, tapi Alex belum ada tanda-tanda menyudahi perbincangan tentang kerjasamanya itu.
Kirana merasa sesak satu ruangan dengan Alex.
Berbanding terbalik dengan Alex, pria itu memang sengaja mengulur waktu, dia menikmatinya, melihat wajah cantik Kirana yang gelisah tak menentu.
Satu jam berlalu, akhirnya meeting selesai. Kirana menghela napas lega. Akhirnya dia bisa pergi meninggalkan tempat ini. Masih terbayang di benak Kirana, bagaimana mata Alex berkilat ketika mereka bertemu pandang tadi. Hii... Kirana bergidik ngeri mengingatnya.
Lain kali ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mau ikut dengan Vano jika harus kembali ke sini. Alasan apa pun akan dia cari.
"Mau makan dulu?" tanya Vano tiba-tiba, ketika mereka berjalan menuju lift.
"Maaf, Pak. Saya harus pulang. Danish pasti sudah menunggu saya." sahut Kirana.
"Jadi, kamu belum dapatkan pengasuh untuk Danish?"
"Sudah, tapi Danish masih belum terbiasa."
Vano mengangguk. Berusaha mengerti.
Bahkan hanya untuk mengajaknya makan sangat sulit. Batin Vano.
"Pak Vano." seru seseorang di belakang mereka.
Vano dan Kirana menoleh bersamaan. Mereka mendapati Zidan yang tengah berdiri dengan napas terengah.
"Ada apa?" tanya Vano heran.
"Maaf, Pak Alex memanggil anda. Dia ingin bicara berdua saja dengan anda." sahut Zidan. Ia melirik ke arah Kirana yang berdiri di samping Vano.
"Sekarang?"
"Iya sekarang. Pak Alex bilang, ada hal yang perlu di diskusikan lagi. Hanya berdua saja."
Vano menoleh ke arah Kirana. Berdua saja?
Itu berarti Alex tidak mau Kirana ikut dalam pembicaraan.
"Kirana, kamu bisa tunggu saya di lobi bawah? saya akan segera kembali."
Kirana mengangguk. Ia justru senang tidak harus ikut kembali ke ruangan itu. Membayangkan tatapan Alex tadi, membuatnya bergidik ngeri.
Setelah kepergian Vano dan Zidan, Kirana kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah pintu lift terbuka, tanpa membuang waktu, Kirana segera masuk ke dalam.
Namun, baru saja pintu akan tertutup, seseorang menahannya dengan tangan. Sehingga pintu lift kembali terbuka.
Dan sosok pria dengan postur tinggi tegap, berjas biru masuk ke dalam.
Melihat siapa yang masuk ke lift bersamanya, dada Kirana terasa sesak. Bagaimana tidak, pria itu adalah Alex. Dia menyilangkan kaki dan memencet tombol tutup, sehingga Kirana tidak bisa kabur ke luar.
Bagaimana bisa dia di sini?
Bukannya tadi asistennya bilang, ingin bicara berdua dengan Pak Vano?. Pikir Kirana.
"Halo manis, kita bertemu lagi."
Seringai tajam terukir di wajah Alex saat ini, membuat Kirana menciut.
"Anda mau apa? jangan macam-macam atau saya akan berteriak."
Alex tertawa kencang mendengarkan ucapan Kirana.
"Teriak kamu bilang? memang kamu pikir gedung ini punya siapa?"
Kirana terdiam.
__ADS_1
Alex benar, dia bisa melakukan apa saja di sini. Aku harus cari cara untuk kabur.
"Jangan berpikir untuk kabur dariku lagi. Aku gak akan membiarkan itu sekarang!" tukas Alex tajam.
Ting.
Pintu lift terbuka, Alex pun langsung menarik tangan Kirana untuk keluar. Mereka berada di lantai bassemant sekarang.
Berulang kali Kirana mencoba melepaskan diri, tapi selalu gagal. Alex terlalu kuat mencengkram tangannya.
Alex baru berhenti melangkah ketika sampai di depan sebuah mobil Mercedez Benz berwarna hitam.
"Masuk!"
Kirana menggeleng, "Alex, Lepasin."
Alex menaikkan sebelah alisnya, "Jadi sekarang kamu sudah ingat aku?kemarin kamu bilang, salah orang."
"Oke. Aku minta maaf. Tapi aku akan jelaskan lain kali. Sekarang bagaimana kalau Pak Vano mencariku? please." Kirana berkata, memohon pada pria di hadapannya.
"No. Nanti kamu kabur lagi."
"Kamu sudah tahu aku kerja sama Pak Vano. Gimana aku bisa kabur?"
Alex terdiam. Di dalam hatinya ia membenarkan ucapan Kirana tadi. Kalau Kirana kabur, dia bisa dengan mudah meminta identitasnya dari Vano. Tapi Alex menepis semua itu. Dia harus bertekad. Wanita ini penuh tipu daya.
"Mana nomor ponsel kamu."
"Apa?"
"Nomor ponsel. Atau kamu nggak akan bisa pergi dari sini."
