Kirana

Kirana
Bab 28. Hukuman untuk Kirana


__ADS_3

Kirana bergegas lari ke kamar, dia menaiki anak tangga dengan cepat. Sampai di atas Kirana berpapasan dengan orang tua Bintang.


"Pagi Kir ...." Belum selesai Aurora menyapa Kirana segera berlari melesat masuk ke dalam kamar. Aurora menatapnya dengan bingung.


Dia dan suaminya saling pandang, lalu Galaksi mengedikkan kedua bahunya. Mereka kembali berjalan menuruni anak tangga.


Di dalam kamar, Kirana cepat-cepat mengunci pintu. Dia kemudian membuka bajunya dan memakai dalaman kacamata penutup gunung kembar.


Kirana lantas mengambil baju seragam kerjanya. Dia sangat malu, pada suaminya sendiri. Kirana teringat pada masakannya yang belum selesai. Dia menepuk dahinya dan bergegas merapikan penampilannya.


Kirana lalu keluar kamar dan berlari menuruni tangga menuju dapur. Saat melewati ruang makan, dia mengerem larinya. Di sana sudah duduk manis kedua mertuanya juga sang suami.


Kirana tersenyum malu pada Aurora dan Galaksi, lalu saat matanya bertemu dengan netra suaminya dia langsung menunduk. Kirana membungkukkan sedikit badannya dan berlari ke dapur.


Pandangannya langsung tertuju pada kompor yang sudah dalam keadaan mati. Tatapannya mengitari sekeliling dapur, semuanya sudah bersih dan rapi.


"Aduh, apa Bibi yang masak ya atau Mamah?" tanya Kirana pada diri sendiri. Kirana lantas kembali ke ruang makan.


"Sayang, sini kita mulai makan. Kami nunggu kamu dari tadi." Aurora memanggil Kirana.


Kirana tersenyum. "Iya, Mah." Perlahan Kirana melangkah dan duduk di kursi samping suaminya.


Dia kemudian melihat makanan yang ada di meja, teryata ini nasi gorengnya sudah tersaji di meja makan.


"Ayo kita mulai makan. Berdoa dulu. Kirana kamu pimpin doa!" Galaksi menyuruh Kirana untuk memimpin doa.


"Iya, Pah." Kirana lalu membaca doa makan dengan menengadahkan kedua tangan, diikuti yang lain dalam hati. Setelah selesai mereka pun mulai makan.


Seperti biasa, Kirana mengambilkan nasi untuk suami dan mertuanya. Mereka kemudian sarapan menikmati nasi goreng buatan Bintang.


Suapan pertama Kirana merasakan nasi gorengnya lezat, ini memang nasi gorengnya. Rasanya lezat. Siapa yang meneruskannya?


Dia memandang mereka bertiga, mungkinkah papah? rasanya tidak mungkin. Atau Suaminya? tidak juga. Pandangan Kirana berakhir pada Aurora, benar pasti mamahnya. Kirana sangat malu pada mamah mertua karena meninggalkan dapur dalam keadaan seperti itu.


Bintang tersenyum tipis melihat sang istri yang seperti malu-malu. Hari ini sejak bangun tidur Bintang sudah mendapat Rizki bertubi-tubi.


Semua sudah selesai makan. Karina membantu membereskan meja makan. Setelah itu dia bergegas pergi bekerja bersama suaminya.


Dalam perjalanan hanya suara musik yang menemani, tidak ada pembicaraan dari mereka berdua. Kirana enggan bersuara karena dia merasa canggung.


"A, stop!" Kirana berteriak membuat Bintang mengerem mendadak.


"Kamu, kenapa Kirana?" tanya Bintang. Dia benar-benar terkejut.


"Maaf, A. aku turun di sini aja."


"Loh, kenapa?"


"Aku takut ada yang lihat." Kirana lalu membuka sabuk pengamannya dan mencium tangan Bintang.


"Tapi, 'kan masih lumayan jauh." Bintang mencegah Kirana.


"Nggak apa-apa aku sudah biasa jalan kaki. Dah Aa, Assalamualaikum." Kirana mengambil tasnya dan bergegas turun. Biasanya dia turun di parkiran bersama Bintang karena masih pagi. Namun, sekarang sudah kesiangan.

__ADS_1


Kirana memilih turun agak jauh agar tidak ada yang melihatnya berangkat bersama Big boss. Hubungan mereka masih di rahasiakan. Bukan Bintang yang ingin seperti itu. Tapi ini keinginan Kirana.


"Waalaikumsalam," jawab Bintang. Dia belum menjalankan mobilnya, tapi justru melihat Kirana pergi menjauh.


"Ada-ada saja. Kamu yang cari susah sendiri, Kirana," gumam Bintang lalu melajukan mobilnya. Dia melewati Kirana yang berjalan kaki.


"Hah, nasib backstreet begini amat," keluh Kirana.


"Tapi, lebih baik seperti ini dari pada semua tahu, iya kalau di dukung, aku happy kalau semua nggak suka aku di bully." Kirana meracau seorang diri. Perjalanan masih lumayan jauh beberapa ratus meter lagi.


Tin


Suara klakson motor berbunyi, Kirana berbalik untuk melihat apa itu untuk dia. Terlihat seorang pria menaiki motor matic, kaca helm pria itu terbuka.


"Hai Kirana, ayo sekalian," ajak pria itu.


"Eh, Hai juga. Makasih banyak, tapi duluan aja Mas, tanggung sedikit lagi."


"Udah ayo naik! Nanti terlambat kamu kena SP."


Kirana berpikir, haruskah dia terima ajakan Mas Agung? Tapi Mas Agung benar, nanti kalau dia terlambat pasti bakal kena SP atau surat peringatan.


