Kisah Cinta Sang Yatim

Kisah Cinta Sang Yatim
Takdir


__ADS_3

Randy nampak begitu terpukul dengan kejadian di rumahnya Amel tadi dia seakan tidak menyangka bahwa kejadian tersebut bisa terjadi secepat itu,


Randy coba menenangkan pikirannya dengan cara pergi ke salah satu tempat yang bisa menenangkan pikirannya di sana dia duduk di bawah pohon rindang sambil menekuk lututnya seraya menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya


Dia coba berimajinasi dengan pikirannya matanya yang merah dengan linangan air mata menjadi bukti kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja dia coba memandang lepas ke arah depan dengan pandangan yang tajam seraya berdiri dan berteriak sekuat mungkin


Dia ingin menghilangkan semua itu dengan sekejap meski itu sulit dilakukan oleh siapapun dia coba berteriak lagi sekuat mungkin karna dia tau hanya dirinya yang dengar akan teriakan tersebut


Dia coba menenangkan pikirannya lagi sebelum pulang dia coba melangkahkan kakinya meski terasa berat baginya menuju motor Supra yang di pinjam tadi namun sebelum berangkat dia terlebih dahulu berkaca ke spion motor melihat matanya yang sembab akibat air matanya tadi


Randy mengucek matanya sampai matanya yang sembab tersebut tak kelihatan lagi setelah itu dia mengendarai motornya dengan perlahan dia tau dirinya tidak boleh berlama-lama di sana karna motor yang dia pakek adalah milik karyawan bapaknya,


Di tengah jalan nampak dia melihat bapaknya berboncengan dengan ibunya namun dia melihat tak begitu jelas entah apa karna matanya yang sembab karna menangis atau apa hingga akhirnya Randy membuang jauh-jauh pikiran tersebut mungkin dia salah lihat hingga akhirnya dia kembali memperlambat laju motornya


Namun ketika Randy sedang asyiknya berkendara tiba-tiba sebuah mobil Inova melaju dengan cepatnya hingga terasa anginnya ketika menyalip Randy tadi membuat Randy sedikit oleng,


Randy terus memerhatikan laju mobil tersebut hingga akhirnya mobil tersebut terpelanting dan terdengar bunyi tabrakan nampaknya telah terjadi kecelakaan terhadap mobil tersebut


Tiba-tiba saja firasat Randy menjadi tidak enak dia takut kalau yang tadi di lihatnya benar-benar bapaknya dengan cepatnya Randy langsung mempercepat laju motornya hingga berhenti pas di titik kecelakaan tadi


Namun ketika di lihat motornya Randy sedikit tercengang karna itu adalah motor bapaknya ketika dia lihat ternyata benar yang di tabrak oleh mobil Inova putih tadi adalah bapaknya dia pun langsung turun dari motor tersebut dan menemui ibunya yang sudah tak bernyawa


"Ibu...." teriak Randy sekeras mungkin ketika melihat ibunya yang sudah tak bernyawa lagi dengan darah yang keluar dari kupingnya itu terlihat ketika jilbab yang di pakek oleh ibunya berlumuran darah sedangkan kepala dan yang lainnya tidak mengalami luka-luka


"Pak ini orang tua saya pak, tolong bawa orang tua saya ke rumah sakit secepatnya" pinta Randy ketika melihat orang yang menabraknya tadi dengan suara yang berat,


Dengan secepat kilat Randy langsung membuka bajunya ketika melihat darah mengalir dari kuping ibunya hingga tak terasa air matanya sudah tak bisa lagi dia bendung


Suaranya pun seakan tak bisa lagi terdengar dia nampak tak percaya ketika melihat orang tuanya yang terkapar dengan darah yang mengalir hingga dia sendiri tak sempat menanyakan prihal kronologi kejadian tersebut


"Ibu...." teriak Randy lagi ketika mengetahui bahwa ibunya sudah tiada, Randy tak percaya ketika begitu cepatnya ibunya sudah wafat padahal bunyi benturan tadi tak lama dari itu dia terus memeluk ibunya yang berlumuran darah dari kupingnya sambil menangis sejadi-jadinya,


Sedangkan bapaknya yang berada agak jauh dari ibunya nampak masih bernyawa namun sama seperti sang istri pak Rahmat juga tak ada luka namun darah mengalir di telinganya,


