
Satu hari menjelang pertemuan dengan ibu Vano, Kirana merasa gelisah, yang dia pikirkan adalah... Bagaimana jika Alex akan berbuat nekat?
Apalagi akhir-akhir ini situasi aman dan terkendali, tidak ada gangguan dari Alex selain kiriman bunga yang datang setiap hari. Namun, itu justru membuat Kirana semakin cemas.
Hufh. Fokus Kirana! Tidak akan terjadi apa pun. Kamu hanya harus melakukannya. Semangat!
Kirana menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
"Kirana... Kamu sudah selesai?" tanya Vano, dia sudah menunggu Kirana sejak tadi, hanya untuk makan siang bersama.
"Sebentar lagi, Pak Vano."
Vano berdecak tak sabar, "Oh ayolah! aku gak akan potong gaji kamu kalau itu belum selesai semua. Jam makan siang akan habis nanti."
Kirana tertawa geli melihat reaksi Vano yang berwajah kesal.
"Hei, itu namanya Nepotisme." Ia pun mulai membereskan kembali segala peralatannya. Lalu mencuci tangan dengan hand sanitizer.
"Baiklah, aku datang."
Vano tersenyum lebar, sebelum turun ke bawah ia meraih pinggang Kirana, dan memeluknya.
"Apa ini?"
"Sebentar saja. Aku ingin memeluk kamu." ucap Vano lirih.
Jika besok pertemuan berjalan lancar, maka mereka akan melakukan pernikahan dalam waktu dekat. Vano merasa jantungnya terus berdebar. Rasa cintanya pada Kirana kian membuncah. Ia tidak sabar untuk menjadikan wanita itu miliknya.
Beberapa hari ini, ia selalu bermimpi buruk. Takut akan kehadiran Alex. Bukan tanpa alasan, Vano sangat paham bagaimana sifat teman lamanya itu.
Apalagi Kirana sudah bertemu dengan Putri, dan mengetahui kalau keduanya sudah bercerai. Rasa takut itu semakin bertambah.
"Aku akan membelikanmu beberapa pakaian hari ini. Untuk pertemuan besok. Bagaimana?" tanya Vano, ketika ia melonggarkan pelukannya.
"Apa pakaianku jelek?"
"Bukan begitu, kamu cantik memakai pakaian apa pun. Aku hanya ingin memberikan sesuatu. Ya?"
Kirana menghela napas, "Baiklah." dia mengalah, toh selama tinggal kembali di Jakarta, ia belum pernah membeli baju baru lagi.
Bukan tidak mampu, tetapi tidak sempat berpikir ke arah sana.
Kehidupannya terlalu berpusat pada Danish, sampai melupakan diri sendiri.
Akhirnya mereka pergi untuk makan siang. Setelah mengisi perut, Vano mengajak Kirana membeli sebuah dress. Sebenarnya bisa saja, ia memberikan dress dari butik sendiri.
Namun Vano takut kalau pegawai lain akan merasa iri pada Kirana. Dia menjaga hal itu, agar wanitanya merasa nyaman bekerja di butik.
__ADS_1
Pilihan Vano jatuh pada sebuah dress selutut, dengan lengan panjang berwarna marun. Warna dress itu sangat kontras dengan kulit Kirana yang putih bagai pualam.
"Apa ini bagus?" tanya Kirana.
"Kamu sangat-- cantik." Vano berkata dengan sedikit gugup.
Wajah Kirana merona. Ia tersenyum kecil mendengar pujian dari pria yang beberapa hari ini mampu membuatnya merasakan kebahagiaan.
Setelah itu, gaun di pilih dan di bayar oleh Vano. Sekarang tujuan mereka adalah salon, Vano ingin Kirana memanjakan dirinya di sana.
"Apa ini perlu?" Kirana ragu.
"Tentu. Biar kamu lebih rileks. Selama ini kamu sibuk bekerja. Percayalah, setelah ini tubuh kamu akan lebih ringan dan nyaman."
Kirana menatap Vano, "Bagaimana dengan kamu?"
"Aku akan menunggu. Cuma dua jam kan."
"Yakin? Itu sangat lama loh."
Vano terkekeh, "Gak lah. Cepat sana masuk. Aku akan menunggu di sini."
Kirana tersenyum, sebelum masuk ia mendekat ke arah Vano. Berjinjit pada ujung kakinya, lalu memberikan kecupan sekilas di pipi kanan pria itu.
Sontak Vano terkejut. Bagaikan terkena sengatan listrik, sekujur tubuhnya berdesir hanya dengan satu kecupan kilat dari wanita pujaannya itu. Tanpa aba-aba, hingga ia tidak dapat mempersiapkan hati.
Arggh. Kirana! Bagaimana bisa kamu seagresif itu. Apa yang ku lakukan tadi?
