
Bab 25 Menyembunyikan Sementara
Kalila dan Akbar berkeliling sambil menunggu beberapa temapt yang buka. Akbar terus menggenggam tangan kekasihnya. Keduanya masih malu-malu untuk sekedar saling bicara. Seketika Kalila mengingat kejadian kemarin saat mereka berada di taman.
“Kak!” panggil Kalila membuat Akbar langsung melirik ke arahnya.
“Ya, ada apa?” tanya Akbar.
“Emmm ... aku boleh membicarakan hubungan kita?” tanya Kalila malu-malu. Akbar hanya mengangguk, dia pun menarik tangan Kalila kembali duduk, sebelum mereka masuk ke dalam musium.
“Apa Sayang yang mau kamu bicarakan?” tanya Akbar menatap wajah Kalila sambil terus menggenggam tangannya.
“Kakak pasti tahu selama aku masih sekolah, hubungan antara murid dan guru itu dilarang. Jadi, selama itu hubungan kita sembunyi-sembunyi dulu. Aku tidak mau ada gosip yang aneh tentang Kakak ataupun aku.” Kalila tertunduk, Akbar hanya tersenyum dan mengusap kepala kekasihnya.
“Aku tahu betul tentang itu. Kamu tenang aja ya! Sebisa mungkin kita menyembunyikan sementara hubungan kita. Tapi, aku ada syarat buat kamu.” Kalila mengerutkan keningnya menatap wajah Akbar dengan penasaran.
“Apa itu, Kak?” tanya Kalila.
“Jangan pernah makan berdua lagi dengan Danes dan jangan pernah dekat dengan cowok manapun! Karena aku sangat tidak menyukai itu. Sekarang tatapan kamu hanya boleh menatap ke arahku!” Kalila membuang napas kasar dan memasang wajah yang terlihat kesal, membuat Akbar malah binggung dengan reaksi kekasihnya.
“Kenapa, kamu keberatan?” tanya Akbar.
“Heloooo ... yang suka deket-deket sama lawan jenis siapa? Yang selalu memberi harapan palsu sama orang siapa? Yang hampir setiap hari tebar pesona siapa? Kok malah aku yang dilarang,” kesal Kalila menarik tangannya dan langsung berdiri lalu berjalan ke arah museum. Akbar seketika tertawa kecil dan menyusul Kalila.
“Jadi, selama ini ada cewek yang cemburu sama aku nih?” goda Akbar membuat wajah Kalila memerah dan mempercepat langkahnya. Akbar tertawa lagi dengan sikap Kalila.
Terlebih dahulu keduanya membeli tiket dan mereka pun masuk ke dalam museum. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan oleh bapak Ali Sadikin sebagai Museum Sejarah Jakarta.
Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia.*Sumber Wikipedia.
__ADS_1
Semua sudah dijelajahi oleh Akbar dan Kalila. Selama berkeliling, Akbar tidak pernah melepas genggaman kekasihnya. Kadang sesekali dia merangkul Kalila saat keduanya melihat benda bersejarah. Tidak lupa keduanya mengabadikan foto sebagai kenangan-kenangan.
“Sayang, aku lapar!” ucap Kalila yang membuat Akbar seketika melirik padanya. Akbar dan Kalila langsung melemparkan senyuman, pasalnya ini pertama kalinya Kalila memanggil Akbar dengan sebutan sayang dan itu pun dengan nada yang pelan dan malu-malu.
“Mau makan di mana?” tanya Akbar. Kalila pun memilih makan di kantin yang tersedia di dalam museum. Dengan suasana nyaman dari taman, kantin itu menawarkan makanan dan minuman khas betawi yang khas.
Setelah memesan, Kalila langsung mengeluarkan card yang ada di dompetnya untuk membayar pesanan makanan dia dan juga Akbar. Seketika Akbar langsung menatap sinis ke arah Kalila dan mengambil card itu yang sudah dia taruh di atas meja kasir.
