
Bab 47 Minta Maaf
“Mau apa ke sini?” tanya Kalila dengan wajah yang jutek.
Akbar menarik tangan Kalila hingga duduk di sebelahnya. Ia menyerahkan belanjaan Kalila,“Kamu cek lagi, kalau ada yang belum dibeli biar aku balik lagi ke mall.”
Kalila menatap sinis Akbar lalu mengambil Bingkisan belanjaan dari Akbar, lalu kembali berdiri. “Hei, mau ke mana sih?”
”Cuma mau kasih ini 'kan? Ya udah, kamu bisa pulang!”
“Lila, kok kamu gitu sih! Nak Akbar ini orange jusnya.” Akbar langsung melepaskan genggaman tangannya lalu tersenyum pada Ana yang membawakan segelas minuman untuk dirinya.
“Mami, terimakasih, maaf merepotkan!”
“Tidak kok! Maaf ya Nak Akbar, Lila kadang suka marah-marah enggak jelas! Lila, bicara baik-baik jangan seperti itu! Kalau begitu Mami tinggal dulu ya!” mata Ana melotot ke arah anaknya yang menyuruh Kalila untuk duduk kembali. Dengan wajah yang kesal, Lila pun duduk kembali sesuai perintah snag ibu.
“Tuh, kata Mami jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang loh!”
“Bodo!”
“Sayang, maafin aku dong! Aku tadi benar-benar tidak bisa menolak saat Sarah minta untuk bareng pergi ke mall. Kamu bisa ngertiin posisi aku 'kan?”
Kalila melirik sinis ke arah Akbar, “Kamu bisa enggak ngertiin aku? Masa aku terus yang harus mengerti kamu. Sampai sekarang pun saat aku tanya kapan aku ketemu orangtua kamu, kamu selalu jawabnya sibuk dan minta dingertiin. Mas, kenapa enggak jujur aja sih sama aku, kalau ibu kamu itu enggak pernah setuju sama hubungan kita? Aku 'kan bisa nerima kalau kamu jujur, bukan menyembunyikan semuanya dan menghindar.”
”Lila, kok ngomongnya gitu sih? Ibu setuju kok. Ya sudah, kalau kamu memang mau ketemu sama ibu, besok pulang dari kampus kita ketemu ibu ya! Udahan dong ngambeknya.” Akbar menarik tangan Kalila tapi dnegan cepat ia menariknya kembali.
“Maaf aku ga bisa, aku sibuk karena besok harus menginap di kampus. Udah ya, aku mau istirahat!”
“Sayang, kok gitu sih? Aku masih kangen loh sama kamu. Jangan marah lagi dong, aku enggak kuat kamu seperti ini!”
“Terus aku harus bagaimana, Mas Akbar? Sudah tidak ada yang harus kita bicarakan 'kan? Ya sudah, Mas lebih baik pulang dan istirahat, kali aja Sarah nungguin di rumah.”
Ketika Kalila hendak berdiri, kembali Akbar menarik tangannya hingga ia jatuh dalam pangkuan Akbar. Dia pun dengan cepat memeluk pinggang Kalila agar wanita cantik itu tidak berdiri dari pangkuan Akbar.
__ADS_1
“Lepasin Mas, kalau Mami sama Papi lihat bagaimana?”
”Ya enggak apa-apa, aku enggak masalah, paling Mami sama Papi suruh kita cepat menikah, bukankah itu lebih bagus?” mendengar itu membuat jantung Kalila seketika berdebar.
“Udah ah, lepasin! Aku enggak nyaman!”
“Janji dulu jangan pergi, terus ngomong baik-baik! Kalau enggak mau janji, aku bakal terus meluk kamu seperti ini.”
Kalila membuang napas kasar, ”Ya udah iya, aku janji!” Akbar tersenyum dan melepaskan pelukannya. Kalila berdiri dan duduk kembali di sebelah kekasihnya. Akbar menarik tangan Kalila lalu mencium punggung tangannya.
“Kalau besok kamu menginap di kampus, bagaimana akhir pekan ini kamu main ke rumah? Biar ibu juga kenal siapa calon menantunya ya.”
Wajah Kalila memerah, ia merasa senang, karena akhirnya Akbar mau menbawa dirinya berkenalan dengan orangtua Akbar. Kalila mengangguk sambil berusaha menahan senyumannya.
“Aku cinta kamu, Sayang, Udah mau malam, aku pulang dulu ya! Nanti besok pagi kamu mau di jemput enggak?”
