
Tatapan Ronal menatap tajam ke arah pria yang mengantar Kalila. Seketika ia merasa panas dalam hatinya. Ketika Kalila dan Hesti berjalan mendekat, Ronal memasang tatapan tajam membuat Kalila merasa ada yang berbeda dengan kakak angkatannya itu.
“Pagi Kak!” sapa Kalila dan Hesti.
“Pagi!” jawab keduanya dan tidak ada kata-kata lain membuat Kalila dan Hesti langsung masuk ke dalam.
“Tumben lo enggak godain Kalila,” tegur Bayu merasa heran dengan sahabatnya itu. Ronal hanya diam dan menyapa mahasiswa lainnya yang baru pada datang masuk ke dalam kampus.
Rangkaian acara ospek hari itu dilewati oleh semua mahasiswa baru bersama kelompok masing-masing yang sudah ditentukan oleh panitia. Ronal yang sejak tadi memimpin kelompoknya memberikan tugas pada anggota kelompok untuk di kerjakan. Sampai jam makan siang, semua mahasiswa sibuk dengan perbekalan mereka, karena memang tidak ada makanan yang di jual di kampus pada hari itu.
Kebetulan Kalila dan Hesti bergabung bersama Ronal dan Bayu. Mereka membuka oerbekalan bersama dan makan bersama. Dari tadi ponsel Hesti bergetar membuat ia merasa risih dan kesal dengan pria yang tadi oagi mengantarnya.
“La, gue nyamperin abang lo dulu ya, ampun sejak kapan dia posesif sama gue,” kesal Hesti yang sejak tadi ditelepon oleh Kama. Mendengar itu membuat Kalila tersenyum bahagia, itu tandanya Kama memang jatuh cinta pada sahabatnya.
“Kok lama sih!” tanya Kama yang merasa kesal, karena lama menunggu dirinya.
“Abang lihat sendiri, aku lagi kumpul menikmati makan siang sama yang lainnya.” Kama sebenarnya sudah tau dari tadi ketika tempat duduk Hesti yang tidak ada jarak dnegan Bayu dan itu berhasil membuat Kama kesal.
”Nih!” kama memberikan lagi dua botol minuman pereda sakit, karena ia takut minuman yang ia kasih kemarin sudah habis. “Aku takut kamu kram, jadi aku belikan ini lagi. Kalau bisa duduknya jangan menempel gitu sama cowok, kasih jarak sendikit.” wajah Kama nampak berbeda membuat jantung Hesti berdetak tidak karuan.
“Bang!” panggil Hesti membuat tatapan Kama menatap ke arah Hesti.
“Ya, ada apa?” Hesti sebenarnya ragu ingin mengatakan yang sebenarnya, kalau saat ini ia sedang tidak datang bulan. Tapi, ia mengurungkan niatnya, karena takut Kama akan merasa kecewa saat mengetahui dia dibohongi.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Kama lagi membuat Hesti sedikit salah tingkah, karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
“Emmm ... makasih ya! Kamu menginap juga 'kan malam ini?” Kama mengangguk tersenyum.
“Iya, sama. Nanti malam, kalau ada waktu kita ketemu lagi ya. Ya udah sana, makan dulu yang banyak dan ingat duduknya jangan terlaku dekat.” Hesti hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
Banyak pasang mata mentap Hesti, karena jarang mahasiswa ekonomi yang menjalin hubungan dengan mahasiswa kedokteran. Hal itulah yang membuat banyak orang merasa iri dengan Hesti, tapi tidak dengan Hesti sendiri. Ia merasa risih dan masih belum tahu apa sebenarnya maksud dari Kama bersikap seperti ini padanya, pasalnya sampai sekarang Kama masih belum menyatakan perasaannya pada Hesti.
“Cie ... calon kakak iparku sedang merona,” goda Kalila sambil berbisik. Hesti meletakan bingkasan berisi botol minuman pereda sakit itu kasar di atas pangkuan Kalila.
“Gara-gara kebohongan lo, gue jadi terus berakting di depan Bang Kama.” Kalila tertawa kecil melihat wajah kekesalan sahabatnya.
