
Bab 46 Merasa Kesal
Kalila membalas lambaian tangan sang kekasih saat ia melihat Akbar yang sudah berdiri di depan mall. Seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang muncul dari belakang Akbar sambil tersenyum melihatnya.
”La, kok Bu Sarah ikut sih?” ucap Hesti yang juga merasa kaget melihat mantan guru SMA nya itu.
”Entahlah, gue mau balik aja!” dengan cepat Hesti menarik tangan Kalila agar dia tidak pergi di saat Akbar dan juga Sarah sudah melihat keberadaannya. “Lo, jangan seperti itu, La! Biar bagaimanapun juga Bu Sarah 'kan mantan guru SMA kita, tidak baik kamu pergi begitu aja karena rasa cemburu. Sudah tenang ada gue di sini!”
Kalila pun terpaksa ikut apa yang dikatakan Hesti lalu berjalan menghampiri Akbar yang sudah menantinya di depan mall.
“Hai Pak Akbar, Bu Sarah, apa kabar?” Sapa Hesti sambil mencium tangan keduanya. Kalila tadinya hanya diam dan saat Hesti mendorong tubuhnya, ia juga terpaksa melakukan hal yang sama seperti sahabatnya.
”Baik! Wah ... Melihat kalian seperti ini membuat Ibu rindu masa-masa kalian masih SMA.”
“Iya Bu, Hesti juga. Kalau begitu kita masuk ke dalam aja ya!”
Hesti nampak binggung dengan suasana yang canggung. Ia pun mengajak semua untuk masuk ke dalam. Dengan cepat, Kalila melangkah lebih dulu meninggalkan semuanya. Akbar tahu betul kalau kekasihnya saat ini terlihat kesal. Ia pun melangkahkan kakinya menyerupai langkah Kalila sambil menggenggam tangannya, sedangkan Hesti dan Sarah asik ngobrol di belakang mereka.
Sarah sudah mengetahui hubungan Akbar dan Kalila, ketika mereka pulang dari Anyer. Awalnya ia tidak bisa terima, tapi perasaan tak bisa dipaksakan dan hanya bisa berharap kalau hubungan Akbar dan Kalila baik-baik saja sampai nanti takdir menyatukan mereka.
Mendapati sang kekasih menggenggam tangannya dengan cepat Kalila menepisnya dan ia pun mempercepat langkahnya masuk ke dalam toko buku.
“Sayang, jangan marah dong!” lirih Akbar yang berada tepat di belakang sang kekasih.
Kalila tidak mendengarkan apa yang diucapkan Akbar dan sibuk memilih barang-barang yang harus dibawanya. Setiap anggota kelompok mempunyai tugas masing-masing, maka dari itu Kalila dan Hesti berpisah untuk mencari barang bawaan mereka sendiri. Sarah pun memilih ikut Hesti untuk membantu dia mencari barang bawaannya dan juga mencari barang yang ia butuhkan.
__ADS_1
“Sayang, aku tadi enggak enak saat Sarah ingin ikut ke sini. Dia juga kebetulan mau beli sesuatu, masa aku harus menolaknya. Lagipula 'kan Sarah sudah tahu hubungan kita, jadi tidak ada masalah 'kan?” Akbar terus berusaha menjelaskan kepada Kalila, tapi tetap saja ia tidak menghiraukannya.
”Sayang, hukum aku deh, asal kamu jangan diam seperti ini! Please!” Akbar menarik tangan Kalila dan membalikkan tubuhnya menatap ke arah Akbar. Kalila berusaha memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah sang kekasih, tapi Akbar terus mengikuti arah wajah Kalila sehingga kedua tatapan mata mereka saling bertemu.
”Hei ... Jangan cuek dong! Aku enggak kuat kamu seperti ini. Aku 'kan sudah menjelaskan sama kamu. Lagian aku sama Sarah tidak ada hubungan apa-apa!”
“Udah? Aku masih banyak yang harus dicari. Kalau kamu mau pergi sama Bu Sarah, silakan Mas, aku juga enggak akan melarang kamu.” Kalila kembali berjalan untuk mencari bahan-bahan, tapi dengan cepat Akbar menarik tangannya hingga Kalila masuk ke dalam pelukannya. Beruntungnya saat itu toko buku nampak sepi sehingga tidak ada yang melihat mereka.
