Kirana

Kirana
Bab 34. Bertemu Maya


__ADS_3

"Ada apa, kau kemari? Menggangu saja."


"Bagaimana hubunganmu dengan Clarita?"


"Tidak ada hubungan antara aku dan Clarita."


"Benarkah, dia tidak hamil anakmu?"


"Menurut Dokter kandungan dari hitungan menstruasi dan USG, itu bukan anakku melainkan anak Alvaro."


"Syukurlah, kau tidak akan punya anak dari dia."


"Ya, aku bersyukur. Lucu bukan? Aku seorang bajingan tapi ingin mempunyai istri solehah. Apa bisa?"


"Bisa, asal kau tobat dan bersungguh-sungguh. Perbaiki diri, insyaallah jodoh yang kau inginkan akan datang."


"Ya, nanti aku akan tobat."


"Kenapa tidak sekarang?"


"Kau tidak lihat wanita yang tadi?"


"Dasar kau ini memang bajingan."


Nathan terkekeh, dia tidak tersinggung dengan ucapan Bintang.


"So, bagaimana denganmu? Apa yang terjadi sampai wajahmu kusut begitu?" tanya Nathan.


"Aku bingung, hatiku goyah karena masa laluku."


"Masa lalu? Maya?"


"Iya," jawab Bintang."


"Are u crazy? Lo gila kalau masih terpengaruh sama dia! Dia udah ninggalin lo, dia itu cewek paling egois yang pernah gue kenal. Bahkan Clarita, masih lebih baik dari pada dia!"


"I know."


"So, Lo nggak perlu galau. Lanjutkan aja hidup lo dan bahagia bersama Kirana."


"Entahlah, aku cuma penasaran aja. Kenapa dulu dia meninggalkan aku?"


"Nggak perlu penasaran. Ikhlasin aja, lo tahu kan kadang penasaran itu berbahaya."


"Aku sudah berusaha menghilangkan rasa itu. Tapi susah. Kadang aku merasa bersalah pada Kirana. Bahkan tadi aku tidak sengaja kelepasan menyebut namanya."


"Lo gila, man. Kalau lo masih mengharapkan dia, biar Kirana buat gue. sumpah gue bakal tobat kalau lo ikhlasin Kirana buat gue. Janda nggak masalah buat gue, toh gue juga nggak perjaka."

__ADS_1


Bintang menatap Nathan. "Ke sini bukannya nemu solusi malah tambah pusing!" Bintang pun pergi keluar.


"Gue serius, Bin! Kalo lo nggak tegas sama hati lo. Lo bakal kehilangan Kirana, kecuali emang lo mau lepasin dia!" Nathan berteriak saat Bintang keluar dari ruangannya.


Sampai kapan pun Bintang tidak akan melepaskan Kirana, dia tidak berniat akan kembali dengan Maya, dia hanya ingin tahu apa apalasan Maya, meninggalkan dirinya?


Bintang pergi dengan mobilnya, dia tidak tahu akan ke mana? Bintang tidak sadar berhenti si sebuah kafe.


"Kenapa aku harus ke sini?" tanya Bintang pada diri sendiri. Namun, dia turun juga dari mobilnya. Ini adalah kafe tempat dia dan Maya dulu sering hang out berdua.


Bintang masuk ke dalam, tempat ini ada sedikit perubahan pada interior tapi tetap klasik. Bintang melihat tempat favoritnya dulu bersama Maya.


Jantungnya berdebar cepat, dan bertalu-talu. Apakah Bara tidak salah lihat? Ada sosok dia di sana, sedang memandangi layar laptopnya.


Bintang perlahan melangkah ke arahnya, Jantungnya semakin berdebar kencang seiring jaraknya yang semakin dekat. Netranya tak lepas memandang Maya yang terlihat kurus.


"Maya." Panggilnya pelan.


Pemilik nama langsung menoleh, mendengar suara yang tidak asing. Suara yang dirindukannya.


"Star!" Maya langsung bangkit dan menghampiri Bintang, dia kemudian memeluknya.


Bintang tidak membalas pelukan itu. Maya kemudian seakan sadar langsung melepaskan pelukannya.


"Duduk Star." Maya duduk setelah menyuruh Bintang untuk duduk.


Bintang patuh dan duduk di depan Maya.


