Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 57 Ruang VIP


__ADS_3

Kalila meminta izin pada kedua orangtuanya untuk menemani Akbar di rumah sakit dan pastinya mendapatkan izin dari mereka. Ana dan Alaric bukan orangtua yang menuntut anaknya untuk menjadi apa yang mereka inginkan, apalagi soal pasangan. Mereka tidak pernah melihat seseorang berasal dari mana dan latarbelakang keluarganya apa, yang jelas pasangan kedua anaknya harus dari keluarga yang baik.


Selama operasi berjalan, Kalila terus merangkul lengan kekasihnya. Nampak dari wajah Akbar yang sedih namun banyak pikiran membuat Kalia terus menatap sang kekasih. “Sayang, ibu pasti akan sembuh. Kamu jangan khawatir ya!” bisik Kalila dan Akbar langsung melirik ke wajah sang kekasih, tersenyum sambil mengusap kepala Kalila.


“Aku tidak apa-apa, sayang!” senyuman yang nampak menyakitkan, karena itu terlihat jelas senyuman yang terpaksa.


“Apa yang membuat kamu sangst khawatir? Apakah masalah biaya?” Kalila langsung bisa menebaknya, karena wajah Akbar berubah seperti orang yang cemas sesaat setelah kembali dari bagian administrasi.


“Enggak sayang, jangan khawatirkan itu. Senua aman kok, kamu tidak perlu khawatir!” Akbar menarik tangan kekasihnya lalu mencium punggung tangannya.


“Berapa yang kamu butuhkan? Aku punya tabungan di rekeningku. Selama ini aku jarang menggunakan uang sakuku, kamu bisa memakainya.” mendengar itu membuat Akbar melirik sinis pada kekasihnya, sehingga membuat Kalila takut dengan tatapannya.


“Sayang, aku bukannya tidak mau menerima bantuan darimu. Lebih baik kamu simpan saja dan pakai untuk keperluan kamu. Aku bisa kok melunasi semuanya.” Kalila tidak berani bicara dan hanya mengangguk. Sebenarnya ia tahu yang sangat dikhawatirkan oleh Akbar saat ini adalah masalah biaya rumah sakit. Kalila tahu betul kalau ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

__ADS_1


Hampir dia jam operasi dilakukan akhirnya seseorang dari ruangan operasi keluar. Melihat itu, Akbar dan yang lainnya langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. “Dok, bagaimana keadaan ibu saya?” tanya Akbar sambil merangkul adiknya.


“Syukur operasi berjalan lancar. Sekarang Ibu Nurma di bawa ke ruang pemulihan dan nanti akan di pindahkan ke kamar rawat.” Akbar bernapas lega dan langsung tersenyum dan langsung memeluk tubuh adiknya.


Kalila ikut tersenyum dan merasa bahagia. Ia menatap Akbar terpana, nampak jelas kalau kekasihnya itu sangat menyayangi adiknya. Aisyah pamit pada Kalila untuk terlebih dahulu masuk ke ruang pemulihan melihat keadaan ibunya.


“Sayang, aku anterin pulang ya! Kasian kamu kalau ikut menginap di sini, besok 'kan kamu harus masuk kuliah.” Kalila menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah berpesan sama Bang Kama untuk membawa keperluan aku buat kuliah besok. Aku mau nemenin kamu, sayang.” mendengar itu Akbar merasa sangat terharu laku menari wajah Kalila dan mencium keningnya.



“Loh sus, kenapa ibu saya dimasukkan ke ruang VIP?” keluh Akbar di tempat informasi, karena ibunya yang ditempatkan di ruangan VIP.

__ADS_1


“Tapi Pak, data di sini Ibu Nurma masuk ke ruangan VIP dan pembayarannya juga lunas untuk satu minggu ke depan, biaya operasinya juga sudah lunas, Pak.” mendengar hal itu menbuat mata Akbar membulat sempurna.


“Apa?! Siapa yang melunasi semuanya?” Perawat itu menggelengkan kepalanya. Akbar pun pamit sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal berjalan menuju ruangan.


Sampai di ruangan, Akbar menarik tangan Kalila keluar dari kamar, saat wanita cantik itu sedang ngobrol dengan Aisyah. “Ikut aku!” Kalila merasa aneh, melihat kekasihnya itu seperti sedang emosi.


“Ada apa, Sayang?” tanya Kalila ketika mereka sudah berada di luar ruangan.


“Sudah aku bilang, jangan lunasi semuanya dan lihat ini apa?! Kenapa kamu memesan kamar VIP? Ini sangat mahal Kalila! Aku tahu kamu tidak masalah dengan uang yang segini, tapi tetap saja, untuk ukuran aku ini terlalu mahal dan aku tidak sanggup untuk menggantinya!” Akbar begitu emosi meluapkan kekesalannya terhadap sang kekasih, karena yang dia tahu orang yang melunasi tagihan rumah sakit dan membayar kamar adalah kekasihnya dan itu membuat harga dirinya jatuh.


Kalila menatap sang kekasih tajam, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Akbar. “Jadi maksud kamu, aku yang melunasi semuanya? Memangnya kamu lihat aku pergi sejak tadi? Aku dari tadi selalu ada di sisi kamu! Sekarang kamu pikir deh, kapan aku ada waktu untuk membayar tagihan rumah sakit? Aku enggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Mas!” Kalila nampak emosi dan kembali ke dalam ruangan meninggalkan Akbar.


Akbar meremas rambutnya dan duduk sambil menunduk. Ia merasa bersalah sudah emosi di depan kekasihnya. Akbar tidak berpikir sejauh itu tentang apa yang dikatakan oleh Kalila.

__ADS_1


‘Ya Tuhan, siapa yang melunasi semuanya?’ gumam Akbar yang sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya kalau semua itu adalah kelakuan calon mertuanya.


__ADS_2