”La, kenapa kamu ngomongnya gitu sih! Nyakitin tahu enggak! Aku 'kan sudah bicara jujur sama kamu. Please, jangan kaya anak kecil, dong! Kamu tahu 'kan kalau cinta aku hanya buat kamu!”
Kalila tertawa dan mendorong tubuh Akbar hingga ia terlepas dari pelukan sang kekasih.
”Kalau kamu enggak mau seperti ini, jangan pacaran sama anak kecil! Mending pacaran sama orang yang seumuran dengan kamu. Bukankah ibumu juga menginginkan hal itu!”
Akbar melotot kaget mendengar apa yang dikatakan Kalila. Gadis cantik itu meletakkan keranjang yang di dalamnya sudah ia pilih barang-barang yang akan dibawanya, kemudian dia langsung berlari keluar dari mall dan mengabaikan semua tugas yang harus ia bawa. Akbar berusaha mengejarnya, tapi Kalila langsung naik taxi saat berada di depan Mall.
”Loh Pak Akbar kok sendiri di sini? Kalila mana?” tanya Hesti saat melihat hanya ada Akbar di depan toko buku.
”Oh, tadi Kalila dapet telepon dari keluarganya disuruh pulang cepat. Katanya kirim salam aja buat kalian.” terpaksa Akbar berbohong, karena dia tidak mau merusak suasana.
“Itu barang-barang Kalila ya, Pak. Sini biar aku yang bawa, kebetulan aku mau menginap di rumahnya.” Hesti menawarkan diri untuk membawa belanjaan Kalila.
“Oh gitu, ya sudah kamu sekalian sama bapak saja ke rumah Kalila, kebetulan bapak juga mau ke sana. Sarah, kamu sudah beli yang dibutuhkan? Kamu pulang sendiri tidak masalah 'kan?”
“Sudah kok. Ia tidak apa-apa nanti saya bisa naik bis, Pak. Kalau begitu kita pulang sekarang saja ya, sudah sore.” Akbar dan Hesti menyetujui ucapan Sarah dan mereka pun keluar dari mall.
__ADS_1
Terlebih dahulu Akbar dan Hesti mengantarkan Sarah sampai ke halte bis yang ada tepat di depan Mall. Setelah mendapatkan bis, keduanya langsung menuju parkiran motor.
“Pak Akbar tadi bohong 'kan? Pasti Kalila pulang duluan karena marah.” tebakan hesti tepat dan Akbar hanya mengangguk dengan wajah yang nampak pasrah.
“Emmm ... Kalila itu cemburu banget sama Bu Sarah, Pak. Makanya aku juga kaget bapak dateng sama Bu Sarah. Nanti ajak bicara baik-baik saja Pak.” Akbar hanya mengangguk dan memberikan helm ke Hesti lalu mereka pun menuju rumah Kalila.
Sampai di kediaman Kalila, motor bebek berwana putih itu pun diparkir di halaman. Terlebih dahulu Akbar menekan Bel rumah dan kebetulan Ana yang membukakan pintunya.
“Eh Pak Akbar, sama Hesti ayo masuk! Kalila ada di kamarnya, kamu bisa naik ke atas bilang ada Pak Akbar ya!” titah Ana pada Hesti dan Hesti mengangguk lalu naik ke atas.
”Pak Akbar mau dibuatkan apa?”
”Apa aja, Mami!”
”Ya sudah, nanti Mami buatkan orange jus ya, panas-panas gini enak minuman yang segar.” semenjak hubungan Akbar diketahui oleh keluarga Kalila, kedua orangtua Kalila menyuruh dia memanggil panggilan yang sama dengan Kalila.
”Iya Mi, terimakasih!”
“Lilaaaaa, lo kenapa sih kaya anak kecil main kabur-kaburan. Noh Pak Akbar nungguin di bawah!” ucap Hesti uang baru masuk ke dalam kamar Kalila.
”Dih ogah! Bilang gue enggak mau ketemu.”
“Hei, jangan kaya anak kecil, kasian tuh dia udah beliin semua tugas lo. Samperin gih, nanti Mami marah loh kalau kamu mengabaikan tamu yang datang.”
Kalila membuang napas kasar dan terpaksa turun ke bawah menghampiri sang kekasih. Melihat Kalila yang baru turun, seketika Akbar berdiri tersenyum menanti kedatangan Kalila.
__ADS_1
“Mau apa ke sini?” tanya Kalila dengan wajah yang jutek.