
Clarita dahulu saling kenal dengan Jonathan atau sering di panggil Nathan. Nathan dulu selalu mendekati Clarita, dia jatuh cinta pada Clarita.
Namun, Clarita menolaknya. Karena Jonathan hanya seorang karyawan biasa. Padahal saat itu Jonathan hanya menyamar. Dia adalah teman Bintang sama-sama seorang pengusaha.
Saat Bintang selamat dari kejadian penusukan beberapa waktu yang lalu. Dia menyelidiki kasus itu bersama Bintang, mereka menyewa detektif.
Ternyata diketahui bahwa pelakunya adalah Alvaro. Mereka butuh bukti untuk menjerat Alvaro dan kebetulan Sekretaris Alvaro adalah Clarita.
Mereka menyelidiki Clarita. Nathan mengusulkan mereka mencari bukti lewat Clarita. Bintang harus mendekati Clarita, dia tahu Clarita adalah wanita matre. Pasti mudah untuk Bintang menaklukan Clarita dan memperalatnya untuk memperoleh bukti.
Namun, Clarita justru ingin imbalan dengan menjadikan dia kekasih Bintang. Clarita juga rela melakukan. apa pun asalkan Bintang mau menemaninya tidur.
Bintang menolak, tapi Nathan mempunyai rencana lain. Dia ingin balas dendam, dan melampiaskan hasratnya pada Clarita.
***
"Jadi, kamu yang selama ini ... denganku?" tanya Clarita pada Nathan.
"Hm, bukan Bintang. Dia sama sekali tidak pernah menyentuhmu."
"Pantas saja mataku selalu ditutup."
"Bagaimana, kau puas bermain dengan orang yang kau benci?"
"Kau, aku sangat membencimu. Aku tidak sudi hamil dari benihmu!"
"Kau pikir aku juga Sudi menanam benih pada wanita sepertimu?"
"Akan aku gugurkan anak ini!"
"Terserah, toh belum tentu dia anakku. Aku tahu kau suka bermain dengan banyak pria. Kasihan sekali anak yang ada di kandunganmu, memiliki ibu sepertimu."
"Kau!"
"Bayangkan saja, bila kau yang ada dalam kandungan itu, apa kau mau punya ibu seperti sosokmu sekarang? Apa kau bisa menyayanginya, mendidiknya? Membedakan mana yang benar dan salah saja kau tak mampu!"
Clarita tertegun, dia diam, merenungi setiap kata yang terucap dari mulut Nathan. Hatinya sedikit tersentil.
'Khem, permisi. Saya pikir ini adalah urusan kalian berdua. Saya pergi dulu, saya tidak mau ikut campur. Urusan saya sudah clear, saya tidak ada hubungannya dengan kehamilan Clarita. Sekarang aku akan pulang!"
Bintang bergegas bangun dari sofa dan keluar.
"Bintang, tunggu!" Clarita hendak bangun, tapi ditahan Nathan.
"Dengar Clarita! Bintang sudah tidak ada sangkut pautnya denganmu. Dia juga menjadikanmu pacar, karena terpaksa bukan cinta. Jadi jangan besar kepala, menganggap dia mencintaimu!" sarkas Nathan.
"Minggir kamu! Aku harus bicara dengan Bintang!"
"Duduk!" Nathan melotot pada Clarita seraya sedikit mendorong tubuhnya sehingga jatuh terduduk pada sofa.
__ADS_1
Clarita sedikit ciut melihat Nathan yang dalam mode marah. Dia pun duduk manis dan menunduk.
***
Sementara itu, Kirana sedang di kamarnya. Dia baru saja selesai sholat isya. Kirana berbaring termenung menatap langit-langit kamar.
Pikirannya melayang membayangkan sedang apa suaminya sekarang? Apakah dia sedang berduaan dengan wanita itu? Tak mau larut dalam pikiran negatif, Karina beranjak duduk. Dia menyetel televisi dan menonton acara TV.
Pintu terbuka, masuklah Bintang. "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam, kok Aa udah pulang?" tanya Karina. Dia lalu turun dan mencium tangan Bintang.
"Sudah ada Nathan yang mengurus semuanya. Aku tidak ada urusan lagi dengan mereka."
"Aa, udah makan?"
"Belum. Aku mau mandi dulu."
"Baiklah, sementara Aa mandi, aku buatkan makan malam. Jangan lupa habis mandi sholat isya terus turun untuk makan."
"Iya."
Bintang segera masuk ke dalam kamar mandi. Karina langsung keluar kamar dan bergegas ke dapur untuk masak makan malam.
Masakan yang cepat dan enak serta mengenyangkan adalah nasi goreng. Kirana menyiapkan segala bahan untuk membuat nasi goreng. Berbagai toping juga dia tambahkan, ada sosis, baso, udang, telor itu wajib, dan lain sebagainya.