Randy yang melihat bapaknya yang masih bernyawa langsung pergi menemui bapaknya dan membuka kaosnya dia tak peduli lagi kalau dirinya sudah telanjang dada seraya menyumbat darah yang terus mengalir dari telinga bapaknya tersebut,


Dengan cepat tempat kejadian terjadi kecelakaan tersebut langsung di kerumunan orang mereka langsung bertanya apa yang terjadi dan kronologi kejadian tersebut


"Langsung bawa ke rumah sakit aja" kata salah satu dari mereka ketika melihat bapaknya Randy yang masih bernyawa


"Kamu yang nabrak ya" kata yang lainnya sambil menarik gerah baju sang laki-laki yang menabraknya nampaknya mereka ingin menghakimi sendiri namun di lerai oleh yang lainnya


"Iya pak maaf saya akan bertanggung jawab" kata seorang laki-laki yang telah menabrak bapaknya Randy


"Dari pada di pukul mending langsung bawa ke rumah sakit" kata yang lainnya


"Tenang pak saya akan bertanggung jawab kok" kata laki-laki itu lagi, namun sebagian dari mereka masih geram terhadap aksi seorang laki-laki tadi hingga berniat untuk memukulinya


Sedangkan Randy langsung mengangkat kedua tangannya ketika dia mau di pukul oleh kerumunan tersebut, ketika mendengar laki-laki tersebut yang mau bertanggung jawab gerombolan orang tadi langsung membawa orang tua Randy masuk ke dalam mobil


"Pak minta tolong ya nitip motor saya nanti teman saya akan jemput" kata Randy setelah orang tua Randy sudah berada di dalam mobil


"Iya nak pasrahkan saja pada kami, kami gak bakalan ngambil kok" kata salah satu orang tersebut yang nampaknya bisa di percaya oleh Randy,


Dengan cepatnya Randy langsung mengambil HP-nya setelah memasrahkan motornya tersebut seraya masuk kedalam mobil tersebut dan tak lupa Randy mengambil HP-nya dan mencari kontak yang bernama Andre


"Dre bapak mengalami kecelakaan sekarang motor kamu ada di tempat kecelakaan, saya sekarang langsung menuju rumah sakit, tempatnya berada di depan konter HP Fajar di samping resto permata, cepat samperin ya saya lupa kontaknya ada di motor kamu"


kata Randy dengan suara yang di tahan dia masih teringat akan motor yang di pinjamnya dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis yang mulai menjadi-jadi


"Pa, tahan ya kita mau ke rumah sakit dulu" ucap Randy dengan suara yang terisak dengan tangisnya namun ketika melihat ibunya yang sudah tak bernyawa tangisnya menjadi pecah dia seakan bersalah pada ibunya yang tak bisa menyelamatkannya disaat yang genting


"Cepet pak" teriak Randy seraya memukul jok mobil yang di tempati oleh laki-laki tersebut


"Adiknya jaga ya jangan sampai mereka merasa kehilangan" kata pak Rahmat tersendat-sendat seraya memberi wasiat kepada Randy


"Allah, Allah, Allah" kata pak Rahmat lagi dengan suara yang sudah tak bisa di dengar lagi dia tak lupa mengingat Allah Tuhannya di waktu ajalnya perkataannya tersebut seakan menjadi tanda kalau umur pak Rahmat tak lama lagi


"Iya pak, bapak yang tenang ya di sana masalah adik biar jadi tanggung jawab saya" kata Randy tak kuasa dengan tangisnya


"Allah" katanya lagi di dekat telinga bapaknya yang sudah berlumuran darah nampak pak Rahmat mengikuti apa yang di bicarakan oleh Randy tadi dengan mulutnya yang bergerak namun tak bersuara seakan mengikutinya


Tak lama dari itu setelah Randy terus-terusan memanggil nama Allah di telinga pak Rahmat nampak beliau sudah tak bisa di selamatkan lagi Randy melihatnya dengan jelas ketika bapaknya mengerang nyawa untuk yang terakhir kalinya hingga membuatnya tak kuasa untuk menahan tangisnya lagi


