Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 44 Hari Pertama


__ADS_3

Bab 44 Hari Pertama


Masa-masa SMA tidak akan pernah terlupakan, itulah yang selalu dibilang orang-orang yang sudah beranjak dewasa dan kini Kalila pun merasakannya. Setelah liburan bersama teman-teman di Anyer, ia harus disibukkan dengan pendaftaran ulang di kampusnya.


Kalila dan semua teman-teman kini sudah resmi lulus dari bangku SMA. Perpisahan yang diadakan pihak sekolah menjadi terakhir kalinya mereka berkumpul dengan status masih siswa SMA. Suasana haru menghiasi gedung aula saat itu dan kini mereka semua harus bersiap dengan pendidikan yang lebih tinggi lagi.


Seperti cita-cita Hesti, ia tidak mau berpisah dengan Kalila dan ia berusaha sekuat tenaga belajar untuk bisa kuliah bersama sahabatnya itu. Dibantu oleh Kalila akhirnya Hesti bisa masuk ke universitas negeri Jakarta dengan jurusan yang sama yaitu management ekonomi, sedangkan Andri, ia langsung masuk asrama porli, karena memang cita-citanya sejak dulu ingin menjadi seorang polisi.


“Lila, kamu sudah persiapkan semua keperluan kamu?” Lila sibuk dengan barang bawaan masa ospek—Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Ia langsung mencium kedua pipi Ana dan juga sang ayah.


“Lila, kamu tidak sarapan dulu?”


Kalila mengambil roti bakar yang sudah disiapkan oleh sang ibu dan langsung pamit.


“Nanti Lila makan di motor aja. Mas Akbar sudah nungguin aku di depan, Bu!”


“Lila, salam buat Mas Akbar!” teriak Ana pada anaknya yang sudah jauh di depan. Kalila hanya mengangkat jempolnya dan berlari keluar bergegas menghampiri sang kekasih.


”Sayang, maafin aku ya kelamaan.” Akbar menggelengkan kepalanya dan mengambil barang bawaan Kalila yang penuh ditangannya.


”Kebiasaan deh kalau sudah bangun kesiangan. Kamu udah gede, jangan biasain main game sampai tengah malam!”


“Jangan kaya mami deh ah. Udah yuk berangkat!”


Kalila terlebih dahulu memakai helm hello kitty-nya dan naik ke atas motor bebek sang kekasih. Ia memeluk pinggang Akbar dan menyimpan dagunya di bahu sang kekasih, sambil menikmati roti yang tadi ia ambil di meja makan.


”Sayang, mau roti enggak?”


“Aku udah sarapan tadi di rumah.”


“Ah iya, sayang, kapan kamu mau bawa aku ke rumah? Aku mau ketemu ibu buat buktiin ke kamu kalau aku juga benar-benar serius sama kamu.”


Deg ... Pertanyaan inilah yang Akbar takutkan sejak dulu. Ia ingin sekali mengenalkan Kalila pada sang ibu, tapi sampai sekarang ibunya belum juga menyetujui hubungan dia dengan Kalila dan malah terus saja mendekatkan dia dengan Sarah.

__ADS_1


“Iya sayang, aku juga mau secepatnya. Tapi, akhir-akhir ini aku sibuk di sekolah karena penerimaan siswa baru. Nanti kalau sudah waktunya, aku pasti ajak kamu ke rumah untuk bertemu ibu dan Aisyah.” Kalila hanya mengangguk.


Sebenarnya Kalila merasa kalau Akbar mengundur-undurkan waktu agar ia tidak bertemu dengan ibu dari kekasihnya. Hal ini ia sadari ketika dia tidak sengaja membaca pesan dari sang ibu untuk mengantarkan pesanan jaitan dan menyuruh Akbar sekalian menjemput Sarah untum makan malam di rumah. Ingin rasanya membahas hal itu pada sang kekasih, tapi Kalila memilih pura-pura tidak tahu dan menjalani hubungannya seperti air yang mengalir.


Lima meter jarak dari kampus, Hesti sudah menunggu kedatangan Kalila. Ya ... Memang peraturan dari kampus agar tidak menggunakan kendaraan lima meter sebelum kampus alias mereka harus berjalan kaki.


”Nanti, pulangnya telepon aku ya, biar aku jemput.”


“Sayang, sepertinya hari ini kamu enggak usah jemput aku deh, soalnya aku sama Hesti mau mampir ke mall dulu, kita mau beli barang-barang bawaan buat besok.”


