Kirana

Kirana
Part 2 ( keputusan )


__ADS_3

🌸🌸🌸


"Kiran... Kamu di panggil ke ruangan Pak Adi." seru Rara pada Kirana yang sedang sibuk bekerja membuat pola.


Kirana mengusap peluh yang mengalir di keningnya, dengan selembar tisu yang selalu ia siapkan.


"Kenapa ya?" tanya Kirana bingung.


"Gak tau. Kamu temuin aja. Mungkin mau naik gaji. Hehe." seloroh Rara.


Kirana hanya tersenyum menanggapi candaan Rara. Dia melenggang menuju ruangan Pak Adi, bos sekaligus pemilik konveksi tempatnya bekerja.


Tok. Tok. Tok.


"Permisi, Pak. Saya Kirana."


"Ya masuk aja." sahut suara berat Pak Adi di dalam.


Setelah di persilahkan masuk, Kirana membuka pintu dengan perlahan. Matanya sedikit terkejut, ketika mendapati kalau Pak Adi tidak sendiri di sana.


"Kirana? kenapa melamun? Ayo duduk!" ucap Pak Adi, begitu melihat Kirana tetap berdiri diam, di ambang pintu.


"Baik, Pak." Kirana memilih duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan dua orang pria itu. Dia meremas kedua tangannya sendiri. Hatinya cemas berusaha menebak-nebak, apa yang membuat Pak Adi memanggilnya ke sini.


Ia tidak sadar, kalau di balik kecemasannya saat ini, ada seorang pria yang tengah menatapnya dengan penuh kekaguman bahkan sampai tidak berkedip. Sejak Kirana masuk, sampai wanita itu duduk dan kini menundukkan wajahnya.


"Ehemm. Perkenalkan dia adalah Kirana. Pekerja di sini yang tadi saya bicarakan pada anda." ujar Pak Adi.


"Kirana, dia adalah Vano. Pengusaha dari Jakarta." lanjut Pak Adi.


Kali ini Kirana mengangkat wajahnya, ikut menatap ke arah pria yang di kenalkan oleh Pak Adi tadi. Dia tersenyum sopan, membalas senyuman Vano yang di tujukan padanya.


"Jadi begini, Vano itu mempunyai bisnis Fashion di sana. Dia mempunyai brand sendiri. Cabang butiknya sudah banyak. Dan sekarang dia ingin mencari desainer yang berpengalaman untuk di percaya memegang satu butiknya. Benar begitu, Van?"


Vano mengangguk seraya menatap Kirana. "Pak Adi bilang, kamu lulusan Fashion Desaign di universitas X ya? saya lihat pola dan gambar kamu juga unik. Kamu akan berkembang kalau mau ikut bekerja dengan saya. Masalah kontrak dan yang lainnya akan kita bicarakan setelah kamu setuju."


Kirana terdiam. Perkataan Pak Adi dan Vano tadi berhasil mengejutkannya. Desainer?


Itu adalah sesuatu yang dia impikan sejak kecil. Bohong kalau Kirana tidak senang mendengar kabar ini, bahwa ia akan di rekrut untuk menjadi desainer di butik yang mempunyai brand.


Melihat Kirana yang tidak juga menjawab, Pak Adi akhirnya angkat bicara. Dia tahu tidak mudah untuk wanita muda itu membuat keputusan begitu saja.


"Begini saja Kiran, kamu pikirkan dulu matang-matang, rundingkan dengan ibumu di rumah. Saya tahu tidak mudah buat kamu untuk membuat keputusan ini. Tapi ini kesempatan besar buat kamu, Kiran."


"Tapi, Pak..." Vano baru saja ingin bicara. Namun Pak Adi menatap pria itu dengan penuh arti. Membuat Vano kembali terdiam.


Vano teringat pembicaraannya dengan Pak Adi beberapa menit lalu, sebelum Kirana datang. Bahwa tidak akan mudah untuk membujuk wanita itu. Harus menunggu dengan penuh kesabaran. Pertama kali Vano melihat hasil desain Kirana, ia sudah merasa tertarik. Apalagi begitu melihat wujud dari sang pembuat desain yang sangat cantik dan anggun di matanya. Ada yang berdesir aneh di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, Pak. Akan saya pikirkan." sahut Kirana.


Dia pun akhirnya pamit undur diri, untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah keluar dari ruangan Pak Adi, pikirannya menerawang. Kembali mengingat kenangan pahit lima tahun lalu.


Dia sangat menghargai kebaikan Pak Adi selama ini. Kalau bukan karena beliau, entah apa yang terjadi dengan dirinya dan Halimah. Masih teringat di benak Kirana segala kebaikan Pak Adi untuk keluarganya.


Pak Adi adalah orang yang menolong Kirana. Pria paruh baya itu masih kerabat jauh dari Halimah. Kepulangan Kirana ke desa dengan kondisi berbadan dua membuat seluruh penduduk bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan gadis itu?


Kirana yang cantik dan pintar, merantau ke Kota untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi terkenal di sana. Demi mencapai cita-cita tingginya sebagai Desiner.


Tak ada yang menyangka kalau Kirana akan mengandung tanpa suami. Berkali-kali di tanya pun, mulutnya bungkam tak menjawab. Kejadian itu membuat dia dan Halimah di usir dari desa asalnya. Kehadiran Kirana di anggap mencoreng nama baik desa itu.


Manusia bisa menghakimi, tapi Allah adalah sebaik-baiknya hakim. Di balik rasa putus asanya, Allah mengirimkan penolong untuk mereka.