"Bapak" kata Randy seraya memeluk jasad bapaknya dengan sesenggukan dia menangis tersedu-sedu tak kuasa jika harus di tinggal oleh kedua orangtuanya sekaligus, dirinya terus menangis dengan apa yang terjadi padanya,


"Pak balik aja pak, udah nggak ada nih" kata Randy sambil mengusap air matanya yang terus mengalir itu sedangkan tangannya sendiri sudah penuh dengan darah


"Maksudnya dik" tanya laki-laki tersebut yang kira-kira umur empat puluh tahunan seraya menghentikan mobilnya


"Udah balik aja pak, bapak saya sudah gak bisa di selamatkan ibu juga nggak ada" kata Randy mencoba tegar dengan nada suara yang terbata-bata


"Nggak ke rumah sakit dulu untuk memastikan siapa tau nanti bisa di selamatkan" tawar laki-laki tersebut seraya menoleh ke arah Randy berada dia nampak tidak tega karna sudah mengambil dua nyawa sekaligus akibat kesalahannya


"Udah nggak usah pak, anterin ke rumah saja" kata Randy sambil mengusap air mata yang terus jatuh tersebut,


Randy berkata seperti karna dirinya menyaksikan sendiri waktu bapaknya mengerang nyawa untuk yang terakhir kalinya hingga membuatnya merasa sudah tak ada gunanya lagi untuk pergi ke rumah sakit,


Diapun mengambil HP-nya yang tak terasa sudah berada di bawah dia tak sadar kalau HP-nya sudah jatuh berada di dekat kakinya


"Dre ada dimana" tanya Randy dengan masih suara yang sama


"Ini lagi menuju tempat kejadian, gimana kabarnya pak Rahmat dan Bu Hana" kata Andre seraya menanya kondisi orang tua Randy


"Kalau sudah selesai balik lagi ya Dre mereka sudah nggak bisa di selamatkan lagi, ini saya langsung ke rumah" kata Randy


"Kabarin yang lainnya kalau bapak dan ibu sudah tiada, ya udah" ucapnya lagi seraya menyuruh Andre untuk mengabari Fariz yang masih berada di bengkel seraya mematikan teleponnya tadi


"Terus gimana nih dik jadi balik" tanya laki-laki tersebut seraya menoleh ke arah Randy berada memastikan takut Randy berubah pikiran


"Iya pak lagian percuma di bawa ke rumah sakit, bapak juga sudah tiada" kata Randy yang mencoba tegar dengan keadaan yang ada,

__ADS_1


Belum sembuh luka yang tadi kini sudah di tambah oleh luka yang baru yang sangat parah padahal sebelum ini Randy sudah kehilangan Amel dan sekarang Randy juga harus rela kehilangan orang tuanya,


Setelah mendapat perintah dari Randy laki-laki tersebut langsung berputar balik menuju rumah Randy nampak dari raut wajah laki-laki tersebut orangnya baik dan bertanggung jawab akan kesalahan yang di buatnya


Dia menjadi tidak tega ketika harus merenggut dua nyawa sekaligus sekarang dia menyesal ketika apa yang telah di lakukan membuat orang lain menderita,


Sesekali Randy memberitahu arah rumah Randy ketika sudah berada pertigaan atau belokan hingga akhirnya mobil Inova putih tersebut sudah sampai di rumah Randy,


Di Sana Syifa nampak sudah menunggu kedatangan kakaknya tangisnya langsung pecah ketika melihat bapaknya tak bernyawa lagi begitu pula dengan adiknya yang lain yang masih tidak tau apa-apa


Alin dan Arin juga ikutan nangis ketika melihat mbaknya menangis di sana juga ada Faris salah satu karyawan yang bekerja di bengkel bapaknya matanya kelihatan remang-remang tak sanggup di tinggalkan pak Rahmat yg sudah di anggap sebagai bapaknya sendiri


Dia langsung menolong Randy dan yang lainnya membawa jasad majikannya ke dalam nampaknya dia juga tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat sang juragan sudah tidak ada lagi


"Ya Allah" teriak Syifa ketika melihat ibunya juga di gotong kedalam yang juga sudah tak bernyawa tangisnya pecah ketika apa yang terjadi begitu cepat Syifa seakan tak sanggup lagi untuk sekedar berdiri hingga akhirnya semuanya gelap dan akhirnya dia ambruk dan tak sadarkan diri


