
Hari nampak mulai sore jam sudah menunjukkan pukul lima seperti biasa ketika jam seperti itu Randy mengajak Syifa dan adik-adiknya pergi ke makam orang tuanya hanya untuk membaca Yasin di kuburan bapak dan ibunya di tengah jalan Alin dan Arin yang lagi main kejar-kejaran membuat Arin jatuh dan menangis sejadi-jadinya dengan memanggil ibunya berkali-kali,
Syifa yang melihat itu langsung berlari dan menggendong Arin yang jatuh seraya berusaha untuk menenangkan Arin untuk tidak nangis lagi
"Ibu..." tangis Arin yang makin menjadi hingga membuat Syifa kebingungan dan akhirnya Randy pun menggantinya untuk menggendong adiknya yang nangis tersebut
Namun tetap saja Arin masih menangis dengan kerasnya mungkin dia merasa kangen pada ibunya karna belum saatnya dirinya harus di tinggalkan kedua orang tuanya Randy terus berusaha untuk menenangkan Arin hingga akhirnya membuat tangis Arin mereda,
Kejadian tersebut membuat hati Randy teriris dia akan menjadi orang tua buat adik-adiknya dan hal ini akan berlangsung bertahun-tahun lamanya hal itulah yang membuat Randy tak kuasa untuk melinangkan air matanya yang membuat matanya berkaca-kaca
Dia masih merasa kalau ibunya masih berada disisinya hingga akhirnya mereka sudah tiba di kuburan bapak ibu mereka yang letaknya berdampingan itu,
Setelah membaca Fatihah Randy dan Syifa nampak khusyuk membaca Yasin yang di khususkan buat almarhum orang tuanya tak terasa air mata Randy menetes ketika membacanya dia teringat ketika dirinya masih ngumpul bersama dengan keluarga besarnya bercanda ria di dalam rumahnya,
Hal tersebut membuat tak bisa melanjutkan bacaannya dia begitu terisak akan tangisnya hingga akhirnya Randy berhenti menangis ketika Salsa memeluknya dengan erat dia merasa kalau kakaknya tidak ingin bersedih lagi seakan ingin menenangkan Randy
Tatkala mendapatkan perlakuan seperti itu Randy berhenti menangis dia langsung mengusap air matanya karna dia tidak ingin kalau adiknya juga ikut bersedih ketika melihat kakaknya menangis,
Kemudian Randy kembali melanjutkan bacaannya hingga akhirnya mereka sudah selesai membaca Yasin dan juga tahlilnya tak lupa pula Randy berdoa untuk keselamatan orang tuanya tersebut
"Cak tadi Mbak Amel nanya padaku" kata Syifa memberi tahu
"Nanya apa Dek" kata Randy seraya menuju arah pulang
"Katanya kenapa akhir-akhir ini cacak gak jawab telpon dari Mbak amel" kata Syifa seraya mengandeng tangan Arin dan Alin
"Ceritanya panjang dek, nanti aja kalau udah malam sekarang kita pulang dulu" ucap Randy sedangkan Randy sendiri mengandeng tangan Salsa hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumahnya di sana sudah banyak tamu untuk melayat ke Randy nampak Randy memasrahkan semuanya kepada omnya di sana Randy langsung salaman terhadap tamu-tamu tersebut.
