Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 16 Risih


__ADS_3

Bab 16 Risih


Selama perjalanan ke sekolah, Elina terus menatap Kalila. Elina masih tidak percaya kalau gadis yang ada di depannya adalah sepupunya. Berulang kali dia mencubit kecil tangan Kalila sampai membuat si empunya kesakitan.


“Elin, jangan usil dong ah!” ucap Kalila kesal dengan cubitan yang dilayangkan Elina padanya.


“Ternyata gue enggak mimpi. Lo kerasukan apa sih tiga tahun kemaren? Kalau kaya gini 'kan cantik. Kelihatan wanitanya.” Kama yang duduk di depan mendengar ucapan Elina tertawa kecil. Bukan hanya Kama saja, bahkan Pak Udin, supirnya Elina pun tertawa.


“Lo lama-lama rese ya!” Kalila menggelitik Elina sampai dia tertawa minta ampun. Kalila tahu kalau kelemahan sepupunya itu berada di pinggang. Suasana di mobil kala itu sangat berisik.


Sesampai di sekolah, entah kenapa Kalila ragu keluar dari mobil. Dia takut jadi bahan perhatian teman-teman sekolahnya.


“Lila, enggak turun?” tanya Elina heran.


“Gue kok mendadak malu ya! Bentar, gue iket rambut dulu aja.” dengan cepat Elina mengambil ikat rambut yang ada di tangan sepupunya itu.


“Enggak usah diiket! Kamu cantik seperti ini. Udah ayo, jangan malu!” Elina membuka pintu mobil dan menarik tangan Kalila.


Semua orang tampak biasa saja. Mereka belum menyadari kalau gadis cantik yang sedang berjalan masuk ke sekolah adalah Kalila. Di sekolah, Kalila cukup terkenal dengan gayanya yang tidak biasa dari pada gadis-gadis yang lainnya. Oleh sebab itu, Nyali Kalila menjadi ciut saat berpikir kalau dia akan menjadi pusat perhatian.


Elina berjalan sambil merangkul lengan Kalila dan tersenyum. Saat sampai di dalam sekolah, keduanya harus berpisah, karena jalan menuju kelas mereka yang berbeda.

__ADS_1


“Sampai nanti istirahat ya! Gue samperin ke kelas lo.” Kalila hanya mengangguk tersenyum.


Perlahan Kalila melangkahkan kakinya, menyusuri lorong jalan menuju kelasnya. Di sini orang-orang mulai menatap dirinya heran, tapi belum ada yang menyadari kalau gadis cantik itu adalah Kalila. Dia berjalan menunduk, makanya mereka belum bisa melihat jelas wajah Kalila.


Sampai di depan kelas, langkah Kalila terhenti di depan pintu. Dia menarik napas dalam dan melangkah masuk ke dalam. Benar saja, seperti dugaannya, seketika kelas hening melihat dirinya masuk dan melangkah ke tempat duduknya. Banyak yang berbisik itu siapa? Dan ada juga yang mengira kalau Kalila adalah murid baru.


Hesti cukup kaget, saat melihat langkah Kalila menuju bangkunya.


‘Dia siapa?’ batin Hesti bertanya-tanya, karena jujur dia tidak mengenali gadis yang berjalan menuju bangkunya.


Kalila menyimpan tasnya di meja dan langsung duduk di bangkunya.


“Kalila!” teriak Hesti membuat seisi kelas kaget dan langsung menatap ke arah bangku Kalila.


“Lo beneran cantik kalau seperti ini,” ucap Hesti yang masih menatap kagum kecantikan Kalila, sambil membelai lembut rambut panjangnya yang terurai.


“Jadi kemaren gue enggak cantik gitu?” ucap Kalila berusaha tenang dan mencairkan suasana.


“Bukan gitu, kalau sekarang kamu persis seperti wanita,” ucap Hesti mengundang tawa keempat siswi yang berada di dekat mereka.


Bel masuk pun berbunyi, seluruh murid yang ada di kelas kembali ke tempatnya masing-masing. Tidak lama dari bel berbunyi, Akbar memasuki kelas, karena memang jam pertama adalah mata pelajarannya. Seperti biasa para siswa mengucapkan salam sanbil berdiri dan kembali duduk setelah Akbar menyuruh mereka untuk kembali duduk.

__ADS_1


Akbar masih belum menyadari keberadaan Kalila di sana. Sampai dia mengeluarkan absen dan memanggil satu-persatu nama murid yang ada di kertas absennya. Seketika dia terhenti memanggil nama siswa setelah mengucapkan urutan absen ke 16 yaitu Kalila Putri Wicaksono.


‘Kalila?!’ gumam akbar saat melihat gadi cantik di depannya mengangkat tangan. Seketika jantung Akbar berdebar dengan kencang.


“Ekhem, Pak awas matanya jatuh!” goda salah satu anak lelaki yang membuat seisi kelas tertawa. Akbar dengan cepat memalingkan wajahnya, dia tidak menyadari sejak tadi diperhatikan oleh anak-anak seisi kelas. Berbeda dengan Kalila, sekujur tubuhnya panas merasa malu. Ada sedikit rasa menyesal dia telah berubah seperti ini.


Akbar kemudian melanjutkan kembali absensi memanggil anak-anak muridnya. Selesai absen, Akbar pun mulai menjelaskan mata pelajarannya, tapi sesekali dia mencuri-curi pandang menatap Kalila.


‘Kamu manis seperti dulu, La!’ gumamnya tersenyum kecil sambil menunduk.


”Tugas yang Bapak berikan kemarin tolong dikumpulkan pada ketua kelas ya. Selamat siang!” ucap Akbar saat bel berbunyi menandakan jam pelajarannya habis. Sebelum pergi, di saat semua sedang sibuk mengambil buku tugas, tatapan. Akbar dan Kalila saling bertemu dan kedunya melempar senyuman malu-malu.


“La, buku tugas lo mana?” ucap Hesti yang akan mengumpulkan buku tugas untuk di serahkan pada ketua kelas.


”Ah iya, bentar!” Kalila pun mengambil buku tugas di dalam tasnya yang kebetulan saat itu ponselnya sedang begetar. Kalila pun mengambil ponsel dan buku itu secara bersamaan.


Setelah memberikan buku pada Hesti, Kalila langsung membuka ponsel yang penuh dengan chat gosip tentang dirinya. Entah siapa yang menyebarkan gosip tentangnya menjadi feminim sudah tersebar di seluruh sekolah. Kalila yakin kalau ini kelakuan teman kelasnya yang laki-laki, karena sejak tadi mereka menatap Kalila sambil berbisik-bisik.


Kalila membuang napas kasar dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Hesti yang bertanya pun tidak digubris oleh Kalila dan terus berjalan. Ingin rasanya dia menghapus sedikit riasan di wajahnya, juga ingin mengikat rambutnya. Ternyata menjadi berubah seperti ini membuat Kalila risih menjadi pusat perhatian semua orang. Kalila terus berjalan tertunduk menuju toilet yang berada cukup jauh dari kelasnya.


Bug! “Aw....!” seketika tangan Kalila ditarik oleh seseorang masuk ke dalam ruangan yang entah Kalila belum sadar itu ruangan apa.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2