"Rand Syifa pingsan" kata Faris memberitahu Randy yang berada di samping jasad orang tuanya Randy langsung pergi menemui Syifa melihat kondisi Syifa yang pingsan tersebut membuat Randy tambah bingung


Dia coba mengangkat badan Syifa sendirian menuju kamarnya seraya memberi minyak angin sebanyak mungkin ke hidungnya tak lama dari itu Syifa sadar


"Ibu, bapak" teriak Syifa sekuat mungkin ketika sadar dari pingsannya nampak dia tak terima dengan kenyataan yang ada bahwa dirinya telah di tinggalkan oleh orang tuanya,


Sedangkan Randy yang mendengar teriakan Syifa Randy langsung memeluk Syifa dan menenangkannya


"Tenang dik, nggak usah teriak gitu biarkan bapak tenang di alam sana kalau kamu teriak terus akan menambah dosa buat orang tua kita" kata Randy seraya mengusap kepala Syifa yang berada di pelukan Randy,


Randy berusaha menenangkan pikiran Syifa yang nampak tak bisa nerima akan takdir yang telah menimpanya, sedangkan Syifa sendiri yang mendengar perkataan kakaknya tersebut langsung diam tak lagi berteriak histeris seperti yang terjadi sebelumnya


Namun isak tangisnya tak bisa dia bendung lagi memang benar apa yang di katakan oleh Randy jika ada yang meninggal maka salah satu keluarganya dilarang untuk menangis histeris


Apalagi sampai merobek bajunya karna itu hanya akan menambah dosa bagi yang sudah meninggal karna seakan tak terima akan takdir yang telah Allah tentukan,


Syifa pun langsung bangkit menuju kedua orang tuanya berada untuk terakhir kalinya dia melihat orang tuanya tersebut yang sudah tak bernyawa nampak darah yang mengalir dari kuping orang tua Randy sudah tak mengalir lagi karna di pasang kapas, sedangkan adik-adiknya Syifa bersama Randy


Tak lama dari itu tetangga lainnya berdatangan untuk melayat Randy pertanyaan-pertanyaan terus saja tertuju pada Randy setelah apa yang terjadi pada orang tuanya yang begitu cepat mereka juga ikut prihatin atas nasib Randy yang harus di tinggalkan oleh kedua orang tuanya sekaligus,


"Nak kamu nggak usah khawatir semua biaya mulai dari pemakaman sampai tujuh hari wafatnya orang tua kamu saya yang nanggung kamu nggak usah mikirin masalah biayanya" kata laki-laki yang menabrak bapaknya Randy tersebut ketika melihat Randy


"Nanti biar saya yang ngurus pemakamannya" katanya lagi bertanggung jawab terhadap dosa yang terlah dia perbuat


"Iya pak gimana baiknya aja" ucap Randy pasrah seraya menggendong adiknya yang bernama Arin dan Salsa dia pegang erat-erat sedangkan Alin bersama Syifa, nampak Syifa begitu khusyuk dalam membaca surah Yasin, Randy kembali masuk kedalam untuk mempersiapkan pemandian orang tuanya


"Nak apa yang terjadi pada orang tua kamu" tanya om Raihan pamannya Randy ketika berada di dekat Randy, ketika melihat Om nya tersebut Randy langsung menangis di pelukan pamannya dia tidak kuat untuk sekedar bercerita


"Bapak dan ibu mengalami kecelakaan om, dia di tabrak mobil dengan keras hingga membuatnya mengalami pendarahan dari kupingnya mungkin mereka mengalami gegar otak" kata Randy menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuanya tersebut seraya melepaskan pelukannya


"Om Raihan minta tolong om urusin semua pemandian serta pemakamannya soalnya saya mau ngaji dulu buat orang tua saya" kata Randy memasrahkan semuanya pada pamannya


"Nanti kalau pemakamannya di bantu orang itu, dan kalau butuh apa-apa langsung nanya ke saya Om" kata Randy lagi seraya menunjuk ke arah laki-laki yang menabrak orang tuanya tersebut dia nampak berbincang-bincang dengan salah satu tetangga yang melayat Randy,


