Kirana

Kirana
Bab 45. Aurora Murka


__ADS_3

Bintang pulang hampir menjelang subuh, dia harus pulang dengan tangan hampa karena tidak menemukan Kirana.


Bintang segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu sholat subuh sebab adzan subuh sudah berkumandang.


Setelah sholat dia merebahkan tubuhnya, matanya terpejam karena tak kuat lagi menahan kantuk.


Mentari pagi sudah terbit.


Sementara itu di ruang makan, Galaksi dan Aurora sedang sarapan. "Pah, Kirana sama Bintang kok belum pulang, ya." Aurora membuka suara.


"Mungkin mereka sekarang sedang di jalan," balas Galaksi.


"Aku telepon Bintang dulu sebentar."


Aurora menelepon Bintang, terdengar nada sambung tapi tidak diangkat, Sementara itu di kamar Bintang, dia sedang tertidur pulas dengan telepon yang berkedip tanpa suara di sampingnya.


Di ruang makan, Aurora cemberut karena teleponnya tidak diangkat oleh Bintang.


"Tidak diangkat Pah," keluhnya pada Galaksi, suaminya.


"Mungkin, dia sedang menyetir." Galaksi sudah selesai makan. Dia menjauhkan piring kotor dari hadapannya.


"Bisa jadi." Aurora menyimpan ponselnya lalu melanjutkan sarapan.


***


Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar hotel Kirana.


Mata Kirana yang terkena pancaran sinar matahari bergerak perlahan membuka matanya. Sejenak dia kembali memejamkan mata lalu membukanya kembali.


Kirana kemudian merubah posisi dan membuka penuh netranya. Dia kemudian melihat jam pada ponsel yang tergeletak di samping tubuhnya. Sudah pukul delapan pagi.


Kirana beranjak duduk di atas tempat tidur dan meregangkan tubuhnya. Dia bergegas ke kamar mandi.


Saat ingin memakai baju, Kirana bingung dia tidak membawa baju salin. Terpaksa Kirana memakai baju yang dia pakai dari kemarin.


Terdengar ketukan pintu, Kirana menghampiri pintu itu lalu membukanya.


"Selamat pagi, maaf Nona kami mengantarkan sarapan untuk Anda." Datang seorang berpakaian seragam hotel. Kirana membuka pintunya lebar.


Petugas itu lalu masuk mendorong troli yang berisi makanan.


"Silahkan dinikmati Nona. Permisi saya tinggal dulu."


"Terima kasih, Mas."


"Iya, Nona."


***


Bintang terbangun, dia melihat ke jendela tenyata sudah siang. Bintang melihat jam dinding yang menghiasi kamarnya. Sudah jam, sembilan pagi.


Bintang beranjak dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama hanya sepuluh menit dia sudah selesai mandi dan segera berpakaian.


Kirana belum juga pulang, dia harus mencarinya. Namun, sebelumnya dia akan sarapan dulu.

__ADS_1


Bintang menuruni anak tangga satu per satu. Aurora yang sedang menonton TV, bingung melihat Bintang.


"Loh, Bintang! Kamu ada di rumah? Kapan pulang?"


"Semalam." Bintang menjawab singkat.


"Terus Kirana mana?" tanya Aurora.


"Aku mau makan dulu." Bintang menghindar dia langsung ke ruang makan. Bintang bingung mau bilang apa?


"Bintang jawab Mamah! Di mana Kirana? Apa dia ikut pulang atau tidak?" Aurora mengejar Bintang ke ruang makan dan terus bertanya pada Bintang.


"Bi, tolong siapkan makan buat Bintang!" teriak Aurora pada ART. Kemudian dia duduk di samping Bintang.


"Bintang di mana Kirana? Apa dia ada di atas kenapa tidak kamu ajak makan sekalian?"


Rentetan pertanyaan dari Aurora membuat Bintang pusing.


"Mah, aku makan dulu ya, nanti aku baru jawab semua pertanyaan Mamah."


"Kenapa nanti? Sekarang aja."


"Perut aku lapar, dari semalam aku belum makan."


"Oh, begitu. Ya sudah cepat makan."


"Makanannya belum ada."


"Tunggu lagi di siapkan Bibi."


