Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 48 Tidak Mau Berharap


__ADS_3

“Eh Ibu, tumben duduk di sini?”


Akbar yang baru saja pulang kaget denga sosok sang ibu yang duduk di ruang tamu. Akbar masuk dan duduk melepaskan sepatu kerjanya. Tatapan sang ibu tajam ke arah Akbar sehingga dia mengerutkan keningnya merasa heran.


”Ibu, kenapa menatap aku seperti itu? Ada masalah?”


“Mas, sampai kapan kamu mau berhubungan dengan anak kecil itu? Mas, kamu tahu 'kan ibu sudah tua, ibu mau segera memiliki menantu. Mau nunggu bocah itu sampai kapan? Mas, Sarah sejak dulu menyukai kamu. Dia sudah jelas-jelas dewasa dan yang paling penting dia juga siap kalau diajak menikah.”


“Bu, kenapa harus membicarakan hal ini lagi sih? Aku mau memperkenalkan ibu dengan Kalila, biar ibu tahu wanita seperti apa Kalila. Aku rela Bu menunggu dia sampai kapan pun juga. Perasaan itu enggak bisa dipaksakan!”


“Nunggu dia sampai kapan? Sampai ibu dipanggil sama Tuhan?”


Akbar seketika beranjak dari tempat duduknya dan berlutut di depan sang ibu sambil menggenggam tangannya.


“Bu, kenapa bicara seperti itu? Jangan membuat Mas menjadi merasa bersalah dong Bu!”


“Ya memang benar adanya. Ibu sudah cukup tua, ibu mau kamu segera menikah agar istrimu bisa beradaptasi dengan Aisyah. Siapa yang akan mengurusnya nanti kalau bukan kamu dan istrimu. Sarah jelas-jelas sudha menyayangi Aisyah sebagai adikmu sendiri. Oke ibu tidak akan memaksa kamu lagi. Kalau kamu mau tetap berhubungan dengan bocah itu, silakan! Kalau mau restu ibu, ajak dia menikah secepat mungkin.” Nurma beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Akbar berdiri dan berjalan masuk sambil meremas kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Kalila. Ia yakin Kalila dan keluarganya akan menentang hal ini. Kalila masih muda, dia masih mau mengapai cita-citanya.


‘Arrrgh ... Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?’ Akbar menjatuhkan badannya di atas kasur sambil mencubit keningnya.


“Itu apa?” tanya Kalila saat melihat sahabatnya membawa bingkisan yang berisi botol minuman jamu pereda sakit saat datang bulan.


“Lo lihat aja sendiri! Ini gara-gara lo!” Kalila mengerutkan keningnya tidak mengerti ia langsung mengambil bingkisan itu dan mengeluarkan satu botol jamu itu dari dalamnya. Membaca tulisan di botol membuat Kalila langsung tertawa puas.


“Ha ha ha, gila ini gokil banget! Gue yakin Bang Kama juga suka sama lo. Kalian berdua cocok!”

__ADS_1


”Dih tahu dari mana dia suka gue? Emmm ... Dia memang baik seperti itu kali dari dulu ke semua orang.”


Hesti mengatakan hal itu karena ia pernah melihat bukti nyata saat Kama memberikan obat pada gadis tercantik di jurusan kedokteran. Pada saat itu Hesti tidak sengaja melihat keduanya yang sedang berada di taman. Kama memberikan obat dan mengatakan 'Cepat sembuh ya!' dengan tatapan dan senyuman yang berbeda. Hesti yakin sebagai seorang wanita bisa membaca arti dari tatapan Kama pada wanita itu.


“Pokoknya gue yakin Bang Kama suka sama Lo!”


Seketika ponsel Kalila berbunyi. Senyumannya seketika terukir jelas di wajah tatkala melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan cepat dia mengangkat telepon dari sepupunya yang sedang berada di negara singa itu.


“Elinaaaaaaa! Apa kabar kamu di sana!” teriak Kalila saat sepupunya itu melakukan vidio call.


Elina memang memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Singapura. Sejak dulu dia memang bercita-cita untuk kuliah di sana dan akhirnya dia pun lulus masuk ke salah satu universitas ternama di Singapura.


“Gue baik, bagaiamana kabar lo sama keluarga?”


