
Sampai di kampus, Kalila tidak langsung turun dan memilih menyender sambil menutup matanya. Kata-kata Bu Nurma dan juga Aisyah sejak tadi terngiang-ngiang. Ia meremas kepalanya, merasa binggung apa yang harus ia lakukan.
Tok! Tok! Suara ketukan jendela mobil membuat Kalila membuka kedua matanya dan langsung tersenyum. Ia pun membuka pintu jendelanya.
“Hei, ngapain masih di sini?” tanya Ronal.
“Nunggu waktu kelas masuk,” jawab Kalila sambil membuka pintu mobilnya dan keluar.
“Bagaimana keadaan ibu kekasih lo? Sudah baikan?” tanya Ronal yang memang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Syukur, sekarang lagi proses pemulihan.”
“Lila!” teriak Hesti yang juga baru datang bersama dengan kembarannya. Kalila langsung tersenyum dan memeluk tubuh ramping sahabatnya sambil memicingkan mata ke arah mereka berdua.
“Sepertinya ada yang gue tidak tahu tentang hubungan kalian. Ayo ngaku!” goda Kalila membuat wajah Hesti memerah malu, sedangkan Kama tersenyum dengan posisi cool seperti biasa.
“Iiih, jangan godain gitu dong! Kita masuk sekarang ya!” ajak Hesti yang tidak ingin Kalila menggodanya terus-menerus.
“La, gue ke kelas dulu ya! Nanti selesai kelas kita makan siang bareng!” pamit Ronal dan Kalila hanya menaikkan kedua jempolnya.
Ini adalah hari pertama Kalila resmi menjadi seorang mahasiswa dan kelas hari ini adalah kelas pertama buat kedua wanita cantik yang baru masuk ke kelas. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka terutama Kalila.
Sudah tidak diragukan lagi, karena walaupun saat SMA Kalila tomboy, tapi ia banyak sekali yang suka. Hesti melirik Kalila tersenyum, ia tahu betul kalau hal ini bakal terulang kembali.
__ADS_1
“Sepertinya orang-orang terpana lihatin lo deh!” bisik Hesti yang hanya mendapat gelengan kepala dari sahabatnya. Kalila sama sekali tidak memedulikan hal itu, yang ada dipikiran dia saat ini hanyalah sang kekasih.
“Lo sama Bang Kama jadian?” tanya Kalila dan Hesti hanya mengangguk dengan wajah yang tidak senang membuat Kalila merasa heran.
“Loh, kenapa? Bukannya ini yang Lo inginkan sejak dari SMA? Jangan bilang lo enggak cinta lagi sama Bang Kama? Pokoknya cinta lo hanya buat Abang gue, awas aja lo!” ancam Kalila membuat Hesti menggelengkan kepalanya.
“Mentang-mentang kalian kembar, sukanya ngancem orang mulu! Perasaan gue buat Bang Kama selalu ada dan mungkin enggak pernah hilang. Tapi, Bang Kama serasa berbeda. Dia makin ke sini makin over protektif. Seperti bukan Bang Kama yang gue kenal. Tadi aja dia sudah wanti-wanti jangan pernah berkomunikasi dengan laki-laki.”
Sebenarnya Kalila merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya. Membayangkan Kama yang seperti itu pun sama sekali tidak terlintas dalam benaknya.
“Lo enggak salah cerita sama gue 'kan? Kok cowok kulkas bisa juga posesif?” jangankan Hesti, kembarannya pun merasa binggung dengan perubahan yang terjadi pada Kama.
“Ya makanya itu, jangankan elo, gue aja heran. Gue kira selama ini cinta gue bertepuk sebelah tangan ternyata enggak. Gue sih seneng ya dengan perasaan Bang Kama dan status kita. Tapi, lo tahu sendiri gue mah orangnya suka bebas tanpa ditekan,” lanjut Hesti.
“Ya udah, nanti gue bilang deh sama Bang Kama, kalau lo—” dengan cepat Hesti menutup mulut sahabatnya.
“Lo sepertinya ada masalah? Lo enggak mau cerita sama gue?” tanya Hesti yang seketika membuat senyuman di mukut Kalila hilang.
“Entahlah, gue harus cerita dari mana, gue binggung banget.” Hesti tahu betul bagaimana sifat Kalila. Dia tidak akan mau menceritakan masalah pribadinya kalau memang Kalila sudah niat ingin menceritakannya.
“Apapun itu, gue berharap lo sama Pak Akbar baik-baik saja ya!” Kalila hanya tersenyum mengangguk.
Di sisi lain Akbar baru selesai menyuapi sang ibu. Ia sengaja mengambil cuti dadakan hanya demi mengurusi orangtua satu-satunya itu.
__ADS_1
“Mas, kemarilah!” titah Nurma.
Akbar yang sedang mencuci tangannya langsung menghampiri sang ibu dan duduk di kursi yang ada di sebelah kasur. “Ada apa, Bu?”
“Mas, memangnya kamu ada uang untuk biaya operasi ibu? Dan lagi, kamu menyewa kamar ini apa tidak terlalu mahal? Ibu bisa kok di rawat kelas terendah juga, tidak perlu dirawat di kelas VIP seperti ini.” Nurma baru mengatakan hal ini, karena ia merasa penasaran.
“Doain saja Mas selalu ada rezekinya Bu. Sudah jangan pikirkan lagi biaya rumah sakit, pokoknya semua aman terkendali!” Nurma hanya mengangguk.
Melihat ibunya yang sudah terlelap, Akbar kembali menuju bagian kasir yang kemarin mengurus pembayaran ibunya. Akbar berharap kali ini dia bisa tahu siapa yang melunasi semuanya. Terlebih dahulu Akbar mengambil nomor antrian dan berharap ia dipanggil oleh wanita yang kemarin mengurus semuanya.
“No antrian 46!” teriak seorang kasir.
Seketika Akbar tersenyum, karena yang ia harapkan benar terjadi. Ia mendekati kasir itu dan langsung menanyakan tanpa basa basi.
“Mbak maaf! Saya mau tanya, tagihan atas nama Nurma Komalasari saya mau lunasi,” ucap Akbar yang sengaja tidak mengetahuinya, karena kemarin Akbar tahu dari perawat bukan dari bagian administrasi.
“Tunggu sebentar ya, Pak!” tidak lama wanita itu memberikan beberapa surat pelunasan dan juga bukti deposit kamar yang cukup besar.
“Ini bukti pelunasannya Pak! Dan ini deposit yang ada di rumah sakit. Kalau nanti Bu Nurma sudah dinyatakan pulang, uang sisa dari deposito bisa diambil dengan menunjukan bukti ini ya Pak!” Akbar cukup kaget melihat nominalnya. Tidak terbayang sama sekali siapa yang melunasi biaya tagihan sebesar ini.
“Maaf Mbak, boleh saya tahu siapa yang melunasi semuanya?” tanya Akbar tanpa ragu.
“Seorang pria, Pak. Maaf saya tidak tahu siapa karena beliau tidak mau menyebutkan namanya.” Akbar mengangguk dan pamit pada kasir itu.
__ADS_1
Sambil berjalan dan melihat kwitansi di tangannya, Akbar berpikir sebenarnya siapa pria yang melakukan semua ini?