
Selama perjalanan menuju rumah Hesti, wanita cantik itu hanya diam dan tidak membalas apa yang diucapkan Kama. Mobil sedan keluaran terbaru itu pun berhenti tepat di depan gerbang rumah Hesti. Saat Hesti hendak turun setelah melepaskan sabuk pengamannya, Kama langsung menarik tangannya, membuat jantung Hesti semakin cepat berdetak.
“Kamu enggak mau mengatakan sesuatu padaku?” tanya Kama yang sejak tadi menunggu jawaban dari wanita yang ia cintai.
“Eh i-iya, ma-maaf lupa! Makasih ya Bang Kama!” ucapnya membuat wajah Kama yang tadinya tersenyum mengharap jawaban Hesti langsung berubah jadi masam hingga membuat Hesti menertawakan dia.
Merasa kesal ditertawakan, Kama melepaskan genggaman tangannya dan mengubah duduk kembali menghadap ke arah depan. Hesti yang melihatnya merasa gemas, pasalnya saat ini Kama terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Hesti pun mencubit pipi Kama hingga membuat si empunya merintih kesakitan.
“Aw ... sakit!” ucap Kama kesal sambil memegangi pipinya dan melirik sinis ke arah Hesti yang masih menertawakan dirinya.
“Jangan kaya bocah! Malu dong, masa title mahasiswa kedokteran kaya anak kecil,” ucap Hesti masih tertawa. Ia tidak menyangka, seorang Kama yang serius dan terkenal dewasa mempunyai sifat yang kekanak-kanakan seperti sekarang.
Kama mengubah duduknya kembali menghadap Hesti, menatapnya tajam tanpa berkedip membuat Hesti mengehentikan tawanya. Ia salah tingkah dan langsung melempar pandangannya ke sembarang arah sebari merapihkan rambutnya.
“Ma-maaf, aku cuma becanda!” lirih Hesti menyesali perbuatannya.
“Hes, apa aku terlihat main-main sama kamu? Jujur aku benar-benar mencintai kamu dan aku ingin ka—” Hesti menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Kama sehingga ia tidak melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
“Bang, aku juga sama cinta sama kamu. Mungkin kamu juga sudah tahu kalau aku menyukai kamu sejak kita duduk si bangku SMA. Tapi, aku berusaha mengendalikan perasaan aku. Aku takut, kalau aku terus mengikuti apa yang hatiku mau, maka aku akan membuat suasana persahabatan aku dan Kalila menjadi canggung. Aku takut, jika suatu saat nanti kita brantem bahkan lebih buruk lagi, apabila kita berpisah, hubungan persahabatan aku dan Kalila akan ikut renggang. Jadi aku mohon kalau kita untuk sekarang ber—” belum beres melanjutkan ucapannya, Kama menarik leher Hesti dan mengecupnya.
Mata Hesti membuat sempurna ketika sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Saat Hesti berusaha mendorong tubuh Kama, bibirnya di lumaat oleh Kama hingga membuat Hesti tidak sadar menutup kedua matanya.
__ADS_1
“Aku tidak akan mau menjalin hubungan hanya sebatas teman atau sahabat. Aku hanya mau jadi kekasih kamu, di luar dari itu aku tidak akan pernah mengenalmu lagi.” Kama menyudahi ciuman pertama dan mengancam Hesti. Dia tahu apa yang akan diucapkan Hesti, sehingga ia memotong pembicaraan Hesti dan terpaksa mengancam wanita yang ia cintai.
“Bang, kok gitu sih? Kita 'kan selama ini su—” Kama menatap tajam Hesti, hingga gadis yang ada di hadapannya tidak berani meneruskan apa yang hendak ia katakan.
“Aku bersumpah, kalau hubungan kita akan baik-baik saja. Kalau pun ada masalah, aku jamin tidak akan menganggu hubungan persahabatan kamu dengan Kalila. Lagian aku tidak akan membiarkan masalah datang. So, please Hesti, jangan menyiksa aku seperti ini. Sudah cukup selama ini aku memendam perasaan aku buat kamu dan sekarang aku tidak mau memendamnya lagi. Aku mohon, jadilah kekasihku!” Kama memasang wajah memelas dan memohon pada Hesti agar menjauh dari pikiran negatif yang selama ini ia pikirkan.
“Bang, maafin aku ya!” mendengar perkataan itu, Kama mengubah duduknya sambil meremas kepalanya. Ia tidak pernah mengira kalau Hesti akan menolaknya seperti ini.
