Kirana

Kirana
Bab 44. Galau


__ADS_3

"Terima kasih Di, sudah mengajakku ke tempat ini," ucap Kirana seraya memandangi bintang-bintang. Mengingatkannya pada satu bintang yang membuatnya terluka.


Seperti bintang di langit yang nampak indah tapi tak bisa di sentuh begitu pun Bintang yang ada di hatinya, nampak dekat dan dalam genggaman namun dia tetap tak bisa menyentuhnya.


"Kau makanlah dulu yang banyak. Aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk menikmati pemandangan tapi juga untuk makan."


"Kau ini pemaksa sekali, aku sudah bilang aku tidak mau makan, tapi kau malah pesan makanan."


"Ya, karena kau tanggung jawabku selama kau bersamaku, dan aku tidak mau membuatmu kelaparan lalu sakit. Ayo makan! Atau aku suapi!"


"Kau ini menyebalkan!" Kirana lalu makan walau dia tidak berselera. Bukan karena makanan yang tidak sedap justru hidangan di depannya sangat menggugah selera, namun, dia sedang galau jadi tidak ada selera makan.


Dia makan dengan perlahan hingga hidangan dalam piringnya habis.


"Sudah habis, kau puas!" Kirana mendorong piringnya ke tengah.


"Alhamdulillah. Aku senang anak Abah makannya banyak." Adipati tersenyum.


Kirana menatap Adi dengan mata nanar. Kenapa orang lain lebih perduli padanya, suaminya saja tidak perduli. Mungkin suaminya sekarang sedang di rumah sakit bersama istri barunya.


Dia harus apa? Bercerai darinya juga Kirana bingung, orang tuanya pasti akan sedih dan terluka. Namun, jika bertahan dia tidak sanggup , dia tidak mau dimadu.


Dia bukan wanita Solehah yang seperti wonder woman berhati baja, menerima apa pun yang dilakukan suaminya demi ibadah dan bakti pada suami.


Dia hanya wanita sederhana dengan pemikirannya yang sederhana, tidak mau menjalani pernikahan poligami yang membuat hidupnya rumit.


"Kirana, Kirana!" Adipati memanggil Kirana yang nampak termenung.


"Hah, Apa Di?"


"Kamu, sudah makannya? Kalau sudah, ayo kita pulang."


"Oh, tapi ...."


"Ini sudah malam Kirana, tidak baik wanita keluyuran malam-malam ayo aku antar kau pulang."


Adipati benar, tapi dia bingung. Pulang ke mana? Ke rumah Bintang? Bintang saja tidak ada, nanti orang tua Bintang pasti akan bertanya kenapa dia pulang sendiri? Dia harus jawab apa?


Berdusta pun tak mungkin, mereka pasti bisa melihat keadaannya yang tidak baik- baik saja. Pergi dengan laki-laki lain pun tidak benar.


Setelah berpikir Kirana memutuskan akan ke hotel saja. "Di, ayo kita pulang."


Kirana beranjak bangkit dan pergi mendahului Adipati.


Adipati mengambil uang di dompetnya beberapa lembar yang berwarna merah, lalu menyimpannya di atas meja dan pergi menyusul Kirana.


***


"Alamat rumah mu di mana?" tanya Adipati.


"Di hotel."

__ADS_1


"Hah!" Adipati langsung menoleh pada Kirana, mendengar jawabannya.


"Maksud kamu gimana?"


"Antar aku ke hotel." Kirana berkata dengan tegas tanpa menatap Adipati.


"Kenapa ke hotel?"


"Aku tidak mungkin ikut denganmu, jadi aku ke hotel aja."


"Rumahmu?"


"Aku tidak punya rumah."


"Kosanmu."


"Aku sudah tidak di sana lagi."


"Jadi kamu selama ini tinggal di mana?"


"Numpang di rumah orang."


Adipati melirik Kirana, dia bingung dengan Kirana. Ada apa dengannya? Terus sekarang dia harus mengantarnya ke mana?


Oke, dia akan mengantarnya ke suatu tempat.


Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah hotel.


Kirana melihat di mana mereka berhenti. "Hotel Caraka," gumam Kirana.


Adipati turun dari mobil di susul oleh Kirana.


Dia lalu melangkah menuju meja resepsionis.


Kirana melihat semua nampak tertunduk bagitu Adipati melintas. Apa begini mereka memperlakukan tamu?


