Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 40 Mengintrogasi


__ADS_3

Bab 40 Mengintrogasi


“La, ngapain lo berdiri di sana?” ucap Hesti membuat jatung Kalila berdetak tidak karuan. Ditambah Annisa langsung melirik ke arahnya membuat dia semakin panik dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Udah kalian berdua masuk kamar mandi, nsnti lantainya basah lagi!” Kalila mendorong tubuh kedua temannya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.


Saat keduanya sudah masuk, Kalila membuka selimut yang menutupi Akbar dan bergegas menarik tangannya keluar. Terlebih dahulu Kalila membuka pintu dan seketika Kalila menutup kembali pintu kamarnya.


“Ada apa?” lirih Akbar.


“Anak-anak yang lain baru pada balik dari kolam. Mas, bagaimana ini?” keduanya benar-benar tampak panik. Ditambah saat mereka melihat pintu kamar mandi yang seketika bergerak. Dengan cepat Kalila memegangi ganggang pintu kamar mandi.


“La, kok pintu makar mandi susah dibuka?” teriak Hesti. Kalila sebisa mungkin menahan pintu kamar mandi, sedangkan Akbar mencari cara untuk bersembunyi. Dia pun kembali ketempat semula dan menutupi dirinya dengan selimut.


Kalila pun melepaskan ganggang pintu kamar mandi dan berjalan lalu duduk di pinggir kasur.


Beruntungnya saat itu Hesti duluan keluar dari kamar mandi. kalila pun melambaikan tangan dan membisikkan apa yang sudah terjadi. Dia tampak terkejut sambil menutup mulutnya dengan kelima jarinya.


“Lo gila!” bisik Hesti.


Kalila menempelkan kedua tangannya dan memohon Hesti untuk membantu dirinya agar bisa mengeluarkan Akbar tanoa ketahuan. Hesti membuang napas kasar dan memgangguk. Dia terpaksa membantu sahabatnya, karena tidak ingin orang-orang berpikiran aneh dengan mereka.

__ADS_1


Saat Annisa keluar dari kamar mandi, Hesti menarik tangannya keluar dengan alasan menemaninya ke minimarket yang ada di lobi hotel. Kalila membuang napas kasar yang membuat dirinya sedikit tenang. Hesti pun mengirimkan pesan kalau situasi di luar aman, dengan begitu Kalila membuka selimut Akbar dan menyuruhnya segera keluar dari kamar.


“Sayang, aku keluar dulu ya!” ucap Akbar tersenyum sedangkan Kalila hanya memandang sinis padanya.


Setelah Akbar keluar dengan aman, Kalila menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang sambil memagangi yang sejak tadi masih berdetak dengan cepat.


‘Arrgh!’ Kalila menutup wajahnyaa dengan bantal dan berteriak. Ini pertama kalinya buat Kalila menghadapi situasi yang sulit seperti tadi.


Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Kalila bangun dari tidurnya dan berjalan untuk membuka pintu itu.


Saat Kalila membuka pintu itu, Hesti berdiri sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Kalila melihat kiri dan kanan mencari keberadaan Annisa.


“Tadi kalian ngapain aja? Kenapa bisa Pak Akbar ada di kamar ini? Lo enggak mikir bagaimana kalau sampai ada yang lihat kalian? Bukan hanya lo saja yang akan menjadi pusat gosip, tapi juga Pak Akbar bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah. Dan ....” dengan cepat Kalila menarik tangan Hesti agar diam dan duduk di sebelahnya. Kalila merubah duduknya menghadap Hesti untuk menjawab semua pertanyaan dari sahabatnya itu.


“Lo jangan kemana-mana dulu pikirannya. Tadi itu Mas eh Pak Akbar tidak sengaja masuk ke dalam kamar, karena ingin meminta maaf sama gue. Soalnya tadi gue lihat dia di pantai berduaan sama Bu Gendis.”


“Apa?! Bu Gendis nyusul ke sini? Segitunya ya dia ngejar-ngejar Pak Akbar.” Kalila tertawa, ternyata Hesti juga bel mengetahui kalau Bu Gendis sekarang sudah menikah.


Kalila pun kembali mencertiakan secara detail semua yang terjadi hari ini. Hesti yang mendengarnya sesekali tertawa saat membayangkan Pak Akbar yang besembunyi di bawah selimut. Kalila pun langsung mengingat amplop kuning yang baru saja dia terima tadi di kolam renang. Kalila pun berdiri mengambil tas kecilnya dan mengambil amplop itu lalu menyerahkannya pada Hesti.


“Apa ini?” tanya Hesti sambi mengambil amplop kuning itu dari tangan Kalila.

__ADS_1


“Baca aja!” titah Kalila dan Hesti kun membuka amplopnya dan membaca isis dari surat itu.


“Kira-kira ini siapa ya? Kalau anak kelas kita kayanya enggak mungkin deh. Soalnya selama ini sama sekali tidak ada gerak gerik dari teman kelas mereka yang mencurigakan.


“... Jadi apa yang akan lo lakuin? Apa lo bakal nemuin orang ini?”


“Entahlah, Hes! Tadinya gue mau cerita ini smeua sama Pak Akbar, tapi situasi tidak memungkinkan untuk gue nyeritain semuanya. Menurut lo bagaimana, Hes?”


“Kalau gue jadi lo sih, gue temuin, dari pada gie mati penasaran. Lo tahu sendiri kalau gue mah orangnya penasaran sama sesuatu. Atau nanti malam kita lihat dari kejauhan saja.” Kalila yang mendengar itu tersenyum mengangguk menyetujui ide dari sahabatnya.


~Bersambung~


Jangan lupa


•Like


•Vote


•komen


Terima kasih yang sudah setia menanti.

__ADS_1


__ADS_2