Kirana menghela napas, ia pasrah dan memenuhi permintaan Alex. Yaitu memberikan nomor ponselnya. Keputusan yang tepat, karena Alex akan menghalalkan segala cara demi tujuannya tercapai.
Alex tersenyum miring begitu mendapatkan nomor ponsel Kirana. Erwischt! setelah ini kamu nggak akan bisa mengelak lagi, Kirana.
🌸🌸🌸
"Mau mampir, Pak?" tanya Kirana, sebelum turun dari mobil.
"Boleh?" Vano balik bertanya.
"Ya boleh dong, masa gak boleh." Kirana tertawa kecil, lalu mengajak Vano masuk ke dalam rumah.
Kedatangan mereka di sambut oleh Danish yang sudah pulang dari sekolah. pengasuh Danish bekerja hanya sampai Kirana pulang.
"Halo Danish." sapa Vano.
"Halo, Om. Apa kabar?"
"Haha, baik. Jadi kamu udah masuk sekolah?"
"Duduk dulu, Pak." Kirana menyela. Ia mempersilakan Vano untuk duduk di ruang tamu, sementara dia membuat minuman, Danish tetap di sana mengobrol dengan Vano.
"Iya dong. Sekolah Danish bagus loh, Om."
"Wah bagus dong, jadi kamu sudah dapat banyak teman?"
"Sudah. Kalau teman Danish sudah punya. Tapi ada yang belum Danish punya."
Kening Vano mengernyit, "Apa itu?"
Jika itu mainan atau semacamnya, Vano bersedia membelikannya.
Danis pun mendekati Vano, kemudian bicara dengan suara berbisik.
"Papa! Danish gak punya papa."
__ADS_1
Deg. Hati Vano mencelos. Papa?
Jadi itu yang di inginkan Danish?
Vano pun tersenyum, menatap mata Danish yang berbinar.
"Om mau gak jadi papa Danish?"
"Kalau Danish mau, Danish boleh panggil papa mulai sekarang." sahut Vano.
Perkataan Vano tadi berhasil membuat Danish gembira. Anak kecil itu bersorak, karena baginya ini pertama kali dia mempunyai sosok pria yang bisa di panggil papa.
"Papa... papa... papa..." Danish berulangkali menyebut kata itu, membuat Vano semakin gemas padanya.
"Ada apa ini? kok kayaknya seru." Kirana datang, membawakan minuman untuk Vano, lalu meletakkannya di meja.
"Mama, katanya mulai sekarang Danish boleh panggil papa ke Om Vano."
"Apa?"
Kirana beralih menatap Vano, untuk meminta penjelasan.
"Danish, kamu main di dalam dulu ya. Mama mau bicara sama Om Vano."
Danish mengangguk, "Dadah papa...."
Kirana kembali terhenyak, kata papa yang di peruntukan Danish untuk Vano, membuatnya merasa tidak enak.
"Maaf Pak, pasti Danish ya yang maksa buat panggilan itu."
Vano melengkungkan bibirnya, pria tampan berkulit putih itu tersenyum.
Dia memang menyukai Kirana, tapi ini belum saatnya ia bicara. Pelan-pelan, karena bagi Vano, Kirana itu istimewa, dia sangat sulit di dekati.
Mungkin ini salah satu cara untuknya, agar bisa lebih dekat dengan Kirana.
"Gak apa-apa, Kir. Aku gak masalah kok." sahut Vano, jika sedang di luar jam kerja, mereka memang bicara dengan bahasa nonformal.
"Nanti aku nasehati Danish supaya gak begitu." Kirana tetap bersikeras.
"Hei, aku serius gak keberatan. Dia cuma anak kecil. Atau jangan-jangan kamu yang keberatan?"
Kirana gelagapan di bilang seperti itu. Saat ini, dia merasa wajahnya kian memanas, apalagi di tatap tajam seperti itu oleh Vano.
Apa ini? kenapa jantungku berdebar?
Pak Vano sebaik ini, dia bahkan tidak keberatan untuk di panggil papa oleh Danish. Kenapa?
"Kirana?"
"Ya"
"Aku pamit ya, ingat jangan marahi Danish. Ah iya, kalau aku sering datang kemari, boleh?"
Kirana terdiam sebentar, berusaha mencerna maksud dari ucapan bosnya barusan. Kalau dia tidak salah artikan ucapan Vano, itu berarti Vano ingin lebih dekat dengannya.
Perlahan Kirana mengangguk, membuat Vano semakin melebarkan senyumnya.
"Terima kasih. Sampaikan salam ke Danish ya, aku pulang dulu."
Kirana menghela napas, ia menghempaskan tubuhnya di sofa setelah kepergian Vano. Sikap baik Vano perlahan berhasil membuatnya luluh. Apalagi pria itu bahkan menuruti mau Danish, dan bersedia di panggil papa.
Seperti kata pepatah jawa, Tresno Jalaran Soko Kulino, Cinta datang karena terbiasa.
Mungkinkah Kirana telah jatuh cinta pada Vano?
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1