
Setelah sholat Isya Kirana langsung naik ke atas kasur. Dia merebahkan dirinya dan langsung memejamkan matanya.
Bintang masih duduk di atas tempat tidur dengan laptop di pahanya. Dia sedang mengecek file yang di kirim via email oleh Billy.
Setelah dirasa Kirana tertidur. Bintang dadah di depan mata Kirana yang terpejam, Kirana tidak bangun, berarti dia sudah pulas.
Bintang lalu menutup laptop setelah dia mematikan powernya. Diletakkan laptop itu di atas meja samping tempat tidurnya.
Bintang kemudian menyibakkan selimutnya, dan turun dari tempat tidur. Dia mengganti bajunya, dan pergi keluar kamar.
Bintang melangkah menuju dapur. Dia kemudian memasak masakan simple, spagethi kesukaan Maya.
Ya, Bintang berniat ingin ke rumah Maya, untuk mengantarkan makanan kesukaan Maya, hasil buatannya. Bisa saja ini adalah permintaan terakhir Maya.
Dia akan berusaha mengabulkan setiap keinginan Maya karena Bintang tak ingin menyesal jika Maya pergi dan dia belum memenuhi permintaan Maya.
Masakannya sudah hampir selesai, tinggal menatanya di dalam kotak bekal. Semua sempurna, Bintang memasukkannya ke dalam tas kecil dan membawanya ke mobil.
Dia lalu pergi, meninggalkan rumahnya menuju rumah Maya. Meninggalkan istrinya ke tempat wanita lain.
Kirana menyaksikan semuanya, dia melihat Bintang memasak, lalu pergi membawa masakannya. Memenuhi permintaan Maya yang rindu pada masakan Bintang.
Dia terkekeh, menertawakan hidupnya, pernikahannya. Kirana, pergi ke kamar. Dia lalu berganti baju. Kirana mengambil ponselnya, dan memesan ojek on line ke stasiun.
Kirana lalu mencari tiket yang berangkat malam ini. Untunglah ada jadwal satu lagi yang berangkat malam. Kirana lalu mengambil tas yang sudah disiapkannya.
Biarlah dia menepi untuk sesaat, menata hati dan pikiran, agar dia bisa memutuskan apa yang terbaik untuk hidupnya.
Kirana tak mungkin pergi tanpa pamit seperti maling. Dia mengetuk pintu kamar mertuanya. Pintu pun terbuka. Keluarlah Galaksi.
"Kirana, ada apa?"
"Maaf, Pah Kirana ganggu tidur Papah dan Mamah. Tapi, Kirana mau pamit beberapa hari ke rumah Ambu."
"Ada apa dengan mereka? Mereka baik-baik saja?" tanya Galaksi. Pasalnya ini sudah malam dan Kirana ingin pulang dengan mendadak sekali. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja Pah. Kirana cuma rindu sama mereka. Sudah lama Kirana tidak pulang."
"Kamu sama siapa ke sananya, Bintang?"
"Tidak, Pah. A Bintang pergi keluar, sepertinya urusan pekerjaan. Dia belum pulang sampai sekarang."
"Ya udah, Papah antar, ya?" Galaksi hendak masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju.
"Tidak usah, Pah. Kirana sudah pesan ojek on line."
"Tapi bahaya Kirana, ini sudah malam kamu seorang wanita, rawan Kirana. Tidak bisakah besok kamu berangkatnya Kirana?"
"Tidak apa, Pah, Kirana sudah biasa. Lebih enak berangkat malam."
__ADS_1
Tin ... Tin
"Itu sepertinya ojek onlinenya. Kirana berangkat dulu Pah. Tolong pamitkan pada Mamah."
"Iya, ayo Papah antar sampai naik OJOL. Papah mau bicara dengan supirnya." Galaksi ke dalam sebenatar untuk mengambil ponselnya.
Mereka turun ke bawah, langsung melangkah menuju pintu pagar. Setela bertemu dengan supir. Galaksi mengajak berfoto.
"Mas, foto dulu." Galaksi foto Selfi dengan supir ojek.
Dia juga foto Selfi di depan motornya. Plat nomer pun dia foto. Galaksi minta supir untuk menunjukkan SIM-nya.
Galaksi memfoto SIM itu. "Mas, hati-hati jaga putri saya,"
"Iya, Pak."
"Kirana berangkat dulu, Pah."
