
Semalaman Akbar tidak bisa dengan tenang istirahat. Suara seorang pria yang memanggil kekasihnya terus terngiang-ngiang sehingga membuat dadanya terasa sesak. Pagi itu Akbar sudah siap pergi mengajar. Seperti biasa terlebih dahulu ia sarapan dan menuju meja makan. Di sana sudah ada Aisya dan juga ibunya.
“Loh Mas, kok lesu gitu? Apa kamu sedang tidak enak badan?” tanya Nurma sembari memegang kening anaknya.
Akbar menggeleng tersenyum sambil menggenggam tangan sang ibu, “Mas enggak apa-apa Bu. Hanya sedikit kurang tidur aja.”
“Jangan kebanyakan begadang, enggak baik untuk kesehatan. Oh iya Mas, besok jadi pacarmu ke sini?” tanya Nurma yang membuat Akbar sadar. Ia melupakan janjinya pada Kalila untuk membawanya bertemu dengan sang ibu.
“Kemungkinan jadi, Bu. Nanti Mas tanyain lagi ke Kalila. De, mau bareng pergi ke sekolahnya?” tanya Akbar pada adik kesayangannya yang sedang menikmati makanannya. Aisyah mengangguk tersenyum dan Akbar pun ikut tersenyum sambil mengusap kepala adiknya.
Setelah menghabiskan sarapan, Akbar juga Aisyah pamit dan tidak lupa mencium punggung tangan ibunya. Akbar pun melajukan motor bebek kesayangannya, terlebih dahulu menuju sekolah sang adik.
“Mas, aku boleh bicara sesuatu?” ucap Aisya membuat Akbar mengangguk menjawab pertanyaan adiknya. “Akhir-akhir ini ibu selalu mengusap dadanya. Setiap aku tanya, ibu hanya bilang masuk angin, jadi terasa sesak. Aku juga sering melihat ibu menangis sambil memeluk foto ayah. Mas, ibu sakit apa sebenarnya?” mendengar itu membuat Akbar kaget. Ia berhenti tepat di depan sekolah sang adik, tapi ia tidak langsung pergi.
“Apa kamu benar-benar melihat itu?” tanya Akbar yang sangat khawatir.
“Benar Mas. Kadang aku melihat Ibu juga kesulitan untuk bernapas. Aku suka membantu ibu mengurut pundaknya karena ibu selalu mengeluh sakit.” Akbar benar-benar merasa khawatir, tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa agar sang adik tidak terlalu kepikiran dengan sakit yang di derita sang ibu.
“Sepertinya ibu benar, Dek. Ibu hanya masuk angin, kamu tidak perlu khawatir ya! Lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam, nanti ke siangan loh!” Akbar tersenyum dan membuat sang adik tersenyum mengangguk, mencium punggung tangan Akbar dan masuk ke dalam sambil melambaikan tangannya.
Akbar membuang napas kasar. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Ia memilih kembali ke rumah, karena semenjak mendengar pembicaraan adiknya, hati Akbar mulai tidak tenang. Sesampai di rumah, Akbar masuk ke dalam dan mencari keberadaan ibunya.
“Bu, ibu!” teriak Akbar sambil mencari setiap ruangan, tapi tidak juga mendengar jawaban dari sang ibu.
Ketika Akbar masuk ke dalam kamar, matanya terbelalak kaget saat melihat tubuh ibunya sudah tergeletak di atas lantai. Sontak Akbar langsung berteriak dan memeluk tubuh ibunya.
__ADS_1
“Ibu!” Akbar nampak panik. Ia merogoh ponselnya di saku dan menghubungi transportasi online lalu membawa ibunya ke rumah sakit.
Beruntungnya mobil online itu tidak lama sehingga ia dengan cepat menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, para perawat membantu Akbar membopong tubuh Nurma naik ke atas brangkar.
“Maaf Mas, mohon untuk tunggu di luar. Kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu,” ucap salah satu perawat yang melarang Akbar untuk ikut masuk ke dalam ruangan.
“Sus, berikan yang terbaik untuk ibu saya!” perawat itu hanya mengangguk sambil menutup pintu.
Akbar mondar mandir di depan pintu ruangan menunggu seorang dokter keluar dari sana dan menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi pada sang ibu. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Dokter pun keluar dari ruangan.
“Dok, bagaimana keadaan ibu saya?” tanya Akbar dengan cepat menghampiri dokter muda itu.
