
Bab 51 Merasa Asing
Malam itu semua mahasiswa baru dari berbagai fakultas sudah berkumpul di lapangan futsal yang ada di kampus. Para panitia sudah menyiapkan api unggun untuk menerangi malam itu dan menghangatkan badan dari hawa dingin angin malam.
Sejak tadi Kama mencari keberadaan adiknya, itu semata-mata bukan mencemaskan kembarannya, akan tetapi ia ingin melihat Hesti. Tatapan Kama langsung tertuju pada kembarannya yang sedang tertawa puas dengan seorang pria. Ia pun lantas menghampiri Kalila.
“De, kamu lagi apa?” tanya Kama sambil melihat sekitar mencari keberadaan Hesti.
“Bang Kama, sini deh!” Kalila melambaikan tangan menyuruh kembarannya itu duduk bersebelahan dengannya. “Kamu ingat enggak siapa dia?” tanya Kalila membuat Kama mengerutkan keningnya. Sama halnya seperti Kalila, Kama sama sekali tidak mengenali pria yang berada di hadapannya.
“Pasti Lo juga lupa kaya Lila. Hey ... Gue Aron, ingatkah?” mata Kama terbelalak, ia tidak menyangka orang yang ada di hadapannya adalah sahabat masa kecilnya dulu.
Ronal memang lebih tua dua tahun dari pada Kama dan Kalila, tapi mereka selalu bermain bersama layaknya anak seumuran. “Gila, gokil banget! Ini lo, Aron?” pria itu mengangguk tersenyum. Kama lantas langsung menarik tubuh sahabatnya itu dan memeluk sambil menepuk punggungnya.
“Makan apa lo bisa tinggi kekar gini? Perasaan lo dulu pendek, gendut, item, jelek lagi,” canda Kama dan Ronal langsung melepaskan pelukan Kama sambil mendelik tajam.
“Sialan lo!” sahut Ronal membuat mereka bertiga tertawa.
Ketiganya berbincang-bincang membahas masa lalu, sampai-sampai Kama melupakan niat dia untuk mencari keberadaan Hesti. Di sisi lain Hesti merasa kesal, karena sejak tadi ia diabaikan oleh Kalila dan memutuskan untuk diam dulu di tenda sampai ada penggumuman acara api ungun malam itu di buka.
“Hesti, kok masih di sini? Enggak ke lapangan?” tanya Bayu yang sedang berpatroli untuk menyuruh para mahasiswa baru agar lekas berkumpul di lapangan.
“Ah ... sudah mau mulai ya?” tanya Hesti yang menghentikan aktivitasnya memainkan game kesukaannya.
__ADS_1
“Iya, lebih baik kita sekarang ke lapangan ya!” ajak Bayu, karena memang Hesti orang terakhir yang Bayu suruh untuk bergabung di lapangan.
Keduanya pun berjalan bersama menuju lapangan yang sudah dipenuhi oleh seluruh mahasiswa yang mulai bernyanyi bersama. Melihat Hesti yang jalan bersama dengan seorang pria membuat kedua mata Kama tajam melirik ke arahnya. Hesti masih belum menyadari sampai ia mengambil tempat paling belakang dan duduk bersebelahan dengan Bayu.
“Eh, gue cabut dulu ya! Mau gabung sama yang lainnya,” pamit Kama dan langsung mendapat anggukan dari adik dan juga sahabatnya.
Tubuh Kama terasa panas, ia mempercepat langkahnya menghampiri Hesti yang sejak tadi tersenyum sambil ikut bernyanyi bersama. Sampai di sana, Kama langsung duduk di sebelah Hesti yang kebetulan masih kosong.
“Seneng banget kelihatannya,” bisik Kama membuat Hesti yang sedang tertawa bersama Bayu kaget dan melirik ke arahnya.
“Loh, Bang Kama, kok bisa ada di sini?” tanya Hesti kaget tapi masih memasang senyuman.
“Emmm ... kenapa, aku datang ke sini ganggu ya?” tanya Kama dengan nada dan wajah yang jutek.
“Ikut aku yuk!” ucap Kama sambil menarik tangan Hesti agar menjauh dari pria yang duduk di sebelahnya. Sebelum ia pergi, Hesti pamit pada Bayu dengan alasan ingin bergabung dengan teman-teman lainnya.