Kirana akhirnya memutuskan untuk ikut dengan Mas Agung.


"Iya, deh Mas." Kirana naik dengan hati-hati, untunglah seragam yang dia pakai setelan celana bukan rok.


Tangan Kirana tidak memegang Agung sama sekali. Sampai mereka di depan lobi kantor. Kirana turun lebih dulu.


"Makasih ya Mas, aku jadi sampai tepat waktu."


"Iya, Mas. Saya ke dalam duluan."


"Iya, Kiran." Kirana berbalik badan lalu melangkah ke dalam kantor.


Sedangkan Agung pergi ke parkiran untuk memarkirkan motornya. Agung memang menyukai Kirana. Pribadi yang santun, sederhana, rajin dan tidak pecicilan terhadap lelaki.


Ingin dia mengatakan cinta pada Kirana, tapi rasanya dia belum siap. Takut Kirana menolaknya.


Mereka tidak sadar bahwa ada mata Elang sedang mengawasi mereka. Dia menunggu kedatangan Kirana karena khawatir, tapi eh tetapi ternyata istrinya itu justru datang dengan dibonceng lelaki lain.


Sungguh romantis berduaan naik motor. Lihat saja dia akan beri istrinya pelajaran, mungkin juga sebuah hukuman. Bintang kemudian pergi dari tempat dia menunggu Kirana.


***


"Kirana kamu di suruh antar kopi untuk Direktur." Salah seorang temannya menyampaikan pesan dari sekretaris Bintang.


"Kok, aku? 'Kan biasanya bukan aku yang bikinin kopi buat beliau?"


"Aku juga nggak ngerti, udah bikin aja gih."


Kirana mau tak mau membuat kopi untuk Direktur, ya hitung-hitung berbakti pada suaminya.


Setelah kopinya jadi, Kirana mengantarkan kopi itu ke ruangan direktur.

__ADS_1


Sampai di depan ruangan Bintang, Kirana tidak melihat sekretaris Bintang. Dia mengetuk pintu dan membukanya tanpa menunggu instruksi masuk dari Bintang.


Nampak Bintang sedang duduk seraya melihat ke arah layar laptopnya. Kirana lalu mendekati meja Bintang.


"Permisi Pak, ini kopinya." Kirana memberi tahu Bintang.


"Simpan saja di meja sana." Kirana lalu menyimpannya di meja dekat sofa. Dia lalu melangkah hendak keluar pintu.


"Siapa yang suruh kamu keluar!" Bintang lalu menutup layar laptopnya.


Kirana yang baru saja, melangkah langsung berhenti dan berbalik.


"Duduk!" Perintah Bintang dengan tegas sambil menatap Kirana.


Kirana lalu duduk di sofa. Bintang pun bangkit dan melangkah menuju Kirana, dia duduk di samping Kirana.


Bintang lalu meminum kopinya.


"Rasa kopinya manis, seperti senyum kamu." Bintang berkata dengan wajah yang dingin dan datar.


Wajah Kirana langsung bersemu merah.


"Yang kamu perlihatkan pada Agung!" lanjut Bintang.


Kirana langsung berkedip. " Agung? Maksudnya?"


"Senang kamu di antar Agung ke kantor?"


"Aku 'kan ke kantor sama kamu."


"Tapi kamu turun sebelum sampai, atau kamu sudah janjian dengan Agung di tempat itu, makanya minta diturunkan di situ?"


"Astagfirullah, Pak. Saya tidak pernah janjian sama siapa pun. Lagipula saya dengan Agung barengnya cuma berapa detik doang. jaraknya 'kan cuma lima ratus meter doang." Kirana tidak habis pikir, cuma ikut nebeng Agung sebentar saja menjadi masalah.


"Walaupun hanya sebentar, tidak pantas kamu di bonceng yang bukan muhrim apalagi tanpa izin suami." Bintang bicara dengan serius.


"Saya tidak maksud apa-apa. Mas Agung yang ngajakin saya. Dia takut saya kesiangan dan kena teguran. Kirana pikir juga tidak ada salahnya ikut. Jadi Kirana nebeng sama Mas Agung. Itu aja kok."


"Saya sudah bilang turun bareng saya sampai di tempat, tapi kamu tidak mau. Lalu kenapa sama Agung mau."


"Pak, kalau kita bareng akan jadi bahan gosip, tapi kalau aku dan Mas Agung, mereka tidak akan perduli. Kami bukan siapa-siapa."


"Aku perduli, kau istriku!" ucap Bintang dengan suara agak tinggi.


Kirana langsung membekap mulut Bintang dengan tangannya.


"Jangan kencang-kencang Pak, nanti ada yang dengar bagaimana? Kita sudah sepakat merahasiakan hubungan ini." Bisik Kirana Bibir Kirana tepat berada di depan tangannya yang membekap mulut Bintang.


Mata Bintang menatap bibir Kirana, seakan sadar dengan jarak mereka, Kirana berhenti bicara dan menatap mata Bintang. Tatapan mereka bertemu.


Tangan Bintang menarik tangan Kirana yang membekapnya secara perlahan, mata mereka tetap saling pandang.


Sorot mata Bintang seolah menghipnotis Kirana untuk diam, dia belum juga memundurkan wajahnya, lalu perlahan Bintang menempelkan bibir mereka.

__ADS_1


Kirana diam saja, Bintang mulai berani menggerakkan bibirnya. Satu tangannya juga perlahan memeluk pinggang Kirana. Sedangkan satu tangan lagi menahan belakang kepala Kirana, agar Kirana tidak melepaskan ciumannya. Mereka berdua larut dalam ciuman lembut.


...----------------...


__ADS_2