
Sejak mengantarkan Kalila ke kampus, wanita cantik itu sama sekali tidak mengirimkan kabar pada Akbar hingga membuat kekasihnya itu merasa khawatir. Beberapa kali Akbar mencoba mengirim pesan pada Kalila, hingga ia mencoba menelepon sang kekasih, tapi tidak juga ada jawaban.
Melihat sang anak yang sedang gelisah, Nurma menghampirinya sambil membawakan segelas teh manis hangat. “Mas, kamu sedang apa?” tanya Nurma dan ikut duduk di bangku yang ada di depan rumah dan menyodorkan gelas teh manis hangat itu pada anaknya.
“Eh ibu, lagi santai aja. Terimakasih ya , Bu!” jawab Akbar sambil mengambil gelas yang disodorkan Nurma padanya.
“Bagaimana hubunganmu dengan muridmu itu? Apa dia siap untuk menikah cepat denganmu?” tanya Nurma yang membuat Akbar mati kutu. Ia tidak bisa menjawab, karena memang sampai sekarang Akbar belum membahas hal ini pada Kalila.
“Bu, Kalila baru saja masuk kuliah. Biarkan dia menikmati masa-masa kuliahnya dulu. Aku—” belum selesai Akbar menyelesaikan ucapannya Nurma langsunh berdiri dari tempat duduknya.
“Kalau begitu, menikahlah dengan orang yang benar-benar siap menikah. Ibu aneh, kurang apa coba Sarah! Dia sempurna dan sudah matang untuk menikah. Sejak dulu dia sangat perhatian bukan pada ibu saja, tapi juga pada Aisyah dan ibu sangat yakin dia memiliki perasaan spesial untukmu. Pikirkan lagi baik-baik Nak kalau menjalin hubungan. Kasta kita juga berbeda dengan keluarga kekasihmu itu. Ibu malah takut kamu nantinya direndahkan dan tidak dihargai. Ibu seperti ini bukannya, tidak setuju, tapi ibu menyayangi kamu,” ucap Nurma sambil meninggalkan Akbar masuk kembali ke dalam rumah.
Pria yang memiliki postur tubuh tinggi dan atletis itu menunduk sambil meremas kepalanya. Ia tidak bisa mengatakan hal ini pada Kalila, karena ia tahu pasti Kalila akan mentah-mentah menolak permintaan ibunya. Terlebih Akbar tahu betul cita-cita Kalila yang ingin sekolah tinggai dan ingin terjun ke perusahaan ayahnya.
Sebenarnya benar apa kata sang ibu, perbedaan ekonomi Akbar dan Kalila bereda jauh, hingga terkadang membuat Akbar merasa minder dengan Kalila. Tapi, selama ini keluarga Kalila menerima keberadaan dia dan sama sekali tidak pernah menunjukan sikap penolakan terhadapnya. Kalila sendiri juga tidak pernah mempermasalahkan dengan asal usul Akbar dan terlihat tulus mencintainya.
‘Tuhan, apa yang harus aku lakukan?’ batin Akbar dan menengadahkan wajahnya ke langit melihat bintang yang yang menyinari malam itu.
—
“Jangan bercanda! Aku lagi sedang tidak ingin di goda!” ucapan Hesti dengan kesal dan meninggalkan Kama. Melihat itu Kama hanya tersenyum dan kembali menyusul Hesti yang sudah berada di depannya. Kama langsung menarik tangan Hesti hingga membuat langkah wanita cantik itu terhenti.
“Apa lagi Bang? Sebentar lagi acara mau beres dan semua orang harus berkumpul dengan fakultas masing-masing,” keluh Hesti yang sudah merasa kesal dengan sikap Kama.
“Aku enggak becanda dan aku juga tidak sedang menggoda kamu! Kenapa kamu seperti enggak nerima gitu sih? Kita sudah tiga tahun saling mengenal, masa kamu tidak tahu aku gimana.” Hesti memang tidak bisa membaca bagaimana Kama, karena selama ini dia sangat tertutup dan misterius hingga membuat Hesti sulit menebak apa yang ada di dalam pikiran Kama. Tapi, itulah yang membuat Hesti jatuh cinta padanya.
Belum sempat Hesti memberikan tanggapan padanya pada Kama, acara sudah selesai dan mahasiswa mulai berhaburan membuat tubuh Hesti terbawa arus. Kama langsung menarik tangan Hesti hingga keduanya saling berpelukan.
__ADS_1
“Besok, jangan dulu pulang sebelum aku menghampiri kamu. Malam sayang!” bisik Kama dan berjalan meninggalkan Hesti sambil melambaikan tangannya. Hesti mematung, ia tidak percaya dengan apa yang dialami dia hari ini, terlebih ketika Kama mengatakan kata Sayang padanya yang membuat hatinya berdebar tidak karuan.
‘Aku tidak percaya Bang Kama berubah secepat ini!’ batin Hesti dan bergegas menghampiri Kalila yang sudah berada di dalam tenda.
