
Akbar masih menatap kertas yang ada di tangannya. Ia memikirkan siapa pria yang mau melunasi besarnya tagihan rumah sakit ini. Sampai di depan ruangan, Akbar menyembunyikan kertas-kertas itu di dalam tas, lalu masuk ke dalam ruangan sambil memasang wajah yang ceria, agar ibunya tidak curiga. Saat masuk, Akbar dikagetkan dengan keberadaan Sarah yang sedang mengupaskan buah untuk sang ibu.
“Sarah! Sejak kapan kamu di sini? Memangnya kamu enggak ada kelas ngajar, Rah?” tanya Akbar sambil menghampiri sang ibu.
Sarah menggelengkan kepalanya, “Kebetulan hari ini aku kosong, jadi bisa nemenin kamu. Aku sudah dua puluh menit yang lalu di sini, kamu habis dari mana?”
Nampak dari wajah Akbar yang salah tingkah. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Sarah, namun ia berjalan mendekati ibunya terlebih dahulu sambil mencium keningnya. “Aku habis dari bagian obat, mau nebus obat ibu.” bohong Akbar.
“Oh iya mulai besok kamu harus masuk, bagaimana dengan ibu?” pertanyaan Sarah itu lah yang membuat Akbar berpikir keras sejak tadi.
Nurma menarik tangan anaknya, “Ibu enggak apa-apa, Nak! Bekerjalah! Biar nanti Ibu ditemani Aisyah atau Kalila. Kemarin Nak Kalila bilang akan menemani ibu kalau kamu mulai bekerja.” entah mengapa mendengar hal itu membuat hati Sarah sakit. Ia langsung tertunduk, untuk mengalih wajahnya dari pandangan Akbar.
“Oh gitu, ibu beneran enggak apa-apa?” kembali Akbar meyakinkan ibunya dan Nurma janya mengangguk tersenyum.
Akbar sedikitnya merasa cukup tenang, apalagi saat ibunya mengatakan kalau Kalila akan menemaninya untuk beberapa hari ke depan. Akbar tahu betul jadwal kekasihnya itu. Mulai besok sampai satu minggu ke depan, jadwal Kalila ada di siang hari.
—
__ADS_1
“La, lo hari ini mau ke rumah sakit?” tanya Hesti ketika baru saja keluar dari kelas.
“Ia, tapi gue males banget. Hari ini gue brantem sama Mas Akbar.” akhirnya dengan sendirinya Kalila menceritakan yang sejak tadi membuat Hesti penasaran.
Sahabatnya itu langsung menarik tangan Kalila duduk di taman tidak jauh dari kelas, karena ingin mendengar lebih jauh lagi cerita Kalila. Dia sengaja tidak bertanya, tapi membiarkan Kalila terus bercerita.
“Ibu Mas Akbar meminta gue sama Mas Akbar segera menikah.” jawaban itu sontak membuat Hesti berteriak hingga membuat beberapa mahasiswa menatap ke arahnya. Hesti langsung menutup mulutnya sambi melihat sekitar, lalu duduk mndekat ke arah Kalila.
“Ma-maksud lo menikah apa, La?” bisik Hesti karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Siapa yang mau menikah?” tanya Kama yang langsung duduk di sebelah kekasihnya hingga membuat dua orang wanita itu kaget.
“Bener!” sahut Hesti
“Salah!” sahut Kama secara bersamaan sehingga membuat keduanya saling bertatapan.
“Bener dong Bang, kita harus menjaga perasaan, namanya orang lagi sakit,” ucap Hesti kesal sambil melirik sinis pada kekasihnya.
__ADS_1
“Salah dong, Sayang! Walaupun bagaimanapun kondisinya, kebohongan itu tidak baik. Apalagi ngasih harapan palsu pada orang yang sedang sakit dengan penuh harapan. Terkadang kenyataan itu memang menyakitkan, tapi dari kenyataan kita bisa belajar sesuatu yang berharga.” Hesti masih tidak terima dan sepasang kekasih itu saling berdebat.
Kalila melipat kedua tangannya di dada melihat Hesti dan kembarannya yang masih saling beradu argumentasi. “Dah ah, gue mau ke rumah sakit! Mami sama papi udah otewe ke sana. Kalian lanjutin aja sampe puas berdebatnya. Bye!”
“Lila, tunggu! Gue ikut ke rumah sakit!” teriak Hesti. Kama langsung menarik tangan Hesti ketika kekasihnya itu hendak menyusul Kalila.
“Yank, jangan tinggalin dong! Katanya mau makan siang bareng. Nanti aja ke rumah sakitnya udah makan oke!” Kama menarik tangan Hesti berjalan ke kantin, sedangkan sang kekasih memasang wajah kesal terpaksa mengikuti langkah Kama.
—
“Iya Mi, sebentar lagi Kalila sampai. Ini Kalila habis jemput Aisyah.” Kalila pun menyudahi teleponnya sambil mengemudi ke arah rumah sakit.
“Kak, makasih ya! Aisyah jadi merasa enggak enak ngerepotin kakak. Aisyah senang deh, Mas Akbar bisa bertemu dengan Kak Kalila dan keluarga Kakak yang sangat baik.” Kalila tersenyum sambil mengusap kepala calon adik iparnya.
“Sama sekali enggak merepotkan kok, sayang. Kakak juga senang bisa bertemu dengan kamu.” keduanya saling melempar senyuman.
Sampai di rumah sakit, Kalila langsung menghampiri kedua orangtuanya yang sudah menunggu di lobby. Sengaja keduanya menunggu sang anak, agar suasana tidak merasa canggung, karena hari ini pertama kalinya bertemu dengan ibunya Akbar.
__ADS_1
Kalila dan Aisyah langsung menghampiri dan tidak lupa Aisyah mencium punggung tangan kedua orangtua Kalila.
“Bu, kita masuk sekarang ya!” ucap Kalila dan keduanya pun mengangguk.