
Sudah 2 bulan aku menunggu signal cinta dari Damian , berharap dia akan mendekatkan diri padaku. Tapi, ah sudah lah, sepertinya dia tak menyukai ku.
Aku menyadari bahwa aku mengagumi nya, aku menyukai nya dan ingin lebih dekat dengannya.
"Ah, kenapa harus aku duluan yang jatuh hati sama dia?" , aku menyalahkan diriku sendiri.
"Karena perasaan ini aku menjadi kehilangan mood baik ku. Aku selalu semangat untuk berangkat sekolah, tapi karena sikap nya yang biasa saja kepada ku, membuat aku ingin cepat pulang dan kembali lagi ke rumah".
Sungguh, sepertinya aku sedang merasa galau.
"Aku sudah memberikan penampilan terbaik ku di depannya. Cara apa lagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan perhatiannya?" ucapku mulai frustasi.
Selama ini , Damian hanya bersikap biasa saja terhadap ku. Dia tak cuek, tetapi juga tak menunjukkan bahwa dia menyukai ku.
Aku semakin menyukai Damian ketika aku mengetahui latar belakang keluarga nya. Dia berasal dari keluarga terpandang, orang tua nya mempunyai usaha toko pakaian yang cukup besar dan sudah memiliki 3 cabang.
__ADS_1
Damian merupakan anak tunggal. Sikap nya yang rendah hati dan ramah semakin membuat ku mengaguminya. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang manis, tak bisa membuat aku berhenti berpikir tentangnya.
"Aku ingin merasakan mencintai dan dicintai lagi. Sudah cukup tak karuan kehidupanku selama ini. Setelah kepergian Diki, aku mencari kesenangan lain agar mudah untuk melupakannya. Aku memang tak pernah melakukan hubungan badan lagi dengan siapapun selain Diki, tetapi aku menjadi anak yang brutal. Aku tak pernah lagi mematuhi perkataan orang tua ku, cara berpakaian ku yang tak lagi sopan, aku keluar rumah tak ingat waktu. Jika aku tak menginginkan pulang, maka aku tidak pulang ke rumah". Gumam ku dalam hati meratapi nasib kehidupan ku.
Sungguh aku gadis yang memprihatinkan.
Bahkan telinga dan hati ku sudah kebal jika mendengar gosip tetangga tentang diriku sendiri.
Aku hanya berdecak dan tertawa jahat, mereka lupa bahwa anak mereka seumuran diriku. Tentu saja kami saling mengenal , walaupun tidak akrab . Mereka tidak tahu bagaimana kelakuan anak nya diluar rumah, merangkul pinggang si om untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
***
"Apa harus aku yang memulai?" gumam ku dalam hati.
"Ya, jika bukan aku yang memulai, kapan aku bisa lebih dekat dan segera memiliki nya?"
__ADS_1
Baiklah, ku bulatkan tekat ku. Ku yakinkan hati ku bahwa aku bisa memiliki nya.
Hari terus berlalu, aku telah mencoba menghubungi Damian secara rutin. Memulai percakapan dan sebisa mungkin tak membosankan.
Langkah pertama sukses. Aku sudah merasakan respon hangat dari Damian.
Aku harus melanjutkan misi ku mendekati nya lebih dekat, aku mencoba mengajak Damian berjalan. Huh, aku benar-benar nekat mendekati nya sejauh ini.
Tak ku sangka, Damian menerima ajakan ku.
Weekend pun tiba, aku merasa sangat gugup. Aku mengajak Damian untuk bersenang-senang ke waterboom di kota ini.
Aku sengaja memilih kolam renang, agar aku lebih mudah mendekati nya.
Aku telah bersiap, aku menunggu Damian menjemput ku. Aku tahu bahwa Damian akan menjemput ku dengan mobil nya. Tak lupa aku meminum obat anti mabuk , karena aku tak tahan mencium bau mobil. Auto muntah-muntah hihi.
__ADS_1
Tak ingin semua rencana ku gagal hari ini, jadi aku mempersiapkan semuanya dengan matang.
Bersambung...