Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 21 Memberanikan Diri


__ADS_3

Bab 21 Memberanikan Diri


Hari ini semua kelas XII diberikan pengarahan dan juga kisi-kisi untuk menghadapi ujian nasional sebelum mereka diberikan libur hari tenang dari sekolah. Akbar memberikan pengarahan untuk murid-murid kelasnya agar tetap tenang mengerjakan soal-soal ujian.


“Semua yang Bapak terangkan kalian, paham 'kan!” ucap Akbar yang selesai memberikan pengarahan.


“Pak, setelah ujian kita adain perpisahan kelas dong, Pak! Biar ada kenangan,” ucap Ferdi salah satu teman kelas Kalila. Semua siswa membenarkan usulan dari Ferdi dan memohon pada Akbar agar mereka mengadakan gathering selepas ujian.


“Nanti bapak minta ijin dari sekolah dulu, yang terpenting sekarang kalian haru lulus dengan nilai sempurna!” mendengar perkataan Akbar membuat semua murid merasa senang.


Sambil menjelaskan apa saja yang harus dipersiapkan untuk ujian, tatapan Akbar sekali-kali melirik pada Kalila yang sejak tadi hanya menunduk. Akbar tahu kalau saat itu Kalila sedang tertidur di kelasnya, tapi dia membiarkan Kalila dan tidak menegurnya.


“Oke, cukup sampai di sini. Sampai jumpa Senin besok ya! Jaga kesehatan dan jangan lupa selalu berdoa agar ujian kalian lancar.” Semua siswa mengucapkan aamiin dan bersiap untuk pulang.


Ya ... hari ini memang diperuntukkan hanya buat kelas XII untuk pengarahan dan pemberian kisi-kisi mata pelajaran dari sekolah. Maka dari itu jam pulang sekolah lebih cepat dari biasanya.


“Untuk Kalila, sebelum pulang mohon untuk ke ruangan saya!” Seketika Kalila terbangun dari tidurnya membuat semua perhatian anak-anak kelas tertuju padanya. Teman-teman Kalila menertawakan dia saat melihat wajah dan mata Kalila yang sembab. Akbar menahan tawanya dan melangkah keluar dari kelas.


“Lo main game lagi ya, La?” tanya Hesti sambil memasukan selembaran yang berisi kisi-kisi soal ke dalam tasnya. Kalila hanya mengangguk diam dan mengambil tasnya menuju ruang guru.


‘Sial! Kenapa semua orang menganggap aku main game sih!’ kesal Kalila sambil berjalan menuju ruang guru.


Sekolah tampak sepi, karena memang hanya kelas XII saja yang masuk pada hari ini. Kalila melewati kelas jurusan IPA dan Bahasa yang membuat dia jadi pusat perhatian para lelaki.


“Lila, mau kemana?” tanya Elina yang baru saja keluar kelas bersama kembaran Kalila.


“Biasa,” jawab Kalila dengan wajah yang lemas.

__ADS_1


“De, perasaan akhir-akhir ini kamu sering dipanggil ke ruang guru. Bikin masalah apa lagi sekarang?" Tanya Kama.


“Tidur. Ya udah aku mau ke ruang guru dulu. Oh iya kalian pulang duluan aja ya!" titah Kalila, karena dia tahu kalau Kama dan Elina mengikuti pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian.


“ Kamu pulang hati-hati! Jangan sampe rumah kemalaman. Awas aja abang pulang kamu belum sampe rumah!”


“Iya bawel!” Kalila menjulurkan lidahnya dan kembali berjalan ke ruang guru.


Sampai di ruang guru, ruangan tampak sepi dan tinggal beberapa guru saja di sana. Kalila melangkah pelan, saat dia melihat Sarah yang berada duduk di sebelah Akbar. Ingin rasanya keluar, tapi Akbar sudah melihat kedatangannya.


“Iya Pak, ada apa memanggil saya?” tanya Kalila sambil menunduk.


“Pak Akbar, kalau begitu saya pulang duluan ya! sampai ketemu di rumah!” Deg ... seketika Kalila mengangkat wajahnya saat mendengar apa yang Sarah katakan. Akbar hanya tersenyum mengangguk pada Sarah dan dia langsung menyuruh Kalila untuk duduk.


Kalila pun menatap Akbar dengan tatapan sinis membuat Akbar merasa heran dengan perubahan sikap Kalila padanya.


“... Kalila kamu mengerti 'kan apa yang Bapak bicarakan?” Kalila hanya mengangguk dengan wajah yang tanpa ekspresi.


“Ya sudah, kalau begitu kamu bisa pulang sekarang. Ingat, persiapkan dirimu untuk menghadapi ujian, oke!”


“Boleh saya bicara?!” ucap Kalila yang mulai membuka suaranya. Akbar hanya mengangguk pelan tampak ragu, pasalnya Kalila kali ini tampak serius tidak seperti biasanya.


“... Bapak tadi tanya kenapa aku tadi ketiduran di kelas 'kan? Jawabannya hanya satu, yaitu karena Pak Akbar. Puas!” Saking kesalnya Kalila, dia memberanikan diri berkata seperti itu. Beruntungnya di ruang guru sudah sepi tinggal keduanya yang berada di sana. Selesai mengucapkan itu, Kalila berdiri dan langsung keluar dari ruangan.


Akbar masih diam dan tidak bisa berkata-kata, sampai dia tidak menyadari kalau Kalila sudah pergi dari hadapannya. Akbar langsung membereskan barang-barangnya dan berlari mengejar Kalila, saat dia sadar Kalila sudah pergi sejak tadi. Akbar berlari sampai di parkiran, tapi dia tidak melihat batang hidung Kalila.


“Ah ... shiit!” ucapnya. Akbar pun langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Kalila.

__ADS_1


“Ayolah, La angkat!" ucapnya yang tidak juga mendapat respon dari Kalila.


Kalila yang sedang berjalan menuju halte bis mengambil ponselnya di saku, karena terus saja bergetar. Sampai di halte bis, Kalila duduk dan hanya menatap layar ponselnya yang tertuliskan nama Akbar di sana. Kalila sudah tidak mau berharap lagi dan kembali memasukkan ponselnya ke saku.


Akbar tidak menyerah dan terus menelepon Kalila sampai dia mengangkat telepon darinya. Benar saja, Kalila yang cukup kesal dengan getaran ponsel yang 'tak kunjung berhenti akhirnya mengangkat telepon dari Akbar.


Kalila :“Emmm ....” Kalila hanya memberi respon mengeram padanya.


Akbar :“La, di mana?”


Kalila :“Mau aku di mana apa urusannya sama Kak Akbar? Sekarang bukan jam sekolah, jadi aku tidak berhak melaporkan aktifitas aku sama kamu!” ucap Kalila dengan nada yang ketus.


Akbar :“Ayolah La, aku serius! Kamu di mana?”


Kalila:“Buat apa?”


Akbar :“La, please!”


Kalila :“Aku di halte, masih menunggu bis datang.” Akhirnya Kalila luluh dan memberitahukan keberadaannya.


Akbar :“Jangan kemana-mana ya! Tunggu aku, oke!” Akbar menutup telepon dan bergegas menyalakan mesin motornya menghampiri Kalila.


Seketika Kalila tersenyum saat Akbar menyuruhnya untuk menunggu dia.


‘Apa harus gue yang duluan, baru lo sadar?’ gumam Kalila yang masih menatap ponselnya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2