Mendengar permintaan Randy tersebut Om Raihan nampaknya mengangguk saja mengiyakan apa yang di pinta oleh Randy tadi


"Iya Rand, kamu ngaji dulu sana biar yang di luar urusan saya, nanti kalau ada apa-apa saya nanya ke kamu" kata pamannya Randy tersebut


Di Sana sudah ada banyak orang yang mengaji untuknya sepupu sepupu Randy juga ada di sana untuk ikutan ngaji, nampak Om Raihan juga mengikuti Randy dia ingin melihat kondisi saudaranya untuk yang terakhir kalinya


Dia tak menyangka bahwa kakaknya tersebut akan pergi secepat ini tak terasa air matanya berkaca-kaca dia juga ikutan sedih melihat kakaknya sudah tak bernyawa lagi,


Sedangkan Syifa sediri dia berada di samping orang tuanya dia juga ikutan mengaji membaca Yasin buat keselamatan orang tuanya di sampingnya ada Salsa Alin dan Arin


Mereka yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam meski terkadang juga ikutan nangis yang selalu ditenangkan oleh Syifa terkadang sama bibinya jika yang lainnya ikutan menangis ketika melihat situasi yang ada


Sedangkan Salsa yang mulai mengerti akan rasa kehilangan meskipun sedikit terus menangis di depan mayat orang tuanya tersebut namun tangis Salsa tak terlalu keras hingga tak menggangu yang lain entah mungkin karna suaranya yang sudah habis atau yang lainnya,


Disisi lain Amel yang merasa kangen kepada kekasihnya tersebut mencoba untuk meneleponnya berkali-kali namun satupun dari teleponnya tak di angkat oleh Randy


Entah karna di silent atau karna sibuk hingga membuat firasatnya tidak enak dia teringat ketika papanya berbisik kepada Randy teringat juga ketika Randy di tinggal berduaan dengan papanya hingga membuat rasa takut timbul dalam diri Amel


Dia takut kalau papanya tadi hanyalah bersandiwara di depannya sedangkan di belakang Amel dia mengancam Randy untuk menjauhinya karena firasat yang timbul itu membuat Amel langsung beranjak dari tidurnya dia ingin minta kejelasan terhadap sikap papanya pada Randy apa mungkin papanya suka terhadapnya atau malah sebaliknya


"Mau kemana nak" tanya Bu Hana ketika melihat anaknya yang terburu-buru


"Ke rumah Randy ma" jawab Amel seraya menemui mamanya dia tak lupa untuk sungkeman kepadanya,


Setelah pamitan Amel langsung mengendarai motornya tersebut dengan keadaan cepat tak biasanya Amel berkendara dengan cepat mungkin karna dia ingin memastikan apa yang telah terjadi diantara mereka,


Hingga tak lama dari itu Amel sudah berada di depan rumah Randy namun ketika nyampe dia rumahnya Randy Amel kaget ketika melihat banyak orang di rumah tersebut


Dia pun menjadi penasaran tentang apa yang terjadi di dalam hingga akhirnya dengan cepat dia masuk kedalam rumah tersebut nampak Amel menemukan Randy dan Syifa dan banyak orang lagi di dalam yang sedang duduk di depan mayat yang tak tau siapa hingga membuat Amel kaget


"Dek ada apa ini" tanya Amel ketika berada di samping Syifa sedangkan Randy yang melihat kedatangan Amel perasaannya menjadi campur aduk sikap papanya yang menyakitinya itu kini timbul lagi namun bukan saatnya lah membahas semua itu,


Syifa sendiri ketika melihat kedatangan Amel langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya hingga membuat Amel jadi bingung dengan apa yang terjadi di keluarga ini


"Bapak sama ibu meninggal karna kecelakaan mbak" terang Syifa ketika melepas pelukannya dengan suara serak dengan isak tangisnya, mendengar semua itu Amel menjadi kaget hingga tak terasa membuatnya berlinang air mata


"Yang sabar ya dek" kata Amel seraya mengusap punggung Syifa, kini Syifa sudah mulai lagi khusyuk membaca Yasin Amel sendiri langsung pergi ke kamar mandi mengambil wudhu untuk ikutan membaca surat Yasin setelah berada di sana dia langsung mengambil HP-nya dan membuka aplikasi Al-Qur'an yang ada di HP-nya


"Rand, pemandiannya sudah selesai" kata seseorang tetangga memberi tahu Randy ketika berada di dekat Randy seraya berbisik sedangkan Randy langsung berhenti dari ngajinya


"Pemandian khusus ibu juga sudah selesai" tanya Randy seraya berbisik pula


"Sudah tinggal di mandikan saja" katanya lagi seraya pergi dari hadapan Randy ketika Randy tida bertanya lagi kepadanya.