Awan hitam menyeruak di seantero dunia membuat langit menjadi gelap yang hanya di temani cahaya lampu yang berada di rumah-rumah yang hingga membuat manusia bisa beraktivitas secara normal meski tak seperti pagi hari,
Waktu itu setelah sholat Isyak nampak satu persatu orang datang untuk tahlilan di rumah Randy tak lama dari itu sang kyai datang dengan motor beat yang dia bawa
"Assalamu'alaikum" sapa sang kyai yang tak lain namanya kiyai Hamid
"Wa'alaikum salam kyai" jawab Randy seraya sungkeman terhadap kiyai tersebut
"Silahkan kyai" sambung Randy lagi seraya menunjuk orang berada nampak mereka tahlilan di dalam rumah Randy karna Randy sendiri tidak punya Musholla atau langgar buat tahlilan,
Melihat sang kyai datang semua pada berdiri untuk menyambutnya ada yang sungkeman terhadapnya ada juga yang tidak karna posisi yang terlalu sulit untuk sungkeman kepadanya,
Ketika acara di mulai tiba-tiba sebuah mobil pajero hitam berhenti di depan rumahnya Randy yang tidak tau mobil tersebut keningnya menjadi mengkerut karna penasaran siapakah gerangan
"Assalamu'alaikum nak Randy" sapa orang tersebut yang tak lain adalah pak Faisal orang yang telah menabrak orang tuanya
"Wa'alaikum salam, eh Om Faisal aku kira siapa" kata Randy dengan senyuman seraya menyambut uluran tangan dari Om Faisal
"Silahkan masuk pak" sambungnya lagi
"Ya nak Randy maaf Ya telat" terang Om Faisal ketika mengetahui kalau acara sudah di mulai
"Santai aja Om, dengan hadirnya Om saja sudah cukup" kata Randy, kemudian Om Faisal masuk kedalam seraya mencari tempat duduk yang kosong,
Setelah selesai membaca Yasin sama tahlil dan di lanjut dengan doa semua orang langsung ada pula yang masih menunggu karna saking banyaknya anggota tahlilan yang ikut dan malas untuk berdesakan
"Nak Randy sekarang udah berapa harinya" tanya pak Faisal ketika sedang ngumpul bersama om Raihan dan Randy
"Udah empat harinya Om"
"Wah nggak kerasa ya, maaf ya selama ini nggak bisa ikut tahlilan soalnya sibuk nggak bisa di tinggalin" terang pak Faisal
"Sekali lagi Om bilang kayak gitu dapat piring loh Om" ucap Randy seraya bercanda yang membuat om Faisal ketawa
"Nak Randy begitu baik" puji pak Faisal yang hanya di sambut dengan senyuman oleh Randy pembicaraan mereka terus saja berjalan tanpa henti seakan lupa bahwa jam telah menunjukkan pukul sebelas
"Nak Randy sayang sekali padahal obrolan kita masih seru banget tapi apalah daya jam sudah pukul sebelas terpaksa harus pulang dulu" pamit Om Faisal pada Randy
"Mari pak" pamitnya pada Om Raihan yang ada di samping Randy seraya berjabat tangan, setelah itu pak Raihan juga ikut pulang dan Randy pun masuk kedalam seraya mengunci pintu rumahnya
Dia pun pergi ke kamarnya maksud hati ingin langsung tidur karna seharian ini dia tidak istirahat karna banyaknya tamu, namun sebelum dia pergi ke kamarnya dia terlebih dahulu melihat adik-adiknya apakah sudah tidur apa belum namun ketika Randy melihat Arin dan Alin matanya menetes seraya hatinya berkata
"Kasihan sekali kamu Dek usia tiga tahun udah di tinggalin sama orang tua" lirihnya dalam hati seraya menyeka air matanya yang menetes tadi seraya mencium pipi mereka berdua yang nampak nyenyak dalam tidurnya sedangkan Syifa berada di tengah-tengah mereka
