
Bab 7 Merasa Bersalah
Kalila masuk ke dalam kelas dengan sangat emosi. Selama perjalanan menuju kelas, Kalila terus saja mengumpat dalam hatinya tentang Akbar.
‘Dasar tua nyebelin! Aku sumpahin lo bakal kepeleset jatuh hari ini,’ gumam Kalila yang tidak sadar akan sumpahnya.
Kalila pun mengambil ponselnya yang sangat dia rindukan. Dia kaget melihat puluhan telepon dari cowok yang selama ini sering kali mengusik hidupnya. ‘Dasar orang toxic,’ lirihnya. Tidak hanya puluhan misscall saja yang masuk, tetapi chat juga demikian. Kalila hanya menatap dan tidak membuka isi chat dari Danes, dokter magang di sekolah Kalila. Saat ini Danez izin, karena ada ujian di kampusnya.
Danes berusia 20 tahun jurusan kedokteran disalah satu universitas negeri di Jakarta. Dia sengaja mengambil tawaran dari sekolahnya terdahulu untuk menjadi dokter magang di sana. Saat Kalila pertama kali masuk sekolah, Danes sudah tergila-gila dengan gayanya. Saat itu Danes duduk di bangku kelas XII. Sudah hampir tiga tahun berlalu, tapi Danes tidak pernah berhasil mendapatkan hati Kalila.
“Kenapa muka lo kusut amat?” tanya Hesti yang baru datang dan langsung duduk di sebelah Kalila. Dia hanya menggelengkan kepala dan menenggelamkan wajahnya masuk ke dalam lipatan lengan.
“... Lo masih enggak enak badan?” tanya Hesti khawatir. Entah kenapa dia merasa kesal dengan apa yang Hesti katakan. Karena Hesti kemarin, dia harus berurusan dengan Akbar. Kalila langsung teringat tentang surat pernyataan yang harus ditulisnya 100 kali. ‘Damd!’ gumamnya dengan penuh kemarahan.
“Tahu ah! Jangan tegur gue! Gue lagi enggak mood,” ucap Kalila dan kembali menenggelamkan wajahnya. Hesti hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
Tidak lama guru bahasa inggris datang. Selama pelajaran Kalila mengerjakan hukuman yang diberikan Akbar padanya. Tidak sama sekali Kalila memperhatikan guru yang ada di depan. Hesti pun mengira Kalila sedang menyalin tulisan di papan tulis. Dia tidak dapat melihat apa yang Kalila tulis, karena Kalila menghalanginya dengan buku.
Sebenarnya Hesti merasa ada yang aneh dengan Kalila pagi ini. Tidak biasanya dia bertingkah laku seperti itu. Tapi, Hesti hanya memendam rasa penasarannya, karena dia tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk banyak bertanya pada Kalila. Tidak terasa dua jam berlalu, pelajaran bahasa Inggris pun selesai. Dan Kalila juga sudah menyelsaikan hukumannya.
__ADS_1
“Persiapkan diri kalian untuk Ujian Nasional bulan depan ya. Ibu berharap kalian semua lulus dengan nilai yang terbaik,” ucap guru bahasa inggris dan semua siswa mengamininya.
Sebenarnya Kalila malas di jam mata pelajaran yang kedua. Karena itu adalah jam Akbar untuk mengajar di kelasnya. Lima belas menit berlalu, tetapi Akbar 'tak kunjung masuk membuat siswa semua heran. Pasalnya Akbar adalah guru yang selalu on time. Biasanya dia sudah berdiri di depan kelas menunggu pergantian mata pelajaran, tapi hari ini tidak. Semua siswa nampak heran dan ketua kelas pun akhirnya pergi untuk menghampiri Akbar di ruang guru.
Kelas nampak gaduh, para siswa saling bercanda dan saling bercerita berbagai macam hal. Kalila sendiri memilih untuk memainkan ponsel yang dia rindukan. Kini Kalila membuka chat dari Danes dan membaca semua pesannya. Di dalam isi pesan itu, pada intinya kalau Danes sangat merindukan dirinya. Membaca semua isi pesan membuat Kalila merasa jijik dan mual. Dia memang sangat tidak menyukai cowok yang hanya mengucapkan kata-kata manis dan gombalan.