Setelah di mandikan dan dishalati mereka langsung membawa jasad kedua orang Randy dengan bergantian sedangkan Randy sendiri tidak mau untuk di gantikan sampai akhirnya mereka sudah sampai di kuburan tempat jasad orang tuanya Randy di makamkan


"Allahuakbar Allahuakbar" setelah di masukan ke dalam liang lahat Randy pun tak lupa mengadzani jasad orang tuanya tersebut nampak Randy terisak-isak ketika dirinya adzan seakan dia tak ingin berpisah dengan orang tuanya namun apalah daya takdir berkata lain hingga akhirnya kedua orang tua Randy selesai di makamkan dan di bacain talkin buat orang mati


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap seseorang yang agak sepuh nampak dia adalah seorang kyai karna surban yang dia sandingkan di bahunya


"Tutur cepat saja saya mewakil keluar almarhum yakni saudara Randy ingin mengucapkan terimakasih banyak atas partisipasi kalian semua yang ikut andil dalam pemakaman tersebut dan tak lupa mohon maaf jika dalam proses pemandian serta pemakaman ada hal-hal yang tidak di inginkan kami selaku keluarga Randy mohon maaf sebesar-besarnya" ucapnya lagi

__ADS_1


"Selanjutnya bila ada dari almarhum bapak Rahmat dan juga almarhumah ibu Resti selama hidupnya mempunyai kesalahan pribadi baik di sengaja atau tidak kami sekeluarga mohon maaf sebesar-besarnya"


"Iya..." kata semua orang yang ada di sana


"Dan apabila almarhum dan almarhumah mempunyai hak adami yakni hutang-piutang bisa langsung berhubungan dengan saudara Randy karna sekarang almarhum dan almarhumah tidak mempunyai hutang lagi yakni lepas dari tanggungan hutang,


Dan mengenai tentang tahlilan kami berharap kalian semua di mohon kekompakannya untuk menghindari acara tahlilan yang di adakan setelah sholat Isyak,


Kurang lebihnya dari kami apabila ada kesalahan kami mohon maaf sebesar-besarnya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" kata kyai tadi panjang lebar setelah kiai tadi mengucapkan salam semua orang langsung berhamburan untuk pulang


Beda halnya dengan Randy Syifa dan adik-adiknya yang masih berada di sana nampak sebelum pulang dia masih membacakan Al-fatihah buat almarhum orang tuanya


Sedangkan Syifa yang dari tadi berada di luar karna banyak laki-laki langsung menemui Randy ketika semua orang pada pulang dia juga ikutan membaca surat Al-fatihah buat kedua orang tuanya setelah itu mereka pulang


Namun sebelum beranjak dari duduknya Syifa langsung memeluk Randy dan menangis di bahunya dia tak kuasa lagi untuk menahan air matanya Syifa merasa nggak kuat jika di tinggal oleh orang tuanya


Apalagi jika melihat adik-adiknya yang masih kecil yang masih umur lima tahun sedangkan si kembar masih umur tiga tahun itu yang membuat Syifa sedih mau bilang apa dirinya ketika adiknya bertanya tentang orang tuanya,


Setelah merasa tenang karna selalu di ingatin sama Randy mereka pun pulang karna takut ada orang yang menanyainya sesampainya di sana nampak dia sudah di tunggu oleh seseorang yang menabrak orang tuanya seakan ada yang mau di bicarakan


"Nak, sebelumnya aku minta maaf ya..."


