Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 49 Posesif


__ADS_3

Hesti dan Kalila sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menginao di kampus. Ketika Kalila turun ke bawah bersama dengan sahabatnya, ia dikagetkan dengan Akbar yang sudah bergabung di ruang makan.


”Lila, Hesti ayo sarapan dulu!” titah Ana pada anaknya.


Mata Kama tertuju pada Hesti dan keduanya saling bertatapan lalu melempar senyuman. Berbeda dengan Kalila yang, dia menatap sinis pada kekasihnya yang menyambut dirinya dengan senyuman. Jelas-jelas kemarin Kalila sudah bilang mau berangkat bareng dengan Kama, tapi Akbar tetap datang menjemputnya. Sebenarnya hati Kalila kemarin sudah mulai luluh, tapi entah kenapa melihat Akbar hari ini mengingatkan dia akan tragedi kemarin saat Akbar datang bersama dengan Sarah.


Tidak ada yang Kalila katakan, dia hanya diam menikmati makanannya. Akbar nampak binggung dengan sikap kekasihnya, pasalnya kemarin Kalila sudah bersikap manis padanya, tapi hari ini kembali bersikap dingin. Semua orang yang ada di sana tahu kalau pasangan kekasih ini pasti sedang dalam masalah.


“Barang-barangnya sudah siap semua, Nak?” tanya Ana yang memecahkan keheningan.


“Sudah Mi, semua aman!” jawab Kalila menghabisi suapam terakhirnya. “Bu, ayah aku pergi dulu ya! Hes, lo berangkat sama Bang Kama ya!” pamit Kalila dan berjalan pergi diikuti Akbar. Sebelumnya Akbar pamit pada semuanya dan langsung menyusul Kalila sambil mengambil barang-barang bawaan sang kekasih.


“Sayang, aku salah apa lagi?” tanya Akbar yang menyadari kalau sang kekasih kembali marah padanya.


“Aku 'kan sudah bilang, enggak usah jemput! Enggak nurut banget sih!” ucap Kalila kesal.


Akbar tersenyum dan terlebih dahulu menyimpan barang-barang bawaan Kalila di motor, lalu mengambil helm borgo, memakaikan pada Kalila dan memasang kaitan di helm itu agar tidak mudah jatuh.


“Aku hanya kangen sama kamu. Apalagi nanti sore enggak bisa ketemu, apa kamu tega aku sakit menahan rasa rindu?” goda Akbar membuat Kalila mencoba menahan senyumannya. “Berangkat sekarang yuk!” Kalila mengangguk dan naik ke atas motor bebek kesayangan Akbar.


Seperti biasa Kalila memeluk erat tubuh Akbar saat lelaki tampan itu mulai memacu gas motornya. Kalila menyanggah dagunya di bahu Akbar hingga duduk keduanya tidak ada jarak sama sekali.


“Sayang, akhir pekan ini jadi 'kan ketemu ibu?” Kalila mengangguk kesenangan. Ini yang sejak dulu ia tunggu-tunggu setelah berhubungan cukup lama dengan Akbar.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, Kalila sampai di depan kampusnya. Masih nampak sepi, karena memang Kalila datang terlalu pagi. Ia turun dari motor dan Akbar membantu membukakan helmnya.


“Masih pagi, mau masuk sekarang?” tanya Akbar yang berharap Kalila masih mau bersamanya lebih lama.


“Emmm ... nanti aja, tunggu Hesti datang.” seketika Akbar tersenyum membuat Kalila mengetutkan kening merasa heran.


“Kenapa senyum-senyum gitu? Aneh banget!” decak Kalila, malah membuat Aknar tertawa kecil sambil mengacak-acak pelan rambut sang kekasih.


“Sayang, kalau ibu menginginkan kita segera menikah, kamu mau?” akhirnya pertanyaan yang selama ini Akbar pendam ditanyakan pada sang kekasih. Kelila nampak kaget dan hanya diam menatap Akbar serius.


“Ha ha ha, jangan serius gitu ah. Aku cuma becanda kok!” ucap Akbar langsung mengalihkan pertanyaannya, karena ia sudah tahu jawaban apa yang akan dikatakan Kalila diiihat dari mimik wajahnya yang kaget. Kalila langsung menatap sinis dan mencubit perut Akbar hingga si empunya kesakitan.


