
Bab 32 Rencana Perpisahan
Akbar masih duduk mematung setelah ibunya keluar dari kamar. Dia tidak mengerti kenapa hari ini semua terjadi secara kebetulan dan sangat bertolak belakang. Keluarga Kalila yang menerima dirinya dengan sangat terbuka, tetapi ibunya sendiri tidak menerima hubungan dia dengan Kalila.
Akbar pun beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri sang ibu yang masih berada di ruang TV menemani Aisyah.
“Bu, boleh Mas bicara sebentar,” ucap Akbar yang masih berdiri di sebelah kursi ibunya. Sesuai dengan tradisi keluarga Akbar, apabila orang tua sedang dalam keadaan marah, sang anak tidak boleh duduk sebelum orangtuanya menyuruhnya untuk duduk. Desi hanya diam tidak menjawab, membuat Akbar tetepa berdiri sambil menunduk.
“Maafkan Mas, Bu! Bukannya Mas tidak mau mendengar perkataan ibu, tapi Mas benar-benar sangat mencintai Kalila. Tiga tahun lalu Mas masih bisa terima saat ibu menyuruh Mas menolak Kalila, tapi untuk sekarang Mas tidak bisa menuruti permintaan ibu lagi.” mendengar itu membuat Desi langsung melirik tajam ke arahnya.
“Apa kamu bilang? Jadi kamu memilih dia dibanding ibu kamu sendiri?” tanya Desi yang emosinya mulai memuncak. Akbar masih berdiri dan menundukkan kepalanya.
“... Ibu bukannya membatasi pergaulan kamu, tapi yang ingin kamu mendapatkan wanita yang pas dan bisa menghargai kamu. Umur kamu sudah 'tak muda lagi kalau sekedar hanya main-main dalam berhubungan.”
“Iya, Bu, Mas juga mengerti. Dan kami sudah berkomitmen kalau kita aka menjalani hubungan ini dengan serius.” Akbar terus menerus mencoba meyakinkan sang ibu, tapi usaha yang dia lakukan sia-sia. Tetap saja Desi tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Kalila.
”Sudah malam, ibu mau beristirahat.” Desi pun mengajak anak bungsunya untuk masuk ke dalam kamar. Tubuh Akbar seketika lemas. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
‘Tuhan, aku harus bagaimana lagi?” gumamnya.
Keesokan harinya Kama dan Kalila sudah bersiap untuk ujian terakhir mereka. Setelah selesai sarapan, keduanya langsung pamit dan berangkat ke sekolah.
“Kenapa Pak Akbar enggak jemput lo?” tanya Kama sambil mengemudi mobilnya.
__ADS_1
“Dia lagi ngawas,” jawab Kalila singkat sambil membaca bukunya.
“Oh iya, nanti sore gue ajak Danes makan malam di rumah. Sekalian kumpul sama Elina. Ajak juga Andri dan Hesti ya.” Kalila mengerutkan keningnya.
“Ada apa, tumben banget lo?” tanya Kalila yang merasa heran.
“Ya kita kumpul aja merayakan beresnya ujian.” Kama sengaja mengundang dua sahabat Kalila agar dia tidak membawa kekasihnya.
Sampai di sekolah Kalila langsung menuju ke kelasnya. Semua terlihat nampak bahagia, karena ini adalah hari-hari terakhir mereka berjuang.
“Lila!” teriak Hesti sambil melambaikan tangannya. Kalila pun menghampiri sahabat dia dibangkunya.
“Ada apa?” tanya Kalila.
“Nih, lo voting mau pilih perpisahan ke mana.” Kalila mengambil selembaran yang sudah dibuat anak-anak kelasnya untuk diajukan pada Akbar.
“Lo pilih yang mana?” tanya Hesti.
“Gue samain aja sama lo.” Hesti menepuk tangannya dan langsung menulis pilihan Kalila jauh pada Kepulauan seribu.
Setelah berdiskusi masalah perpisahan, semua siswa pun kembali ke tempat duduk masing-masing, karena pengawas ruangan sudah tiba di kelas. Pengawas pun mulai membagikan lembar soal. Kalila yang melihat soal-soal ujian itu langsung tersenyum, karena menurutnya soal-soal itu sangatlah mudah. Semua yang dipelajarinya semua keluar.
Dua jam berlalu, akhirnya semua siswa mengumpulkan lembar soal ujian. Setelah pengawas keluar dari kelas, teman-teman kelas Kalila tidak keluar dulu dari kelas, karena mereka masih membicarakan rencana perpisahan. Semua sudah melakukan voting dan hasil yang terbesar ada pergi ke kepulauan seribu.
__ADS_1
“Guy ... setelah gue hitung, perpisahan kita jaruh pada kepulauan seribu. Sekarang kita banyak-banyak berdoa ya, semoga sekolah menyetujuinya,” ucap ketua kelas dan dia akan menyerahkan hasil itu pada Akbar.
Satu-persatu siswa keluar dari kelas. Kalila masih saja duduk dan menunggu Akbar mengabari dirinya.
“La, ayo! Kita 'kan sekarang kumpul di rumah lo,” ucap Hesti. Kalila hanya mengangguk pasrah dan dia pun terpaksa keluar dari kelas menuju mobil Mama. Kalila merogoh ponsel yang ada di saku dan memberitahukan pada Akbar kalau dirinya pulang terlebih dahulu.
Di sisi lain Akbar masih sibuk di sekolah lain untuk memisahkan kertas-kertas soal ujian yang akan di priksa. Dia terus melihat jam yang ada di tangannya. Akbar sama sekali tidak bisa memegang ponselnya karena pekerjaan yang sangat menumpuk.
‘Aku harap kamu tidak menungguku,’ gumam Akbar.
Selama kurang lebih empat hari, Kalila harus menahan rasa rindunya untuk sang kekasih. Akhirnya setelah selama itu Kalila bisa kembali menghidupkan ponselnya. Dia terus melihat layar ponsel menunggu balasan dari kekasihnya, karena sejak tadi Akbar sama sekali belum membaca isi pesan darinya.
“La, kenapa sih lo kaya orang yang kesel gitu?” tanya Hesti yang duduk di sebelah Kalila. Mendenga itu, Kama langsung melihat kembarannya dari spion depan. Dia tahu kalau saat ini Kalila sedang khawatir memikirkan kekasihnya.
“Ah ... enggak kok itu hanya perasaan kamu saja.” Kalila menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
Akhirnya semua tugas selesai dengan cepat. Akbar meraih ponselnya dan matanya langsung tertuju pada nama Kalila yang berada di posisi paling atas. Akbar membaca semua chat masuk dari Kalila langsung mengerti. Dia pun kembali ke sekolah untuk berkumpul dengan guru-guru lainnya.
~Bsrsambung~
Jangan Lupa
• Like
__ADS_1
• vote sebanyak-banyaknya 😘😘😘
Aku padamu ❤️