Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 45 Percaya


__ADS_3

Bab 45 Percaya


Kalila dan Nisa mulai bergabung dengan kelompok yang sudah di tentukan oleh panitia. Masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh orang mahasiswa baru. Selagi menunggu panitia menentukan kelompok yang akan mereka pegang, para mahasiswa berkenalan satu dengan lainnya dengan sesama kelompok mereka.


“Bro, awas mata lo jatuh!” ucap salah satu panitia pada pria yang memiliki lesung pipi itu.


“Baru kali ini gue lihat cewek cantik seperti dia. Pokoknya kelompok dia harus dipegang olehku!” ucap Ronal— mahasiswa tingkat dua jurusan management ekonomi, yang terpana melihat kecantikan Kalila.


“Tumben mata lo kebuka sama cewek cantik. Perasaan dari dulu banyak cewek cantik yang ngejar-ngejar lo tidak ada satupun yang bisa buat lo terpanas seperti ini.”


”Kalau yang ini beda, gue harus dapetin dia!” Hary teman dekat Ronal hanya menggelengkan kepala mereka dan bergabung dengan panitia lainnya yang sedang menentukan kelompok yang akan mereka pegang.


Akhirnya Ronal bisa memegang kelompok yang dianggotakan oleh Kalila. Semua panitia sudah memegang kelompok masing-masing dan sesuai arahan mereka akan melakukan pengenalan menyusuri gedung fakultas ekonomi.


“Oke semua, perkenalkan saya adalah ketua bimbingan kelompok kalian. Nama saya adalah Ronald dan ini rekan saya Bayu.” Ronal memperkenalkan diri dan disambut oleh kelompoknya dengan tepuk tangan.


“Sumpah gue nggak nyangka cowok yang tadi ada di depan gerbang jadi ketua kelompok Ya Tuhan mimpi apa aku semalam,” bisik Hesti yang nampak kegirangan dengan ketua kelompoknya dan mendapat lirikan sinis dari sang sahabat.


“Berani lo tebar pesona gue bongkar semua isi dari lo di depan bang Kama!”


”His ... Mulai deh ah ngancem mulu dari tadi! Lu tenang aja walaupun mata gua jelalatan kayak gini, gue tetap cinta mati sama abang lo!”


“Nah gitu dong!”


Kalila memang menginginkan sahabatnya untuk menjadi pasangan kembarannya itu, karena dia tahu betul Bagaimana sifat Hesti dan juga semua tentang sang sahabat. Kalila sampai sekarang berusaha untuk mendekatkan Hesti dengan Kama, walaupun sebenarnya belum ada tanda-tanda kembarannya itu menyukai balik Hesti.


Setelah beres mengelilingi fakultas ekonomi, kini para mahasiswa angkatan baru dipersilakan untuk istirahat sebelum melanjutkan kegiatan yang lainnya. Kebetulan fakultas ekonomi dan kedokteran jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga Kalila menyuruh abangnya untuk datang menghampiri dia dengan alasan lupa membawa dompet.


“Bang, sini!” Kalila melambaikan tangan ketika ia ada di taman melihat kembarannya sedang mencari keberadaan dirinya.


“Gila! Lo ngapain suruh bang Kama ke sini? Ngaco ah!” jelas Hesti langsung merapikan penampilannya salting ketika melihat kamar berjalan mendekat menghampiri mereka.


Melihat sahabatnya yang seperti itu membuat Kalila tertawa kecil. ”De, Kenapa sih kamu selalu ceroboh kaya gini? Pake ketinggalan fompet segala lagi!” kesal Kama sambil mengambil uang di dompetnya.


“Loh La, tadi 'kan—” dengan cepat Kalila menginjak kaki Hesti sehingga membuat ia merintis kesakitan, “Lila, sakit tahu!”


”Hesti, kamu kenapa? Sakit?” Kama nampak khawatir sehingga membuat Kalila tersenyum mempunyai ide untuk keduanya lebih dekat lagi.

__ADS_1


“Iya Bang, Hesti tadi bilang kalau dia sakit perut sejak tadi pagi.”


”Lila, kapan ak—” lagi-lagi Kalila menginjak kaki Hesti lalu ia berteriak, “Aw!”


”Hesti, sakit banget ya? Lebih baik kamu ke rumah sakit aja!” Hesti melotot kaget dan melihat ke arah Kalila yang sibuk menahan tawanya.


”Ah ... Enggak kok bang, ini hanya sakit PMS aja kok. Tidak perlu dikhawatirkan.”


”Oh lagi datang bulan. Ya sudah kamu istirahat saja, izin ke panitia ya. Nih uang buat kamu, besok jangan lupa bawa dompetnya!” Kalila mengambil uang dari Kama, sedangkan Hesti hanya mengangguk terdiam dengan wajah yang memerah karena malu.