Di sisi lain, Hesti mengumpat dalam hatinya pada Kalila, karena sudah meninggalkan dia dengan Kama berduaan berangkat ke kampus. Setelah pamit, Kama membantu Hesti membawa barang bawaan dan dimasukkan ke dalam mobil.


“Ada lagi?” tanya Kama dan Hesti hanya menggelengkan kepalanya.


“Nanti besok biar aku yang jemput ya! Jangan lupa bawa minuman jamunya biar enggak sakit.” Kama mencoba mencairkan suasana karena sejak tadi Hesti hanya diam.


“Ah ... Iya bang,” jawab Hesti singkat.


Kama menginjak rem berhenti di lampu merah yang terkenal cukup lama untuk berhenti. Ia langsung melihat ke arah Hesti dan menatap wajahnya hingga membuat Hesti salah tingkah dan tidak berani menatap balik ke arah Kama.


“Ti, kok kamu semenjak lulus berbeda sama aku? Atau mungkin hanya perasaan aku saja?” lagi-lagi Kama membuka suaranya tapi kini yang ia bicarakan adalah hubungan ia dan Hesti yang kian hari kian merengang, tidak seperti dulu lagi.

__ADS_1


“Ah, itu hanya perasaan Bang Kama aja. Aku biasa aja loh!” Hesti mencoba bersikap biasa, karena memang ia tidak mau membuat hatinya sakit setelah ia sering melihat kama bersama teman ceweknya yang berada di fakultas kedokteran yang sama dengan Kama.


Kama tidak menanggapi jawaban Hesti dan mulai melajukan mobilnya saat lampu berubah menjadi warna hijau. Hesti merasa heran, apa ia salah bicara sehingga Kama memilih untuk diam dan lagi tidak berbicara. ‘Ada apa dengan Bang Kama sebenarnya?’ batin Hesti penasaran.


Kama memberhentikan mobilnya tepat di belakang motor Akbar. Hesti membuka sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil, tapi langsung ditahan oleh Kama, sehingga membuat Hesti langsung melirik ke arahnya.


“Eh ... sampe lupa, makasih ya Bang Kama sudah anterin sampai di sini.” Hesti polos tersenyum tanpa tahu maksud Kama menahan tangannya.


“Jaga hati kamu ya!” ucap Kama yang berhasil membuat Hesti berdebar.


“Hah? Ma-maksudnya apa?” tanya Hesti terbata. Kama hanya tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya, tanpa menjawb pertanyaan dari Hesti.


“Liat tuh, Lila udah lihatin kamu terus. Nanti pas jam istirahat aku samperin ya!” Hesti tidak mau berlama-lama berada di dalam mobil itu, karena ia memikirkan kesehatan jantungnya kalau terus berada di sana.


Kama juga turun dari mobil dan mengambil barang-barang lalu memberikannya pada Hesti. “Ingat tadi yang aku ucapkan ya!” kata Kama lagi menegaskan apa yang ia katakan tadi. Seketika wajah Hesti memerah dan mengangguk. Ia mengambil barang bawaannya yang ada di tangan Kama.


“Makasih ya, Bang!” ucap Kalila dan langsung berlari menghampiri Kalila.


“Ish ... Lama banget sih Lo! Kesempatan berduaan sama abang ya?” ucap Kalila menghoda sahabatnya sast sampai menghampiri Kalila.


“Rese lo, La!” kesal Hesti yang mencoba mengatur napasnya.


Sekali lagi Kalila pamit pada kekasihnya sambil mencium tangan sang kekasih. “Mas, pergi dulu ya!” pamit Kalila.

__ADS_1


“Jangan genit ya! Ingat dah ada suami!” canda Akbar yang posesif membuat Hesti seketika mual dengan bualan Akbar pada Kalila, sedangkan dua sejoli itu hanya menertawakan reaksi Hesti.


“Bro, lihat tuh gadis pujaan hati lo udah ada kekasih rupanya,” ucap Bayu pada Ronal yang terus menatap ke arah Kalila.


__ADS_2