Kisah Cinta Kalila

Kisah Cinta Kalila
Bab 58 Pertemuan


__ADS_3

“De, lebih baik kamu tidur ya! Besok 'kan harus sekolah, nanti berangkat bareng sama kakak pas mau berangkat sekolah.” Aisyah mengangguk menuruti apa yang diperintahkan calon kakak iparnya. Kalila sengaja menyuruh sopir rumah untuk mengantarkan mobilnya ke rumah sakit, karena memang tidak memungkinkan kalau dia meminta Akbar untuk mengantarkannya ke kampus.


Kalila menarik selimut dan menutupi tubuh Aisyah. Melihat kekasihnya yang begitu menyayangi Aisyah membuat Akbar merasa bersalah. Ia menyesal telah emosi pada Kalila. Semenjak kejadian tadi, Kalila sama sekali tidak menegur kekasihnya dan sibuk dengan ponselnya.


“La ... Kalila!” lirih Akbar tapi tetap saja Kalila tetap fokus pada layar ponselnya.


Ketika Akbar hendak menghampiri kekasihnya, Nurma menggerakkan jarinya dengan cepat Akbar kembali dan langsung menggenggam tangan sang ibu. “Bu, ini Mas!” ucap Akbar hingga mrnbuat Kalila mengangkat wajahnya dna menghampiri Akbar.


Nurma membuka matanya perlahan dan melihat sekitar. Kalila dengan cepat menekan tombol darurat untuk memanggil pertawat dan dokter jaga malam itu. “Ibu, di mana?” tanya Nurma terbata dengan suara yang masih terdengar sangat lemas.


Belum sempat menjawab pertanyaan Nurma, tim dokter datang untuk memeriksa keadaannya. “Dok, bagaimana dengan keadaan ibu saya?” tanya Akbar saat dokter itu selesai melihat keadaan Nurma.


“Syukurlah, keadaan ibu membaik dan artinya operasi berjalan dengan berhasil. Sekarang kita tinggal menunggu pulih seperti biasa dan melihat perkembangannya.” Akbar tersenyum lega mendengar akhirnya operasi yang dilakukan ibunya berhasil.


“Terima kasih, Dok!” ucap Akbar lagi ketika mengantarkan tim dokter hingga keluar dari ruangan.


Tatapan Nurma menatap gadis cantik di depannya. Kalila tersenyum dan mendekat, lalu menarik tangannya san mencium punggung tangan Nurma. “Bagaimana keadaan Ibu? Oh iya kenalkan Bu, saya Kalila.” Nurma mengangkat tangannya berat menyentuh wajah cantik Kalila sambil tersenyum.


“Kamu cantik, pantas saja Mas Akbar sangat mencintai kamu,” ucapnya pelan hingga membuat Kalila tersenyum.


“Bu, lebih baik istirahat lagi. Sekarang sudah malam,” titah Akbar sambil membenarkan selimut ibunya.


Nurma masih menggenggam tangan Kalila dan terus menatap wajahnya hingga membuat wajah Kalila merona karena malu. “Benar kata kamu Mas, Nak Kalila cantik. Ibu berharap kalian segera meresmikan hubungan kalian. Enggak bagus juga pacaran terlalu lama.” Akbar langsung menatap Kalila, dia merasa tidak enak momen bertemunya Kalila dengan sang ibu langsung mendengar kata-kata yang memberatkan seperti itu.

__ADS_1


“Sudah Bu, jangan dulu pikirkan itu, yang terpenting sekarang ibu sehat ya!” Nurma mengangguk tanpa lepas pandangannya dari Kalila.


“Iya Bu, lebih baik ibu istirahat dulu ya! Biar cepat pulih,” lanjut Kalila menyuruh calon ibu mertuanya untuk tidur.


Nurma mengangguk, “Kamu harus tetap berada di sisi Mas Akbar ya Nak, dia terlalu mencintai kamu.” Kalila menatap Akbar sebentar lalu pandangannya kembali menatap Nurma sambil mengangguk.


Tidak nunggu waktu yang lama Nurma akhirnya kembali menutup matanya. Kalila kembali ke sofa diikuti Akbar dari belakang. Akbar menarik tangan Kalila ketika mereka sudah duduk bersebelahan.


