
Bab 55 Khawatir
Sejak pertama kali ke rumah sakit Akbar tidak lepas berada di sisi ibunya, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau ponselnya yang berada di tas kerjanya sejak tadi berdering. Setelah melakukan komunikasi dengan dokter masalah biaya operasi, jujur dia tidak akan sanggup. Biayanya cukup besar untuk seukuran guru seperti dirinya.
Di sisi lain, Kalila merasa khawatir, karena sampai sekrang Akbar belum juga menghubungi dirinya. Kalila terus menyalakan layar ponselnya ketika sinar dalam layar itu meredup. Belum lagi pernyataan Ronal tadi padanya membuat pikiran Kalila berkecamuk. Suasana di mobil kala itu hening sampai mobil honda brio itu masuk ke dalam pekarangan rumah Kalila.
“La, kamu kenapa bengong gitu? Masih kepikiran yang aku tanyakan tadi ya? Ha ha ha, sudah jangan dipikirkan, aku cuma becanda kok!” bohong Ronal. Sebenarnya apa yang ia katakan itu ada benarnya, tapi ia sadar diri dan tidak mau membuat Kalila sedih dengan ucapannya.
“Ah ... eng-enggak kok. Ya sudah ayo kita masuk! Mami pasti bakal kaget banget lihat kamu di sini.” Ronal mengangguk tersenyum dan masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam rumah, di sana ada Kama yang sedang merebahkan tubuhya di sofa ruang keluarga sambil tersenyum hingga membuat Kalila merasa heran.
“Bang, lo kenapa? Kerasukan?” tanya Kalila yang tidak oernah melihat abangnya iu tersenyum seperti itu.
“Sial*n, kagak lah!” decak kesal Kama.
Saat melihat Ronal, Kama kaget dan langsung bangun dari tidurnya. “Aron, lo ke sini! Ayo sini duduk!” Titah Kama yang menyuruh sahabat masa kecilnya itu duduk di sebelahnya.
“Bang, Mami mana?” tanya Kalila sambil membawa tiga gelas minuman sirup segar dengan beberapa cemilan untuk teman mereka ngobrol.
“Kata bibi, Mami sama Papi keluar sejak siang, mungkin sebentar lagi pulang.” Kalila mengangguk dan bergabung duduk di sana.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Kama, kedua orangtua mereka datang dan langsung menghampiri anak-anak di sana. “Loh, tumben oada kumpul di sini?” tanya Ana yang heran, karena ini momen yang sangat jarang sekali terjadi.
“Om, tante apa kabar?” tanya Ronal berdiri sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Alaric dan Ana saling menatap merasa heran siapa pria yang ada di depan mereka. Ronal menatap sahabat kembarnya sambil tersenyum setelah mencium punggung tangan kedua orangtua yang ada di depannya.
“Mami, Papi, enggak bisa nebak 'kan siapa ini?” tanya Kalila dan keduanya menggelengkan kapla merasa semakin binggung.
“Dia Aron, tetangga kita dulu.” Ana menutup kedua mulutnya kaget. Ana tidak percaya melihat pria yang bertubuh tinggi dan memiliki badan atletis ini adalah Aron, bocah gemuk yang dulu sering kali menangi karena ingin bermain dengan kedua anaknya.
“Aron, anaknya Rianti dan Deni?” tanya Alaric dan Ronal mengangguk tersenyum.
“Astaga Aron, kamu tumbuh besar dan gagah!” Alaric menarik Ronal masuk ke dalam pelukannya sambil menepuk punggungnya.
“Sejak kapan kamu di Indonesia? Bagaimana keadaan ayah dan ibumu?” tanya Alaric lagi yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnta hari itu.
“Ayah dan ibu baik, Om. Mereka masih ada di Ausy, nanti bulan depan akan menyusul aku ke sini.”
Siang itu mereka semua bernostalgia mengenang masa lalu. Melihat keluarganya yang masih asik ngobrol, Kalila izin ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Sebelum itu ia lakukan, terlebih dahulu ia menghubungi sang kekasih kembali yang sejak tadi belum juga ada kabar tentang kekasihnya.
“Permisi, kita lakukan pengecekan terlebih dahulu ya!” ucap dokter yang baru masuk ke dalam ruangn kelas tiga bersama dengan beberapa tim kedokteran.