"Aku berjanji sama kalian akan menjaga kalian semampuku" kata Randy lagi dalam hati seraya mengusap rambut Arin yang hitam itu setelah itu dia pergi dan tak lupa menutup pintu kamar tersebut dan menuju kamarnya sendiri
Disitu Randy tidur sama Salsa dengan wajah cantiknya yang terpancar meskipun masih kecil sebelum Randy tidur dia tak lupa mencium pipi Salsa seperti halnya dia mencium kedua adik kembarnya tadi,
Sebelum dia tidur dia menarik nafasnya dalam-dalam seraya membuang lewat hidung itu dia lakukan sebanyak tiga kali dan tak lupa dia membaca doa sebelum tidur sebelum akhirnya dia terbawa arus dalam buaian tidur lelapnya
"Ibu... ibu..." teriak Salsa seraya menangis dan bangkit dari tidurnya nampak dia belum bisa melupakan sosok ibunya hingga membuat terbawa mimpi, Randy yang mendengar Salsa menangis langsung terperanjat dari bangunnya seraya bangkit dan memeluk Salsa yang sedang menangis itu
__ADS_1
"Cak ibu kemana cak saya mau sama ibu" tangisan Salsa semakin menjadi-jadi ketika melihat kakaknya itu terbangun akibat ulahnya
"Ibu sudah tidak ada Dik, ibu sudah meninggal mendingan sekarang adik tidur" ucap Randy menenangkan Salsa yang masih menangis itu seraya mengusap punggungnya berkali-kali,
Salsa masih saja menangis dalam pelukan Randy namun kini tangisannya mulai reda setelah Randy terus menenangkannya hingga akhirnya dia berhenti menangis dan kembali melanjutkan tidurnya
"Ya Allah kuatkan lah hamba dalam menjalani cobaan ini Ya Allah" kata Randy dalam hati ketika dirinya merasa sedih dengan apa yang terjadi pada keluarganya hingga akhirnya dia kembali tertidur pulas.
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu tak terasa waktu berjalan begitu cepat seiring dengan berjalannya waktu Randy nampak sudah terbiasa dengan kehilangan orang tuanya tersebut nampak dirinya sudah siap berada di posisi orang tuanya
Karna mau tak mau siap tak siap dia harus berada di posisi itu menjadi bapak dari adik-adiknya karna cuma dia yang di harapkan sekarang oleh adik-adiknya setelah kematian orang tua mereka,
Waktu itu jam pukul lima sore seperti biasa Randy dan adik-adiknya pergi ke makam orang tuanya meskipun di rumahnya sedang sibuk-sibuknya karna nanti malam adalah hari terakhir untuk tahlilan di rumahnya
Namun dia memilih untuk ziarah ke kubur orang tuanya dan memasrahkan semua urusan kepada paman dan bibinya, hingga tak terasa Randy dan yang lain sudah berada di pemakaman tersebut,
Setelah membaca Fatihah yang di khususkan untuk ibu dan bapaknya Randy melanjutkan membaca Yasin yang di ikuti oleh Syifa yang berada di sampingnya sedangkan Arin dan Alin bermain kejar-kejaran meski selalu di ingatkan oleh Syifa namun mereka tak mendengarkannya maklum lah namanya juga anak-anak,
Beda dengan Salsa yang duduk jongkok seperti kakak dan mbaknya dia berada di tengah-tengah mereka
Nampak dia tidak seperti adiknya yang lain dia begitu kalem orangnya penurut dan juga pemalu itu terbukti oleh sikapnya yang selalu diam meski terkadang juga ikutan bermain bersama adiknya yang lain
