
Bab 37 Pengagum Rahasia
Selama perjalanan keadaan dalam bis sangat ramai oleh para lelaki yang bernyanyi ditemani alunan musik dari petikan suara gitar. Semua merasa terhibur dengan merduanya suara Hesti yang berdiri dengan sambil bernyanyi. Melihat Kalila yang duduk sendiri, Akbar pun langsung menghampiri dirinya.
“Mas, kenapa ke sini? kalau yang lain curiga bagaimana?” bisik Kalila pelan.
“Tidak akan, percaya sama, Mas.!” Saat Hesti mengakhiri bait terakhir lagunya, semua tepuk tangan dan meminta dia untuk menyanyi lagi.
Kiki teman sekalas Kalila mulai memetik kembali sinar gitarnya. Kali ini Hesti akan membawakan lagi Sheila On Seven yang berjudul Sebuah Kisah Klasik.
Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua
__ADS_1
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Hesti menyanyikannya dengan penuh semangat sambil berdiri menghadap sang gitaris. Lagu ini berhasil membuat Kalila dan teman-teman sangat bersedih. Selama tiga tahun mereka bersama dan perjalanan kali ini akan menjadi kebersamaan mereka yang bisa dibilang terakhir.
Tidak sedikit dari mereka yang menangis bahagia sambil memeluk teman sebangkunya. Hesti dan Akbar saling menatap. Melihat semua orang yang asik menatap ke arah Hesti dan Kiki, Akbar membuka jacketnya dan menggenggam tangan Kalila dan menutupinya dengan jaket. Kalila langsung melirik tajam ke arah Akbar dan ingin menarik tangannya, tapi Akbar terus menggenggam tangannya semakin erat.
Akhirnya selama perjalanan bis pariwisata itu pun sampai di sebuah hotel bintang tiga yang cukup bagus di sana. Pemandangan hotel itu langsung menghadap ke pantai Anyer. Tiga puluh menit sebelum sampai ke hotel, Akbar berdiri dari tempat duduknya dan segera membangunkan anak didiknya untuk segera bersiap-siap.
“Ah ... akhirnya sampai juga!” ucap Hesti mengangkat tangannya sambil menghirup udara laut.
Terlebih dahulu Akbar konfirmasi pihak hotel untuk kamar yang sudah dipesannya. semua total ada 11 kamar, masing-masing kamar terisi tiga orang dan Akbar beserta guru yang mendampingi dia di kamar yang sama. Akbar pun membagikan kunci kepada setiap siswa dan juga memberikan data siapa saja yang sekamar dengan mereka.
Akbar menghampiri Kalila, Hesti dan Anissa yang kebetulan mereka adalah teman sekamar. Dia memberikan kunci itu sambil melemparkan senyuman pada kekasihnya. Akbar sengaja memilih kamar yang bersebelahan dengan kekasihnya, untuk memudahkan dia mengawasi Kalila.
“Sekarang waktunya kalian istirahat dulu, terus nanti jam 12 lanjut untuk makan siang di restoran yang ada di lobby. Ingat, jangan macam-macam ya! Sampai ada yang ketahuan merokok atau membawa minuman beralkohol, jangan harap ijazah kalian akan keluar!” ancam Akbar pada mereka, karena Akbar pernah merasakan masa muda yang teman-temannya kebanyakan anak-anak yang nakal.
Semua anak mengiyakan apa yang dikatakan Akbar dan mereka pun pergi ke kamar masing-masing. Saat sampai di kamar Hesti dan Anissa langsung merebahkan tubuh mereka ke atas kasur. Di kamar itu terdapat kasur single dan juga double. Kalila memilih untuk tidur sendiri, karena dia belum terbiasa tidur bersama di kasur.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Kalila, Hesti dan Annisa saling memandang.
“Siapa?” tanya Hesti dan kedua temannya hanya menaikkan bahunya. Kalila pun berjalan di depan pintu dan membuka pintu kamarnya.
“Maaf menganggu, apa di sini ada yang bernama Kak Kalila?” tanya pegawai hotel. Kalila mengangguk dengan wajah yang tampak binggung, “Iya, saya sendiri Mas. Ada apa?” pegawai itu pun memberikan amplop pink pada Kalila dan itu semakin membuatnya bertambah binggung.
“Maaf Kak, ini ada titipan dari seseorang. Katanya dia menyuruh memberikan ini pada namanya Kalila.”
“Dari siapa, Mas?” tanya Kalila tampak binggung. Kedua temannya yang penasaran pun langsung menghampiri Kalila.
“Dari siapa?” tanya Hesti dan Kalila hanya menaikkan bahu menggelengkan kepalanya.
“Katanya dari pengagum rahasia,” jawab pegawai itu dan permisi untuk pergi.
“Siapa sih?” tanya Annisa penasaran.
“Entahlah!” jawab Kalila.
Ketiganya pun masuk ke dalam kamar. Kalila perlahan membuka amplop berwarna pink itu. Di dalamnya tertuliskan, “Nanti malam, selepas acara, aku tunggu di ayunan yang ada di pinggir pantai!”
Kalila langsung saling memandang pada kedua temannya. Dia merasa takut dengan orang misterus ini.
“Gimana La, lo mau datang?” tanya Hesti.
”Gue takut. Emm ... gimana nanti aja deh,” ucap Kalila menyimpan surat itu di meja samping kasurnya.
__ADS_1
~Bersambung~