Tanpa di sadari, sejak tadi tadi Ronal terus menatap Kalila. Saat semua orang sedang sibuk menyiapkan tenda, Ronal menghampiri Kalila yang masih belum mengabiskan makan siangnya, sedangkan Hesti baru saja bergabung dengan yang lainnya membantu menbangun tenda.
Ronal membawa Kalila jauh dari kerumunan orang membuat gadis cantik itu merasa heran, karena terliht dari wajah Ronal kalau ada sesuatu yang penting yang ingin dia katakan pada Kalila.
“Kabar Om Alaric sama Tante Ana bagaimana?” pertanyaan itu sontak membut kedua bola mata Kalila membuat sempurna. Ia tidak tahu kenapa Ronal mengenal kedua orangtuanya.
“Loh Kak, kok kamu bisa tahu?” tanya Kalila penasaran.
“Kamu tidak ingat aku, La? Masih inget surat di anyer waktu itu?” Kalila menutup mulutnya dengan telapak tangan karena jaget dengan apa yang Ronal ucapkan.
“Ja-jadi itu kakak? Tapi kenapa kakak bisa kenal sama ayah dan ibu?” Kalila masih belum bisa mengingat siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
“Aron!” jawab Ronal singkat dan lagi-lagi membuat Kalila kaget.
“Aron, serius kamu Aron?” Ronal tersenyum mengangguk.
Pertemuan dengan teman semasa kecilnya membuat Kalia tidak sadar langsung berlari dan memeluk tubuhnya. Aronal Gunawan adalah tetangga Kalila dulu dan hubungan keduanya sangat dekat. Sampai suatu saat Ronal harus pergi ke luar negeri untuk mengikuti orangtuanya yang dipindah tugaskan ke sana.
“Aron, gue enggak nyangka bisa ketemu sama lo lagi. Kalau Bang Kama sampai mengetahuinya dia pasti seneng banget.” Kalila kemudian melepaskan pelukannya dan masih tersenyum menatap Ronal.
”Kamu sangat berubah, aku sampai tidak biza mengenalimu,” lanjut Kalila yang melihat penampilan Ronal dari atas sampai bawah.
Dulu Ronal memang sangat gemuk berbeda dengan Ronal yang ada di hadapan Kalilan sekarang bertubuh tinggi dan atletis. Parasnya juga tampan hingga Kalila sampai tidak percaya kalau Aron teman semasa kecilnya adalah Ronal.
Sejak tadi tatapan Hesti tertuju pada Ronal dan Kalila yang begitu asik bercengkrama. Ia penasaran ada hubungan apa Ronal dan Kalila sampai bisa sedekat itu.
“Hesti, tolong kaitkan ini!” titah Bayu dan Hesti segera melaksanakan apa yang diperintahkan kakak angkatannya.
Setelah semua tenda berdiri, para mahasiswa di suruh istirahat terlebih dahulu karena nanti malam akan ada acara obor di lapangan, bergabung dengan fakultas yang lainnya. Kalila satu tenda bersama Hesti dan dua mahasiswi lainnya. Saat hendak keluar, Hesti menarik tangan Kalila untuk tetap berada di dalam tenda.
“Heh, lo tadi sama Kak Ronal ngapain? Pake peluk-pelukan segala. Kalau Pak Akbar sampe tahu lo bisa dalam masalah besar!” lirih Hesti yang sedikit mengancam sahabatnya itu.
Kalila pun menceritakan semuanya mulai dari surat di anyer dan juga masa kecil dia dan Aron, sehingga membuat Hesti ikut kaget mendengarnya.
“Wah, ternyata benar ya pepatah bilang kalau dunia itu hanya sebesar daun kelor. Jadi, hotel yang kita menginap itu kepunyaan keluarga Kak Ronal?” Kelila kembali mengangguk.
__ADS_1
“Pantas saja surat itu datang dari para pegawai.” Kalila tersenyum, hari ini dia nampak sangat bahagia bertemu dengan teman lamanya.