
Kirana kembali ke ruang makan, setelah dirasa cukup lama dia berada di dapur. Namun, di sana tidak nampak siapa pun kecuali suaminya.
"A, mana Mamah dan Papah?"
"Mereka sudah ke kamar, ingin berolah raga malam."
"Ha, olah raga, kok malam-malam. Ada-ada aja, tapi mereka hebat udah tua masih rajin olah raga."
"Bukan hebat tapi udah tua masih nafsuan."
"Hah! Maksudnya?"
"Udahlah, kaya gitu aja otak kamu nggak nyampe. Ayo kita ke atas, aku juga mau olah raga malam. Sekarang udah ada partnernya, dulu mau olah raga malam nggak bisa." Bintang berjalan mendahului Kirana.
Kirana menatap Bintang bingung, dia lalu mengikuti Bintang. Mereka berjalan menaiki anak tangga satu per satu. Bintang membuka pintu dan mengajak Kirana masuk, kemudian dia menutup kambali pintunya.
"A, urusan kamu sama Mamah, sudah selesai?" tanya Kirana. Bintang menuntun Kirana untuk duduk di sofa.
"Sudah, aku sudah minta maaf sama Mamah dan Papah."
"Biasa dengar Aa bilang 'saya' rasanya aneh pas di ganti
'aku', tapi Kiran suka." Kirana tersenyum.
"Kalau di kantor tetap 'saya', kalau di luar kantor 'aku'."
"aku mau ke kamar mandi dulu!" Kirana berdiri, dia lalu pergi ke kamar mandi.
"Sekarang atau jangan." Bintang sedang bingung apa yang harus dia lakukan. Apakah dia meminta haknya sekarang? Atau jangan?
Bintang terus mondar- mandir seperti setrikaan, jika mengikuti nafsu inginnya sekarang. Namun, logika menyuruhnya bersabar.
Pintu kamar mandi terbuka, Kirana sudah mencuci muka dan menyikat gigi. Dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Kirana melihat Bintang yang mondar-mandir.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Kirana.
"Aku sedang berpikir."
"Berpikir kok mondar-mandir seperti setrikaan. Orang tuh kalau berpikir duduk, biar konsentrasi."
__ADS_1
Bintang segera duduk di samping Kirana. Wajah Kirana terlihat terkejut sebab Bintang duduk secara tiba-tiba. Kirana bangkit dan duduk.
"Kamu tuh kenapa, sih? Bikin kaget aja. Udah lebih baik tidur aja, matiin lampunya!"
Kirana kemudian kembali merebahkan dirinya. Dia membelakangi Bintang.
Bintang menggaruk gemas rambutnya. Dia lalu menatap punggung istrinya, bagaimana cara dia mengajaknya?
Bintang lalu ke kamar mandi untuk menyikat gigi, tak lama sekitar lima menit kemudian Bintang keluar dari kamar mandi dan mematikan lampu kamar.
Dia merebahkan dirinya di samping sang istri. Wajah mereka saling berhadapan, nampak bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir bawah yang tebal dan terbelah, alis yang hitam sungguh perpaduan yang sempurna.
Rasanya dia ingin menghisap bibir itu, ingin mengecup setiap inci dari wajah istrinya. Sampai kapan dia harus menahan hasratnya.
Tangannya perlahan membelai kulit halus wajah Kirana. Sepertinya sang istri sedang terbuai mimpi indahnya, sentuhan Bintang tak mengusiknya. Capat sekali istrinya tertidur.
Bintang lalu memeluk pinggang Kirana, dan memejamkan mata. Dia tidak ingin menganggu istrinya yang tertidur nyenyak, lain kali saja dia berolah raga malam.
***
Suara adzan dan gemiricik air terdengar. Bintang mengambil ponsel Kirana dan mematikan ponselnya yang memasang alarm. Bintang kemudian duduk dan merenggangkan badannya.
Suara air masih terdengar, Kirana sedang asyik menikmati sejuknya air membelai kulitnya yang putih dan lembut. Dia mengusapkan sabun pada tubuhya, wangi harum semerbak menyebar ke penjuru ruangan kamar mandi.
Sungguh rasanya menenangkan dan nyaman. Sabun yang memenuhi tubuhya perlahan luntur ke bawah mengalir bersama air.
Busa pada rambutnya pun ikut terbawa. Sambil di gosok kepala, Kirana membersihkan rambutnya. Setelah semua di rasa bersih, Kirana mengambil handuk dan di lap tubuhnya sampai kering.
Kirana lalu membungkus rambutnya dengan handuk. Untuk menutupi tubuhya yang polos, Kirana mengambil bathrobe dan memakainya.