Mulailah dia memasak. Harum bumbu yang di tumis sangat mengundang selera, bukan itu saja, wanginya juga mengundang Aurora dan Galaksi ke dapur.
"Eh, Mamah. Ini Kirana sedang masak nasi goreng, A Bintang belum makan."
"Ada buat Mamah nggak."
"Kirana masak banyak buat semua," ucap Kirana.
"Asyik, padahal Mamah sudah makan, tapi wangi masakan mu mengundang Mamah ke sini. Tuh, liat! Papah juga ikut ke sini."
Kirana tersenyum, dia terus mengaduk nasi dalam penggorengan. "Sudah matang Mah, ayo kita makan! Mamah duduk dulu, biar Kirana siapkan."
Aurora terus duduk di samping Galaksi. Bintang turun ke ruang makan. Sementara Kirana baru saja keluar dari dapur seraya membawa piring dan nasi goreng. Dibantu oleh ART.
"Aa udah turun, Kirana baru mau panggil ke atas."
"Aku sudah lapar." Bintang menatap ibunya, sepertinya ibunya masih marah padanya.
Kirana mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Silahkan, A." Kirana memberikannya pada Bintang.
Dia kemudian mengambilkan nasi untuk Galaksi setelah itu untuk Aurora.
__ADS_1
Kirana kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Hm, Kirana enak sekali." Galaksi sangat suka nasi goreng Kirana. Kirana hanya tersenyum.
Bintang pun mengakui masakan Kirana sangat enak, dia makan tanpa suara hanya menikmati makan hingga habis.
"Biar kIrana bereskan," Begitu semua piring sudah kosong. Kirana membawa piring-piring kotor itu ke belakang di bantu ART.
Kirana sengaja membawa piring kotor ke belakang, dan meninggalkan mereka. Dia memberi kesempatan untuk Bintang bicara pada mamah.
Aurora mulai beranjak hendak pergi. Namun Bintang menahannya dengan menarik lembut tangan mamah.
"Mamah, Bintang mau bicara."
"Bicara apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan. Mamah sudah tahu dari Kirana!"
" Ada, yaitu permintaan maafku." Bintang lalu bangun dan bersimpuh di kaki ibunya.
"Aku minta maaf, Mah jika melukai hati Mamah. Aku minta maaf jika wanita itu berkata kasar pada Mamah. Aku tidak pernah bermaksud merahasiakan ini. Aku hanya tidak ingin kalian khawatir. Bukan karena kalian tidak penting. Kalian adalah yang terpenting dalam hidupku."
"Maaf Mah, maafkan aku."
Aurora terenyuh, dia memegang bahu Bintang menyuruhnya agar berdiri. "Mamah memaafkan kamu, nak. Cuma itu yang ingin Mamah dengar. Kamu jangan mengulangi lagi. Mamah tidak mau kamu bermain wanita apa pun alasannya."
Bintang berdiri di samping Aurora.
"Apalagi saat ini kamu ada Kirana, istrimu hargai perasaanya, jangan lukai hatinya. Kebahagian dia adalah tanggung jawabmu. Bila kamu tidak sanggup, pulangkan dia dengan cara yang baik." Aurora memberi nasihat pada Bintang juga memberi peringatan agar tidak terulang kejadian yang sama.
"Iya, Mah. Aku berjanji akan membahagiakan Kirana." Aurora memeluk Bintang setelah mendengar janji anaknya.
"Jangan hanya berjanji, buktikan dengan sikapmu. Mamah percaya sama kamu." Aurora membelai belakang kepala Bintang dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tak lama dia melepaskannya. Bintang mendekati sang papah. Dia juga bersimpuh dan meminta maaf pada papahnya.
Galaksi menyuruh Bintang bangun lalu menonjok perutnya. Bintang sedikit mundur karena dorongan itu.
"Ini hukuman buatmu karena telah membuat Mamah menangis. Juga melukai hati Kirana." Galaksi lalu memeluk Bintang.
"Jadilah lelaki yang tangguh, dan bertanggung jawab."
"Iya, Pah."
"Ayo Mah kita ke kamar. Setelah makan Papah perlu berolah raga untuk membakar kalori." Papah mengedipkan matanya pada Aurora.
Wajah Aurora terlihat sedikit malu dan bersemu merah. "Papah ih, yang benar saja, malu tahu ada Bintang!"
"Ah, dia sudah besar kalau dia mau olahraga, dia juga bisa berolah raga sama istrinya." Galaksi menggandeng tangan Aurora. Mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan Bintang sendiri.
...----------------...
__ADS_1
Author minta maaf masih banyak typo. Terima kasih sudah membaca cerita Author. Terima kasih juga bunganya, komen dan likenya. Terima kasih banyak yang berkenan memberi kopi dan vote nya. 🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️