“Aku juga cinta sama kamu, Mas. Emmm ... Besok sepertinya aku berangkat sama Bang Kama, 'kan sekarang ada Hesti menginap di rumah.”
”Ah iya, periksa lagi barang bawaannya, kalau kurang, nanti aku balik lagi ke mall biar aku beliin apa aja yang kurang.” mendengar itu Kalila langsung tersenyum, ia mendekati wajah Akbar lalu mencium pipi sang kekasih untuk pertama kalinya.
“Mas, kenapa? Kok diem aja?” tanya Kalila heran dan berhasil menyadarikan Akbar dari lamunanya.
“Ah ... ma-maaf, sayang! Aku tadi melamun. Enggak apa-apa sayang, harusnya aku yang minta maaf. Kalau begitu aku pamit pulang ya!” Kalila mengangguk tersenyum.
Terlebih dahulu Akbar pamit kepada kedua orang tua Kalila. Ana menawarkan ada calon menantunya itu untuk makan malam di rumah, akan tetapi Akbar menolaknya secara halus karena ia sudah ditunggu kepulangannya oleh adik dan juga ibunya. Mendengar jawaban Akbar, Ana pun mengerti dan tidak memaksakan dia untuk makan malam di sana.
Setelah pamit kepada kedua orangtua Kalila, Akbar pun berjalan keluar ditemani Kalila yang mengantarnya sampai di tempat parkiran.
“Kamu jangan nakal ya! Pastinya besok kita enggak akan ketemu, jadi kamu baik-baik, jangan lupa selalu kabarin aku!” Kalila mengangguk dan melambaikan tangannya saat Akbar mulai menyalakan Mesin motornya.
”Hati-hati ya, Sayang! Kabari aku kalau sudah sampai rumah.” Akbar mengangguk tersenyum dan melajukan motornya.
Kalila tersenyum bahagia, ia pun kembali ke kamarnya dengan wajah yang ceria. ”Ekhm ... Iya-iya tahu, udah ada yang baikan nih ceritanya. Makanya, jangan marah-marah! Kalau lihat lo kaya gini 'kan enak.”
__ADS_1
“Cih ... Sirik aja lo!”
”La, gue haus!”
“Dih ... Ambil aja sendiri sono!”
”Lo sama tamu enggak ada manis-manisnya. Hei tamu itu adalah raja!”
“Lo mah bukan tamu, tapi calon kakak ipar gue!” mendengar itu membuat wakah Hesti memerah.
”Dih ... Rese! Gue ke bawah dulu ambil minum.” melihat Hesti yang salah tingkah membuat Kalila cengengesan.
Saat membuka pintu kamar, tidak sengaja Kama pun baru keluar dari kamarnya sehingga membuat keduanya berpas-pasan. Hesti melemparkan senyuman sambil menunduk dan jalan menuju tangga. Seketika langkah Hesti terhenti saat Kama memanggil dirinya.
“Hesti!”
“Ah ... I-iya Bang, ada apa?”
Kama menyerahkan bingkisan, membuat Hesti mengerutkan keningnya, “Ini apa Bang?” tanya Hesti ketika ia sudah mengambil bingkasan itu dari tangan Kama.
“Ini minuman pereda sakit datang bulan. Aku harap setelah meminum ini, rasa sakit yang kamu rasakan mengurang ya.”
Mendengar itu Hesti melotot kaget dan merasa bersalah. Pasalnya saat ini dia tidak benar-benar sedang datang bulan. Apa yang dilakukan Hesti tadi hanya menutupi kejailan sahabatnya.
”Oh iya ... Makasih ya Mas!”
Setelah memberikan bingkisan itu, Kama masuk lagi ke kamarnya, sedangkan Hesti berdiri mematung di depan kamar Kalila. Sampai sekarang dia masih belum mengerti bagaimana perasaan Kama terhadapnya, karena yang ia dengar saat ini Kama sedang dekat dengan salah satu teman wanitanya di jurusan kedokteran.
Pertama mendengar gosip itu membuat Hesti merasa tidak percaya diri untuk mengejar cinta Kama. Ia pun selama ini pasrah dan menerima apapun takdir Tuhan padanya. Hesti pun turun ke bawah terlebih dahulu, sebelum ia kembali ke kamar Kalila.
”Maafkan Aku Bang Kama, sudah membohongi kamu!” lirih Hesti ketika ia sedeng mengambil minum sambil melihat bingkisan yang ada di tangannya.
Hai teman-teman minta Like dan Votenya yaaa~~~
__ADS_1
Jangan Lupa Komen ❤️