Kirana

Kirana
Bab 30. Kewajiban Istri Hak Suami


__ADS_3

Sosok manusia itu tersenyum manis, tapi Kirana justru berdebar. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan cepat menarik tangan pria itu.


Kirana menariknya Sampai ke pinggir jalan raya dan berhenti tepat di bawah pohon besar yang ada di trotoar.


"Mas, nungguin aku?" tanya Kirana.


"Iya, aku mau bicara serius sama kamu."


"Mau bicara apa, Mas Agung?"


"Kita bicara di tempat lain, yuk!"


Sekarang justru Agung yang menarik tangan Kirana, Agung ingin mengajak Kirana ke motornya. Kirana berusaha melepaskan tangannya, dia bingung dan takut.


Namun, langkah mereka di hadang oleh sosok pria lain. Kirana menepuk dahinya. Bisa-bisa perang dunia. Rahasia dia juga bisa terbongkar.


"Selamat sore Pak Bintang." Agung menyela Bintang namun, tangannya tetap memegang tangan Kirana.


"Sore!" balas Bintang, matanya menatap tajam tangan Agung yang memegang tangan Kirana.


Kirana melihat arah pandang mata Bintang. Dia langsung melepaskan tangannya yang di pegang Agung dan disembunyikan ke belakang tubuhnya.


"Khem, Agung kamu ikut saya kita lembur hari ini untuk membicarakan pekerjaan baru kamu." Bintang lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Agung menoleh pada Kirana, "Maaf, ya. Sepertinya kita tidak jadi bicara saat ini. Aku harus lembur. Mungkin lain kali kita bisa pergi untuk bicara berdua." Wajah Agung terlihat sendu. Dia meremas tak enak hati pada Kirana, juga dia sedih karena gagal mengatakan isi hatinya.


"Oh, iya. Tidak apa-apa, pekerjaan lebih penting. Saya mengerti, pergilah." Kirana meyakinkan Agung, kalau dia tidak masalah sama sekali jika tidak jadi bicara dengan Agung.


"Aku pergi, ya. Tapi lain kali kita harus bicara!"


"Iya," ucap Kirana. Agung lalu pergi meninggalkan Kirana.


Setelah Agung tidak terlihat, Kirana segera pergi meninggalkan kantor.


Sementara itu, Bintang sedang duduk di ruangannya menunggu Agung datang. Bintang sudah menyuruh Billy untuk diambilkan berkas-berkas tentang profil pegawai di perusahan cabang Kalimantan.


Dia meminta Agung untuk mempelajarinya, mengingat dia akan menjadi manager di sana. Agung sudah datang ke ruangan Bintang.


"Silahkan, duduk Agung."

__ADS_1


"Terima kasih Pak." Agung merasa gugup, dia tidak pernah bicara langsung pada Bintang.


"Saya ingin kamu mempelajari ini." Bintang menyerahkan berkas-berkas profil para pegawai yang ada di Kalimantan.


Agung mengambil berkas itu lalu membukanya. "Profil data pribadi pegawai." Agung membacanya.


"Iya, kau harus tahu seperti apa bawahanmu? Dengan mempelajarinya sekilas kau akan tahu karakter mereka. Sebagai manager kau harus menguasai seluk beluk tempat kerjamu. Banyak yang harus kau lakukan sebelum kau pindah." Bintang menasehati Agung.


"Iya, Pak."


"Itu, saja. Sekarang saya harus pulang. Kamu bisa baca itu di ruanganmu atau di rumah. Jangan sampai hilang. Jika kau perlu data lain minta sama Billy, biar nanti Billy yang tanya saya."


"Iya, Pak.Terima kasih." Agung lalu keluar, disusul oleh Bintang, lalu dia mengunci pintu.


Bintang berjalan meninggalkan Agung yang sedang bicara dengan Billy.


Bintang tersenyum miring lalu masuk ke dalam lift. Dia akan melakukan apa pun agar Agung tidak bisa mendekati Kirana.


***


Kirana sudah sampai di rumah. Dia segera pergi membersihkan diri. Badannya terasa lengket dan bau asem.


Kirana juga berendam di air hangat dalam bathtub, dengan sabun yang memiliki aroma theraphy. Benar-benar terasa nyaman.