"Kamu tunggu saja di sana, duduklah dulu. Aku akan pesan kamar."


"Iya." Kirana melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.


Dia melihat Adipati berbicara pada petugas resepsionis, lalu petugas itu memberikan sebuah kartu pada Adipati.


Setelah itu Adipati berjalan menghampiri Kirana. "Kirana ini kuncinya kau beristirahatlah di kamarmu. Petugas ini akan mengantarmu ke kamar. Maaf, aku tidak bisa mengantar karena aku harus pulang lagipula tidak baik bila aku ke kamarmu."


"Iya, aku mengerti terima kasih, Di. Aku sungguh sangat menghargai kebaikanmu. Hati-hati di jalan. Aku ke kamar dulu, ya."


"Iya, terima kasih kembali. Pergilah beristirahat dan tenangkan dirimu."


Kirana tersenyum dan berlalu dari hadapan Adipati.


Adipati menatap kepergian Kirana, setelah Kirana tidak terlihat lagi, Adipati beranjak pergi dari hotel.

__ADS_1


"Malam, Pak."


"Malam."


Setiap Adipati berjalan ada saja yang menunduk atau menyapanya.


Sampailah Adipati di parkiran. Dia masuk ke dalam mobil. Adipati menelepon seseorang.


"Tolong layani dia dengan baik."


Telepon pun ditutup begitu saja. Mobil Adipati melaju meninggalkan hotel.


***


Malam semakin larut, rasa lelah mulai Bintang rasakan. Tengah malam dia baru sampai ke rumah.


Mobil sudah masuk garasi. Supir pun sudah masuk ke dalam lewat pintu belakang. Bintang masuk lewat pintu depan yang di bukakan oleh bibi.


Ruangan sudah gelap, semua berada di kamar masing-masing tengah tertidur lelap. Bintang menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Pintu yang dipikirnya terkunci ternyata dengan mudah dapat dia buka.


Kirana tidak mengunci pintunya. Di nyalakannya lampu kamar yang gelap gulita.


Kini terlihat ruangan kamar yang tapi dan elegan. Tempat tidur yang masih rapi tak berpenghuni. Di mana Kirana? Kadur ini seperti belum terjamah masih sama seperti saat dia tinggalkan.


Apakah Kirana belum pulang? Bintang lalu mengecek kamar mandi. Kondisinya sama tidak ada siapa pun.


Bintang keluar kamar, dia melangkah menuju kamar bibi. Bintang mengetuk pintu.


"Iya, Tuan. Mau saya buatkan sesuatu?"


"Tidak, saya ingin bertanya, di mana Kirana? Apa dia belum pulang?" tanya Bintang.


"Belum Tuan, saya seharian di rumah tetapi tidak melihat Nyonya Kirana pulang, Tuan."


"Ya, sudah. Terima kasih." Bintang lalu pergi meninggalkan Bibi yang bingung.


"Bukankah Tuan Bintang pergi untuk menjemput Nyonya Kirana?" tanya Bibi pelan pada ruangan hampa.


Bintang kembali ke kamarnya, dia langsung ke kamar mandi dan membuka bajunya.


Setelah mandi selama sepuluh menit, dan berpakaian, kini Bintang merebahkan tubuhnya di kasur.


Bintang mencari kontak Kirana di ponselnya, dia menelepon Kirana tapi tidak aktif. Ke mana dia? Apa tejadi sesuatu?


Bintang bangkit dan beranjak mengambil jaket serta kunci mobil. Dia akan mencari Kirana.


Sementara itu, di hotel Kirana tidak bisa memejamkan mata. Apakah Bintang pulang ke rumah? Apakah Bintang tahu kalau dirinya tidak ada di rumah?


Tidak mungkin, Bintang pasti sedang menunggu istri barunya. Pikiran Kirana penuh dengan pertanyaan dan prasangka.


Dia membangun skenario-skenarionya sendiri, yang justru membuat hatinya semakin galau. Kirana menatap jendela hotel yang tidak tertutup tirai, dia sengaja membukanya karena ingin melihat langit malam.

__ADS_1


"Semoga besok pagi perasanku lebih baik, hidupku akan secerah matahari pagi, dan hatiku akan sehangat cahaya mentari," gumam Kirana.


...--------...


__ADS_2