
Bintang kemudian pulang ke rumah setelah dia mengantar Maya.
Sedangkan Kirana, pulang sendiri menaiki kendaraan umum. Dia tadi sempat ke parkiran, tetapi tidak ada mobil Bintang di tempat biasa mobil itu parkir.
Kirana tidak masalah pulang sendiri, dia sudah terbiasa. Tiba-tiba Kirana teringat Abah dan Ambu rasanya dia ingin pulang. Apakah lebih baik dia pulang?
Kirana berpikir untuk cuti satu hari, besok hari Minggu jadi Kirana hanya cuti hari Senin.
"Iya, aku cuti aja."
Kirana lalu mencari tiket kereta untuk pulan, lewat ponselnya. Dia memilih kereta karena ingin lebih menikmati perjalanan.
***
Kirana sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul 17.30.
Di rumah sudah ada suaminya di kamar. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Kirana mencium tangan Bintang lalu masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi Kirana segera berpakaian, tak ada Bintang, sepertinya dia sudah keluar kamar. Kirana kemudian memilih pakaian untuk dia bawa pulang kampung.
Setelah semua barang yang ingin dibawanya sudah masuk ke dalam tas, Kirana menyimpan tas itu di atas lemari. Dia lalu dia keluar kamar untuk memasak makan malam.
Sampai dapur Kirana terkejut, melihat pemandangan langka. ini adalah pertama kalinya, Kirana melihat Bintang memasak. Harum bumbu yang di tumis terhirup indera penciuman Kirana.
Kirana menghampiri Bintang. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Tidak perlu, kamu duduk saja sebentar lagi juga matang."
Kirana memperhatikan Bintang, dia teringat perkataan Ambu saat Abah tiba-tiba bersikap baik, atau melakukan hal yang tidak biasa.
"Lelaki kalau berbuat baik, atau aneh, berarti dia sudah berbuat salah, atau merasa bersalah. Itu cara mereka meminta maaf, kalau ngomong langsung mereka gengsi. Tahu sendiri, lelaki itu gengsinya tinggi!" Begitu ucapan Ambu saat itu.
Apakah sekarang Bintang sedang merasa bersalah, dan ini cara dia meminta maaf? Apakah dia sudah tidak memikirkan Maya?
"Duduk! Kenapa melihatku seperti itu?"
Kirana tersadar dari lamunannya. Dia kemudian duduk tanpa menjawab pertanyaan Bintang.
Datang Aurora dan Galaksi. "Wanginya, oh ternyata Bintang yang masak. Sudah lama Mamah tidak lihat kamu masak sejak dia pergi dulu."
Perkataan Aurora membuat Kirana dan Bintang terpaku, Bintang segera melanjutkan acara memasaknya, tidak menanggapi perkataan Aurora.
Sedangkan Kirana, dia merasakan sesak di dadanya. Ternyata dia sudah GR atau gede rasa. Dia pikir Bintang merasa bersalah padanya, ternyata hanya karena wanita itu.
Mungkinkah Bintang sudah bertemu dengannya?
"Kirana!" Aurora memanggil Kirana yang termenung.
"Eh, iya Mah."
"Kamu kenapa melamun, kita sholat magrib dulu berjamah yuk."
"Iya, Mah."
Kirana bangkit lalu menuju kamarnya untuk mengambil mukena, sarung serta baju koko dan peci milik suaminya.
Bintang pergi ke musholla, tempat sholat berjamaah di rumah, setelah dia menyuruh Bibi untuk menata makanan di meja. Kirana memberikan sarung serta baju Koko pada Bintang.
Saat ini Bintang menjadi imam, suaranya sangat merdu bagi Kirana. Membuat hati menjadi tenang, nyaman dan adem.
__ADS_1
Sholat pun selesai, mereka lalu bersama ke ruang makan.
Kirana makan dalam diam, dia sama sekali tidak bersuara. Bintang melirik ke arah Kirana, ada rasa bersalah di hatinya. Bintang lalu melirik ibunya, dia sedikit kesal dengan Aurora yang meinyingung tentang dia di hadapan Kirana.
"Kirana sudah selesai, maaf Kirana duluan ke kamar perut Kirana sakit mau ke belakang."
"Iya, gih sebelum kelepasan."
Kirana bergegas bangkit dan pergi ke kamar.
"Bintang, kalian kenapa? Sepertinya kalian ada masalah kok dari kemarin diam-diaman gitu?"
"Tidak ada masalah Mah, salah paham aja."
"Kalau ada masalah kalian segera selesaikan baik-baik. Jangan suka di tunda nanti malah jadi bom waktu."
