
Bab 43 Misterius
Dini hari Kalila sudah bangun dan membersihkan dirinya. Dia berniat untuk mencari waiters yang memberikan surat padanya, sebelum semua orang bangun dan berjalan menuju resto. Perlahan Kalila membuka pintu kamar dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Akbar yang juga baru keluar dari kamarnya. Akbar mengerutkan keningnya dan berjalan menghampiri Kalila.
“Loh, ada apa pagi-pagi udah keluar?” tanya Akbar yang membuat Kalila salah tingkah.
“Aku ingin menghirup udara pagi, Mas. Mas sendiri kenapa pagi-pagi sudah keluar?”
“Oh, aku ingin memastikan semua siswa aja.
Ya udah kita jalan bareng keluar yuk!” Kalila mengangguk. Kali ini dia hanya bisa pasrah mengikuti Akbar.
Kalila memilih duduk di bangku pinggir pantai sambil menunggu Akbar yang sedang bicara dengan pihak hotel. Seketika ponselnya berdering, Kalila menerutkan keningnya saat melihat nomor yang tidak diketahui yang masuk di layar ponselnya. Kalila pun mengangkat teleponnya, tapi tidak mengeluarkan suaranya.
Di seberang telepon sana terdengar suara napas, tapi sama dia tidak mengeluarkan suaranya. Kalila tetap bertahan diam dan berusaha mendengar suara di seberang sana. Tidak lama telepon itu kembali mati sehingga memebuat Kalila menatap ponselnya merasa heran.
‘Jangan-jangan orang ini adalah orang yang mengirim aku surat?’
Kalila menyimpan nomor itu dengan nama 'Misterius' lalu mengirimkan pesan singkat padanya.
“Maaf, kamu siapa?” Kalila terus menatap ponselnya, menunggu pesannya dibaca oleh orang misteri itu.
“Sayang, kamu sedang mengirimi pesan sama siapa?” tanya Akbar yang berhasi mengangetkan sang kekasih.
“Bukan siapa-siapa kok.” Kalila dengan celat mengeluarkan layar ponselnya di halaman utama.
Akbar merasa kalau sejak kamarin kekasihnya menyembunyikan sesatu dari dia. Ia pun mengambil ponsel Kalila dan melihat isi pesannya. Kalila membuang napas kasar sambil tertunduk, sedangkan Akbar menatapnya sinis dan lansung menghapus nomor telepon yang tadi baru di simpan oleh Kalila.
__ADS_1
Akbar memasukkan ponsel Kalila ke dalam sakunya dan segera ke restoran untuk menghampiri para siswanya sebelum mereka pergi dengan acara masing-masing. Kalila tahu kalau akan terjadi perang dunia antara dia dan Akbar. Ia pun pastah mengikuti langkah Akbar menuju restoran.
”Lila, lo kok enggak nunggin gue sih, jahat banget!” teriak Hesti sambil memeluknya dari belakang.
Menyadari wajah Kalila yang nampak masam, membuat Hesti terus menatapnya dengan tajam sehingga membuat si empunya mengeutkan kening merasa heran dengan sang sahabat.
”Kenapa lagi dengan Pak Akbar? Perasaan akhir-akhir ini lo sama doi berantem mulu enggak ada akur-akurnya. Apa gara-gara orang misterius itu lagi?” Kalila hanya mengangguk lemas membuat sahabatnya pun merasa kesal.
”Emmm ... Kalau gue jadi Pak Akbar, gue juga akan melakukan hal yang sama. Lagian ngapain sih lo masih mikirin orang yang nggak jelas seperti itu? Jelas Pak Akbar marah karena perhatian lu selalu terfokus pada orang misterius itu. Sudah enggak usah dipikirin lagi, lebih baik yang lo pikirin sekarang bagaimana caranya lo buat Pak Akbar agar dia tidak marah lagi.” Kalila membuang napasnya kasar lalu duduk di bangku yang kosong sambil menatap ombak laut yang silih berganti.
Sejak tadi tatapan Kalila terus menetapkan arah Akbar yang sedang sibuk menghampiri satu persatu siswanya untuk menanyakan ke mana tujuan mereka setelah sarapan. Karena Akbar harus tahu ke mana arah tujuan setiap siswanya. Setelah memastikan semua siswanya sudah sarapan, Akbar terlebih dahulu mengumpulkan mereka di depan hotel, sebelum akhirnya mereka mempunyai acara masing-masing.