Namun tak separah dan tak rewel adiknya, setelah membaca Yasin dan tahlil beserta doanya Randy bangkit
"Aduh... aduh" jerit Randy yang merasa kesemutan seakan tak mampu untuk berdiri
"Kenapa cak" tanya Syifa yang melihat kakaknya hampir jatuh sebelum akhirnya dia pegang
"Kesemutan Dek" jawab Randy dengan ekspresi yang kesakitan
"Arin, Alin pulang yuk" teriak Syifa yang melihat adiknya itu masih asyik dengan mainannya nampak mereka berdua bermain tanah dengan seriusnya hingga membuat mereka langsung berlarian ketika melihat Mbak dan kakaknya mau pulang untuk menemui mereka
"Wek aku duluan" kata Alin kepada saudara kembarnya itu ketika nyampe duluan ketimbang adiknya seraya menjulurkan lidahnya itu, nampak mereka langsung menuju Syifa karna kakaknya Randy masih berada di kuburan bapaknya
"Selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu" kata Randy seraya pergi menemui adik-adiknya yang lain yang sudah berada di depan pintu masuk menunggu dirinya
"Cak, Cacak punya janji loh" kata Syifa mengingatkan
"Apa dekorasi, kayaknya aku gak pernah janji deh sama kamu" tanya Randy seraya berfikir janji apa yang telah dia buat kepada adiknya tersebut
"Itu loh masalah Cacak sama Mbak Amel" ucap Syifa lagi mengingatkan Randy yang telah lupa sama janjinya yang dia buat tempo hari
"Terus Mbak Amel tau semua itu" tanya Syifa lagi
"Pak Syaiful pintar banget bersandiwara Dek, di depan Amel dia seakan sangat menyukaiku tapi di belakangnya dia merendahkan aku Dek, itu yang membuat aku tidak terima penghinaan terhadap keluargaku terhadap almarhum bapak, itu yang membuat aku hilang harapan akan hubungan ini"
Terang Randy lagi kemudian Syifa langsung menghampiri kakaknya dan memeluknya dengan hangat
"Sabar ya cak, suatu saat nanti pasti ada orang yang mencintai Cacak melebihi aku" ucap Syifa menenangkan randy, saking asyiknya bercerita mereka tidak sadar kalau mereka sudah sampai di rumahnya di sana Arin dan Alin langsung berlari menuju Om Raihan berada
"Dari mana adik cantik" tanya Om Raihan seraya berlutut sehingga sama dengan tinggi Arin dan Alin
"Dari kuburan Om" kata Arin yang masih belum bisa mengucapkan kata R
"Sama siapa" tanya Om Raihan lagi
"Sama cak Randy" jawab Arin lagi
"Mandi yuk" ajak Syifa seraya jongkok di depan Arin dan Alin
"Nggak ah males Mbak" kata Alin cuek
"Ih dek Alin jorok bau tau kalau gak mandi" ucap Syifa seraya menutup hidungnya kayak orang mendengar bau busuk, sedangkan Arin sendiri langsung membuka bajunya beda dengan Alin yang langsung kabur ke dalam ketika melihat Arin membuka baju,
Emang Alin kalau mau di mandiin sangat susah dia lebih suka bermain main dan main maklum namanya juga anak-anak beda dengan Arin yang penurut
"Saya bilangin ke Cacak loh" teriak Syifa dari luar yang kedengaran oleh Alin nampak Alin takut terhadap kakaknya entah takut atau emang penurut jika sama Randy cuma dia yang tau hingga akhirnya Alin datang menemui Syifa
"Gitu dong" ujarnya lagi seraya membuka baju Alin dan mereka langsung masuk kedalam begitu pula dengan Salsa yang mengikuti Syifa dari belakang.