“Bisa ikut saya ke ruangan?” Akbar mengangguk. Selama perjalanan ke ruangan, Akbar terus berdoa dalam hatinya agar tidak terjadi sesuatu pada sang ibu.
“Apa sebenarnya yang terjadi pada ibu saya, Dok? Akhir-akhir ini beliau selalu merasa sesak dan sakit di bagian dadanya.” Akbar menjelaskan apa yang tadi adiknya ceritakan padanya.
“Maaf sebelumnya, Pak, apakah ibu anda punya keturunan sakit jantung dari keluarga?” tanya dokter itu membuat Akbar mengingat-ingat keluarganya.
“Emmm ... Sepertinya kakek saya punya, Dok dan beliau juga meninggalnya karena penyakit jantung.” Dokter itu mengangguk mendengar penjelasan dari Akbar.
“Mohon maaf saya harus katakan, kalau ibu anda mengalami penyakit jantung yang lumayan parah. Dia harus mendapatkan perawatan yang cukup membutuhkan biaya yang sangat banyak. Saran saya lebih baik lakukan operasi, karena ketup jantungnya yang berfungsi tidak baik. Akan lebih baik kita mengganti katup jantung ibu anda.” mendengar penjelasan dari Dokter membuat dunia Akbar serasa hancur.
“Tidak peduli berapapun itu, Dok, aku mohon agar melakukan yang terbaik untuk ibu saya.” Akbar tidak peduli berapa yang harus ia keluarkan, asalkan sang ibu bisa sembuh dari penyakitnya.
“Baik Pak. Untuk sementara Bu Nurma kita pindahkan dulu ke ruangan sambil kondisinya stabil. Untuk jadwal operasi, kita lihat dulu perkembangan dari Bu Nurma ya, Pak.” Akbar mengangguk.
__ADS_1
Akbar pun keluar dari ruangan dokter dan memilih duduk terlebih dahulu. Ia tertunduk sambil meremas kepalanya merasa sangat pusing. Seketika ia berpikir sang ibu yang selama ini menyuruh dia untuk segera menikah. Akbar tak kuasa menahan tangisnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
—
Serangkaian kegiatan kampus dan penutupan masa orientasi mahasiswa selesai. Kini Kalila, Hesti dan juga Kama resmi sudah menjadi mahasiswa di salah satu universitas negeri di Jakarta.
“La, kamu enggak mau bareng kita?” tanya Kama sambil mengambil barang bawaannya dari tangan Hesti.
Kalila menggelengkan kepalanya sambil terus berusaha terus menghubungi sang kekasih. “Kalian duluan saja! Aku sudah janji bakal pulang sama Mas Akbar.”
“Kamu beneran enggak apa-apa kita tinggal?” kini Hesti bertanya untuk memastikan jawaban Kalia. Wanita cantik itu hanya mengangguk tersenyum.
Kama pun membuka pintu mobilnya untuh Hesti. Keduanya pamit pada Kalila dan langsung ke dalam mobil “Capek?” tanya Kama sambil melajukan mobil kesayangannya.
“Emmm ... Enggak juga. Kamu capek?” tanya Hesti balik, karena sejujurnya ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
“Pikiran aku yang capek, sampai enggak bisa tidur.” mendengar itu Hesti mengerutkan keningnya.
“Pikiran kamu emang kenapa?” tanya Hesti polos.
“Capek mikirin kamu. Kenapa sih kamu enggak bisa diem aja gitu di sini, jangan jalan-jalan di pikiran aku terus,” ucap Kama sambil menarik tangan Hesti dan di simpannya di atas dada. Menyadari akan hal itu, Hesti bergegas menarik tangannya dan memalingkan wajahnya yang kini merah bagaikan tomat.
“His, gombal!” kesal Hesti. Kama memakirkan mobilnya di pinggir tepat di depan taman kota. Ia langsung mengubah tempat duduknya menghadap Hesti hingga membuat dia kaget dan salah tingkah.
“Hes, aku beneran suka sama kamu. Maafkan aku ya selama ini tidak menyadari perasaan aku ke kamu. Jujur, hatiku sakit dan ingin rasanya aku marah hanya dengan membayangkan kamu dekat dengan lelaki lain. Aku cinta sama kamu, Hesti!” mendengar pengakuan Kama membuat Hesti kaget menutup kedua mulutnya.
__ADS_1