
“Kamu ada uangnya? Kalau kamu butuh uang, aku ada sedikit tabungan. Kamu jangan malu, kalau ada apa-apa bilang aku aja.” Sarah mengumpulkan keberanian untuk menggenggam tangan Akbar memberikan kekuatan.
“Kamu tenang aja, aku—” belum selesai melanjutkan apa yang ingin Akbar katakan, Kalila masuk hingga membuat keduanya tercengang. Dengan cepat Sarah menarik tangannya, tapi sayangnya hal itu sudah sempat dilihat oleh Kalila.
“Mbak Sarah!” teriak Aisyah sambil berlari memeluk tubuh wanita yang sampai sekarang menjadi orang yang berhasil membuat Kalila cemburu.
Akbar terus menatap wajah Kalila, ia ingin menjelaskan sesuatu yang dilihatnya tadi. Tapi Kalila terus menghindar dan langsung menghampiri calon mertuanya.
“Mami, Papi, makasih sudah datang lagi!” ucap Akbar sambil mencium punggung tangan keduanya.
“Halo Pak, Bu! Saya mantan guru Kalila di sekolah sekaligus tetangga dari Ma Akbar.” Sarah memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan keduanya.
“Oh iya, senang berkenalan dengan ibu!” ucap Ana sambil tersenyum.
Akbar menghampiri Kalila dan menatap kekasihnya, tapi Kalila hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. “La, aku—” belum selesai Akbar bicara, Ibu Nurma bangun menyadari ada yang datang ke dalam ruangan.
Alaric dan Ana menundukkan kepalanya sambil berjalan menghampiri Nurma. Wajah Nurma nampak kebingungan, pasalnya ia sama sekali tidak mengenal orang yang datang menjenguknya.
__ADS_1
“Bu, kenalin ini mami sama papi, Kalila. Mereka mau jengukin keadaan ibu.” mendengar itu kedua bola mata Nurma melotot. Sebisa mungkin ia bangun dan dengan cepat Kalila mengubah kasurnya menjadi duduk.
“Ibu, Bapak maaf merepotkan kalian sampai harus jauh-jauh menjengguk keadaan saya.” sapa Nurma dan keduanya hanya tersenyum.
“Tidak merepotkan kok, Bu. Saya dan suami saya memang sengaja ingin menengok keadaan ibu. Kalila selalu cerita tentang Nak Akbar dan ibu jadi apa salahnya kita saling bertemu.” Ana angkat bicara setelah Akbar memberikan kursi untuknya.
Pertemuan pertama membuat Nurma langsung jatuh hati pada kedua orangtua Kalila. Mereka nampak asik berbicara dan Sarah pun melambaikan tangan pada Akbar. Melihat itu, Akbar menarik tangan Kalila untuk ikut bersamanya keluar ruangan. Awalnya Kalila menolak, tapi Akbar menggenggam tangannya dengan cukup keras hingga Kalila pun pasrah.
“Kalila, ibu pulang dulu ya!” Pamit Sarah dan Kalila sebisa mungkin memasang wajah yang terlihat biasa saja sambil tersenyum.
“Oh iya Bu, terimakasih sudah datang menjengguk.” Sarah mengangguk dan pamit pada Akbar.
“Apa lagi sih!” tanya Kalila memberontak menarik tangannya, Akbar tidak begitu saja melapskan genggaman tangannya dan langsung menarik Kalila masuk ke dalam pelukannya.
“Aku mohon, maafkan aku! Dengar dulu penjelasan aku, please!” Kalila seketika menangis. ia memang sejak tadi menahan rasa sedihnya dan sekarang tak kuasa lagi Kalila menahan air matanya.
“Jangan dulu salah paham sayang. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Tadi sarah hanya menguatkan aku saja, tidak lebih.” Kalila terus memberontak ingin di lepaskan tapi Akbar malah makin mempererat pelukannya.
__ADS_1
“Tenang dulu, aku mohon! Baru aku lepasin kamu,” bisik Akbar dan Kalila pun berhenti untuk menolak.
“Maafkan aku!” bisik Akbar melepaskan pelukannya dan menarik tangan Kalila.
“Pak, aku tidak memaksakan kamu berhubungan sama aku. Kalau kamu memang mencintai Sarah, aku bisa mundur.” Akbar terbelalak kaget dengan apa yang Kalila katakan.
Akbar narik dagu Kalila hingga menatap ke arahnya. “Kamu jangan ngaco! Kamu tahu sendiri sejak dulu perasaan aku sama kamu dari pertama tidak pernah berubah. Aku mohon jangan berpikir mancam-macam. Tadi tuh Sarah menawarkan tabungannya untuk pegangan aku, tapi menolak dan tidak menerima tawaran dia. Aku mohon Lila, percaya padaku!” Akbar memelas sambil matanya berkaca-kaca.
“Siapa yang kamu cintai?” pertanyaan yang bodoh sebenarnya yang ditanyakan oleh Kalila.
“Ya jelas kamu, tidak ada yang lain. Astaga, kamu masih belum percaya padaku? Ayolah sayang jangan seperti ini, tidak ada wanita yang aku cintai selain kamu.” Entah kenapa mendengar itu membuat hati Kalila luluh.
“Aku percaya!” bisik Kalila tertunduk.
Akbar kembali menarik tubuh Kalila hingga masuk ke dalam pelukannya. “Aku mohon, percayalah padaku dan pada perasaan aku. Aku sangat mencintai kamu, Kalila.” Kalila hanya mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang Akbar dan ikut memeluknya.
Seketika ponsel Kalila bergetar, ia menyudahi pelukannya dan melihat layar ponsel siapa yang menghubungi dirinya. “Mas, Mami! Lebih baik kita kembali ke ruangan.” Akbar mengangguk dan keduanya pun keluar dari ruangan tangga darurat.
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