“Sayang, maafin aku ya tadi! Aku benar-benar binggung dengan semua ini. Aku kaget siapa yang melunasi semua pengobatan ibu. Maaf aku malah menuduhmu dan melampiaskan emosiku!” Akbar duduk menghadap Kalila dan sesekali mencium tangannya.


“Emmm!” jawab Kalila yang sudah pasti jawaban itu menggambarkan kalau ia masih merasa sangat kesal pada kekasihnya.


“Yank, jangan gini dong, aku benar-benar merasa sangat bersalah.” Akbar tertunduk memohon agar kekasihnya dapat memaafkan dia.


“Iya, sudah aku maafin. Sudah malam, istirahatlah!” Akbar mengangkat wajahhya melihat wajah Kalila tajam.


“Iya, aku janji sayang! Oh iya, bagaimana ibu besok kalau kamu ngajar?” tanya Kalila hingga membuat Akbar melepaskan pelukannya.


“Aku sudah mengabari Sarah untuk mengajukan cuti selama ibu masih di rawat di rumah sakit. Tidak mungkin Aisyah yang akan menjaga ibu, dia juga harus sekolah.” Kalila hanya mengangguk.


Ada rasa sakit di dada saat mendengar Akbar menelepon Sarah lalu meminta bantuan padanya. Sepenting apa Sarah sehingga apapun itu Akbar selalu menghubungi wanita itu. Itulah yang selalu dipertanyakan Kalila pada dirinya sendiri, mengingat tidak ada sesuatu apapun yang tidak diketahui oleh Sarah, bahkan ada hal yang tidak Kalila tahu tapi Sarah mengetahuinya.


“Aku ngantuk, tidur duluan ya!” ucap Kalila langsung menyenderkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya. Akbar hanya diam dan menatap lebih lama wajah Kalila, lalu ikut menyenderkan kepalanya di sofa.

__ADS_1



“Jadi, bagaiman kabar ibu Pak Akbar?” tanya Hesti yang baru saja dijemput oleh Pria yang kini menjadi kekasihnya.


“Tadi malam sudah operasi dan dapat kabar kalau ibunya Pak Akbar sudah siuman,” jelas Kama sambil mengemudi dan tangannya tidak lepas menggenggam tangan Hesti.


“Sekarang kita ke sana sebentar ya, mau anterin buku dan baju Kalila,” lanjut Kama.


“Loh, kenapa nggak berangkat bareng aja?”


“Mobil Kalila udah dianter ke rumah sakit. Katanya dia mau berangkat sendiri sekalian nganterin adiknya Pak Akbar ke sekolah.”


Hesti hanya mengangguk. “Bang, bahaya tahu nyetir satu tangan. Lepasin napa!” Hesti hendak menarik tangannya tapi Kama semakin erat menggenggam tangan kekasihnya.


“Tenang saja, Sayang! Aku ahli mengemudikan mobil dengan tangan satu. Oh iya, nanti makan siang tunggu aku di kelas ya! Kita makan siang bersama.” entah kenapa semenjak Hesti masuk kuliah, Kama semakin protektif pada Hesti, sehingga membuat Hesti kadang terganggu dengan sikapnya.


“Kamu enggak makan siang sama teman-teman jurusan kamu?” tanya Hesti heran, karena biasanya mahasiswa kedokteran selalu terpisah dan jarang berbaur dengan mahasiswa lainnya.


“Kenapa nanya seperti itu? Kamu mau bebas ya pergi sama cowok lain?” pertanyaan dan jawaban yang tidak singkron membuat Hesti mengabaikannya dan tidak menanggapi Kama.


“Sayang, kok enggak di jawab sih!” kesal Kama karena tidak ada tanggapan dari sang kekasih.


“Udah sampai, aku mau ikut masuk ya, mau lihat keadaan ibu Pak Akbar sebentar,” ucap Hesti yang langsung turun menarik tangannya dari genggaman Kama ketika sang kekasih sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.

__ADS_1


Kama merasa kesal karena diabaikan oleh kekasihnya dan segera menyusul Hesti. “Kamu kenapa sih, yank? Apa yang aku tanyakan tadi benar ya?” Hesti menghentikan langkahnya menatap ke arah Kama.


“Bang, ini rumah sakit dan dilarang untuk berisik!” ancam Hesti dan kembali melangkah. Kama membuang napas kasar lalu mengikuti langkah kekasihnya.


__ADS_2