Kirana

Kirana
Bab 22. Perjanjian


__ADS_3

Kirana duduk di sofa. Dia hanya diam menunggu Bintang bicara. Bintang sendiri sedang bingung, bagaimana bicara pada Kirana?


"Kiran," Bintang membuka suara.


"Aku harap kau percaya padaku," Bintang menatap Kirana yang duduk di sebelahnya.


"Di dalam hidupku aku tidak pernah memiliki kekasih, aku mendekati wanita itu hanya untuk menyelidiki sesuatu," jelasnya lagi.


"Tetap saja kau memiliki hubungan dengannya, saat kau menikahiku."


"Iya, tapi hubunganku dengannya adalah palsu."


"Apa dia tahu? Tidak 'kan?" tanya Kirana.


"A, sekarang kita telah menikah. Walau kita tidak saling mencintai, tetapi niat kita adalah menikah sampai kita tua, iya kan?"


"Iya, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup." Bintang menjawab dengan yakin.


"Kalau begitu, boleh aku egois? Aku tidak ingin ada wanita lain. Aku ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidupmu. Meskipun kau tidak bisa memberiku cinta setidaknya beri aku kesetianmu."


"Aku tidak pernah berniat menduakanmu," ucap Bintang seraya menatap mata Kirana.


"Kalau begitu, putuskan hubunganmu dengannya. Aku akan berikan padamu kesetianku, aku akan mengabdi padamu seumur hidupku, menghormatimu dan menjadi istri yang baik."


Bintang nampak sedang berpikir. "Aku akan putuskan dia tapi tidak saat ini. Aku masih membutuhkan dirinya."


Kirana langsung berdiri. "Baiklah, nampaknya aku tidak penting. Kau lebih membutuhkan dirinya. Ya sudah, ceraikan aku saja. Tidak masalah bagiku menjadi istri 48 jam. Toh aku juga masih perawan. Aku akan jadi Janda Perawan." Kirana terkekeh merasa lucu dengan kalimatnya sendiri. Janda kok Perawan.


"Kenapa selalu bahas perceraian? Tidak bisakah kau bersabar dan menunggu. Ini juga untukmu, kenapa tidak ada yang mengerti?" Bintang mulai habis kesabaran.


"Kita ini baru menikah belum ada 48 jam, bagaimana mungkin kita bercerai, belum juga ada seumur jagung. Ibarat kata kita ini baru seumur toge. Ayolah, aku tahu kau pasti mengerti aku."


Bintang memegang tangan Kirana, seraya menatap mata Kirana dalam. "Bersabarlah, aku secepatnya akan putuskan dia. Kau tetap satu- satunya istriku untuk semuanya."


Kirana salah tingkah di tatap seperti itu. Namun, dia tidak mau terbuai kata- kata manis buaya.


"Ya, aku satu-satunya istrimu, tapi pacarmu banyak!" sarkas Kirana.


"Tidak, aku hanya pura-pura. Kirana."


Kirana teringat ucapan Ambu. Dia tidak boleh percaya pada suaminya seratus persen. Dia juga harus waspada pada wanita itu. Apa yang harus dia lakukan?


Bintang memeluk Kirana. "Percaya padaku. Aku hanya minta kau bersabar, hanya sebentar lagi aku akan putus dengannya."

__ADS_1


Kirana menatap Bintang. Terbersit pertanyaan dalam hati, apakah selama berpacaran dengan wanita itu, terjadi sentuhan fisik? Dia menjadi Jijik membayangkannya.


Wajah Bintang semakin mendekat, Kirana bingung dia tidak mau disentuh suaminya.


Hatchim


Kirana pura-pura bersin, tepat di depan wajah Bintang. Dia lalu melepaskan pelukan Bintang. Bintang mengambil sapu tangan di saku celananya. Dia mengelap wajahnya yang terkena hujan lokal dari Kirana.


"Maaf, hidungku gatal. Alergi sama buaya."


"Begitukah? Kalau begitu, aku harus sediakan payung sebelum hujan, kamu harus biasakan dirimu karena buaya ini akan menempel padamu seumur hidup."


"Kita harus berbuat perjanjian!" seru Kirana.


"Perjanjian apa?"


"Tidak boleh ada sentuhan fisik selain cium tangan, selama kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu."


"Mana bisa begitu? Itu sama saja kau menyiksaku. Bagaimana jika aku tidak kuat dan melampiaskan padanya?"