Langit malam sudah menyebar seantero dunia yang membuat semua makhluk harus kembali ke peraduan masing-masing begitu pula dengan sang insan yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya masing-masing
Ketika selesai sholat Isyak nampak orang-orang telah memadati rumah Randy hingga ke halaman depan dan itu tak di sangka oleh Randy yang biasanya hanya perkiraan seratusan orang kini hampir mendekati angka tiga ratus
Hingga bingkisan yang mereka buat untuk anggota tahlil kurang banyak dan membuat orang-orang dapur kewalahan membuat nasi bungkus buat mereka yang hadir,
Randy yang melihat banyak orang datang membuat dirinya berkeringat bingung karna hampir semua tempat sudah terisi
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" kata seseorang yang tak lain adalah sang kyai yang memimpin tahlilan tadi seraya mengawalinya dengan salam yang di sambut dengan kompak oleh orang-orang
__ADS_1
"Yang kami hormati kyai Kholil kyai As'ad dan beserta kyai yang lain yang tak bisa kami sebutkan satu persatu tapi tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada beliau, yang terhormat kepada anggota jamaah tahlil yang dirahmati oleh Allah Allah"
Katanya mengawali pidatonya setelah panjang lebar berpidato akhirnya sang kyai menyampaikan maksud tujuannya
"Disini kami ingin minta kesaksian dari kalian semua kalau almarhum bapak Rahmat sama almarhumah ibu Resti wafat dalam keadaan Khusnul khatimah kan" tanya sang kyai tersebut memastikan bahwa orang tua Randy wafat dalam keadaan Khusnul khatimah yang di sambut dengan kata
"Iya" dari mereka yang hadir
"Alhamdulillah karna kesaksian baik nanti akan membuat almarhum dan almarhumah di alam kubur merasa bahagia dan di jauhi dari siksa kubur" lanjutnya lagi
"..... Cukup sekian dari kami apabila ada kesalahan kami mohon maaf Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh" lanjutnya lagi seraya menutup pidatonya tadi dan membuat mereka satu persatu pulang,
Setelah semua pulang Randy bermaksud untuk pergi ke dapurnya karna merasa lapar namun tak di sangka tangannya di tarik oleh seseorang
"Kemana aja kamu sweetie kok menghindar dari aku terus" tanya orang tadi yang menarik Randy yang tak lain adalah Amel seraya matanya melotot kearah Randy berada,
Sedangkan Randy sendiri merasa males menanggapi pertanyaan Amel tadi dan membuatnya pergi meninggalkan Amel, namun sebelum pergi tangannya langsung di tahan
"Jawab dulu" ujarnya lagi ketika pertanyaannya tidak di jawab oleh Randy
"Mel" kata Randy mengawali hingga membuat Amel sedikit kaget ketika randy tak menyebutnya sweetie karna itu adalah panggilan sayang mereka
"Sebaiknya kamu tanya kepada bapak kamu saya males membahasnya" lanjut Randy lagi seraya melepaskan tangan yang di pegang oleh Amel,
Amel yang mendapat perlakuan tersebut menjadi kaget dia menjadi tak percaya ketika apa yang di katakan oleh Randy dan apa yang di perbuat oleh Randy tadi kepadanya dia hanya tertunduk lesu dia bingung mau berbuat apa kemudian dia langsung pergi untuk menemui Syifa
"Sif, jawab yang jujur apakah kamu tau kenapa Randy bersifat acuh tak acuh terhadap aku" seraya menatap tajam ke arah Syifa berada hingga membuat Syifa bingung mau jawab apa hingga akhirnya membuat Syifa cerita tentang Randy dan bapaknya Amel
"Mbak sebaiknya Mbak pikir dua kali untuk deketin Cacak, karna Cacak selalu dapat ancaman dari bapaknya Mbak saya takut nantinya bapaknya malah berbuat yang tidak-tidak kepada kami"
Pinta Syifa seraya menggenggam erat tangan Amel dia memohon untuk menjauhi Randy demi kebaikan mereka, mendengar cerita dari Syifa Amel serasa tak kuat untuk berdiri dan dia langsung duduk menangis dia tak tau harus berbuat apa dia jadi kecewa dengan dirinya sendiri,
