Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 56 Operasi


__ADS_3

Akbar terbelalak kaget dan langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak menyangka kalau keluarga kekasihnya juga ikut datang ke rumah sakit. “Mami, Papi” sapa Akbar lalu mencium punggung tangan keduanya. Tidak lupa Aisyah yang ada di sana pun melakukan hal yang sama.


Kalila menatap Akbar, seolah olah memberi tanda untuk mengenalkannya pada gadis yang masih terlihat remaja itu. “Emmm ... kenalin ini Aisyah, adik Akbar dan Aisyah, ini Kalila dan keluarganya.” Akbar tahu arti dari tatapan Kalila sehingga ia dengan cepat mengenalkan adik kesayangannya itu. Aisyah tersenyum sebari menundukkan kepalanya.


“Kak Kalila sangat cantik!” puji Aisyah yang terpana dan memang baru pertama kali ia bertemu dengan Kalila. Semua ikut tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Aisyah.


“Oh iya ... bagaimana kabar ibumu?” tanya Alaric sambil duduk di kursi depan ruang operasi.


“Sekarang ibu sedang siap-siap masuk ruang operasi. Kata dokter ibu harus segera ditindaklanjuti, agar jantungnya bisa berfungsi kembali dengan benar.” Alaric mengangguk mendengar penjelasan dari calon menantunya.


“Keluarga Ibu Nurma!” teriak salah seorang perawat dan Akbar pun langsung beranjak dari tempat duduknya.


“Maaf ini total yang harus dikeluarkan, diharapkan sudah masuk setengahnya ya Pak!” Akbar hanya mengangguk dan mengambil berkas-berkas itu dari tangan perawat.


“Mami, Papi dan semuanya, saya tinggal sebentar ya!” ucap Akbar menuju ke bagian administrasi. Sebelumnya memang Akbar sudah tahu berapa total biaya semuanya dan ia belum membayar tagihan itu karena nota pembayarannya yang belum diberikan pada dia.


Tatapan Alaric tajam menatap ke arah wajah Akbar. Terlihat wajah yang penuh beban dan Alaric pasti tahu itu menyangkut biaya rumah sakit. Uang yang harus dikeluarkan untuk operasi tidak lah sedikit, terlebih Akbar tidak memakai jasa asuransi dan pastinya itu akan memberatkan pasie.

__ADS_1


“Sayang, aku ke toilet sebentar ya!” bisik Alaric pada istrinya. Ana hanya mengangguk, sedangkan Kalila mencoba menenangkan Aisyah, duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan calon adik iparnya itu.


Alaric sebenarnya berbohong pada istri ya sendiri. Ia diam-diam mengikuti Akbar pergi ke bagian administrasi. Sampai di sana, Alaric berdiri tidak jauh dari Akbar, sehingga dapat mendengar apa yang dikatakan oleh bagian administrasi itu.


“Totalnya semua sebesar sembilan puluh tujuh juta dua ratus tiga puluh ribu rupiah, pak! Mau dibayar lunas atau setengahnya dulu?” tanya wanita yang menggunakan seragam ijo tosca.


Hati Akbar teriris mendengar biaya yang cukup besar. Memang operasi yang dilakukan ibunya adalah operasi besar terlebih operasi ini membuat banyak dokter spesialis yang turun. Akbar merogoh dompet yang di dalam celana dan mengeluarkan benda pipih berbentuk kotak persegi panjang dan menyerahkan ke bagian kasir.


“Bu, saya bayar setengahnya dulu ya!” ucap Akbar dengan nada yang berat.


Usaha dia selama lima tahun belakang ini untuk menabung buat masa depannya pupus sudah. Kepala Akbar terasa berat karena ia harus memikirkan uang dari mana untuk menebus setengahnya lagi biaya operasi ibunya. Alaric yang menatap wajah Akbar langsung terasa iba. Ia tahu betul apa yang dirasakan calon menantunya itu.


“Baik pak sudah selesai, silakan masukkan pin-nya!” Akbar kembali mengangguk, sambil menekan pin kartu atm-nya.


“Uang sudah masuk sebesar empat puluh enam juta ya Pak, ini tanda buktinya mohon ditandatangani!” Akbar menandatangani kwitansi itu dan langsung pergi meninggalkan kasir.


Akbar tidak menyadari bahawa sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. Setelah memastikan Akbar pergi, tanpa mengambil nomor antrian, ia langsung menghampiri kasir tempat Akbar membayar biaya operasi ibunya.

__ADS_1


“Maaf Mbak, saya mau tanya sisa tagihan orang yang tadi berapa ya?” tanya Alaric langsung membuat kasir itu binggung.


“Pria yang tadi saya dengar baru membayar setengah dari biaya tagihan ibunya yang akan melakukan operasi jantung.” setelah menjelaskan maksud Alaric, kasir itu mengangguk.


“Oh ... Pasien yang atas nama Ibu Nurma ya!” Alaric mengangguk tersenyum. “Masih setenganya lagi, Pak, sekitar kurang lebih empat puluh enam juta lagi,” jelas Kasir itu.


“Kalau begitu saya lunasi semuanya mbak!” kasir itu nampak diam, ia terpana dengan Alaric yang mau melunasi tagihan itu.


“Ba-baik Pak, akan segera saya proses.” Alaric mengeluarkan beda pipihnya dan menyodorkan benda itu.


Alaric membantu Akbar bukan semata-mata karena dia adalah kekasih anaknya, tapi memang Alaric kerap menyumbangkan sebagian uang yang dimilikinya untuk menbiayai yayasan yang menampung orang-orang yang mengidap kanker atau yang tidak mempunyai biaya untuk berobat. Melihat kesungguhan anaknya, Kama yang ingin menjadi dokter karena Kama kerap mengikuti relawan di berbagai yayasan membuat Alaric tergugah untuk membantu sesama, karena selama ini Alaric sama sekali tidak pernah merasa kekurangan.


Operasi mulai dilakukan. Lampu ruangan operasi menyala membuat semua orang yang berada di sana menatap ke arah ruangan itu. Alaric yang selesai melunasi administrasi dan juga menyimpat deposit untuk kamar rawat ibu dari Akbar langsung bergabung dengan mereka.


“Sayang, kok lama?” tanya Ana yang sejak tadi menunggu kembalinya sang suami.


“Iya, tadi di toilet sedikit mengantri. Apa operasinya sudah di mulai?” tanya Alaric dan Ana mengangguk. “Sudah malam, sebaiknya kuta pulang!” ajak Alaric lagi mekihat jam sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ana mengangguk dan mereka pun pulang setelah berpamitan pada Akbar.

__ADS_1


__ADS_2