Dia lalu berwudhu, dan keluar dari kamar mandi. Seketika harum tubuh Kirana menyeruak menyebar ke setiap sudut.
Bintang langsung membuka matanya yang masih terasa berat untuk terbuka. Pemandangan cantik dan harum mewangi, memanjakan mata dan indera penciumannya.
Netranya tak lepas mengikuti ke mana Kirana melangkah.
"A! Mandi! Bengong aja!" Suara Kirana yang sedikit menyentak mengejutkan Bintang. Dia pun pergi ke kamar mandi.
Kirana bergegas memakai baju selagi Bintang di kamar mandi. Baru saja dia membuka bathrobe.
Ceklek
__ADS_1
Kirana terpaku menatap pintu kamar mandi yang terbuka, begitu pun dengan Bintang yang terdiam dengan mulut ternganga, dia lalu menelan ludahnya.
Di hadapannya tersaji indah pahatan Ilahi yang menakjubkan.
"Aa, tutup pintunya!" Kirana berteriak kencang. Sambil berusaha menutupi tubuh bagian atas, tapi bawahnya tidak tertutupi. Kirana menutupi bagian bawah, atasnya terpampang nyata.
Padahal jika Kirana berfikir tenang dia tinggal membuka handuk yang menutupi rambutnya dan di pindahkan menutupi tubuh polosnya, atau dia ambil lagi bathrobe yang di lantai dan memakainya.
Memang benar orang panik cenderung tidak bisa berpikir. Bintang tersadar dan segera menutup pintu. Dia membuka pintu ingin keluar mengambil handuk. Namun dia ketiban rezeki.
Bintang tersenyum-senyum sendiri. "Eh, kenapa gue tutup pintu? Padahal liat juga nggak apa-apa, dia 'kan istri sah gue." Bintang bergumam sendiri.
Kirana segera berlari mengambil gamis dan memakainya tanpa memakai dalaman biar cepat. Bintang membuka pintu, dia sedikit kecewa melihat Kirana yang sudah memakai baju.
Bintang mengambil handuk baru di lemari dan kembali masuk ke kamar mandi. Wajah Kirana memerah dia menunduk tidak mau menatap Bintang.
Saat mendengar suara pintu tertutup, Kirana bergegas mengambil dalaman segitiga, dan memakainya. Dia kemudian menggelar sajadah menghadap kiblat dan memakai mukena.
Kirana sengaja sholat sendiri tidak menunggu Bintang dia merasa malu, dan ingin menghindar dari Bintang.
Kirana sedang sholat saat Bintang selesai mandi. Bintang melihat Kirana yang berada di dekat jendela. Kenapa istrinya ini tidak menunggu dia untuk sholat berjamaah? Bintang lalu melangkah menuju lemari, dia mengambil pakaian dan memakainya.
Bintang kemudian menggelar sajadah dan memakai sarung serta peci, dia kemudian melaksanakan kewajibannya sholat subuh.
Kirana sudah selesai. Secepat kilat dia merapikan perlengkapan sholatnya dan turun ke bawah. Dia memasak sarapan untuk semua penghuni rumah Orion.
Bintang selesai sholat lalu mencari istrinya, ternyata dia tidak ada. Bagus sekali, Bintang merasa Kirana sedang menghindarinya setelah kejadian barusan.
Bintang mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor, dia berdandan rapi lengkap dengan dasi dan jas.
Bintang kemudian turun untuk sarapan. Wangi masakan membuatnya lapar. Langkah Bintang semakin dekat dengan dapur, dia menyimpan tas kantornya di meja kursi ruang makan.
Bintang menuju ke dapur. Terlihat istrinya yang sedang mengaduk sesuatu di penggorengan. Kirana berbalik dia tidak menyadari keberadaan Bintang di sana.
"****!" Bintang mengumpat melihat tubuh depan Kirana. Dia bergegas mendekat seraya melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Kirana dengan jas itu dari belakang.
"Kamu itu lupa tidak memakai kacamata, bajumu sedikit basah dan mencetak gunung kembarmu." Bisik Bintang di telinga Kirana.
Kirana tertegun sejenak mencerna ucapan Bintang. Dia terkejut dengan pelukan Bintang di belakangnya, lalu Bintang membisikkan sesuatu yang membuatnya membeku.
Dia menunduk melihat, bawahnya. Bola matanya membulat dia segera berlari meninggalkan dapur dan masakannya. Kompornya bahkan masih dalam keadaan menyala.
__ADS_1
Bintang segera mengambil alih tugas Kirana, dia meneruskan pekerjaan Kirana memasak, sambil terkekeh membayangkan wajah Kirana yang sangat lucu saat terkejut.
...----------------...