Kirana sangat suka saat shower menghujaninya dengan air hangat. Aliran air hangat yang membelai tubuhnya membuatnya relax.


Setelah selesai, dia segera mengambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Kirana lalu memakai bathrobe .


Dia keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya Kirana, saat mendapati sosok suaminya sedang duduk di sofa dan menatapnya tajam.


"Mas, sudah pulang. Aku pikir lembur." Kirana nyengir lalu menghampiri Bintang dan mencium tangannya.


Saat Kirana menunduk, dia tidak menyadari bathrobe nya tidak rapat, sehingga Bintang dapat mengintip isi di balik bathrobe itu.


Ditambah wangi rambut dan tubuh Kirana yang menggoda untuk dihirup. Rasanya Bintang ingin menelanjangi istrinya. Sampai kapan dia harus menahannya. Padahal mereka sudah sah dan halal.


"Kamu harus mendapatkan hukuman Kirana."


"Hukuman apa? Memangnya aku salah apa sampai di hukum?"

__ADS_1


"Salahmu, kau menarik perhatian pria lain."


"Itu bukan salahku. Aku bukannya sengaja ingin membuat mereka tertarik. Aku bisa apa kalau aku memang sudah cantik dari lahir!"


"Kau, selalu membalas ucapanku."


"Aku hanya membela diri."


"Aku akan mengumumkan kalau kita ini suami istri, agar tidak ada yang mendekati kamu lagi. Kamu juga harus pakai cincin nikah kita."


"Jangan A, jangan di umumkan pernikahan kita. Aku akan memakai cincin pernikahan tapi jangan di publish hubungan kita ya. Satu bulan lagi, aku minta waktu satu bulan." Kirana membujuk Bintang.


"Oke, tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


Bintang diam menatap Kirana, dia lalu mendekat, semakin dekat hingga akhirnya saling berhadapan, badan mereka hanya berjarak satu centimeter.


Bintang mendekatkan mulutnya pada telinga Kirana, "Aku ingin hak ku." Bintang berbisik, dia lalu mencium telinga Kirana.


Kirana kaget dan mundur. Bintang menahannya dengan langsung memeluk pinggang Kirana. Kini dia tidak bisa kabur dari kungkungan Bintang.


"A-aku ...." Kirana bingung dia harus apa otaknya kosong tidak bisa berpikir.


"Kita sudah halal, kewajibamu melayaniku, dan hakku meminta itu. Aku sudah tidak kuat Kirana. Menatap keindahanmu tapi tidak bisa menyentuhnya dan mereguk kenikmatan surga dunia. Kau berdosa jika menyiksaku lebih lama."


Kirana tak dapat berkata, lidahnya menjadi kaku. Dia terhipnotis tatapan Bintang yang mengiba dan memohon, sorot gairah pun terpancar di sana.


Kirana teringat pesan Abah dan Ambu untuk melakukan kewajiban seorang istri. Dia tidak bisa lagi mengelak, ini hak suaminya dan ini adalah kewajibannya.


Diamnya Kirana, Bintang anggap sebuah persetujuan. Dia mulai aksinya dengan mengecup leher sang istri yang wangi lavender. Bintang dapat merasakan Kirana yang menjadi tegang.


Bintang berusaha membuatnya relax dengan satu tangannya mengusap punggung Kirana lembut. Dia lalu mendekapnya erat.


Bibir Bintang berpindah menjadi menghisap bibir Kirana. Balutan bathrobe pada tubuh Kirana perlahan di bukanya dan terjatuh begitu saja di lantai.


Tubuh polos Kirana dapat Bintang rasakan. Hangat dan halus. Bintang mengeluarkan semua hasrat yang tertahan bila melihat Kirana.


Dia memanjakan tubuh Kirana, Bintang tahu ini adalah yang pertama untuk istrinya, begitu juga dia. Bintang ingin ini berkesan dan selalu diingat oleh istrinya, menjadi kenangan manis mereka berdua.

__ADS_1


Bintang melakukannya dengan lembut dan tidak terburu- buru. Dia ingin istrinya dapat menikmati setiap sentuhan dan ciumannya pada seluruh tubuhya.


...----------------...


__ADS_2