”Oke, saya akan memberikan waktu selama lima jam untuk kalian bisa menikmati waktu masing-masing kalian. Saya harap jam 01.00 siang nanti semua berkumpul kembali di hotel karena nanti sore kita sudah akan kembali ke Jakarta.”
Mendengar hal itu para siswa bersorak karena mereka masih belum puas untuk berlibur bersama. ”Sudah- sudah, lebih baik kalian semua pergi sekarang, atau tidak sama sekali!” ucap Akbar.
“Lo mau ke mana? Ayo kita beli oleh-oleh!”
“Sepertinya aku tidak ikut, Hes. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Mas Akbar. Kamu tidak apa-apa 'kan bergabung dengan yang lainnya?”
”His ... Cinta itu benar-benar rumit ya! Tapi kamu janji padaku tidak melakukan hal yang aneh ya!” Kalila tersemyum mengangguk sambil mengangkat kelima jarinya berjanji di hadapan sang sahabat.
Setelah mendapatkan izin dari sang sahabat dengan cepat Hesti langsung menyusul sang kekasih yang sudah kembali ke kamarnya. Akbar memang memilih untuk kembali ke kamar dan tidak ikut berkeliling dengan para siswanya, karena ia ingin istirahat sejenak setelah ia harus mengawasi siswanya semalaman.
Sampai di depan pintu kamar Akbar, Kalila diam sejenak berdiri di depan pintu kamarnya. Ia menarik nafas dalam dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar. Tapi belum sampai tangannya menyentuh daun pintu Akbar keluar dari kamarnya sehingga membuat keduanya melotot kaget.
”Mau apa di sini? Bukannya kamu tadi pergi bersama?”
__ADS_1
Kalila melihat sekitar lalu menarik tangan sa kekasih masuk dalam kamar.
“Maafkan aku, Sayang! Kamu jangan marah-marah terus dong!”
Mendengar itu Akbar hanya melirik ke arah Kalila, lalu berjalan masuk ke dalam dan duduk di tepi kasur. Kalila pun mengikuti sang kekasih lalu duduk di sebelahnya dan menarik tnagan Akbar dalam genggamannya.
”Mas, kamu marah banget ya sama aku? Aku minta maaf! Aku hanya penasaran dengan orang misterius itu. Aku janji sama kamu kalau aku—” Akbar mengubah posisi duduknya hingga menatap ke arah Kalila dna berhasi membuat kekasihnya seketika terdiam.
“Lila, aku sudah bilang sama kamu berapa kali, kalau aku tidak suka perhatian kamu buat lelaki lain. Aku menjalin hubungan dengamu bukan sekedar hanya untuk pacaran saja, tapi aku ingin hubungan kita benar-benar sampai ke jenjang yang lebih serius. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi, kalau kamu mengiginkan hubungan yang sekedar pacaran saja, kamu bisa pergi dan aku tidak akan menghalangimu.”
Mendengar itu membuat Kalila melepaskan genggamannya. Ia menatap wajah Akbar tajam sambil meneteskan air matanya.elihat itu Akbar memalingkan wajahnya dari tatapan Kalila. Tanpa diketahui oleh Kalila, bahwa ia juga menangis emngatakan hal yang menyakitkan itu.
”Mas, apa aku terlihat mempermainkan hubungan ini?” Akbar hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya. “Mas, kamu dengerin aku ngomong 'kan! Apa aku terlihat mempermainkan hubungan kita, hah!” Kalila menarik wajah Akbar hingga menatap ke arahnya.
Kalila melotot kaget, pasalnya ini pertama kalinya ia melihat Akbar yang meneteskan air matanya.
”Mas, aku cinta sama kamu!” lirih Kalila dan langsung memeluk tubuh sang kekasih. Akbar hanya diam tidak membalas ucapan Kalila, tapi ia membalas pelukan kekasihnya.
Assalamualaikum
Salam sejahtera semua
Author mau minta maaf sama kalian semua, karena selama ini Author hiatus di sini, karena ada pekerjaan yang memang harus segera di selesaikan. Tapi, InsyaAllah mulai hari ini Author akan menyelesaikan novel ini sampai tamat.
Author mohon, kalian tidak kecewa dan masih mau membaca cerita ini 🙏.
Apabila para Readers sudah lupa jalan ceritanya, Author mohon baca dari pertama lagi yaa 🙏🙏
__ADS_1
Love You All ❤️❤️❤️