"Jadi selama ini hubunganmu dengannya sudah sejauh itu? Kalian pasti sudah ...." Kirana memperagakan tangannya.


"Tidak, tidak ada sentuhan fisik selain pegang tangan."


"Terserah, aku tidak bisa membuktikan padamu, tapi aku bisa bersumpah demi Allah tidak ada sentuhan fisik seperti itu selain pegangan tangan."


"Saat ini, sumpah dengan mudah di ucapkan. Sudahlah itu hubunganmu dengan Allah. Aku tak ingin kamu sentuh selama kamu berhubungan dengan wanita itu. Jika ku tidak kuat dan melampiaskan padanya silahkan aku akan pergi. Mudah saja bagiku."


"Kirana, kau begitu menggemaskan. Baiklah aku ikuti syaratmu. Lihat saja, jika urusanku dengannya sudah selesai. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan mengurungmu di kamar."


"Aku juga tidak ingin kau ada sentuhan fisik dengannya. Bila ada, gugatan cerai menanti."


"Setuju, lagipula aku tidak berniat apa pun dengannya."


"Kita lihat saja Pak Bintang." Kirana lalu melangkah ke pintu kamar.


"Kau mau ke mana?" tanya Bintang.


"Mau keluar, aku mau menyiapkan kamar untukku. Kita akan pisah kamar untuk sementara."


"Oh, tidak dengan itu. Aku janji tidak akan menyentuhmu, jadi tidak perlu pisah kamar."


Kirana berpikir dan menimbang. "Baiklah kita tidak pisah kamar," putus Kirana akhirnya.

__ADS_1


Namun, Kirana tetap keluar, untuk bergabung dengan mamah mertuanya.


Bintang, langsung menelepon seseorang. "Dapatkan bukti itu secepatnya, aku tidak ingin lagi berhubungan dengannya," ucap Bintang lalu menutup teleponnya.


***


Pagi ini, Kirana susah sangat rapi dengan pakaian kebesarannya, seragam OG. Kirana putuskan akan bekerja hari ini. Dia sedang menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga.


"Kirana, sekarang tugas Mamah berkurang, ada Kirana yang masak." Aurora datang ke ruang makan. Dia melihat Kirana sedang menata makanan di atas meja.


"Mamah, tenang saja. Soal masak, kecil buat Kirana," ucap Kirana.


Aurora tersenyum, lalu datang Galaksi, menghampiri istrinya. "Wah, kelihatannya masakan Kirana lezat-lezat."


"Lezat mana sama punya Mamah?"


"Papah nggak tahu, 'kan belum coba."


"Mamah, Papah, silahkan duduk dan nikmati sarapan buatan Kirana." Aurora dan Galaksi lalu duduk.


"Kirana, suamimu mana?" tanya Aurora.


"Pas Kirana turun tadi, A Bintang baru masuk kamar mandi. Mungkin masih berendam di bathtub, Kirana panggil dulu ya Mah." Kirana lalu beranjak pergi ke kamarnya.


Kirana membuka pintu kamar. "Loh, Pak! Kok, malah duduk ayo sarapan. Sudah ditunggu Mamah dan Papah."


Bintang tidak menjawab dia menatap tajam Kirana, membuat Kirana salah tingkah.


"Maaf, Pak. Kirana nggak sengaja, reflek." Kirana nyengir kuda.


"Reflekmu membuat rudalku sakit."


"Rudal?" tanya Kirana bingung, dia berpikir apa maksud Bintang? Ah iya, dia mengerti. Wajah Kirana berubah merah.


"Apakah sesakit itu Pak? Perlu ke dokter?"


Bintang tidak menjawab dan memilih pergi. Kirana memperhatikan Bintang berjalan. "Sakit banget ya? Sampai jalannya begitu. Kaya orang baru sunat." Kirana membatin, sambil wajahnya meringis.


Dia lalu menyusul Bintang. Kirana merasa sedikit bersalah, karena telah menendang rudal Bintang, sungguh dia tidak sengaja dan tidak berniat menyakiti rudal Bintang.


Tadi subuh Kirana terkejut, begitu bangun ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Kirana melepaskan pelukan itu, tapi dia merasakan sesuatu yang keras di punggungnya.


Kirana langsung berbalik dan menendang Bintang agar menjauh. Namun, tanpa sengaja tendangannya mengenai rudal Bintang.

__ADS_1


__ADS_2