Oh tidak!
Ini memalukan.
🌸🌸🌸
Hari yang di tunggu. Kirana sudah berpakaian rapi bersama dengan Danish.
Perasaannya gugup tidak karuan, kedua tangannya berkeringat. Ia bolak balik di dalam ruangan menunggu jemputan dari Vano.
Tidak berapa lama, Vano datang. Kirana menyambutnya dengan senyum kaku. Penampilan Vano hari ini sedikit berbeda. Dia terlihat lebih rapi dari biasanya.
"Are you ready, Cantik?"
Kirana memukul lengan Vano pelan. Pria itu tidak berhenti menggodanya. Mengatakan kata cantik lebih dari satu kali. Itu membuat Kirana malu.
"Aku takut. Bagaimana kalau Tante Marwah gak suka sama aku?" Kirana berkata gugup.
Tante Marwah, begitu ia memanggil ibunya Vano. Mereka sudah pernah bicara berdua melalui telepon kemarin. Sekedar untuk berkenalan, dan Kirana merasa Tante Marwah orang yang ramah dan baik. Namun tetap saja ia merasa gugup. Karena ini pertemuan pertama mereka.
__ADS_1
Vano menyentuh pundak Kirana, mencoba untuk menenangkan perasaan wanita yang ia cintai.
"Santai, oke? Ibuku orang yang baik. Dia akan menerima kamu."
Pandangan Vano beralih pada Danish, anak kecil itu terlihat tampan memakai setelan kemeja yang baru di belikan kemarin.
"Halo, jagoan. Kamu siap untuk pergi?"
Danish tersenyum lebar, "Danish siap, Pa."
"Bagus sekali. Kita pergi sekarang?" Vano menggendong tubuh Danish, mereka melakukan tos dengan riang.
Kirana tersenyum, dalam hatinya terus berdoa. Semoga pertemuannya berjalan dengan lancar. Karena hari ini sebuah penentuan yang sangat penting dalam hidupnya.
Tiga puluh menit kemudian,
Mereka sampai di sebuah restoran mewah yang sudah di reservasi oleh Vano. Sedikit terlambat karena jalanan yang macet. Namun tidak masalah, dari info yang di dapat, Marwah baru saja datang lima menit yang lalu. Dan mereka sudah mengabari keterlambatannya.
Marwah selama ini tinggal terpisah dengan Vano. Dia lebih memilih menempati rumah peninggalan papa Vano di kawasan Bogor, Jawa Barat. Rumah yang asri dan nyaman. Sedangkan Vano, dia tinggal di apartemen seorang diri. Agar akses ke kantor lebih mudah.
Vano menggenggam tangan Kirana dengan erat, agar kekasihnya itu merasa tenang. Setelah masuk ke dalam restoran, ada dua orang wanita yang duduk di meja tengah. Restoran ini nampak kosong, rupanya Vano sudah membooking semua meja, agar pembicaraan mereka privasi tanpa gangguan.
"Ibu..."
Wanita yang di panggil ibu itu menoleh, ia tersenyum lebar melihat wajah putranya yang sudah beberapa bulan ini tidak pulang ke rumah, dengan alasan sibuk.
Marwah masih terlihat muda di usianya yang sekarang lebih dari lima puluh tahun. Di samping Marwah, duduk seorang gadis muda, memakai gamis bermotif bunga, dan jilbab berwarna pink. Cantik dan anggun.
"Ibu, perkenalkan ini Kirana." ucap Vano, setelah melepaskan pelukan ibunya.
Kirana tersenyum, dan menganggukkan kepala dengan sopan. Namun, tanggapan Marwah terlihat berbeda. Ia menelisik penampilan Kirana dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu Kirana?"
"Iya, Tante. Salam kenal." sahut Kirana.
"Ayo duduk. Ibu sudah pesan?" Vani menarik tangan Kirana dan Danish agar duduk di sampingnya. Sejak tadi Vano sudah merasa heran dengan gadis yang berada di samping Marsha. Namun, ia enggan untuk bertanya.
"Ibu sudah pesan. Termasuk makanan kesukaan kamu, Vano. Kalau untuk Kirana, kamu bisa pesan sendiri kan?"
Di tanya seperti itu, Kirana gelagapan. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Biar aku pesankan." jawab Vano, ia memanggil waitress dan menyebutkan beberapa menu makanan untuk Kirana serta Danish.
Kirana menundukkan wajah, merasa ada yang salah dengan tatapan Marwah terhadapnya. Di tambah lagi, gadis muda yang duduk di depan mereka terus menatap Kirana dengan intens. Marwah juga tidak mengenalkan sama sekali siapa gadis muda itu. Kirana jadi merasa seperti santapan di meja ini, karena pandangan mereka berdua terus tertuju pada dirinya.
🌸🌸🌸
__ADS_1