“Guys! Jam mata pelajaran Pak Akbar kosong. Baliau tadi izin tidak masuk kelas dan hanya memberikan tugas,” teriak Beni dan membuat anak laki-laki bersorak sedangkan anak perempuan mendengus sedih. Memang mata pelajaran Akbar sangat ditunggu oleh anak-anak perempuan di kelas Kalila kecuali dirinya.
Mendengar itu Kalila mengerutkan dahinya. Dia penasaran apa yang terjadi dengan Akbar, pasalnya tadi pagi dia dalam keadaan baik-baik saja. Karena rasa penasaran Kalila, dia pun hendeka mencari Akbar sambil membawa surat pernyataan yang sudah selesai dia kerjakan.
“La, lo mau kemana?” tanya Hesti.
“Mau dianter enggak?” Kalila tersenyum menggelengkan kepala dan bergegas pergi ke UKS untuk mencari Akbar.
Langkah Kalila seketika berhenti di depan UKS saat melihat Gendis yang juga sedang berada di sana. ‘Ada apa?’ tanya Kalila penasaran.
“Pak Akbar beneran tidak ada yang luka? Kok Pak Akbar bisa jatuh sih?” tanya Bu Gendis yang membuat Kalila semakin penasaran. Kalila mencoba mendekat untuk mendengar apa yang dibicarakan Gendis.
“Iya Bu, saya tidak melihat lantai yang basah tadi. Ya pinggang saya sedikit sakit saja, nanti juga kalau sudah diurut bakalan sembuh. Makasih ya Bu, tadi sudah membantu saya mencari celana.” Deg ... mendengar itu Kalila langsung keluar dari UKS. Dia tidak menyangka apa yang dia katakan tadi benar- benar terjadi.
__ADS_1
‘Ya Tuhan, apa itu semua karena ucapan aku tadi?’ gumam Kalila merasa sangat bersalah. Kalila pun kembali ke dalam kelas dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
***
Dua puluh menit yang lalu.
Akbar melihat jam yang ada di tangannya. Dia segera bersiap untuk mengisi kelas. Akbar menyusun semua buku-buku dan terlebih dahulu pergi ke toilet. Setibanya di toilet, Akbar terjatuh dan membuat ember yang berisi air tumpah, hingga membuat tubuhnya yang basah kuyup tersiram air pel.
“Pak Akbar! Aduh maaf, Pak! Saya sedang menyikat lantai dengan sabun,” ucap office boy yang bertugas membersihkan kamar mandi. Akbar pun di bantu OB untuk berdiri. Berulang kali OB itu meminta maaf pada Akbar karena rasa bersalahnya.
“Sudah Pak, saya tidak apa-apa,” kata Akbar kembali berjalan menuju UKS sambil membersihkan dirinya.
‘Tidak mungkin aku mengajar dengan baju yang basah seperti ini,’ gumam Akbar dan dia mengambil ponselnya untuk memberitahukan ke ruang guru kalau dia tidak bisa mengisi kelasnya hari ini.
Akbar membuka kemejanya di UKS dan menganti pakaian yang ada di sana. Mendengar Akbar yang izin, Gendis segera menghampiri Akbar karena merasa khawatir.
“Pak Akbar beneran tidak ada yang luka? Kok Pak Akbar bisa jatuh sih?” tanya Gendis.
“Iya Bu, saya tidak melihat lantai yang basah tadi. Ya pinggang saya sedikit sakit saja, nanti juga kalau sudah diurut bakalan sembuh. Makasih ya Bu, tadi sudah membantu saya mencari celana.” Gendis mengangguk tersenyum. Dia memang sengaja meminjam celana olahraga dari guru penjas, karena di UKS hanya tersedia pakaian atasan saja, sedangkan celana Akbar pun seluruhnya basah kuyup.
__ADS_1
~Bersambung~