Kama menarik tangan Hesti dan bergabung di jajaran mahasiswa kedokteran yang memang tidak sebanyak mahasiswa fakultas ekonomi. Hesti terpaksa pasrah dan ikut ke mana Kama menarik tangannya. Keduanya pun duduk dan mendengarkan penggumuman dari ketua panitia tentang jalannya acara.
Selama itu Kama tidak melepaskan genggaman tangannya dan fokus melihat ke arah depan. Jangan ditanya bagaimana jantung Hesti saat ini, yang jelas tidak berdetak seperti biasanya. Kama dan mahasiswa lainnya tertawa di saat orang yang berdiri di depan melayangkan satu guyonan, tapi tidak dengan Hesti, ia hanya menatap wajah Kama yang sedang tertawa lepas.
Sampai sekarang Hesti masih belum tahu bagaimana perasaan Kama padanya. Di saat perasaan Hesti yang penuh harapan pada Kama, pria itu malah menjalin hubungan dekat dengan wanita lain, tapi di saat Hesti yang pasrah dengan perasaannya, Kama malah bersikap seperti ini hingga membuat wanita yang memiliki tubuh kecil itu merasa serba salah. Hesti sendiri tidak mau menggantungkan harapan lebih atas perasaannya pada Kama.
“Mau minum enggak?” tanya Kama sambil menyodorkan botol minuman yang ia simpan di saku celananya. Hesti hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Kama, tapi pria itu malah makin menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
“Bang, aku mau ke toilet dulu,” lirih Hesti yang berharap Kama melepaskan genggamannya. Sebenarnya Hesti ingin bergabung dengan Kalila dan yang lainnya. Ia merasa asing berada di tengah-tengah mahasiswa kedokteran.
“Ya udah aku anter!” ucap Kama sambil berdiri dan tidak sama sekali melepaskan genggamnya.
“Eh ... enggak usah, Bang! Aku bisa sendiri, lagian di toilet pasti rame.” Hesti mencoba menarik tangannya dari genggaman Kama, tapi dia tidak mau melepaskannya.
Tatapan Kalila langsung tertuju pada kedua orang yang ia sayang dan langsung tersenyum. Akhirnya Kama mau juga memperlihatkan perasaannya dia pada Hesti. Sebenarnya selama ini Kalila sudah tahu, kalau Kama juga menyukai sahabatnya itu, tapi Kama selalu menampik dan tidak menyadari akan rasa sukanya.
“Udah sampe, apa kamu enggak ada niat lepasin genggaman kamu?” ucap Hesti membuat Kama tersenyum dan Kama melepaskan genggamannya. Tangan Hesti terasa basah dan masuk ke dalam kamar mandi wanita.
Banyak mahasiswi yang berbisik saat melihat Kama yang berdiri menyenderkan tubuhnya di depan toilet wanita. Jelas mereka mengagumi Kama terlebih baju yang digunakan Kama menandakan bawa ia dari fakultas kedokteran. Mereka penasaran, siapa wanita yang beruntung yang mendapatkan hati Kama sehingga rela menunggu di depan toilet wanita.
“Sepertinya aku mau bergabung dengan jurusan aku deh, Bang. Enggak enak juga berada di tengah-tengah teman kamu,” ucap Hesti yang baru keluar dari kamar mandi.
“Ya udah, aku ikut!” mendengar itu membuat Hesti melirik tajam ke arah Kama hingga membuat tubuh Kama merinding.
“Iiih ... Abang kenapa sih, dari tadi nyebelin banget deh.” kali ini Hesti memberanikan diri mengemukakan kekesalannya terhadap Kama yang sejak tadi pagi sangat posesif padanya.
“Ya salah sendiri, kamu melanggar apa yang aku perintahkan. Kamu malah dekat-dekat dengan sama cowok tadi. Ya jelas aku enggak akan biarkan kamu sendiri malam ini.” Hesti mengembuskan napasnya kasar, ternyata sikap Kama malam itu karena melihat Hesti yang datang bersamaan dengan Bayu tadi.
“Bang!” panggil Hesti yang masih berdiri di hadapan Kama sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
“Iya sayang!” pertama kalinya Kama memanggil Hesti dengan sebutan itu. Tapi bukannya senang, malah Hesti semakin kesal. Ia tidak suka Kama hanya mempermainkannya seperti ini.
__ADS_1
“Jangan bercanda!” ucapan Hesti dengan kesal dan meninggalkan Kama. Melihat itu Kama hanya tersenyum dan kembali menyusul Hesti yang sudah berada di depannya.