Setelah puas menangis Amel langsung pergi tanpa pamitan kepada Syifa dan Randy dia merasa malu akan ulah bapaknya tersebut dia begitu kecewa terhadap orang tuanya, di tengah perjalanan Amel nampak selalu terbayang-bayang akan ucapan Syifa tadi seakan tak percaya akan kelakuan papanya
Semua terekam jelas di benaknya hingga membuat tak kuasa untuk meneteskan air matanya sampai-sampai Amel hampir saja menabrak pengendara yang ada di depannya,
Tak terasa Amel sudah nyampe di rumahnya dan langsung pergi ke dalam rumahnya ingin menemui papanya berada menanyakan apa yang telah dia perbuat kepada Randy
"Eh udah datang Mel" sapa Bu Hana ketika melihat Amel datang
"Papa mana Ma" tanya Amel dengan perasaan kecewa
"Tuh ada di ruang tengah" jawab Bu Hana seraya menoleh ke arah suaminya berada di sana pak Syaiful sedang membaca koran, sedangkan Amel langsung pergi menemui papanya
"Pa, apa yang papa lakukan terhadap Randy" tanya Amel seraya mengambil paksa koran yang di baca oleh papanya
"Loh kenapa Mel kok datang tiba-tiba marah" tanya pak Syaiful balik
"Papa jawab dulu apa yang papa lakukan terhadap Randy" bentak Amel seraya menangis di depan ayahnya
"Saya kecewa sama papa, saya tak menyangka kalau papa orangnya sehina itu serendah itu" kata Amel seraya pergi meninggalkan papanya dengan air mata yang terus mengalir di pelupuk matanya,
Sedangkan Bu Hana yang melihat anaknya marah-marah kepada bapaknya langsung menemui Amel yang pergi ke kamarnya
"Ada apa nak, kok sampai marah-marah gitu" tanya Bu Hana ketika berada di samping Amel, sedangkan Amel ketika melihat kedatangan mamanya langsung bangkit dan menangis sejadi-jadinya di pelukan mamanya
"Emang ada apa nak" tanya Bu Hana lagi seraya mengusap punggung anaknya
"Papa Ma" kata Amel yang tak mampu berkata apa-apa lagi
"Kenapa papa kamu" tanya Bu Hana makin penasaran kemudian Amel bercerita tentang kejadian seminggu yang lalu waktu Randy main ke rumahnya disaat dirinya dan mamanya pergi ke dapur untuk menyiapkan semuanya papanya langsung ngata-ngatain Randy dengan sadisnya
Hingga menyinggung profesi orang tua dan merendahkan orang lain serta dirinya tidak suka jika Randy berdekatan dengan Amel membuat papanya akan melakukan semua cara bahkan sampai kekerasan akan di lakukan olehnya jika tidak bisa pakek cara yang lembut nampak Amel menjelaskan apa yang di jelasin oleh Syifa tadi dengan sedetail-detailnya,
sedangkan Bu Hana yang mendengar itu seakan tidak percaya akan kelakuan sang suami karna yang dia tau pak Faisal terkenal ramah terhadap orang apalagi terhadap Randy seakan semua itu cuma cerita fiksi baginya karna tak percaya dengan situasi yang ada
"Ya udah nak, biar saya yang ngomong ke papa kamu" kata Bu Hana menenangkan Amel
"Sekarang kau tidur dulu ya" pintanya seraya meninggalkan Amel sendirian.
Keesokan harinya tatkala keluarga Amel sedang sarapan tiba-tiba Bu Hana bertanya tentang apa yang di lakukan pak Faisal suaminya tersebut kepada Randy
"Loh emang aku salah ya ma, aku kan cuma ingin mencarikan Amel yang terbaik masak kelas kayak Randy mau jadi mantu saya tidak selevel lah Ma" terang pak Faisal ketika di tanya perbuatannya pada Randy
"Gini mas tak semuanya itu harus di ukur dengan harta adakalanya kita harus mengukurnya dengan hati yang tulus" ucap Bu Hana pelan karna hanya dengan itu yang bisa dia lakukan karna seandainya dengan kekerasan juga maka tidak akan selesai masalahnya
"Ma, jangan ajarin papa tentang ketulusan, lebih baik mama ikuti apa kata suami, dosa loh membangkang perintah suami lagian yang aku lakukan tidak salah di mata agama"
Ucap pak Syaiful mengancam hingga membuat Bu Hana diam karna betul apa yang di katakan oleh pak Syaiful tadi bahwa seorang istri harus tunduk terhadap perintah suami selama itu tidak melanggar agama tapi sebaliknya jika perintah suami melanggar agama maka tidak wajib untuk di turutin perintahnya.
__ADS_1