“Baik! Gue kangen, kenapa sih lo memilih kuliah di luar negeri?” Kalila memasang wajah cemberut karena sejak pertama ia tidak setuju dengan keputusan sepupunya itu untuk kuliah di sana.


“Lila, gue 'kan cuma sebentar ada di sini. Gue juga kangen banget sama lo, ini gue baru sempet pegang ponsel sebentar buat menghubungi elo. Eh ada Hesti, hai!” sapa Elina ketika Hesti ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka.


“Ah sial habis!” ucap Hesti saat ia ingin meminum air yang ada di gelasnya.


Hesti pun meletakkan bukunya dan berjalan ke bawah untuk mengambil segelas air mineral untuknya. Malam itu situasi rumah dalam keadaan gelap sehingga Hesti berjalan dengan bantuan senter yang ada di ponselnya.


Setelah meneguk beberapa gelas air, Hesti pun mengisi kembali gelas itu dengan penuh dan berniat untuk kembali ke kamarnya. Ketika ia membalikkan badannya, ia dikagetkan dengan sosok seseorang yang tepat berada di belakanganya sehingga membuat air yang dibawanya tumpah membasahi bajunya.


“Oh Tuhan!” Hesit langsung menarik bajunya karena bajunya yang basah membuat dalamnya nampak jelas. Melihat itu Kama langsung mengambilkan tisu sambil mengalihkan pandangannya.


“Maafkan aku sudah mengangetkan kamu!” ucap Kama sedikit terbata. Hesti mengambil tisu yang ada di tangan Kama san membersihkan bajunya.

__ADS_1


”Enggak apa-apa Bang! Aku kira siapa. Ya sudah aku balik ke kamar dulu ya!”


Sejak tadi pandangan Hesti tertunduk malu dan hendak berjalan meninggalkan Kama. Tapi dengan cepat Kama menarik tangan Hesti sehingga langkah Hesti terhenti dengan mata yang melotot.


“Bagaimana keadaan perut kamu? Masih sakit? Kalau masih sakit besok ke dokter saja.”


Hesti berusaha menarik tangannya, tapi Kama tidak melepaskan genggamannya, sehingga membuat Hesti pasrah sambil menundukkan pandangannya.


“Ah ... Sudah enggak Bang. Terimakasih atas perhatiannya. Kalau begitu ak—”


“Hesti, kenapa aku merasa kamu beberapa hari ini menghindari pandanganku? Kenapa kamu tidak mau menatap wajahku? Apa kamu sedang marah ya padaku?”


Hesti mengangkat wajahnya, memang selama ini dia sengaja menghindari bertatapan dengan Kama karena ia tidak mau rasa sukanya semakin besar terhadap lelaki yang ada di depannya. Dia tidak percaya Kama sampai menyadari hal sekecil itu.


”Bang Kama kok tahu? Aku bukannya bermaksud menghindari tapi aku—” Kama melangkah mendekat pada Hesti sehingga mereka sudah tidak ada jarak lagi, membuat Hesti molotot kaget dan mundur terus sampai tubuhnya mentok di dinding.


“Ma-maafkan aku, Bang! Aku—” Kama meletakkan telunjuknya di bibir Hesti sehingga dia terdiam seketika.


“Mulai sekarang, jangan pernah menghindari aku lagi, oke! Dan pandangan kamu harus tetap tertuju padaku,” ucap Kama sambil tersenyum dan mengusap kepala Hesti lalu berjalan meninggalkan Hesti yang masih berdiri mematung di dapur.


Jantung Hesti bergerak dengan cepat, napasnya yang tidak beraturan seperti ia habis lari maraton. Hesti memeganggi dadanya sambil berjalan pelan naik ke atas. Tubuhnya lemas, dia tidak tahu arti dari kata-kata Kama padanya. Hesti tidak mau berharap dengan perkataan Kama, karena ia tidak mau merasa kecewa kalau apa yang ia pikirkan tidak sama dnegan apa yang Kama pikirkan.


“Kamu benar-benar lucu!” Kama yang melihatnya di balik dinding tertawa kecil lalu ia pun ikut naik ke atas dan kembali ke kamarnya.


Jangan Lupa


• Like

__ADS_1


• Komen


• Vote ya


__ADS_2