“Mbak, saya bayar cash saja,” ucap Akbar sambil tersenyum pada kasir itu. Kalila mengerutkan keningnya, kenapa tadi Akbar menatapnya seperti itu.
‘Apa aku melakukan kesalahan?’ batin Kalila bertanya-tanya.
Selesai membayar pesanan, Akbar membawa baki makanan mereka dan berjalan mencari bangku yang kosong. Selama perjalanan, Akbar hanya diam dengan wajah yang serius, tidak seperti Akbar yang tadi sebelum mereka masuk ke dalam museum.
Keduanya pun akhirnya menemukan tempat duduk. Akbar meletakan baki makanan itu dan memberikan piring pesanan Kalila padanya. Kalila terus menatap Akbar, tapi sejak tadi Akbar selalu memalingkan tatapannya.
Akbar mengambil card yang tadi dimasukkannya ke saku dan memberikan card itu pada Kalila.
“Lain kali, jangan pernah memakai uang pribadi kamu kalau bersama aku!” katanya tanpa melihat wajah Kalila dan langsung memakan makanan yang di pesannya.
Kini Kalila langsung mengerti kenapa Akbar bersikap beda terhadapnya. Kalila langsung menarik tangan Akbar dan di letakkan di samping pipinya.
“Sayang, maafin aku ya! Aku janji tidak akan melakukan itu lagi.” seketika Akbar menatap wajah Kalila dan tersenyum.
“Iya Sayang, sekarang kamu makan ya! Sudah sore waktunya kamu harus pulang.” Saat Akbar hendak menarik tangannya, Kalila terus menggenggamnya membuat Akbar menatap Kalila meminta penjelasan.
“Ada apa?” tanya Akbar heran.
“Kamu benar-benar marah padaku. Kamu belum memaafkan aku. Maaf Kak, aku bukannya bermaksud untuk merendahkan kamu, aku hanya terbiasa membayarnya sendiri. Please, jangan bersikap beda terhadapku.” Kalila menundukkan kepalanya dan tidak terasa dia meneteskan air mata. Melihat itu jelas membuat Akbar kaget dan langsung berpindah duduk di sebelah Kalila.
__ADS_1
“Sayang, hey! Aku tidak apa-apa dan aku tidak marah padamu. Maaf kalau sikap aku keterlaluan. Sudah dong jangan nangis, aku beneran tidak masalah. Cuma lain kali aku yang membayar semuanya untukmu, oke!” Kalila mengangguk dan dia masih tertunduk.
“Sekarang makan ya! Atau mau aku suapin?” Kalila langsung mengangkat kepalanya dan mengusap air mata yang masih ada di atas pipinya.
“Enggak perlu, aku sudah besar dan bisa makan sendiri,” ucap Kalila membuat Akbar tertawa sambil mengusap kepalanya.
Setelah makan, mereka pun kembali ke parkiran untuk pulang. Sebenarnya Kalila masih belum mau pulang ke rumah. Kalau bukan karena Kama yang sejak tadi menelepon dirinya, mungkin sekarang Kalila masih menikmati jalan bersama kekasih barunya.
“Kak, berhenti di sini saja!” ucap Kalila dan Akbar pun memakirkan motornya ke samping.
“Ini masih terlalu jauh, Sayang. Biarkan aku mengantarkan kamu sampai depan rumah ya!”
“Tidak perlu, Kak! Cukup sampai di sini aja. Lagi pula ini tidak terlalu jauh kok.” Akbar hanya pasrah mengangguk sambil tersenyum. Kalila pun berjalan sambil melambaikan tangannya.
‘La, apa kamu malu mempunyai kekasih seperti aku?’ gumam Akbar yang terus memandang Kalila.
~Bersambung~
Sambil nunggu novel ini UP, baca juga karya Author lainnya yang enggak kalah menarik.
Judul : Berbagi Cinta Dengan Majikanku
Pena : MHoiriyah
Judul : My Boyfriend is a Vampire
Pena : din din
Happy Reading 🥰
__ADS_1