“Maafin aku karena sudah egois. Aku mau kok jadi pacar kamu!” lanjut Hesti membuat Kama langsung menatap Hesti sambil tersenyum lebar.
“Bener mau jadi kekasihku?” Hesti mengangguk, Kama pun menarik tangan Hesti hingga masuk ke dalam pelukannya.
Hesti masih merasa kesal pada pria yang kini jadi kekasihnya, karena sudah merebut ciuman pertamanya. Dia mencubit perut Kama hingga Kama kembali meringis kesakitan.
“Ya habisnya kamu nakal, kamu jahat! Dasar mesum, bisa-bisanya ambil ciuman pertama aku dengan paksa.” Hesti melipat kedua tangannya di atas dada sambil memasang wajah yang cemberut. Melihat itu Kama tertawa hingga mendapat lirikan sinis dari kekasihnya.
“Ampun Sayang, jangan tatap aku seperti itu, sakit tahu lihatnya! Ya makanya kamu jangan coba jual mahal, jadi 'kan aku menghalalkan segala cara buat dapetin kamu. Emmm ... Bagaimana kalau sekarang ciuman pertama yang sama-sama suka?” goda Kama membuat wajah Hesti merona merah karena malu.
“Sampai jumpa besok, Kama!” ucap Hesti dan langsung bergegas turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam gerbang. Seketika Kama merasa bersalah, namun ia masih tertawa karena merasa lucu dengan kelakuan kekasihnya.
—
__ADS_1
Kalila mendengus kesal, ia berulang kaki membuang napas kasar sambil terus berusaha menghubungi kekasihnya. Sambil mengayunkan kaki, Kalila duduk di bangku yang ada di halte. Ia tetap setia menunggu kekasihnya, walau tak satupun panggilannya diangkat oleh Akbar.
Deep deep! Suara klakson mobil berhenti tepat di depan Kalila. Melihat siapa yang berhenti di depannya, Kalila tersenyum lalu turun dari bangku itu dan menghampiri Ronal yang membuka jendela mobilnya.
“Hei ... Ngapain lo di sana?” tanya Ronal.
Kalila membungkukkan badannya hingga menopang tangannya di jendela mobil Ronal. “Gue nungguin Mas Akbar.” entah mengapa setiap kali mendengar nama itu dari mulut Kalila membuat hatinya terbakar api cemburu.
Ya ... Ronal sudah mengetahui kalau Akbar adalah kekasih Kalila, saat semalam mereka menghabiskan waktu bersama dan bercerita tentang kehidupan masing-masing. Sebenarnya, walaupun Kalila tidak menceritakan semuanya, Ronal sudah mengetahuinya hubungan Kalika saat mereka liburan di anyer dua bulan yang lalu.
“Memangnya dia mau jemput? Sudah lebih baik lo ikut gue aja, sekalian gue mau ketemu tante Ana dan Om Alaric.” mendengar ajakan Ronal, sebenarnya Kalila ragu, ia takut Akbar datang saat dirinya sudah tidak ada di sana.
“Hei ... Kok bengong? Ayolah! Lo tinggal bilang sama Akbar kalau lo sudah pulang karena dia telat jemput.” Ronal berusaha membujuk Kalila, sampai akhirnya gadis cantik itu mengangguk, menerima ajakan sahabat masa kecilnya itu.
“Lo masih inget lagu ini enggak?” tanya Ronal ketika ia memutar lagu girlband asal indonesia yang dulu sempat booming. Lagu itu berjudul ‘Persahabatan Bagai Kepompong’, lagu yang kerap dinyanyikan ketika mereka masih kecil dulu.
Kalila mengangguk sambil tertawa mengingat betapa bahagia mereka dulu saat masih kecil. Melihat Kalila yang tersenyum manis, membuat jantung Ronal berdebar. Ia ingat ketika Kalila yang dulu ingin sekali menikah dengannya.
“Kamu ingat engga dulu kamu selalu nangis karena pengen nikah sama aku?” tanya Ronal yang seketika membuat Kalila berpikir sejenak. Ia tiba-tiba tertawa keras mengingat kekonyolan dia sewaktu kecil.
“Ha ha ha, iya bener. Apalagi pas kamu pindah, aku sampe nangis-nangis pengen cepet nikah sama kamu. Lucu kalau ingat masa lalu, kita terlalu bodoh dan polos,” ucap Kalila membenarkan apa yang dikatakn oleh Ronal.
__ADS_1
“La, kalau keinginan kamu itu aku wujudkan sekarang boleh?” tanya Ronal seketika membuat senyuman di wajah Kalila hilang entah ke mana.