Bibi datang membawa beberapa menu hidangan, dibantu oleh temannya.


Selesai makan, baru saja dia mengambil minum, Aurora sudah bertanya kembali.


"Kamu pulang sama Kirana atau sendiri?" tanya Aurura pada Bintang yang sedang minum.


"Sama Kirana," jawab Bintang setelah dia meneguk air.


"Sekarang Kirana di mana?"


"Aku nggak tahu."


"Kok bisa?"


"Semalam kami sampai sekitar magrib. Aku turunkan dia di depan kompleks. Aku pergi karena ada perlu penting."


"Kamu turunkan dia di depan kompleks lalu kamu pergi? Dan lihat, Kirana belum sampai di rumah juga hingga sekarang! Kamu gila?" Aurora berteriak marah pada Bintang.


Dia tidak habis pikir dengan anaknya. Bisa-bisanya dia menurunkan istrinya di jalan.


Sementara Bintang diam tidak menjawab.


"Kamu tidak berpikir keselamatan istri kamu? Sekarang di mana Kirana? Dia belum pulang dari semalam. Tidur di mana dia? Apa dia baik-baik saja saat ini? Apa kamu berpikir?"


"Aku mau cari dia sekaran." Bintang bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Semalam kamu ke mana? Urusan apa yang penting hingga kamu meninggalkan Kirana di jalan?" Aurora ikut bangkit dan langsung bertanya pada Bintang.


"Urusan bisnis."


"Kamu pikir Mamah percaya? Jujur sama Mamah apa yang membuat kamu tega menurunkan dia di jalan?" Aurora benar-benar murka.


Mendengarnya saja dia sakit hati, apalagi Kirana yang di turunkan di jalan.


"Aku ... ke rumah sakit."


"Buat apa? Siapa yang sakit?"


"Maya," jawab Bintang pelan tapi masih terdengar oleh Aurora.


"Maya? Kamu turunkan dia di jalan untuk bertemu wanita lain?"


Bintang diam tidak menjawab. Aurora memijat pelipisnya


"Apakah Maya lebih penting dari Kirana? Dia tidak ada hubungan apa pun denganmu. Sedangkan Kirana, dia adalah istrimu. Wanita yang kau pinta dari orang tuanya, kau berjanji di hadapan Allah untuk melindungi dan menjaganya, tapi, apa yang kau lakukan membuat Mamah malu Bintang kau mengecewakan Mamah."


"Bintang terpaksa Mah, Maya kritis dia ingin bertemu denganku."


"Kenapa tidak ajak Kirana sekalian?"


"Aku belum mengenalkan mereka, waktunya belum tepat dan ternyata tidak akan pernah sempat."


"Maya, hanya memanfaatkan mu."


"Jangan bilang begitu pada istriku."


Mata Aurora terbelalak, dia tidak percaya yang dia dengar barusan.


"Kau apa? Istrimu? Maya istrimu? Kau menikahinya disaat kau sudah menikahi Kirana!"


"Aku terpaksa, dia kritis dan itu permintaan terakhirnya."


Plak


Aurora menampar Bintang. "ini mewakili betapa sakit dan kecewanya Mamah sama kamu."


Aurora pergi meninggalkan Bintang.


Bintang terdiam melihat Aurora yang berlalu, dia lalu berbalik badan hendak pergi keluar mencari Kirana.


Namun, tubuhnya langsung kaku melihat seorang wanita berdiri mematung di depan pintu ruang keluarga.


"Kirana," gumam Bintang pelan.


Mereka saling memandang tapi tidak ada kata yang terucap. Kirana lalu berlari ke kamarnya dia berlari menaiki anak tangga satu per satu.


Bintang tersadar dan segera berlari mengejar Kirana, dia sampai di depan pintu kamar. Bintang mencoba membukanya tetapi terkunci.


"Kirana, buka dulu. Aku ingin bicara padamu. Aku akan jelaskan semuanya. Kirana dengar aku."


Kirana hanya diam di bersandar pada pintu. Tubuhnya lalu terjatuh ke bawah. Kirana duduk dengan memeluk lututnya.

__ADS_1


"Penjelasan apa? Semua yang kau katakan hanya alibimu untuk menutupi kesalahanmu," ucap Kirana dari balik pintu.


...----------...


__ADS_2