Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 41 Penasaran


__ADS_3

Bab 41 Penasaran


Malam hari semua siswa sudah siap untuk acara piluncak di tepi pantai dengan melingkari api ungun yang sudah di siapkan pihak hotel. Tidak lupa mereka juga menyiapkan jagung bakar, marshmellow, Sosis, baso dan juga ayam yang sudah ditusuk-tusuk bambu yang cukup panjang untuk menamani waktu berkumpul mereka.


Sejak tadi mata Kalila tidak lepas melihat satu persatu teman-temannya yang yang ada di sana, tapi tidak juga dia bisa menebak siapa oran misterius itu. Sampai sekarang Kalila belum mempunyai waktu untuk menceritakan pada Akbar dengan apa yang terjadi. Akbar sejak tadi sibuk mempersiapkan acara, jangankan untuk bicara, melirik padanya pun Akbar sama sekali tidak sempat.


Pertama-tama mereka memainkan games dengan saling melemparkan bola kecil sambil menyanyi lagu sesuai yang di putar oleh moderator. Saat musik berhenti, bola itu juga harus berhenti di tangan orang yang terakhir memegangnya. Setiap orang yang mendapat bola itu, mereka harus jujus selama tiga tahun bersama, apa saja yang mereka rasakan termasuk membenci atau menyukai seseorang yang ada di kelas. Inilah kesempatan Kalila untuk mengetahui siapa orang misterius yang ada di kelasnya. Dia berharap orang itu akan jujur di tempat itu.


Musik pun mulai dinyalakan dan para murid dengan cepat melempar bola itu agar tidak sampai jatuh di tangan mereka. Suasana tmapak ramai dengan suara dari teman-teman Kalila yang berusaha untuk tidak memegang bola yang dikelilingkan. Musik pun berhenti dan kebetulan bola itu berada di tangan Kalila. Semua teman-teman Kalila bersorak dan sangat menanti kejujuran apa yang akan Kalila ucapkan.


Teman-teman Kalila meminta dia menjawab kenapa dia memilih berubah kemabli menjadi feminim. Karena mereka tahu pasti ada alasan tersendiri kenapa Kalila berpenampilan seperi wanita. Hesti tertawa melihat wajah panik Kalila. Kedua mata Kalila dan Akbar saling menatap. Sebenarnya Akbar juga sangat penasaran apa alasan Kalila merubah kembali penampilannya.


“Cuma rindu aja pengan berpenampilan feminim,” ucap Kalila singkat dan itu membuat sorakan dari teman-temannya, karena tidak mempercayainya.


“Masa sih? Pasti ada sesuatu!” kata Annisa yang mewakili teman-teman semua agar Kalila jujur dengan perkataannya.

__ADS_1


“Cuma itu aja kok. Kalau mau dibilang, karena seseorang, memang iya. Seseorang itu adalah Mami, karena setiap hari Mami ngomel-ngomel biar aku merubah penampilan. Demi menghindari omelan mami, ya aku berubah deh,” jawab Kalila yang membuat teman-teman kecewa. Kalila hanya tersenyum, karena kebohongan dia bisa dipercaya oleh semuanya.


Satu-persatu murid sudah mendapat giliran dan Kalila kembali menelan kekecewaan. Tidak ada yang mengaku kalau salah satu dari mereka pernah menyukai Kalila. Satu-satunya cara untuk mengetahui orang misterius itu adalah dengan cara benar-benar bertemu dengan orang itu selesai acara ini.


Selesai mengaku berbagai macam pengakuan, mereka semua pun menikmati berbagai makanan yang sudah disediakan.


“La, kata gue apa'kan, nggak ada yang mencurigakan di kelas kita,” bisik Hesti sambil menikmati jagung bakar manis yang baru saja selesai dibakar. Kalila menaikkan bahunya yang juga menikmati sosis bakar.


Setelah selesai acara puncak, para siswa kemabli masuk ke kamar masing-masing, kecual Kalila dan Hesti. Kalila meminta Hesti untuk menemaninya dengan cara menunggu Kalila di resto hotel.


Kalila pun berdiri di pinggir ayunan sesuai yang diperintahkan di dalam dua surat yang dia terima. Sudah lima menit berlalu dan tidak ada seorang pun yang ada di sana. ‘Apa aku di permainkan?’


‘Apa dia tidak akan ke sini?’ gumam Kalila yamg masih penasaran siapa orang itu. Akbar mengerutkan keningnya dan mengusap rambut Kalila, “Ada apa sayang? Sepertinya kamu menunggu seseorang, siapa dia?” tanya Akbar.


“Emmm ... Aku enggak lagi nunggu siapa-siapa kok.” Kalila hanya tersenyum. Dia langsung melirik ke arah Hesti sambil menggelengkan kepalanya memberitahukan pada Hesti kalau dia tidak berhasi bertemu dengan si pengirim surat.

__ADS_1


“Mau jalan-jalan dulu enggak? Mumpung semua sudah masuk ke dalam kamar merek.” Kalila mengangguk tersenyum. Akbar pun memegangi tangan Kalila dan berjalan menuusuri pantai dengan dihiasi lampur kerlap kerlip untuk menerangi sepanjang pesisir pantai.


Ombak pantai malam itu nampak sangat damai dan juga angin yang berhembus sangat pelan sehingga membuat malam itu semakin syahdu. Akbar pun menarik tangan Kalila untuk duduk di bangku yang ada di sana. Akbar terus menggenggam tangan Kalila dan sesekali dia mencium punggung tangannya.


“Kalila, aku sangat mencintaimu!” bisik Akbar membuat Kalila tersenyum. Seketika rasa penasaran Kalila pada orang misterius itu menghilang.


”Aku juga Mas, sangat mencintai kamu!” keduanya saling menatap dan melempar senyuman.


~Bersambung~


Jangan Lupa


• Like


• Vote

__ADS_1


• Komen


TERIMA KASIH SEMUANYA 😘😘


__ADS_2