Pak Adi menawarkan bantuan, memberikannya pekerjaan dan tempat untuk tinggal, hingga Kirana bisa menjalani hidup seperti sekarang.


Kirana menghela napas berat. Matanya kembali memanas mengingat peristiwa itu. Ia segera mengusapnya, sebelum air mata jatuh lebih deras.


Kesempatan besar katanya? Apa kesempatan itu memang masih ada untuk diriku?


Batin Kirana.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Pergilah, nak." Halimah duduk di tepi ranjang mengelus rambut panjang Kirana.


"Kenapa? apa ibu bosan aku tinggal di sini?"


Kirana mulai terisak, "Maaf ibu. Aku tahu, hanya ibu satu-satunya yang menerima aku yang kotor ini."


"Ibu hanya ingin kamu kembali bangkit! tersenyumlah. Semua sudah berlalu. Lihatlah Danish, dia sudah besar sekarang. Ini semua demi masa depan kamu dan Danish. Kamu punya bakat dan kemampuan, nak. Kalau kamu merasa sakit kamu harus kuat, balas semua rasa sakit hati kamu selama ini. Tunjukan kepada mereka yang menghina kita, kalau kamu mampu untuk kembali bangkit di tengah keterpurukan."


Akhirnya Halimah mengeluarkan segala isi hatinya selama ini. Halimah berusaha menahan dukanya seorang diri. Ibu mana yang tidak sakit begitu melihat putri semata wayangnya terluka. Bahkan ketika putrinya mencoreng noda padanya, tapi Halimah yang paling tahu kalau ada alasan di balik itu semua.


"Bagaimana dengan ibu?"


"Ibu akan tetap di sini. Kamu bisa pergi sendiri. Biar ibu yang menjaga Danish."


Kirana langsung menggeleng cepat. Dia tidak akan sanggup berpisah lama dengan putranya.


"Gak bu. Kalaupun aku pergi, Danish harus ikut. Aku akan menyekolahkan dia di sekolah yang terbaik."


"Kalau itu keputusan kamu. Ibu manut."


"Ibu ikut saja ya..." rayu Kirana.


"Gak usah. Nanti siapa yang jaga rumah ini."

__ADS_1


Sebenarnya Kirana mengerti, apa penyebab Halimah tidak ingin ikut. Dia hanya pura-pura tidak tahu selama ini.


"Baiklah, aku kan pergi. Tapi dengan satu syarat."


Halimah mengerutkan keningnya. Wanita berumur empat puluh tahunan itu menatap putrinya dengan penuh tanda tanya.


"Apa itu?"


"Ibu harus menikah. Supaya aku tenang meninggalkan ibu di sini. Dengan Pak Adi mungkin?" ucap Kirana sambil mengulum senyum, dan mengusap sisa-sisa air matanya.


Wajah Halimah seketika memerah. Dia mengalihkan pandangannya ke segala arah untuk menutupi rasa gugupnya.


"Ibu, aku sudah tahu kok. Kalau Pak Adi itu mantan pacar ibu dulu kan? Hayoo ngaku."


"Kiran..."


"Gak apa. aku udah tahu kok kalau kalian sebenarnya saling mencintai. Gak usah sungkan sama Kiran, Bu. Menikahlah. Kiran setuju. Justru Kiran senang karena ada yang jaga ibu." Kirana mengusap punggung tangan Halimah dengan lembut.


Sekeras apapun Halimah menyembunyikannya, tetap saja Kirana tahu. Bagaimana Pak Adi begitu banyak menolongnya dengan mengaku kerabat jauh dari Halimah. Padahal laki-laki itu adalah cinta pertama Halimah. Kirana tidak sengaja mendengarkan pembicaraan keduanya saat mereka bertemu sebulan yang lalu. Pak Adi datang malam itu, melamar Halimah. Tapi Halimah menolaknya karena memikirkan perasaan Kirana.


"Baiklah, ibu nanti akan bicara lagi dengan Pak Adi." jawab Halimah pelan.


Kirana tersenyum senang, "Begitu dong, Bu. Kasihan Pak Adi jangan di gantung terus, kayak jemuran aja."


"Ah, kamu ini." Halimah mencubit pelan perut Kirana. Membuat mereka tergelak bersama. Melupakan segala kesedihan yang selama ini mereka rasakan.


🌸🌸🌸🌸


"Mama, jadi Danish akan ikut mama ke Dakarta?" tanya Danish, ketika menemani Kirana mengepak baju ke dalam koper.


"Jakarta sayang...bukan Dakarta."


"Ohh iya, tadi juga Danish mau bilang itu, mah. Cuma lidah Danish keseleo. Jadi salah deh."


Kirana tersenyum kecil. Danish itu memang sangat bawel. Dan dia juga tidak suka di salahkan.


"Terus Danish sekolah di sana dong, ma?"


Kirana hanya mengangguk, dia sangat sibuk sekarang, di tambah Danish yang yang kini menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


"Kapan kita berangkat, mah?"


"Tiga hari lagi. Setelah acara Nenek selesai ya, Nak."


"Oh.. kalau begitu Danish keluar dulu ya, mah. Danish mau pamitan sama teman-teman di sini. Biar mereka gak kangen dan nyariin Danish." setelah berkata begitu, Danish langsung mengenakan kaca mata bergaya Iron Man, yang seminggu lalu baru saja di belikan oleh Pak Adi untuknya.


Segala gerak gerik Danish yang lucu tak luput dari perhatian Kirana saat ini. Bagi Kirana, Danish adalah segalanya.

__ADS_1


Meskipun banyak orang yang memandang Danish sebelah mata, sebagai anak tanpa ayah.


****************************************


__ADS_2