Setelah Kama pergi meninggalkan keduanya, Kalila langsung mengeluarkan tawanya dengan puas melihat Hesti yang salah tingkah di depan Kama. Hesti melirik sinis ke arah Kalila sehingga membuat sahabatnya itu menghentikan tawanya.


“Iya-iya ampun, jangan ngambek napa? Kalau lo ngambek, mirip emak-emak deh!”


“Tahu ah, nyebelin banget!” Hesti beranjak dari tempat duduk dan berlari menuju kelompok ya yang sudah mulai berkumpul. Kalila pun iku berlari kecil menyusul dirinya.


Serangkaian kegiatan sudah dilakukan di hari pertama kali sebagai seorang mahasiswa baru. Hari sudah semakin sore dan seperti yang sudah direncanakan Kalila dan Hesti akan pergi ke mall untuk membeli persiapan besok menginap di kampus.


“Kalila! Nama kamu Kalila 'kan?” sapa Ronal yang turun dari mobilnya ketika Kalila berjalan keluar dari gerbang kampus.


“Ah iya Kak, saya Kalila.” Kalila mengulurkan tangannya membalas uluran tangan Ronal.


“Mau pulang? Aku anter aja yuk!”


“Bo—” ketika Hesti ingin menjawabnya dengan cepat Kalila memotong pembicaraan sahabatnya itu.


“Ah ... Maaf kak, aku sebentar lagi mau di jemput, mungkin lain kali. Terimakasih atas tawarannya!” Kalila mendudukkan kepalanya dan berjalan sambil menarik tangan Hesti yang masih terpesona dengan ketampanan Ronal.


Ronal membuang napas kasar dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


“Sang pangeran kampus ditolak pertama kalinya sama cewek, ini berita yang luar biasa!” goda Bayu sambil tertawa puas.


“Cewek kalau sikapnya kaya gitu, malah bikin cowok penasaran tahu enggak. Lihat aja nanti, dia pasti bakal ngejar-ngejar gue!” Bayu hanya tersenyum mengangkat bahunya saat melihat Ronal yang begitu percaya diri bisa memenangkan hati Kalila.


“Ih La, lo mah bukannya diterima aja tuh tawaran Ronal, jadi 'kan kita enggak perlu naik bis kota seperti ini. Kenapa sih, lo takut Pak Akbar tahu? Yaelah, lo di sini jaga hati buat doi, kita 'kan enggak tahu doi kaya gimana, kali aja dia di sekolah tebar pesona, mana ada yang tahu.”


“Gue percaya sama dia. Apapun yang terjadi, gue yakin kalau cinta dia buat gue. Bukankah salam hubungan harus selalu ada saling percaya?”

__ADS_1


“Ceile ... Sok dewasa banget sih lo. Jangan cepet dewasa dong, enggak rame ah! Oh iya, bagaimana sama orang misterius yang di anyer? Apa masih hubungin lo?”


Kalila menaikkan bahunya, ”Enggak pernah sama sekali, soalnya Mas Akbar langsung blokir nomor dia dan lagi aku enggak peduli lagi. Pokoknya di mata gue hanya ada Akbar seorang.”


“Mendadak perut gue sakit mau muntah!” Kalila hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya.


Memang benar, di mata Kalila sekarang hanya ada Akbar seorang. Dia tidak peduli berapa banyak orang yang menyukai dirinya, atau mencari perhatian dia, yang terpenting sekarang hubungan dia dan Akbar berjalan baik sampai mereka siap menuju ke jenjang yang lebih serius lagi.


Sampai di Mall, Akbar melambaikan tangannya saat melihat Kalila dan Hesti jalan menuju pintu masuk mall. Seketika langkah Kalila terhenti, saat melihat seorang wanita yang muncul dari belakang tubuh sang kekasih sambil tersenyum.


Jangan lupa


•Like


•Komen


•Vote ya


Follow akun Instagram Author yuk @Septriani_wulan15



Sambil nunggu novel ini, baca juga karya Fanfic Author yang pertama di F1220 yuks GRATISS



Judul : Si Culun Milik Kim Taehyung


Bermula dari sebuah acara pentas seni di kampusnya, Shin Min Ah harus terjerat hubungan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Min Ah tidak pernah berpikir kalau ia bisa dekat dengan bias yang selama ini ia kagumi, bahkan ia tidak menyangka kalau pria yang menjadi kekasihnya saat ini adalah sorang penyanyi solo yang sedang naik daun di Korea.



“Min Ah, mulai sekarang kamu adalah milikku!”



Min Ah tidak mengerti kenapa Kim Taehyung mengatakan hal itu padanya. Menjadi kekasih dari seorang artis ternama tidak mudah buat Min Ah. Ia harus menjadi sasaran penggemar Kim Taehyung di saat pria itu sedang dikejar-kejar oleh pengemarnya.

__ADS_1



Apakah cinta Taehyung tulus pada Shin Min Ah? Ataukah hanya sekedar menjadikan wanita itu sebagai pelindung dirinya?


__ADS_2