”Ya sudah, nanti kita janjian di Mall aja.” Kalila tersenyum mengangguk dan segera menghampiri sahabatnya yang sejak tadi melambai-lambaikan tangannya, karena mereka sudah hampir kesiangan.


“Love you, Sayang!” Kalila menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Akbar lalu menempelkan jari telunjuk dan tengah ke bibirnya dan ditempelkan ke bibir Akbar hingga membuat wajah sang kekasih memerah, pasalnya ini baru pertama kali dilakukan oleh kekasihnya.


”Aku pergi dulu ya!” Kalila kembali berlari sambil sesekali melirik ke belakang dan melambaikan tangannya, melemparkan senyuman.


Akbar membalas lambaian tangan Kalila sambil menyentuh bibirnya. Walaupun itu hanya melalui perantara, tapi berhasil membuat jantung Akbar berdebar dan tersenyum malu. Setelah melihat sang kekasih yang sudah jalan jauh, ia baru meninggalkan tempat itu.


“Berani lo ninggalin gue, gue bocorin perasaan lo sama abang!”


“Dih, curang mainannya ngancem mulu! Dasar nyebelin!”


“Bodo! Yang penting gue udah tahu rahasia lo!”


Kalila tidak sengaja menemukan buku harian Hesti yang tertinggal di rumahnya. Iya kemudian membaca buku harian itu dan sontak membuat dia langsung tertawa puas membaca isi dari buku diary nya. Di sana Hesti menceritakan setiap hari perasaannya yang selalu tertuju pada kembaran Kalila. Mulai dari situlah Kalila selalu mencoba untuk mendekatkan abangnya dengan sang sahabat walau terkadang Kalila menolaknya karena malu.


”Hei kalian berdua! Sudah datang kesiangan malah ngobrol pula. Jalan jongkok dari situ ke sini!” teriak salah satu kakak angkatan perempuan yang berdiri dari gerbang kampus.


“Ish ... Ini gara-gara Lo!” kesal Hesti sambil jalan jongkok menuju gerbang.


“Jadi anak bandel itu asik lagi. Nggak usah sok-sokan jadi anak yang baik, hidup itu bawa slow aja!” Kalila malah tertawa menyambut hukuman di hari pertama ia masuk kuliah.


Sampai di depan gerbang Kalila dan Hesti mencoba mengatur napas mereka, karena merasa lelah dengan hukuman yang diberikan. Seorang wanita yang menyuruh mereka untuk berjalan jongkok pun menghampiri keduanya dan menggerakkan tangan dia agar Hesti dan Kalila berdiri.

__ADS_1


“Nama!”


“Kalila, Kak.”


“Hesti, Kak.”


“Lain kali, kalian tidak boleh terlambat lagi!” Kalila dan Hesti mengangguk sambil tertunduk dan tidak lama seorang pria datang menghampiri mereka sambil melempar senyuman.


“Orang-orang sudah berkumpul, kalian berdua masuklah!” titah pria yang bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang dan mempunyai lesung pipi sehingga ia terlihat manis dan tampan.


Hesti yang pertama kali melihatnya langsung terpana. Ia tersenyum mengangguk, sampai-sampai ia tidak menyadari lengannya yang ditarik oleh Kalila. Berbeda dengan Hesti, Kalila sama sekali tidak melirik pria itu, padahal sejak tadi pria itu terus menatap dirinya.


“Inget, cinta lo buat abang gue, enggak usah jelalatan!” bisik Kalila.


“Cih, gue sama Abang Kama enggak ada hubungan apa-apa kali! Bebas dong ngelirik siapa aja!”


“Tidak bisa! Lo harus sama Bang Kama. Gue udah carter!”


“Lo kata gue mobil pake di carter segala. Ia kalauBang Kama suka sama gue, lah kalau enggak? Bertepuk sebelah tangan dong cinta gue!” kesal Hesti dan Kalila hanya tertawa.


Sampai di lapangan, Kalila dan Hesti langsung bergabung di barisan paling belakang dan mengikuti arahan. Cukup banyak mahasiswa fakultas ekonomi tahun ini sehingga membuat para panitia kewalahan untuk mengaturnya.


“Bro, awas mata lo jatuh!” ucap salah satu panitia pada pria yang memiliki lesung pipi itu.


Jangan Lupa


• Komen


• Like


• Vote ya!


Follow IG Author yuk @Septriani_wulan15

__ADS_1


__ADS_2