"Udah pak kami udah maafin bapak kok nggak usah merasa bersalah gitu, ini semua kan kecelakaan nggak ada niatan pribadi nggak ada dendam di antara bapak sama orang tua saya jadi kami sudah memaafkan kok" kata Randy memotong pembicaraan laki-laki tersebut


"Dan nggak usah bahas itu lagi pak itu malah membuat kami sakit jika bapak terus mengungkit hal tersebut" pinta Randy


"Ok lah nak, ini ada uang kamu pakek buat biaya tahlilan orang tua kamu jangan di tolak, nanti saya akan balik lagi kesini untuk memastikan bahwa uangnya sudah habis apa belum" kata laki-laki tersebut seraya memberi setumpuk uang nampak dengan nominal yang begitu banyak


Sedangkan Randy sendiri tak bisa lagi untuk menolak dia juga ingin memberi pelajaran bagi orang tersebut agar bertanggung jawab atas perbuatannya baik di sengaja atau tidak yang mana Randy sendiri bukan bermaksud untuk minta uang pada orang tersebut hanya untuk biar orang tersebut ada rasa waspada ke belakangnya agar tidak sembarangan jika berkendara


"Ya udah pak terimakasih banyak di harap kedatangannya pak, jangan lupa tahlilan juga pak setelah sholat Isyak" ucap Randy seraya mengingatkan orang tersebut.


Waktu terus saja berlalu siang malam silih berganti dalam menjalankan tugasnya seakan tak pernah lelah dalam tiap tugasnya karna itu sudah menjadi titah ilahi yang harus dikerjakan


Tak terasa seiring berjalannya waktu sudah tiga hari sejak kejadian tragedi yang menghilangkan nyawa orang tua Randy tersebut setelah selesai tahlilan nampak Randy yang di temani oleh paman dan bibinya ngobrol tentang kehidupan bapaknya


"Sebenarnya Om, saya dan Syifa sudah tidak kaget akan kematian bapak sama ibu, soalnya kurang lebih seminggu sebelum kejadian bapak sama ibu seakan memberi kode kepada kita kalau bapak sama ibu akan meninggal kita


Hampir tiap malam selalu mengingatkan saya agar menjaga adik-adik saya agar jangan sampai merasa kehilangan jangan sampai bertengkar intinya seminggu sebelum itu bapak sudah memberi tahu kalau dia nggak bakalan lama gitu" terang Randy panjang lebar seraya mengingat kejadian waktu lagi duduk bersama keluarga besarnya setelah makan


"Sebelum bapak berangkat bapak berpesan sama aku kak" kata Syifa memberi tahu "Sif adiknya jaga ya saya mau keluar sebentar nanti saya akan pulang, gitu pesan bapak waktu itu aku hanya bisa jawab, iya pak ternyata ini semua jawaban yang bapak bilang mau pulang" terang Syifa memberitahu sebelum kejadian tempo hari


"Emang gitu nak, kalau orang mau meninggal terkadang mereka memberi tahu terlebih dahulu tapi kita tidak sadar dengan pembicaraan mereka, kita akan sadar kalau mereka itu sudah almarhum"


Terang Om Randy memberitahu hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas padahal seharian full mereka tidak beristirahat seharian ini banyak tamu yang datang untuk melayat.


Mentari sudah membuka jendela kehidupan dunia yang sempat tertutup akibat awan hitam malam kini telah terbuka kembali membuat sang insan harus bangun dari tidur lelapnya di sepanjang malam


Dengan terbitnya mentari tersebut membuat kabut putih hilang sedikit demi sedikit dan embun harus cair dengan sendirinya, waktu itu kira-kira pukul delapan sebuah mobil pajero hitam berhenti di depan rumah Randy ketika di lihat ternyata laki-laki yang menabrak bapaknya Randy yang sampai sekarang masih belum tau namanya


"Assalamu'alaikum" katanya mengawali pembicaraan sambil berjabat tangan dengan Randy


"Wa'alaikum salam" ucap Randy dan yang lainnya yang sedang berada di sana sambil menyambut uluran tangan dari orang tersebut, setelah berbincang-bincang sedikit akhirnya laki-laki tersebut menyampaikan maksud kedatangannya


"Maaf ya nak, saya akhir-akhir ini sibuk jadi gk bisa datang di acara tahlilan orang tua kamu" ucapnya minta maaf ketika dirinya tak bisa hadir di acara tahlilan orang tua Randy


