Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 39 Panik


__ADS_3

Bab 39 Panik


Kalila tidak membuka surat itu dan memilih memasukkan ke dalam tasnya. Dia kembali mencari keberadaan Akbar yang sejak tadi tidak nampak dalam pandangannya. Kalila pun menuruni tangga sebagai pembatas kolam renang dan juga pantai. Seketika langkah dia terhenti, jantungnya terasa sangat sakit saat melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain.


Kalila pun memutuskan untuk lebih dekat dengan Akbar yang masih asik mengobrol sama wanita yang entah siapa itu. Dia membuang napas kasar saat mengetahui wanita yang bersama dengan kekasihnya.


“Cih ... ngapain nyusul ke sini sih!” kesal Kalila saat melihat Bu Gendis yang menyusul pergi ke Anyer.


Kalila memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia sangat kesal dengan Akbar yang masih ramah dengan wanita-wanita yang mengejarnya. ‘Gue aja enggak boleh deket-deket sama cowok lain. Lah dia sendiri malah masang wajah yang ramah gitu. Awas aja nanti!’ gumamnya sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


Seketika Kalila mengingat amplop kuning yang tadi diberikan waiters di pinggir kolam. Dia langsung beranjak untuk mengambil tas selempangnya yang berada di atas meja. Kalila pun mengambil amplop itu dan perlahan membukanya.


‘Kalila jangan lupa nanti malam ya, selepas acara di pinggir pantai. Aku menunggumu!’


Kalila semakin penasaran siapa orang yang mengajaknya bertemu, sedangkan semua teman-temannya tidak ada yang mencirigakan. Ponsel Kalila berdering dan membuyarkan lamunannya. Dia melihat siapa yang meneleponnya dan itu ternyata Akbar.


Akbar :“Kamu di mana? Semua sedang berkumpul di sini!”


Kalila :“Kamar!” jawabnya singkat.


Akbar :“Kenapa? Apa kamu sedang tidak enak badan?”


Kalila :“Enggak kok, cuma enggak enak hati aja.” jawaban Kalila membuat Akbar semakin binggung .

__ADS_1


Akbar :“Ya sudah aku ke sana ya!” Akbar mematikan teleponnya saat Kalila ingin bicara.


‘Cih ... ini orang kenapa sih hari ini nyebelin banget!’ gumamnya kesal.


Tidak lama Akbar pun datang dan mengetuk pintu kamar Kalila. Kalila sendiri sangat malas berjumpa dengan kekasihnya. Dia hanya diam di kasur tidak ingin memedulikan Akbar. Ponsel dan suara ketukan terus berbunyi, sehingga membuat Kalila akhirnya membukakan pintu kamarnya.


“Kenapa lama sih bukanya? Kamu enggak lagi sakit 'kan?" tanya Akbar sambil memegang dahinya. Dengan cepat Kalila menepis tangan Akbar sehingga membuatnya merasa kebinggungan.


“... kamu marah sama aku?” Akbar menanyakan hal ini, karena melihat sikap Kalila yang tidak seperti biasanya.


“Menurut kamu?” Akbar melihat sekitar dan langsung menarik tangan Kalila masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Akbar menyenderkan tubuh Kalila tepat di belakang pintu dan menyenderkan lengannya di atas kepala Kalila, membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


Akbar menatap serius ke arah Kalila. Kini keduanya sudah tidak ada jarak lagi.


“Enggak kenapa-kenapa!” jawab Kalila gelagapan. Akbar semakin mendekatkan wajahnya membuat Kalila semakin panik dan mendorong tubuh kekasihnya itu. Dia langsung berjalan masuk ke dalam dan duduk di tepi kasur.


“La, kamu kenapa? Bilang sama aku kalau aku ada salah!” Kalila menundukkan kepalanya dengan wajah yang cemberut. Akbar berlutut di depan Kalila sambil memegang tangannya. Dia menatap Kalila dengan serius membuat Kalila tidak bisa menyimpan apapun dari Akbar.


“Aku enggak suka kamu dekat-dekat dengan Bu Gendis. Lagi pula ngapain dia ke sini?” ucap Kalila membuat Akbar tertawa.


“Sayang, memangnya kamu enggak tahu ya kalau Bu Gendis baru saja menikah? Tadi secara tidak sengaja kita ketemu, karena dia sedang bulan madu dengan suaminya,” ucap Akbar sambil mengusap kepala Kalila dan duduk di pinggir kasur berhadapan dengannya.


“Serius Sayang? Kamu lagi enggak bohong 'kan?”

__ADS_1


“Ya ngapain juga sih aku bohong.” Kalila tersenyum lebar dan tidak sengaja langsung memeluk tubuh Akbar. Akbar kaget begitu juga dengan Kalila. Dia langsung melepaskan pelukannya dan mundur sedikit menjauh dari Kekasihnya.


‘Bodoh! Apa yang lo lakuin Kalila!’ Kalila mengetuk dirinya sendiri. Jantungnya berdetak dengan cepat dan tertunduk malu. Akbar yang melihatnya tersenyum dan mendekat Kalila lalu memeluknya.


“Kenapa dilepas coba! Aku seneng kok,” ucap Akbar membuat Kalila tersenyum dan kembali memeluk tubuh mungil Kalila.


Tok! Tok! “La, buka cepet dingin banget gue!” teriak Hesti membuat Kalila mendorong tubuh Akbar. Kini keduanya sangat panik dan saling menatap.


“Mas, bagaimana ini?” keduanya tampak binggung. Kalila mendorong tubuh Akbar dari belakang untuk masuk kamar mandi, tapi setelah dipikir-pikir kedua temannya pasti akan menggunakan kamar mandi setelah berenang. Lalu Kalila menarik tangan Akbar masuk ke dalam lemari, tapi lemari itu terlalu kecil untuk tubuhnya.


“La, cepetan!” teriak Hesti dan Annisa membuat keduanya semakin panik.


“Mas, gimana? Mas sih pake masuk segala!”


“Ya kamu pake marah-marah enggak jelas juga!” Keduanya malah saling menyalahkan dan tidak menemukan solusi.


Hesti dan Annisa terus mengetuk pintu dan akhirnya Akbar pun bersembunyi di samping kasur Kalila ditutupi koper dan juga selimut. Kalila pun bergegas membuka pintu dan berlari kembali berdiri untuk menutupi Akbar yang berada di bawah.


“Ish ... lo bikin orang kedinginan tahu! Lagi apa sih, lama banget!" kesal Hesti yang sudah menggigil menunggunya membuka pintu.


“Sorry-Sorry, tadi gue lagi di toilet jadi enggak denger.” Kalila terpaksa berbohong.


“La, ngapain lo berdiri di sana?” ucap Hesti membuat jatung Kalila berdetak tidak karuan. Ditambah Annisa langsung melirik ke arahnya membuat dia semakin panik dan tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2