"Iya, sayang. Hati-hati jangan lupa telepon Papah jika butuh bantuan. Kapan pun akan Papah angkat."
"Iya, Pah terima kasih."
Kirana naik ke atas motor ojek. Sang supir lalu melajukan motor itu. "Jangan lupa telepon Papah kalau sudah sampai!' teriaknya pada Kirana yang sudah mulai menjauh.
Galaksi menyaksikan motor itu hingga menghilang di dalam pekatnya malam. Dia lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Galaksi berdoa untuk Kirana, agar hatinya tenang.
Dia mengunci pintu dan duduk di ruang tengah. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Pekerjaan apa yang di kerajakan Bintang, hingga harus keluar rumah malam-malam begini?
Sementara itu, Bintang sekarang sedang berada di rumah Maya. Dia duduk menemani Maya makan spagethi.
Awalnya dia hanya berniat untuk mengantarkan makanan saja lalu segera pulang. Namun, Maya memintanya untuk menemani dia makan.
Karena tak enak hati Bintang bersedia menemaninya, sambil mereka mengobrol.
"Kamu nggak ikut makan, Star?" tanya Maya.
"Aku sudah kenyang, aku sengaja masak itu cuma buat kamu doang."
"Ah, andai aku tak tahu hatimu, aku pasti sudah baper, Star." Maya terkekeh.
"Apa yang kau tahu tentang hatiku memangnya?" tanya Bintang.
"Tak ada cinta di hatimu, Star."
"Sok tahu!"
"Iya, bertahun-tahun aku berharap pada cintamu. Tapi hatimu dingin tak tersentuh. Akhirnya aku menyerah, dan tak pernah berharap lagi."
__ADS_1
Bintang diam, dia tak pernah tahu kalau Maya mencintainya. Mereka hanya seorang sahabat. Bintang tak pernah berani mencintai siapa pun. Dia takut resikonya, yaitu rasa sakit ketika kehilangan.
Namun, ketika Maya pergi dan menghilang, justru dia merasa sangat kehilangan. Apakah itu cinta? Dia tidak tahu.
Ketika menikah dengan Kirana pun dia tak merasakan cinta, dia hanya merasa harus menikahinya. Kehidupan yang mereka jalani setelah menikah, membuat Bintang merasa kehangatan di hatinya. Dia senang ada Kirana di hidupnya.
Rasanya itu tidak sama lagi, ada kehangatan, marah saat melihat dia dengan yang lain, ada sedikit rasa rindu. Apa itu Cinta? Dia juga tidak tahu.
Bintang tiba-tiba ingat Kirana. Dia melihat jam tangannya. Sudah pukul sepuluh.
"Maya, aku pulang. Ini sudah malam. Kamu harus segera istirahat. Aku juga ada rapat besok pagi."
"Iya, Star. Aku malam ini akan tidur dengan nyenyak. Perutnya rasanya kenyang karena masakanmu."
Bintang tersenyum tipis. "Aku pulang, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bintang segera keluar dari dalam rumah, menuju mobil. Dia mulai menjalankan mobilnya.
Jalanan sangat lengang, walau masih banyak mobil yang berlalu lalang. Ini Jakarta kota yang tak pernah mati. Malam pun masih ada kehidupan di sini.
Bintang hanya butuh dua puluh lima menit untuk sampai rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, Bintang masuk ke dalam rumah.
Bintang tak menyadari di ruang tengah yang dia lewati ada orang duduk di sofa, karena memang lampunya di matikan.
"Dari mana kamu Bintang? Jangan bilang alasan pekerjaan, karena Papah tidak akan percaya!" Suara Galaksi mengejutkan Bintang.
Bintang lalu menoleh pada pemilik suara. "Papah? Ngapain Papah di situ?"
Bintang justru bertanya pada Galaksi, merasa aneh melihat Papahnya.
"Jawab Papah, dari mana kamu?"
"Dari, rumah Billy. Urusan pekerjaan."
Bugh
Galaksi menonjok perut Bintang. "Sudah Papah bukan jangan ngomong urusan pekerjaan, Papah tidak akan percaya."
"Tapi, memang kenyataannya begitu." Bintang bersikeras dengan jawabannya.
"Papah sudah telepon Billy. Kata dia, tisak ada urusan pekerjaan."
.
Bintang diam tidak berkutik, dia tidak mungkin mengungkapkan Maya saat ini.
...--------------...
__ADS_1