"Oh iya saya lupa nama kamu siapa" tanya laki-laki tersebut pada Randy


"Randy pak, nggak apa-apa kok pak meski tidak hadir asalkan bantu doanya aja sekarang itu yang orang tua saya butuhkan" kata Randy memaklumi laki-laki tersebut yang nampaknya orang sibuk


"Panggil saja Om Faisal" kata laki-laki tersebut yang ternyata namanya Faisal


"Baik Om"


"Oh iya ini jangan di tolak" kata pak Faisal lagi seraya menyerahkan setumpuk uang kepada Randy yang membuat Randy merasa tidak nyaman karna uang yang kemaren masih ada


"Loh Om yang kemaren masih ada" ucap Randy memberitahu


"Nggak apa-apa pakek aja, hitung-hitung sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap kamu yang telah membuat semua ini terjadi"


"Ya udah makasih Om, nggak apa-apa nih Randy ambil" tanya Randy memastikan sambil dengan senyuman


"Ya silahkan" tak lama dari itu mobil Alphard berhenti di depan rumah Randy yang membuat Randy sedikit canggung karna Randy sendiri tau kalau pemilik mobil tersebut adalah Amel,


Ketika melihat Amel datang dengan salamnya Randy nampak hanya menundukkan kepalanya pura-pura tidak tau akan kedatangan Amel padahal dirinya memang tidak ingin melihatnya karna ketika melihat Amel semua perkataan papanya terhadap dirinya terngiang kembali membuat dirinya merasa sakit ketika mengingatnya


Sedangkan Amel sendiri yang tidak tau hal itu menyangka kalau Randy lagi pusing dengan situasi yang ada hingga membuatnya menundukkan kepalanya nampak ketika di lihat lagi Amel tak sendirian dia bersama orang tuanya yaitu pak Syaiful dan Bu Hana yang ingin melayat kepada Randy


"Assalamu'alaikum" ucap pak Syaiful seraya bersalaman dengan orang yang ada di sana


"Wa'alaikum salam, sampean pak silahkan duduk pak" ucap Randy berusaha melupakan masalah yang telah membuatnya menderita


"Iya nak Randy, yang sabar ya nak dengan musibah yang menimpamu" ucap pak Syaiful mengingatkan Randy sedangkan Randy hanya mengangguk saja, disisi lain Bu Hana dan Amel langsung masuk ke dalam duduk di ruang tamu untuk wanita karna di luar khusus untuk laki-laki di sana Syifa yang menemui kedatangan Bu Hana


"Sif, kak Randy kok nggak pernah jawab telepon saya ya" tanya Amel pada Syifa penasaran karna sejak kejadian waktu itu Randy mulai malas untuk mengangkat telepon dari Amel bahkan dirinya sempat berfikiran untuk mengembalikan HP yang di beri oleh tersebut


"Ya gak tau saya mbak" jawab Syifa yang memang tidak tau akan fakta yang terjadi


"Mungkin sibuk Mel makanya Randy tidak mengangkat telepon dari kamu" kata Bu Hana membela Randy sedangkan Amel langsung berfikiran positif dengan keadaan Randy yang sekarang, setelah cukup lama berada di sana akhirnya Bu Hana pamit untuk pulang


"Nak, kami pulang dulu ya" katanya berpamitan pada Syifa


"Ma saya mau tinggal disini dulu mau bantu-bantu Syifa nanti kalau mau pulang minta anterin ke Randy" kata Amel berpamitan kepada mamanya


"Ya udah nggak apa-apa" kata Bu Hana seraya pergi keluar


"Nak Randy kami pulang dulu ya" kata Bu Hana ketika sudah berada di luar


"Makasih banyak ya Bu atas kunjungannya" kata Randy seraya bangkit dan menemui Bu Hana


"Dengan keadaan kamu yang yatim piatu masih berani deketin anak saya" bisik pak Syaiful yang tak di dengar oleh istrinya Bu Hana namun bagi Randy suara tersebut seakan menggelegar melebihi suara petir yang mengkilap

__ADS_1


Perkataannya tersebut langsung menikam jantung Randy yang terasa perih akibat perkataan dari pak Syaiful, Randy sendiri hanya menyambut dengan senyuman agar tidak di ketahui oleh Bu Hana.


__ADS_2