"Aku baik, apa kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat, aku kurang baik." Maya tersenyum. Wajahnya tampak pucat, matanya sayu dan ada lingkar hitam.


"Kau sakit?"


Maya hanya tersenyum, netranya menatap Bintang lekat.


"Maaf, Bintang. Ah ... rasanya lega sekali, aku sudah minta maaf padamu secara langsung. Kau tahu? Aku selalu di hantui mimpi buruk, dan di mimpi itu aku minta maaf padamu, tapi kau tidak memaafkan aku." Maya terkekeh.


"Kenapa?"


"Apa?"


"Kenapa kau pergi meninggalkan aku? Jawab jujur baru aku putuskan memaafkanmu atau tidak?"


Maya menunduk, lalu dia menatap Bintang.


"Cinta, karena aku mencintaimu."

__ADS_1


"Cinta?"


"Iya, tapi aku tahu kau tidak mencintaiku. Kau hanya menganggap hubungan kita sebagai sahabat. Aku di fonis sakit kanker, aku tak mau menjadi egois memintamu jadi kekasihku di sisa umur hidupku. Walau aku tahu kau pasti akan kabulkan, tapi karena kasihan bukan cinta."


"Kau anggap aku ini sahabat macam apa? Saat kau butuh tidak bisakah kau bersandar padaku, mengandalkan aku. Aku akan memenuhi permintaanmu yang penting kau bahagia. Kita ini sahabat."


"Benar, kita sahabat. Karena itu jangan terlalu melampaui batas atau aku akan serakah dan ingin lebih dari itu!"


"Maaf, karena aku telah berpikiran buruk tentangmu, kalau kau takut berada di sisiku, karena menurut kabar yang kudengar kau pergi bersama seorang pria."


"Iya, aku pergi bersama Willy. Dia adalah dokter yang mengobatiku. Kami pergi keluar negeri untuk berobat. Kau pikir aku takut. Jika aku takut tidak akan aku bertahan selama itu di sisimu, yang aku takuti justru jatuh cinta padamu." Bintang hanya diam.


"Tiga tahun aku pergi kau tidak berubah Star."


"Apa pengobatanmu berhasil?"


Maya tersenyum dan menggeleng. Bintang meraih tangan Maya dan menggengamnya.


"Aku sudah pasrah, ini takdirku. Karena itu aku kembali. Aku ingin mati dengan tenang di tempat kelahiranku, aku ingin minta maaf padamu."


"Aku memaafkanmu. Tapi kau tidak boleh pergi dulu. Hidupmu masih panjang. Umur di tangan Allah, Maya."


"Aku tahu, aku justru merasa Allah sangat baik dan sayang padaku. Dia memberi tahu ku kapan aku akan mati, di saat orang lain mati secara tiba-tiba. Mereka tidak bisa mempersiapkan diri dan tidak punya kesempatan mengatakan perpisahan pada keluarga dan orang-orang yang dicintainya."


"Kau selalu memandang sesuatu dari sudut yang positif dan optimis, itu yang membuat aku kagum padamu."


"Sekedar kagum." Maya tersenyum menghibur hatinya.


"Bagaimana, apa kau sudah menikah?" tanya Maya.


"Belum, aku belum menikah."


"Aku tidak percaya."


"Karena tidak ada yang bisa aku percaya setelah kepergian kamu."


"Maaf, aku tidak tahu akan seperti ini."


Bintang sedang berperang dengan kata hatinya, harusnya dia sudah puas, karena rasa penasarannya sudah terpenuhi. Kini dia tahu alasan Maya meningglakannya, bahkan perasaan Maya yang mencintainya.


Hatinya tidak berbunga atau berdebar saat tahu perasaan Maya, dia biasa saja. Dia hanya kasihan pada sahabatnya ini. Jika dia bilang bahwa dia sudah menikah maka Maya akan merasa canggung.


Bintang ingin berada di sisi Maya saat Maya membutuhkannya. Biarlah semua ini menjadi rahasia dulu, dia akan mengatakannya di saat yang tepat nanti.


"Kamu sekarang tinggal di mana?" tanya Bintang.


"Aku, tinggal masih di rumah yang lama."

__ADS_1


"Oh."


Mereka terus berbincang bernostalgia, sedikit membicarakan kisah yang lalu dan perjalanan hidup mereka ketika jauh satu sama lain. Bintang tidak menceritakan perihal Kirana dan pernikahannya.


__ADS_2