“Ciee ... yang habis berdua-duaan sama Bang Kama,” goda Kalila ketika Hesti masuk ke dalam tenda. Bukannya senang di dekati Kama, Hesti malah memasang wajah yang masam hingga membuat Kalila merasa heran.
“Kenapa sih, Ti? Lo bukannya seneng di deketin Bang Kama. Bukannya lo pengen seperti ini?” berulang kali Hesti membuang napas kasar sehingga membuat Kalila semakin penasaran dan mengubah duduknya hingga berhadapan dengan sahabatnya itu.
“Gue tuh heran sama Bang Kama. Hubungan kita masih sebatas teman, tapi dia udah posesif. Gue deket sama Kak Bayu aja tadi marah. Lah dia apa kabar, deket sama cewek anak kedokteran itu. Kenapa hanya aku yang harus menuruti perkataan dia? Padahal kita tidak punya status apa-apa, tapi aku dilarang deket sama cowok manapun.” Hesti mendengus kesal.
Kalila memasang wajah yang ikut sedih sambil menepuk pundak sahabatnya. Apa yang dikatakan Hesti ada benarnya juga, entah apa pikiran Kama selama ini. Dia tidak pernah mengatakan cinta pada Hesti tapi melarang Hesti untuk dekat dengan siapapun. Seketika Kalila ikut merasa bersalah, karena kembarannya membuat sahabatnya menjadi sedih seperti ini.
“Sabar ya! Aku tau kamu pasti sedih banget.” Hesti hanya tersenyum mengangguk.
Seketika ponsel Hesti bergetar membuat Hesti menatap Kalila kaget. “Siapa?” tanya Kalila karena melihat mimik wajah Hesti yang berbeda.
“Halo, Mas Akbar maaf! Aku belom belom mengabari kamu,” jawab Kalila yang langsung menyadari apa kesalahannya.
“Emmm ... kirain udah lupa punya kekasih. Dari mana saja Sayang? Aku kangen!” suara manja Akbar seperti biasa membuat Kalila merasa gemas dengan kekasihnya.
“Dih ... enggak usah manja, udah tua malu. Tadi ada acara kumpul gitu, aku nggak bawa hp. Oh iya, besok siang aku pulang, kalau kamu enggak sempet buat jemput aku, aku pulangnya bareng Bang Kama aja.”
“Enggak! Aku ngajar cuma satu mata pelajaran besok, nanti aku langsung jemput ya cantik. Kamu jaga ha—” belum selesai melanjutkan pembicaraannya, Suara seorang pria membuat ia langsung berhenti.
“La, lagi apa?” teriak Ronal hendak menghampiri Kalila.
“Mas, aku matiin dulu ya! Sampai jumpa besok!” Kalila langsung mematikan teleponnya tanpa mendengar Akbar membalas perkataannya.
__ADS_1
Kalila tersenyum dan langsung menghampiri Ronal. Pria itu mengajak Kalila untuk berkumpul dengan teman-temannya menikmati sejuknya malam sambil bernyanyi ditemani suara gitar yang merdu. Berbeda dengan Akbar, ia menatap layar ponselnya dengan merasakan sakit di dada. Akbar takut kalau Kalila menemukan pria lain yang jauh lebih muda dibandingkan dirinya.
“Aku berharap kamu bisa menjaga hatimu buatku, La,” lirih Akbar pelan.
Hai semua~
jangan lupa mampir ya ke cerita baru aku di Manggatoon/Noveltoon yang judulnya TERPAKSA JADI PACAR SEWAAN. InsyaAllah akan terus dilanjutkan di aplikasi ini.
Blurb :
Hidup sebatang kara di kota orang membuat Yoga harus banting tulang untuk bertahan hidup. Kerasnya kota Jakarta membuat ia kesulitan mencari pekerjaan untuk sekedar membayar tempat tinggal dan mengisi perutnya. Beruntungnya Yoga mendapatkan beasiswa dengan bermodalkan kecerdasannya, sehingga ia tidak perlu memikirkan biaya kuliahnya.
Lahir di keluarga yang sederhana membuat kedua orangtua Yoga tidak sanggup hanya untuk sekedar biaya sewa kamar di Jakarta. Maka dari itu Yoga menerima tawaran salah satu teman kuliahnya untuk menjadi pacar sewaan. Beruntungnya Yoga memiliki wajah yang tampan, sehingga banyak orang yang memakai jasanya.
Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita yang memakai jasanya. Pertama kalinya dalam hidup Yoga, dia merasakan getaran dalam hatinya. Wulan—teman kuliahnya yang sangat cantik dan terkenal di kampusnya.
Akankah Yoga bisa menjadi pacar sesungguhnya? Atau hanya sebatas pacar sewaan?
Jangan lupa baca yaa!
Tinggalkan komen menarik kalian
follow IG Author yuk
@SEPTRIANI_WULAN15
__ADS_1