"Iya, Mah. Bintang sudah selesai, Bintang ke atas duluan."
"Iya,"
Bintang pergi meninggalkan meja makan. Dia membuka pintu kamar. Terlihat Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kirana lalu berbaring di tempat tidur, dia berbaring sambil bermain ponsel.
Dia sebenarnya ingin izin pulang kampung pada suaminya namun, entah kenapa rasanya sangat sulit untuk mengeluarkan kata.
Bintang mengambil ponselnya, nampak ada notifikasi yang masuk. Bintang melihatnya dari Maya. Bintang melirik Kirana. Apakah Kirana barusan membaca pesan dari Maya. Sebab ponselnya dia tinggal di kamar.
Bintang membaca pesan itu. Sepertinya Kirana belum membacanya.
Sedang apa, Star? Kapan ke rumah lagi. Aku tiba-tiba teringat masakanmu.
Kirana pura- pura tak perduli, padahal tadi dia sempat melihat isi pesan itu saat notifikasi baru masuk.
Ternyata benar, Bintang tadi bertemu dengan wanita itu. Dia lalu memasak, dan wanita itu juga teringat masakan Bintang, sehati sekali mereka.
Kirana duduk dan menaruh ponsel di samping telinganya. Dia ingin menelepon Ambu.
"Halo Assalamualaikum Ambu," ucap Kirana pada Bintang.
"Waalaikumsalam, Kirana apa kabar nak?" sahut Ambu di seberang telepon.
"Alhamdulillah baik, Ambu dan Abah apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, nak. Kami baru saja pulang dari undangan pernikahan."
"Pernikahan siapa, Bu?"
"Pernikahan, Ujang dengan Karin."
"Wah, mereka akhirnya menikah juga."
"Kamu, nggak apa-apa kan, nak kalau Ujang menikah?"
"Ya, nggak apa-apa Bu, emang kenapa?"
"Iya soalnya, penggemar kamu berkurang satu."
"Ih, perduli amat," ucap Kirana. Terdengar suara Ambu terkekeh.
__ADS_1
"Kiran, kapan kamu pulang? Ambu kangen."
"Iya, nanti Kiran cari waktu. Kiran juga kangen Ambu dan Abah."
"Nak, kamu tidak ada masalah kan?"
"Kenapa Ambu bertanya sepert itu?"
"Entahlah, hanya perasaan seorang ibu aja, suaramu terdengar sendu."
Kirana tercenung mendengar Ambu. Seorang ibu itu memang peka, dia bisa tahu kalau anaknya ada masalah. padahal Kirana berusaha menutupinya dengan suaranya yang ceria.
"Tidak ada apa-apa Bu, itu hanyalah perasaan Ambu saja. Abah mana Bu?"
"Abahmu dari tadi juga ada di samping Ambu, lagi lendotan ini."
Kirana terkekeh, Abah memang begitu, kadang tegas kadang juga manja.
"Bu, sudah dulu ya, Kirana mau sholat isya dulu terus istirahat. Ambu dan Abah juga istirahat, sudah malam."
"Iya sayang."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kirana menutup teleponnya. Dia lalu menyimpan ponsel
jadul di atas meja. Bintang mendengarkan percakapan Kirana sedari tadi.
Dia melihat Kirana menyimpan ponsel itu di atas meja. Bintang teringat sesuatu. Dia kemudian melangkah ke meja di samping tempat tidur dan membuka lacinya.
"Kirana, ini untukmu. Maaf aku baru belikan."
Kirana yang hendak berbaring, duduk kembali dan melihat ke arah Bintang. Netranya kemudian tertuju pada sebuah benda yang berada di tangan kanannya.
"Apa ini?" tanya Kirana.
"Ambil dulu, terus buka!" Bintang menyodorkan benda di tangannya.
Kirana mengambil benda itu, dia lalu membuka kertas yang yang membungkusnya. Terlihat box yang bergambar ponsel.
"Handphone?"
"Iya, ganti ponsel kamu dengan yang baru. Biar lebih nyaman kamu pakainya."
"Iya, makasih."
Kirana lalu menyimpan ponsel baru itu di atas meja, dia bahkan belum membuka dusnya.
"Kirana, kenapa kamu tidak pindahkan kartu dan nomer ponsel penting."
"Besok aja. Sekarang Kirana lelah, mau tidur."
Kirana merebahkan tubuhnya dalam posisi miring, membelakangi Bintang.
"Kiran, katanya mau sholat isya!" Bintang mengingatkan.
Mata Kirana langsung terbuka. Dia menepuk jidatnya. "Lupa belum sholat isya." Kirana lalu beranjak bangun dan ke kamar mandi.
__ADS_1
...-------------...