Kirana

Kirana
Bab 43. Bintang Berduka


__ADS_3

"Adipati!" Kirana ingat nama itu.


"Iya, kamu ternyata ingat nama saya."


"Tentu aku ingat nama orang yang telah menolongku, aku hanya pangling dengan penampilanmu. Aku jadi tidak mengenalimu." Kirana memperhatikan penampilan Adipati.


Penampilan Adipati memang berbeda, rambutnya sudah berbeda model menjadi ala Korea yang berponi. Pakaian formal dengan Jas, walau sedikit kusut mungkin karena ini sudah jam pulang kerja.


Jam tangan sepatu dan semuanya terlihat mahal, tidak seperti pertemuannya waktu itu yang sederhana ala petualang yang bebas.


Adipati tersenyum, "Kamu pasti tidak menyangka kalau ternyata aku sangat tampan bukan?"


"Ih, narsis kamu!" Kirana tersenyum.


"Tapi, benar sih, kamu bertambah tampan kalau seperti ini. Walau aku suka kamu yang sederhana."


"Kenapa begitu?" tanya Adipati sambil menyetir serta sesekali netranya menatap spion mobil.


"Aku merasa bisa lebih dekat dan terbuka sama kamu, karena merasa kita ini sama, tapi setelah tahu kamu yang asli aku jadi sedikit canggung dan malu. Ternyata kita ini berbeda jauh."


"Aku tidak suka perkataanmu, memangnya kenapa kalau penampilan kita berbeda, apa kita tidak bisa berteman hanya karena perbedaan harta, semua manusia sama hanya berbeda ujian?" Adipati sedikit ketus karena dia sungguh benci seseorang yang menilai dari penampilan untuk berteman.


"Bukan begitu, orang pasti akan menganggap aku yang mengambil keuntungan darimu."


"Apa, kau seperti itu?"


"Tentu tidak!"


"Ya, sudah lalu apa masalahnya? Kalau kau tidak merasa seperti itu. Biarkan saja orang lain dengan pemikirannya. Kita yang menjalani hidup kita sendiri, ada yang diuji dengan harta berlebih atau harta yang kekurangan, semua yang kita miliki ini ujian, harta, keluarga, ilmu, cinta, semuanya."

__ADS_1


"Kamu benar." Kirana merasa malu, karena pemikirannya yang dangkal.


"Kirana, kamu bekerja di mana? Terus kenapa kamu tadi menangis di tengah jalan?"


Pertanyaan Adipati, mengingatkan Kirana kembali pada kenyataan bahwa, suaminya telah menikah lagi. Matanya kembali berkaca- kaca.


Benar kata Adipati, semuanya adalah ujian. Harta, keluarga, pernikahan semua yang terjadi padanya adalah ujian. Kini dia sedang di uji pernikahannya dengan suami yang menikah lagi dan berpoligami.


Apakah dia harus menerima semua ini atau memilih mundur dan minta cerai? Walau mereka menikah tanpa cinta, tapi tetap saja sebagai seorang istri, dia tidak ingin di madu.


Adipati melirik Kirana, dia melihat Kirana yang mendadak berwajah sendu dan termenung.


"Kirana, maaf tapi kamu mau pulang ke mana? Aku tidak tahu alamat rumah kamu."


"Hah ... oh, pulang ke ...." Kirana berpikir ke mana dia akan pulang, ke rumah Orion kah, atau kosan lamanya?


"Aku belum ingin pulang. Bolehkah antar aku ke tempat yang membuatku tenang."


Mobil pun melaju, membawa Kirana yang sedang gundah gulana.


***


Sementara itu, di rumah sakit. Keadaan di kamar ICU sangat mencekam dan diliputi duka. Pasalnya Maya sedang kritis, menurut dokter hidupnya tidak lama lagi.


Dokter meminta mereka untuk mengikhlaskan kepergiannya agar Maya dapat pergi dengan tenang. Dokter meminta satu orang yang boleh di dalam.


Bintang keluar ruangan, dia membiarkan ayah Maya yang pertama berada di samping anaknya.


Bintang melihat ponselnya, takut Kirana meneleponnya. Namun, nihil. Tak ada pesan atau panggilan dari Kirana. Apakah Kirana sudah sampai di rumah? Ingin dia menelepon dan bertanya, tapi dia takut nanti Kirana bertanya balik di mana keberadaannya.

__ADS_1


Dia tidak bisa terus-terusan berbohong. Hatinya selalu merasa bersalah setelah dia berbohong pada Kirana. Apalagi saat ini dia merasa sangat bersalah dengan hal fatal yang telah dia lakukan.


Dia terpaksa menikahi Maya, atas permintaan ayahnya yang ingin mewujudkan keinginan terakhir Maya. Yaitu dia sangat ingin menikah dengan Bintang. Ayah Maya tahu dari diary yang dia temukan di kamar Maya.


Bintang awalnya menolak dan mengatakan pada ayah Maya kalau sebenarnya dia telah menikah. Bintang tidak ingin mengkhianati istrinya. Dia juga tidak pernah ingin berpoligami.


Ayah Maya memaksa, dia memohon demi kebahagiaan anaknya. Ini adalah permintaan terakhirnya, hidup Maya tidak akan lama lagi. Setidaknya dia meningal dalam keadaan sudah menjadi istri Bintang. Tak perlu KUA karena ini hanya pernikahan siri.


Bintang berpikir keras, batinnya berperang dengan akal logika, rasa iba pada sahabat dan tanggung jawab sebagai suami, seolah berdebat di hatinya.


Akhirnya dia memilih mengabulkan permintaan ayah Maya. Ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk sahabatnya, semoga sahabatnya bisa pergi dengan tenang dan damai.


Kirana pasti mengerti, dia akan menjelaskan setelah semua selesai. Perawat memanggil Bintang untuk masuk, dia memakai baju steril, dan masuk ke dalam ruang ICU.


"Nak Bintang silahkan bicara dengan Maya, ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk bersama Maya." Ayah Maya, menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


Bintang duduk di kursi samping brankar Maya.


"Maya, istriku. Aku telah mengabulkan keinginanmu untuk menikah denganku. Kita terikat walau sekejap, Aku akan selalu mendoakanmu di sini. Kau akan selalu di hatiku, pergilah dengan tenang. Aku ikhlas melepasmu." Bintang melihat air mata yang jatuh di pelipis Maya.


Maya dapat mendengar setiap ucapannya. "Sebagai suamimu akan membimbingmu." Bintang kemudian mencium kening Maya, dan mengecup bibirnya sebentar, lalu dia membisikkan dua kalimat syahadat pada Maya.


Bintang dapat merasakan tangan Maya yang digenggamnya bergerak lalu tubuh Maya menegang dan terdengar suara alat berbunyi.


Dokter mendekat dan menyinari mata Maya dengan senter kecil. Dokter kemudian menyebutkan waktu kematian Maya.


Ayah Maya menangis dan memeluk Maya. Bintang pun ikut menangisi kepergian sahabatnya sekaligus istrinya.


Dokter menutup jasad Maya dengan kain kafan putih.

__ADS_1


Bintang keluar dia menyiapkan semua keperluan untuk pemakaman Maya.


...----------------...


__ADS_2