“Keputusan untuk melakukan operasi kita tunggu sampai besok ya, Pak! Karena kita harus segera menangani pasien sebelum semakin lebih buruk lagi.” mendengar itu Akbar semakin frustasi.
Akbar menutup matanya sambil membuang napas perlahan, “Lalukan saja operasinya, Dok!” dokter mengangguk dan salah satu perswat menyerahkan beberapa kertas yang memang harus di tandatangani oleh Akbar.
“Setelah data ini masuk, anda harus ke ruang administrasi untuk melunasi setengah dari biaya operasi.” Akbar hanya mengangguk. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya.
Untuk setengah dari biaya operasi,Akbar memilikinya. Sebenarnya uang itu akan ia gunakan untuk membeli sebuah rumah kecil dipinggiran kota Jakarta, tapi impian dia pupus sudah, karena menurut Akbar ini yang lebih penting dari pada membeli rumah impiannya.
__ADS_1
“Operasi akan dilakukan jam tujuh malam. Kami semua akan bersiap terlebih dahulu. Kalau begitu kami permisi dulu!” ucap dokter jantung yang menangani ibunya. Akbar hany mengangguk tersenyum dan langsung menatap ibunya yang belum juga siuman.
Setelah menandatangani surat itu, perawat memberikan surat tagihan yang harus dibayarnya di ruang administrasi. Akbar hendak mengambil dompetnya di dalam tas dan sevara bersamaan ponselnya bergetar. Seketika ia melotot mengingat janji pada Kalila. Benar saja orang yang menghubungi Akbar adalah sang kekasih.
“Huft ... akhirnya Mas angkat telepon aku juga. Dari mana sih Mas? Bikin orang khawatir saja.” Kalila langsung bicara saat mengetahui teleponnya sudah diangkat.
“Maafin aku, Sayang! Aku sekarang sedang berada di rumah sakit.” mendengar jawaban Akbar, Kalila yang sedang duduk di pinggir kasurnya langsung berdiri.
“Apa?! Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja 'kan?” mata Kalila seketika langsung berkaca-kaca membayangkan yang sakit itu adalah kekasihnya.
“Tenang Sayang! Yang sakit itu bukan aku, tapi ibu. Jam tujuh malam nanti ibu akan melakukan operasi katup jantung.” lagi-lagi Kalila merasa kaget. Walaupun ia belum bertemu dengan ibu dari kekasihnya, tapi ia sudah merasa sangat sedih mendengar kabar itu.
“Kirimkan aku nama rumah sakitnya, aku akan segera ke sana.” Kalila mematikan teleponnya dan bergegas membersihkan diri untuk bersiap berangkat ke rumah sakit.
Akbar membuang napas kasar. Ia langsung mengingat adiknya, pasti sekrang Aisyah kebingungan karena di rumah tidak ada orang. Dengan cepat Akbar menghubungi adiknya dan menyuruh sang adik untuk menyusul ke rumah sakit.
Kalila sudah siap berangkat dan berlari menuruni tangga. Melihat Kalila yang hendak pergi membuat kedua orangtuanya merasa heran. “Lila, kamu mau ke mana, Nak?” tanya Ana membuat langkah Kalila berhenti.
Nampak wajah panik Kalila membuat Ana langsung berdiri dan menghampirinya. “Ada apa?” tanya Ana lagi.
“Mi, Pi, ibu Mas Akbar masuk rumah sakit dan sebentar lagi akan operasi. Boleh ya aku menemani Mas Akbar?” mata Kalila berkaca-kaca.
“Apa?! Ya sudah, Mami sama Papi akan mengantarkan kamu ke sana. Nak Ronal, kamu tidak apa-apa kami tinggal?” tanya Ana pada Ronal yang masih bicara dengan Kama.
“Tidak apa-apa, Tan. Kebetulan aku juga mau pulang, ada pekerjaan di hotel yang ada di Jakarta.” Ana mengangguk sedikit merasa bersalah.
__ADS_1
“Kalau begitu Kama juga ikut Mi, Pi. Biar Kama aja yang nyetir mobilnya.” mereka semua pun pergi ke rumah sakit.